
Mentari membuka matanya, melihat layar yang menunjukkan Lian membunuh Nata. Tari menutup matanya kembali, suara Jem teriak kuat terdengar, mengumpat kasar bersumpah akan membunuh Tari untuk mengantikan posisi Nata.
Membunuh Berlian sudah mustahil, karena dia akan menjadi penghuni, pemimpin tempat ini.
Tari kaget mendengarnya, tidak mungkin Lian tidak bisa keluar dari tempat ini, Lian sudah terikat bersama dengan pulau ini, jika pulau hancur, penghuni lenyap pemimpin juga mati.
Juwi menatap Jem meminta Jem membunuh Lian, menyingkirkan seluruh pengacau. Juwi tidak ingin kehilangan tempat ini, juga kekayaan yang sudah lama mereka kumpulan.
Lama Jem berpikir, dari pada mereka sibuk berpikir cara membunuh pengacau, lebih baik mereka melarikan diri membawa seluruh harta kekayaan, membeli pulau baru.
Juwi tersenyum menganggukkan kepalanya, menatap Jem setuju meninggalkan pulau. Suara ledakan kembali terdengar.
Suara teriakan Jem sangat kuat, bangunan tempat penyimpanan seluruh emas meledak, bahkan bangunan bawah tanah juga hancur, laboratorium juga lenyap di makan api.
Hutan buatan juga sudah dilahap api perlahan, seluruh tanaman perlahan dimakan api membuat Jem dan Juwi panik.
Mentari berhasil membuka ikatan di tangannya, menekan gelangnya yang menghubungkan dengan Reza.
Tari melemparkan belati, menancap di layar yang memperlihat segala penjuru pulau. Layar retak, perlahan berubah gelap.
Jem dan Juwi menatap Tari yang duduk santai, tersenyum sinis melihat dua manusia licik dan jahat.
"Katanya kalian kembar, tapi kenapa berhubungan sampai tidur bersama?" Tari berdiri melihat sekeliling ruangan.
Ruangan yang tidak pernah terlacak, bahkan Nata juga tidak pernah mengetahui keberadaannya. Tari melihat semua tumbuhan yang ada di dalam ruangan palsu.
Mentari baru mengetahui tenyata Jem bukan pria bodoh, kenyatannya Jem seorang ilmuwan, dokter hebat yang sangat terkenal, tapi Jem dipecat, dicabut statusnya karena menodai anak di bawah umur.
"Orang pintar tidak menjamin dia memiliki akhlak yang baik, buktinya Paman Jem. Pintar, berbakat, memiliki gelar, nama baik, tapi hancur hanya karena dia tidak bisa mengontrol nafsu."
"Bukan hanya nafsu gadis kecil, tapi uang."
"Iya benar, memiliki kekayaan secara berproses sungguh melelahkan, padahal banyak sekali orang yang ingin menjadi seperti Paman, dokter yang hebat." Tari tersenyum menunjukkan foto juga pemberitaan soal Jem.
Tari juga tersenyum melihat Juwi yang dibutakan oleh cinta, Juwi terlahir dari keluarga yang memiliki segalanya. Jatuh cinta dan menikah, sulit memiliki keturunan, memergoki suaminya bercumbu dengan pelayannya.
Hancurnya hati seorang wanita membuatnya gelap mata, membunuh suami juga pelayanannya, masuk penjara, di keluarkan dari deretan pewaris, juga tidak dianggap lagi sebagai anak.
Juwi masuk rumah sakit jiwa dan bukannya sembuh, di sana Juwi menjadi pembunuh, sampai akhirnya dia dikucilkan.
__ADS_1
Mentari terdiam mendengar cerita hidup Juwi yang tersakiti, juga mendengarkan cerita kebodohan juga tidak bersyukur memiliki bakat yang luar biasa.
Jem menggunakan kepintaran membangun pulau sampai sukses, tapi sayang dia menggunakannya untuk kejahatan.
Sudah berapa banyak orang yang dia bunuh di pulau, juga banyaknya pengusaha dan orang lemah kehilangan hartanya.
Mentari menggelengkan kepalanya, berharap Juwi dan Jem mati menjadi patung, menjadi penunggu pulau ini.
***
Reza berlari kencang, mendapatkan sinyal dari Tari soal keberadaannya. Langsung melangkah bersama Kai dan Miko.
Mereka masuk ke tempat gua yang tidak jauh dari hutan, Kaira melihat banyaknya orang meminta tolong di selamatkan.
Miko membuka gerbang, meminta mereka semua pergi ke pinggir pantai untuk pergi dari pulau ini.
Kaira melihat seorang wanita yang sekarat, membantunya mengeluarkan racun dari tubuhnya.
Reza melangkah seorang diri, mendengar suara pertarungan. Langsung mendobrak pintu, melihat Tari bertarung dengan Jem.
Mentari muntah darah, bajunya sobek hampir dinodai oleh Jem. Mata Reza berubah merah karena amarah.
Tembakan Reza lebih dulu menembak tangan Jem, Mentari menutup matanya. Reza langsung menendang kuat.
Jem terlempar kuat, Reza mengabaikan Mentari yang berusaha berdiri mengejar Juwi yang sudah melarikan diri.
Reza yang sudah dari awal dipermainkan, tidak bisa lagi mengontrol dirinya. Memukuli Jem berkali-kali sampai keluar darah.
Melihat Jem darah semua tidak membuat Reza berhenti, masih melayangkan tendangan tiada henti.
Jem tertawa melihat Reza yang terus memukulinya, sekalipun Jem mati belum tentu kekasih Reza bisa selamat.
Mentari sudah menelan racun, hanya Juwi yang memiliki penawarannya. Sekarang Juwi sudah melarikan diri, Tari tidak memiliki banyak waktu.
Jem menendang kuat Reza yang langsung terjatuh, melempar Reza dengan bubuk, Kaira melindungi Reza jangan sampai serbuk mengenai mata Reza.
Melihat Jem melarikan diri, Reza langsung berlari mengejarnya mengikuti langkah Jem yang sudah kesulitan berjalan.
Reza menembak kaki Jem, suara teriak meringis terdengar. Kaira meminta Miko membawa gadis kecil yang sekarat ke kapal untuk melakukan perawatan, goa akan segara diledakkan.
__ADS_1
Reza meminta Kai dan Miko pergi lebih dulu, meyelamatkan banyak orang yang terkurung. Jem belum juga menyerah berhenti menyentuh sebuah senjata yang terjatuh di tanah langsung mengarahkan pada Reza, membuyarkan konsentrasi Reza karena Jem melemparkan serbuk.
Suara tembakan terdengar, Reza menembak jantung Jem sampai darahnya mengalir membasahi rumput yang kering.
Reza menjatuhkan senjatanya, memeluk pinggang kecil, mengusap tembakan di pinggang Tari yang tersenyum melihat Reza.
"Tuan, berhati-hatilah." Tari memeluk erat tubuh Reza.
"Tari."
"Iya, tolong selamatkan kak Lian. Tari rela menggantikan kak Lian, jangan biarkan dia tertinggal di pulau ini."
"Tidak ada yang akan meninggalkan Lian, kita akan melenyapkan tempat ini bersama dengan seluruh makhluk kanibal. Kita akan pergi dan pulang bersama.
Tubuh Mentari melemah, Reza terduduk meletakan wajah Tari di dadanya. Melihat darah yang semakin banyak keluar.
Reza meminta bantuan Miko untuk menemuinya, mengatakan Mentari tertembak.
"Tuan, Tari bermimpi bertemu Ayah dan ibu, mereka bilang Tari sudah besar, meminta maaf karena tidak ada disisi Tari, juga selalu menjaga Tari dari atas." Air mata Mentari menetes, matanya terpejam.
"Aku akan mengantikan orang tua kamu untuk menjaga dan melindungi kamu."
"Tidak tuan, Tari ingin bersama ibu dan ayah. Maafkan Tari sudah menjadi beban tuan, berjanjilah Tuan harus banyak tertawa, memiliki teman dan hidup normal." Mentari tersenyum mengusap wajah Reza.
"Kita teman, jangan bodoh kamu masih muda, jalan kamu panjang. Kamu akan selalu bersama aku." Reza membawa Tari, tapi tubuhnya juga lemah.
Rinda datang bersama Maxi, Max langsung menggendong Tari membawanya ke kapal. Rinda menggenggam tangan Reza.
"Siapa penyelamat di dalam mimpi kamu?" Reza menatap Rinda.
"Mentari, dia mengajukan diri mengantikan kak Miko di persembahan." Rinda menatap Reza yang melangkah pergi meletakan bom ditubuh Jem langsung meledakkannya.
Rinda merinding melihat Reza yang tidak punya otak, meledakan satu orang yang sudah mati dengan bom.
***
JANGAN LUPA LIKE COMENT DAN VOTE TAMBAH FAVORIT JUGA YA
JANGAN LUPA KASIH HADIAH JUGA YA BIAR AUTOR SEMANGAT UP
__ADS_1
***