BIANKA DAN MAFIA KEJAM

BIANKA DAN MAFIA KEJAM
S2 BUAH BERACUN


__ADS_3

Semua orang memilih keluar, Miko menatap Kaira yang berpenampilan seperti orang siap berperang dengan hama.


"Kita ingin membunuh hama?" Miko melihat Kai memasang sarung tangan, sepatu boat.


Miko mengikuti Kai, berjalan kaki ke arah perkebunan buah. Sesampainya di sana Kai tidak melihat siapapun, langsung masuk ke kebun, melihat buah-buahan yang sama persis, hampir tidak ada perbedaan.


Kai menatap satu pohon, menyentuh buahnya, mengambil jarum suntik, langsung menyimpannya.


Miko kaget melihat pohon yang Kaira ambil cairan langsung layu, sedangkan pohon lain tidak layu.


"Kak Miko tahu ini buah apa?" Kai memegang satu tangkai buah.


"Kai, jangan pertanyaan seakan-akan kak Miko orang bodoh. Anak kecil juga tahu ini buah anggur." Tatapan mata Miko tajam melihat buah ditangan Kai.


"Jika buah anggur, coba kak Miko makan." Kai meminta Miko membuka mulutnya.


Tatapan Miko semakin tajam, Kai hanya tersenyum melangkah pergi, mengambil beberapa buah langsung membawanya kembali ke penginapan.


Miko tahu maksud pertanyaan Kai, buah yang ditanam memang jenis anggur, tapi jika diteliti lebih lanjut banyak sekali perbedaannya.


"Kak Miko tahu sesuatu sejarah buah ini, kak Miko juga pasti tahu bahayanya." Kai menatap tajam, senyuman Kai terlihat penuh rasa penasaran.


Miko memang mengenali buah yang di budidayakan di pulau ini, saat Miko masih muda dia pernah masuk ke dalam markas kejahatan seorang dokter hebat, dia juga bergelar master.


Sangat ahli menciptakan obat-obatan, banyak sekali orang yang bekerjasama dengannya. Miko masuk menyelinap ke dalam kebun melihat banyak sekali jenis buah, tidak bisa membedakan sama sekali.


Miko melihat seekor burung megambil buah, tapi hanya hitungan detik jatuh ke daratan dan meninggal.


"Siapa orang yang membuatnya kak Mik, cara membedakannya." Kai memegang dua buah yang terlihat sama dari segala segi.


Miko mengambil satu buah di tangan Kai mengembalikan kembali, mengecek satunya. Menunjukkan satu titik hitam di area tangkai.


Kai memperhatikan lebih jelas, perbedaan yang sangat sulit dikenali. Meminta Miko melanjutkan ceritanya soal pembuatan dua buah yang sama persis.


Miko masuk ke dalam ruangan laboratorium, melihat banyak orang bekerja secara paksa, dokter berbakat yang dikerjakan demi menghasilkan banyak uang.


Melihat keadaan lab yang luar biasa mengagumkan bagi Miko, tapi tidak lama datang puluhan orang yang menyerang, Miko yang kebingungan menatap banyak dokter yang melarikan diri, membawa ramuan untuk tanaman anggur, sedangkan profesornya mati dibunuh.


Miko tidak mempedulikan apapun yang terjadi, dia langsung pergi meninggalkan tempat kejadian.


Kai tersenyum melakukan pengetesan satu buah yang berbahaya, ingin tahu khasiat juga reaksinya.

__ADS_1


Miko memejamkan matanya tidur membiarkan Kaira bekerja sendiri, sesekali Miko melirik Kai yang masih saja hening diam tidak bersuara.


Lama-lama Miko mulai bosan, dia biasanya bersama Rinda sedang bertarung, atau bercanda melakukan sesuatu. Miko merindukan Si kecil yang dari bayi sudah dia jaga, tidak terasa sudah 17 tahun mengawal Rinda.


Miko memilih keluar duduk di balkon, sambil menatap Kai yang belum juga berhenti.


"Dasar perempuan aneh, dia tidak haus dan lapar, berkutik dengan buku dan tablet, juga bau cairan tidak jelas.


Gumpalan asap terlihat di dalam ruangan, Miko langsung berlari ke dalam mengambil seluruh cairan Kai membawanya keluar, membuangnya ke luar.


Miko membuka seluruh jendela, mengeluarkan seluruh asap, Kai sudah batuk akhirnya muntah parah, Miko mengusap punggung Kai memuntahkan seluruh isi perutnya.


"Seharusnya kamu berhati-hati Kai, melakukan penelitian tanpa baju pengaman, di dalam ruangan yang tidak aman, ini bukan lab Kai. Aku tidak memahami cara kerja kamu, tapi satu hal yang aku tahu, kamu terlalu berambisi, tanpa memperdulikan diri sendiri." Miko langsung menggendong tubuh Kai, pindah ke kamar lain.


Penjaga keamanan binggung melihat Kai, Miko menatap tajam mengatakan jika istrinya mengalami ketakutan di kamar satunya membutuhkan kamar baru.


Kai mengumpat di dalam hati, beraninya Miko mengatakan jika dirinya mengalami ketakutan seperti orang depresi.


Miko juga mendapatkan penawaran untuk membawa Kai dalam acara doa yang akan dilakukan tepat di tengah malam.


"Tuan, ini brosur untuk acara malam ini."


"Silahkan keluar, tidak melihat keadaan istri saya." Miko teriak kuat.


Miko melihat anggur yang Kai teliti berubah menjadi serbuk hitam, serbuk yang bisa dijadikan racun paling mematikan.


Pohon anggur yang dibudidayakan bercampur dengan racun, setiap orang yang memakannya dipastikan bisa mati perlahan, memiliki penyakit mematikan.


"Manusia kejam, kalian membuka tempat pengobatan, tapi kalian sendiri penyebab penyakitnya." Miko langsung memukul kuat pintu.


Miko kembali ke kamar Kaira, mengecek keadaan Kai yang nampak baik-baik saja, Miko juga menyentuh kening Kai.


"Kamu baik-baik saja? bagian mana yang sakit?"


"Aku baik-baik saja kak Mik, racun tidak masuk ke dalam tubuhku."


"Syukurlah, aku juga seorang bajingan. Pembunuh berdarah dingin, tapi aku tidak mengusik kehidupan orang yang tidak berdosa, tidak bersalah, manusia sinting." Miko menatap penuh kemarahan.


"Tempat ini aneh, kita harus berbicara dengan yang lainnya." Kai berusaha untuk berdiri, Miko membantu memeluk pinggang Kai.


"Kak Miko?"

__ADS_1


"Iya."


"Bisa memberikan jarak tidak, rasanya tidak nyaman." Kai menggaruk tengkuknya, Miko langsung mundur, tubuh Kai langsung terjatuh, karena Miko melepaskan dadakan.


Suara Boy di kamar sebelah terdengar, Miko dan Kai langsung membuka pintu melihat Boy berdebat dengan Lian membicarakan masalah persembahan.


"Kak Boy?" Kai langsung mendekati Boy.


Boy langsung berlari memeluk Kai, melihat wajah Kai yang pucat.


"Apa yang terjadi? siapa yang menyakiti kamu?" Boy menangkup wajah Kai.


"Penelitian Kai berasap, hampir menghirup asap beracun." Kai memeluk Boy.


"Astaga Kai, hati-hati dek. Kamu tidak tahu nyawa kamu sungguh berharga." Boy mengusap kepala Kaira.


"Di mana Rinda?" Boy menggedor kamar Rinda.


"Mungkin keluar Boy, Reza juga keluar bersama Tari.


"Minggir Boy!" Reza menendang pintu kamar, langsung menggendong Tari yang masih syok.


Berlian berlari melihat keadaan Tari, mengusap wajahnya yang basah.


"Tari, sadar. Kak Max di mana?" Lian teriak mencari Max.


"Tenang Lian, dia mengalami shock. Kamu ganti dulu baju dia yang laki-laki keluar.


Miko, Reza dan Boy keluar mencari Rinda, Berlian juga keluar menghubungi Max, tidak ada yang bisa dihubungi.


Di kamar Berlian membantu mengganti baju Tari, suara tangisan Tari kuat terdengar. Teriak histeris ketakutan, Reza langsung masuk memeluk Tari meminta untuk tenang.


Kai langsung mengambil suntikan menyuntik Tari yang perlahan tenang, langsung memejamkan matanya.


Boy menatap tajam Reza yang membawa Tari sampai mengungkit trauma.


***


JANGAN LUPA LIKE COMENT DAN VOTE TAMBAH FAVORIT JUGA


JANGAN LUPA KASIH HADIAH JUGA YA BIAR AUTOR SEMANGAT UP

__ADS_1


***


__ADS_2