
Pintu kamar Bianka terbuka, dia melangkah keluar menuruni tangga. Mama melihat Bi dengan senyuman, ingin menyambut tangan Bi agar sarapan bersama.
"Di mana yang lain Mama? tidak ada satupun yang menemui aku." Bianka sangat yakin ada masalah besar, putra dan putri Chrispeter tidak ada satupun di Mansion.
"Jangan pikirkan merek Bi, fokus saja pada kesembuhan kamu."
"Bi tidak sakit Ma, masalah besar sedang terjadi. Bianka tidak bisa diam saja."
Melihat Bi turun semuanya tersenyum, Haikal dan lainnya makan dalam diam. Bianka semakin curiga, tidak ada candaan dari Papi Rian, Bara juga tidak terlihat.
Suara teriakan Bara terdengar menuruni tangga kamar memanggil Bianka, Bara menghela nafas melihat Bi yang sedang makan.
"Sayang!"
"Jangan mendekat!"
"Iya, makan yang banyak biar cepat gemuk."
Suara sendok terbanting, semuanya menatap Bianka yang melihat kearah Bara tajam.
"Kamu menyumpah aku biar gemuk?!"
"bukan Bi, sejak kamu sakit lihat kurus sekali."
"sama saja kamu mendoakan aku gemuk, biar kamu bisa melihat wanita seksi lain dan bosan kepadaku."
"Ya udah maaf, aku salah!"
"Sekarang kamu mengakui memiliki wanita lain!"
"Bianka kenapa kamu sensitif sekali! tidak ada yang salah dari pertanyaan Bara." Bunda menggeleng kepalanya melihat Bianka yang mudah sekali marah kepada Bara.
"Bara yang mulai bunda, sekarang dia suka sekali membandingkan Bi dengan wanita lain."
Bara hanya diam mengerutkan keningnya, jangankan untuk membandingkan, melirik wanita lain saja tidak sempat. Bara berharap kemarahan Bianka cepat berlalu, masalah besar sedang berada di depan mata sedangkan Bi emosinya naik turun.
Selesai makan Bara meminta Bianka mengikutinya, Bara meminta izin untuk pergi ke pulau, ada masalah yang tidak bisa Bara jelaskan.
"Aku pergi sebentar Bianka, dan secepatnya kembali."
"Aku ikut!" Bianka masuk ke dalam Lab dan mengambil senjatanya.
__ADS_1
"Tidak bisa Bi! kamu belum stabil."
"Siapa musuh kita?!"
"Bianka aku tidak memberikan izin kamu pergi!"
"Kenapa?"
"bagaimana kalau kamu mengalami pendarahan lagi? kamu baru saja keguguran. Jangan menambah masalah, kita tidak tahu kekuatan musuh."
"Aku bisa menjaga diriku sendiri!"
"Sekali aku bilang tidak maka jawabannya tidak! aku tidak memberikan izin."
"Jangan atur aku Bara!"
"Tapi aku suami kamu, jangan lawan aku Bi."
Bianka terdiam, meminta penjelasan yang sebenarnya terjadi. Bara menjelaskan keseluruhannya, bahkan soal penculikan Nayla dan Rinda. Reva, Rindu dan Kei juga sudah menuju Markas. Bi ingin sekali pergi tapi Bianka menyadari kondisinya yang belum sepenuhnya pulih.
"Bara! aku pernah menerobos keamanan Kamil, aku hampir terbunuh jika ayah Haikal tidak datang. Pertempuran besar terjadi, keluarga Kamil angkat kaki dari negara ini. Mereka mempunyai pasukan juga senjata yang sudah dimodifikasi, kamu jangan menganggap remeh mereka."
"Aku tahu sayang, ayah sudah menjelaskan semuanya. Tapi kita belum bisa memprediksi yang terjadi, jadi aku harus pergi."
"Terimakasih sayang, boleh mencium dan memeluk kamu."
Setelah mendapatkan anggukan, Bara menciumi Bianka sebelum mereka berpisah. Pelukan hangat mereka rasakan, Bi melepaskan Bara dengan perasaan berkecamuk. Lawan Bara kali ini imbang, Bi tidak meragukan kehebatan Bara tapi satu kali salah langkah pasti akan ada korban.
"Hati-hati kak, jika Bi kehilangan kontak kalian berarti aku akan menyusul apapun yang terjadi." Bi menatap Bara tajam yang hanya memberikan senyuman.
Setelah pamit kepada keluarga, Bara melangkah pergi bersama pengawalnya yang masih setia. Pasukan bayangan juga sudah mengawal Bara memasuki perbatasan Negara. Bara mengerakkan seluruh pasukannya untuk berjaga dari segala arah.
***
Di tengah lautan, Raka melihat beberapa kapal bawah laut. Dia hanya menghela nafas dan menatap Raffi yang juga mengetahui jika mereka sudah dikepung.
"Kenapa kita harus ikut serta penyerangan? aku tidak mau wajah tampanku ternodai." Raka mengaruk kepalanya, tapi membayangkan wajah polos Nayla mengembalikan semangatnya.
"Dari kecil kita sudah diperingatkan jika pasti akan merasa pertarungan. Tapi masalahnya kalau orang dari yang mudah dulu buat pengalaman, sekali kita langsung yang paling kuat." Raffi tersenyum dan mengaruk kepalanya.
"Raffi benar! kita coba sajalah sekali-kali terluka." Riki langsung keluar dan sudah melihat pertarungan Asep dan Kristan dengan beberapa orang bertopeng.
__ADS_1
Reva memberikan perintah untuk turun ke bawah air, tapi sebelum mereka bergerak kapal yang menyerang mereka sudah meledak. Rindu tersenyum karena melihat lambang Bara, akhirnya mereka bisa sedikit bernafas lega.
"Bara datang!" Raffa melihat Bara melompat ke kapal mereka.
"Raka dan Riki kembali sekarang! kalian berdua tidak boleh terekspos, pertahankan perusahaan yang mungkin ada yang mencari keuntungan."
"Raffa dan Raffi kalian juga kembali, pertahanan kediaman Chrispeter juga dipertaruhkan."
"Di sana ada para ayah?" Raffa menolak untuk kembali.
"Jangan bodoh Raffa! jika kita semua berada di pulau, pasukan Kamil menyerang markas, Mansion, Lab, dan yang terburuk penjara. Aku mengirim mata-mata, yang melihat beberapa orang tidak dikenali mulai masuk kota."
"Brengsek! Bara benar soal penjara. Jika mereka berhasil lolos dan dipastikan akan menyerang." Teriak Rindu kesal.
"Baiklah, Karena hanya satu tempat yang sulit di dekati, aku akan pergi bersama kak Riki sedangkan Raffi bersama Raka."
"Baiklah! keluar dari kapal sekarang!" Bara tahu kekuatan musuh sulit ditembus. Papi Rian sudah bergerak, Daddy Roy juga sudah membereskan soal putri Boby Kamil yang tewas, sedangkan keamanan Mansion dijaga oleh ayah Haikal dan Papa Akbar, mereka semua melupakan soal penjara yang menyimpan banyak orang kuat, dan mematikan.
Bara menatap jauh kelautan yang gelap, tidak pernah Bara bayangkan untuk bertarung dan melindungi keluarga, harus memiliki perhitungan yang sangat detail.
Kapal terus berlayar tanpa gangguan, Rindu berdiri dibelakang Bara yang semalam berdiam diri tanpa bicara setelah melepaskan para boys dengan misi masing-masing.
"Apa yang kamu pikirkan kak Bara?"
"Bayangan kematian!"
"semuanya pasti akan baik-baik saja, kita akan memenangkan pertarungan ini." Rindu terus berusaha menyakinkan dirinya untuk stabil karena musuh mereka bukan orang sembarangan, tanpa Bianka terasa formasi kurang.
Kristan juga duduk diam menatap lautan, mengigat Nayla yang mungkin terluka. Sejak kecil Nay kehilangan segalanya dan selalu mendapatkan pukulan, kehidupan Nay sangat miris.
***
Bianka tidak bisa tidur dan berdiri di balkon kamar, Bi melihat burung gagak yang berterbangan dan jatuh meninggalkan di depan Bianka.
"Pertanda apa ini!" cepat Bi melangkah turun dan mencari Mami Riani yang juga sedang berada di luar melihat segerombolan burung gagak hitam.
"Tanda apa ini Mami?" Bianka menatap ke atas langit.
"Kematian! sepertinya kita akan berduka." Mami menatap langit, dan jatuh kembali burung gagak sudah mati.
***
__ADS_1
UP DI JAM 06.00 DAN 20.00 LEWAT DARI JAM INI BERARTI TIDAK UPðŸ¤
JANGAN LUPA LIKE COMENT DAN VOTE.... KASIH HADIAH JUGA YA.