BIANKA DAN MAFIA KEJAM

BIANKA DAN MAFIA KEJAM
S2 PULANG


__ADS_3

Maxi masuk kamar Mentari melihatnya sedang beristirahat, juga dalam pengaruh obat bius. Reza menatap Max tajam, meminta Max mengembalikan Tari karena kehadirannya akan menjadi beban.


Seorang pengawal tidak bisa melihat orang yang sudah tidak bernyawa, Reza tidak ingin kejadian ini dimanfaatkan orang sekitar, sehingga mereka semua akan terjebak lebih lama.


Boy setuju dengan Reza, sebaiknya Mentari dan Berlian kembali, Maxi juga kembali mengantar mereka, Boy dan yang lainnya akan tetap di sini.


Max duduk di samping Tari, menyentuh tangannya meminta Tari sadar. Lian juga menggenggam tangan Tari.


"Jika tuan menginginkan kami kembali, mungkin lebih baik kami bertiga kembali." Max membantu Tari untuk duduk, air mata Tari menetes memeluk Max.


"Lian akan mempersiapkan kepulangan kita." Tangan Berlian ditahan oleh Tari.


Mata Tari menatap Lian tajam, senyum Lian juga terlihat langsung memeluk Tari menenangkannya.


"Kita pulang saja, tempat ini berbahaya."


"Kaira juga memutuskan untuk pulang, sebaiknya kalian berempat menyelesaikan tugas kalian di sini." Kai langsung melangkah keluar.


Boy menatap Reza yang langsung melangkah keluar, Boy juga langsung melangkah keluar, hanya Rinda yang masih binggung menatap Miko yang masih terdiam melihat Tari.


Rinda melangkah keluar, diikuti oleh Miko melihat Reza dan Boy berdiri di depan Kai.


Kai menatap tajam, tidak ada yang mengerti Lian, Tari dan max kecuali dirinya, sejak lahir Max yang menjaga Kai, pertama kali Kai juga yang melihat tangisan Lian kehilangan keluarganya, tangisan terakhir kalinya dari mata seorang anak kecil, Lian masih seumuran dengan Reza, Kai tidak pernah bisa berbicara dengan Lian, Max orang yang mengajarinya berlari mengangkat senjata, sampai akhirnya Lian dan Kai berhadapan.


Saat keturunan Chrispeter mendapatkan cinta yang utuh, tapi tidak bagi Lian. Hanya Max menjadi orang tua pengganti baginya, Lian tidak bisa menangis sejak kehilangan cinta keluarganya.


Dia tumbuh menjadi wanita yang kuat, mengangkat tinggi pedang hingga dewasa. Maxi bukan hanya pengawal seorang Kaira, tapi Ayah bagi Berlian dan Tari.


Air mata Kai menetes dihadapan Reza dan Boy, dirinya diam selama ini karena yakin saudaranya orang yang memiliki hati bisa menghargai orang lain.


"Kak Boy, Kai tahu kakak hebat. Sehebat apapun kakak tetap akan gugur melawan dua orang yang setia, Lian jauh lebih kuat dari Kai, berada di sini otot tidak bisa kita gunakan, tapi otak."


"Reza kamu juga harus tahu satu hal tentang Tari, melihatnya seperti tadi kamu anggap dia merepotkan, karena kamu tidak pernah ada diposisi dia, sebelum menilai orang, coba berada di posisi dia sebentar saja."


Kaira menatap tajam mata Reza, ingin tahu sehebat apa seorang Reza yang terkenal kejam.

__ADS_1


Kai menceritakan awal dia bertemu Tari, saat itu Max yang diperintahkan menemukannya. Lian memaksa untuk ikut, mereka mencari Tari yang berhari-hari menghilang.


Saat Maxi temukan, dia berada di sebuah lobang tubuhnya penuh luka, penampilannya berantakan. Tari sudah tidak berkedip, bergerak bahkan mengeras, tubuhnya dikelilingi oleh bangkai manusia.


Selama satu tahun Tari tidak ada perubahan, bahkan tidak pernah berbicara, dia mulai bergerak saat melihat Lian, meminta dipeluk, ketakutan. Max sudah berusaha mengobati trauma Tari, tapi belum juga berhasil, dia bisa melihat orang mati terbunuh, tapi tidak bisa melihat bangkai.


"Kalian lanjutkan pertualang di sini. Kak Boy hati-hati jaga Rinda. Kamu juga Reza, kak Kai berharap kamu membuka sedikit hati, agar ada orang yang bisa bersama kamu." Kai menundukkan kepalanya melihat Miko, meminta menjaga ketiga saudaranya.


***


Kai masuk ke kamar Tari, Lian berdiri di depan balkon bersama Max. Tari tersenyum melihat Kai menundukkan kepalanya memberikan hormat.


"Bagaimana keadaan kamu Tari?"


"Baik Nona Kai."


"Panggil Kak Kai, maafkan sikap Reza yang kasar." Kai mengusap punggung tangan Tari.


Mentari meneteskan air matanya, meminta maaf karena sudah membuat masalah. Mentari berjanji akan melakukan segala cara agar traumanya bisa terobati, dia tidak ingin menjadi beban siapapun.


Max masuk bersama Lian tersenyum melihat Kai, mereka berempat memutuskan untuk kembali. Mengikuti jalur laut bersama dengan para pengunjung yang sedang liburan.


Rinda membuka pintu, masuk mendekati Kai langsung memeluknya meminta kakak perempuan berhati-hati, Kai menyentuh kupu-kupu putih yang terbang di sisi Rinda.


"Kamu berhati-hati di sini Rinda, banyak keanehan di sini." Kai memeluk erat Rinda.


Rinda mengangguk-anggukkan kepalanya, melihat banyaknya burung berada di jendela langsung mendekat, membuka jendela.


Burung bukan menyambutnya, tapi langsung menyerang. Kai teriak kaget, melihat tubuh Rinda menghilang di kepung oleh ratusan burung.


Max langsung berlari menyiram Rinda dengan air, melihat keadaan Rinda yang banyak luka cakaran. Tatapan Rinda langsung tajam, mengeluarkan senjatanya, langsung mengarahkan ke sebuah pohon, memasukkan sebuah jarum, langsung menembak.


Kai, Lian dan Tari langsung melihat ke luar. Melihat seseorang jatuh dari pohon, Kai melihat tubuh Rinda, dia ternyata bukan di serang, tapi dilindungi dari penembak.


"Siapa dia Rin?"

__ADS_1


"Orang dari dalam hutan." Max menatap Rinda, Max kita tahu jika Rinda mengetahui ada orang yang mengawasi dari atas pohon.


"Kak Kai Rinda pergi dulu, kalian semua berhati-hati.


"Rinda, jangan pernah bertindak sendiri, kamu harus selalu bersama Miko." Kai teriak, Rinda sudah lompat ke bawah.


Kakinya melangkah mendekati seseorang yang baru saja mendapatkan suntikan, Rinda langsung mengambil jarum, menyembunyikannya.


Rinda teriak kuat, meminta tolong sampai orang ramai mendekatinya, Rinda mengatakan tidak sengaja melihatnya pingsan.


Penjaga penginapan langsung keluar, membawanya pergi, Rinda melambaikan tangannya.


Satu pelacak sudah terpasang, langsung menyerahkan kepada Reza untuk melanjutkan. Kai tersenyum melihat adik kecilnya yang memang selalu terlihat santai.


Maxi juga lompat mengikuti Rinda yang melangkah pergi melihat matahari terbenam, senyum Rinda selalu terlihat, tidak perduli sedang sedih atau bahagia.


Dari jauh Max memperhatikan sekitar Rinda yang memiliki banyak hewan, peringatan Rinda benar ada hari tertentu hewan akan mendekatinya.


"Sebaiknya kalian pergi, aku baik-baik saja."


"Kamu yakin baik-baik saja, tapi bukannya kamu terlihat seperti orang gila." Max berdiri di samping Rinda.


"Walaupun gila, masih terlihat cantik. Lihatlah banyak lumba-lumba, tapi mereka akan segera pergi setelah mengantar dosa pulau ini."


"Dosa."


"Iya, di sini banyak misteri pembunuh, tapi Rinda yakin ada satu orang yang mendapatkan keuntungan besar."


"Kita semua juga tahu itu."


"Orang yang mendapatkan keuntungan, dia satu-satunya orang normal di sini, sedangkan kita semua gila."


"Kenapa kita gila."


"Karena kita ada di sini, jika penasaran kita lihat tengah malam nanti."

__ADS_1


***


__ADS_2