BIANKA DAN MAFIA KEJAM

BIANKA DAN MAFIA KEJAM
S2 HAMIL


__ADS_3

Senyuman kebahagiaan terlihat dari wajah Kai dan Miko, berfoto menunjukkan jarinya yang sudah menggunakan cincin kawin.


Senyuman Miko dan Kai menampakkan kebahagiaan, ditambah lagi Boy dan Lian yang juga merasakan kebahagiaan yang sama.


"Selamat kak Miko."


"Terima kasih Boy, kamu juga selamat menempuh hidup baru." Miko memeluk Boy berfoto bersama.


Bianka dan Keisya meneteskan air matanya, melihat anak mereka sudah memiliki pasangan hidup.


"Kei, rasanya baru kemarin mengandung dia." Bianka memeluk Keisya.


"Baru saja melihat Boy kecil lahir, ada Kaira dalam perut aku yang mulai bergerak Bi. Mereka sekarang sudah menikah." Keisya memeluk Bianka.


"Begini perasaan kami, tidak terasa putra putri kami sudah menikah, memiliki anak, sekarang mereka memiliki menantu. Kenyataannya kami yang dulu kuat sekarang sudah tua." Bunga menatap Bianka langsung memeluk Bi, Kiara memeluk Keisya.


"Bunda, Mama, Mami dan Mommy harus selalu sehat, kita harus melihat bersama generasi keempat Chrispeter, dulu Ayah versi lelaki, Bianka versi wanita, Boy versi gabungan sedangkan mereka nanti apa ya?"


"Kembali ke awal." Riani tersenyum.


"Mami, jangan dibocorkan." Bianka, Kei menepuk jidat.


"Hanya perkiraan saja." Riani tersenyum.


Keluarga sibuk mengobrol sambil menunggu Tari yang sedang di make up, Reza bukannya berpikir tapi memilih untuk tidur.


"Sep, Reza cuek sekali. Boy, Miko semuanya tegang, tapi kamu lihat Reza dia bisa tidur nyenyak." Bara menggelengkan kepalanya.


"Dia sedang menutupi ketegangan, ketakutan, kecemasan. Palingan nanti dia seperti aku dulu." Asep menggaruk kepalanya, Bara sudah tertawa kuat.


Di dalam kamar rias, Lian dan Kai sibuk bercerita, Rinda yang biasanya berisik memilih untuk diam seribu bahasa sambil mendengarkan musik.


Mentari duduk di depan meja rias, mempercantik dirinya yang dibantu penata rias. Rambut Mentari disanggul berbeda dengan Kai dan Lian yang diuraikan.


"Tari kamu tegang tidak?"


"Tidak, Tari sudah mulai santai karena kalian lancar."


"Kamu tidak merasakan khawatir."


Tari menghela nafasnya, membayangkan Reza yang anaknya cuek dan selalu santai. Kesalahan bagi Reza suatu yang normal, jadi tidak masalah jika ada masalah.


Berlian dan Kaira mengerutkan keningnya, Tari selalu menangapi santai apapun yang Reza lakukan.


"Tar, bagaimana jika Reza melakukan kesalahan?"


"Dia yang malu." Tari langsung tertawa, menatap Lian dan Kai.


"Kak Reza bukan hanya calon suami juga akan menjadi calon Ayah ...." Tari terdiam melihat mata Lian melotot.


"Apa?" Lian, Kaira dan Rinda langsung berdiri kaget.


Berlian langsung berlari menutup pintu, meminta perias keluar sementara meninggalkan mereka berempat.

__ADS_1


Lian langsung mencengkram rahang Tari, membuat Tari teriak langsung menangis.


"Kamu gila ya Tari!?"


Berlian menatap marah, tidak habis pikir Tari dengan mudahnya sampai berhubungan sampai hamil.


"Sudah jangan diributkan lagi, kita rahasiakan saja dari keluarga jangan sampai ada yang membocorkan. Paling penting Reza bertanggung jawab." Kaira menenangkan.


"Daddy Asep bisa marah besar, dia selalu mengajari kepada kami para wanita, harus bisa menjaga kehormatan. Jika tahu Reza sudah melakukannya Daddy Mommy pasti kecewa." Rinda menghela nafas.


"Kamu melakukannya suka sama suka Tari?"


"Melakukan apa Lo?" Tari menatap tajam, duduk di depan meja hias.


"Kamu tadi mengatakan Reza akan menjadi Ayah?" Lian menaikkan nada bicaranya.


"Nanti kak Lian, bukan sekarang. Makanya kalau orang bicara jangan dipotong-potong." Tari memanyunkan bibirnya.


Berlian langsung tersenyum, Rinda tertawa kuat sudah berpikir jelek soal Reza, Kaira mengelus dada lega.


Seluruh pelayan sedang sibuk berbisik-bisik tetangga, Reva mengerutkan keningnya mendengar samar-samar ucapan banyak orang membicarakan Mentari dan Reza.


Reva langsung berlari menemui Asep, seluruh keluarga sudah menunggu di depan tempat mengucap janji setia pernikahan, sudah mengganti baju untuk ketiga kalinya.


"Daddy, di mana Reza?"


"Masih siap-siap, ada apa Mom?"


Rindu berlari, bersama Bianka yang baru selesai mengganti baju mengatakan kepada Reva jika Tari sedang hamil.


"Siapa yang mengatakannya?" Asep langsung berdiri.


"Perias Tari, Mentari mengakui kepada Lian, Kai dan Rinda. Berlian langsung mengusir penghias dan menutup pintu." Bianka menghela nafasnya.


Asep menggenggam erat tangannya, menatap tajam menahan amarah. Asep selalu memperingati Reza untuk menjaga kehormatan wanita.


"Sudahlah, jangan dibahas lagi. Kalian lebih baik diam, karena Reza sudah berniat bertanggung jawab." Dara menatap Reva dan Asep memintanya untuk duduk.


Reza muncul langsung berjalan santai ke atas tempat pendeta berdiri, Boy, Max dan Miko sudah mencari tempat duduk yang memiliki nama mereka.


Asep memalingkan wajahnya tidak suka melihat Reza yang tidak menunjukkan harga diri, menjatuhkan kehormatan wanita.


"Daddy, kenapa membuang muka. Kalian semua terlihat tegang, Reza tidak akan membuat masalah." Reza tersenyum menatap Mommy yang meneteskan air matanya, sedangkan Daddy-nya membuang pandangannya.


Reza berjalan turun, berdiri di depan kedua orangtuanya. Asep langsung melangkah pergi.


"Daddy, ada apa ini?"


"Kamu tidak malu bertanya ada apa? Daddy kecewa sama kamu."


"Kesalahan apa yang Reza buat?"


Asep langsung berjalan ke arah Reza, mencengkram kuat lengan Reza membuat baju pengantinya kusut.

__ADS_1


"Daddy sangat menyayangi kamu, selalu berpesan untuk menghormati wanita, menjaga harga diri seorang wanita. Bisa kamu mengecewakan Daddy dengan menghamili Tari, dia Daddy anggap putri Daddy yang mendapatkan amanah dari Ahlan untuk menjaganya."


"Gila, mana mungkin Reza berbuat sejauh itu. Jika memang benar sudah sejak awal Reza mengakuinya meminta dinikahkan, tidak harus menunggu berurutan seperti ini."


"Kamu tidak mendengar, jika Mentari mengakuinya?"


"Daddy seperti tidak mengenal mereka saja, di mana ada Tari, Lian, Kai apalagi Rinda pastinya kebenaran nyangkut. Reza selalu memegang amanah Kakek Roy, jangan pernah kamu menyakiti wanita yang kamu cintai karena akan menjadi penyesalan seumur hidup, juga tidak akan memaafkan diri sendiri. Reza tidak akan menyentuh wanita tanpa pertanggungjawaban, apalagi wanita gila seperti Mentari membuat heboh saja." Reza langsung kembali ke atas untuk berdiri menunggu mempelai wanita.


Asep tersenyum menatap Roy yang memintanya untuk tenang, Reva juga langsung duduk menghela nafas lega.


Asep di minta mendampingi Tari untuk menemui calon suaminya, Asep tersenyum langsung menyambut tangan Tari.


"Selamat sore Daddy."


"Sore sayang, kamu tidak deg-degan?"


"Tidak, Tari hari ini bahagia. Daddy tidak menyesal memiliki menantu seperti Tari?"


Asep tertawa kecil, mengusap tangan Tari. Menumpuknya pelan, Asep tahu Tari sedang menahan kesedihannya karena tidak memiliki orang tua lagi.


"Daddy bangga memiliki menantu seperti kamu, Daddy juga bahagia bisa melihat kamu dan Reza menikah."


"Tari ingin mengucapkan terima kasih untuk Daddy dan Mommy, tolong anggap Tari putri kalian." Tari menahan air matanya.


"Sejak kamu kecil sudah Daddy anggap putri kandung Daddy." Asep berhenti melangkah, menatap Reza yang tersenyum.


Asep langsung memeluk Reza, memintanya menjadi suami yang selalu mencintai Mentari, belajar lebih dewasa lagi.


Reza menganggukkan kepalanya, langsung menyambut tangan Tari. Reza sudah tidak tahan lagi ingin memarahi Tari yang tidak bisa menjaga ucapannya.


Reza dan Tari saling bertatapan, Reza tersenyum menatap keluarga lalu menatap Tari mulai mengucapkan janji pernikahan setelah mengikuti acara yang pendeta pimpin, Reza mengucapkan janjinya dengan suara pelan, tenang juga penuh kewibawaan.


Mentari diminta mengucapkan janji setia, tapi menatap wajah Reza membuat Tari lupa dengan janjinya membuat pendeta tersenyum.


Setelah menunggu cukup lama barulah Tari dan Reza memasangkan cincin ke jari masing-masing, Mentari megambil cincin ingin memasukan ke jari Reza.


Suara cincin terjatuh terdengar, suara Boy, Lian, Rinda tertawa paling besar langsung menutup mulut setelah melihat beberapa mata melotot besar.


"Mentari bego." Rinda cekikikan tertawa.


"Mentari oon, bisa juga dia menjatuhkan cincin." Lian menahan tawa.


"Reza cincinnya jatuh, hilang. Pernikahan kita batal." Tari menundukkan kepalanya.


Reza menghela nafasnya, langsung memeluk tubuh Tari lembut.


"Cincin hanyalah pengikat, tapi sebenarnya bukan cincin bukti cinta aku. Ada tidaknya cincin kita sah suami-istri, bukannya kamu sedang hamil?" Reza tersenyum menatap Tari.


***


JANGAN LUPA LIKE COMENT DAN VOTE TAMBAH, FAVORIT JUGA


JANGAN LUPA KASIH HADIAH JUGA BIAR AUTOR SEMANGAT UP

__ADS_1


***


__ADS_2