
Kebahagiaan Bara sangat lengkap, setiap hari melihat istri cantiknya. Keromantisan terus terlihat, Bara pergi dan pulang kerja selalu mencari Bi. Bi bahkan mengurangi kegiatan menembak dan bertarung, dia lebih mirip seorang istri, sesekali mereka liburan untuk menenangkan pikiran, dan pulang ke rumah penuh canda dan tawa.
Bi bermandian keringat setelah berperang dengan Bara di ranjang, tubuh Bi masih berada di atas tubuh Bara yang memeluk punggungnya dengan erat. Bara menarik selimut dengan kakinya, lalu menutupi tubuh mereka.
"Bi! kamu mau punya anak berapa?"
"Satu!"
"empat ya, biar enak ramai."
"Kamu mau cewek apa cowok?"
"Cowok saja, cukup satu!"
"Cowok satu cewek tiga!" Bara mengecup bibirku Bianka, melahap tapi Bi langsung memukuli tubuh Bara.
"Masih capek kak, dicabut juga belum, mau mulai lagi."
"Bersama kamu tidak pernah ada puasnya Bi. Semoga kamu cepat hamil, biar nanti rumah kita ramai tidak hanya suara tangisan Nayla." Bara dan Bi tertawa.
"Bagaimana kalau aku tidak bisa memberikan kamu anak?"
"Jangan bicara sembarangan, ada tidaknya. Aku tetap mencintai kamu. Soal anak banyak yang menginginkan orang tua, yang penting kita selalu bersama." Bara mengecup sekian bibir Bi.
***
Bianka mondar-mandir di depan Mansion menunggu Bara pulang, sudah hampir satu minggu Bara selalu pulang larut malam. Hampir empat bulan ini Bara sangat sibuk, hampir tidak punya waktu bersama Bi, Bi melihat jam sudah hampir subuh, Bara belum juga kembali, Bianka langsung berdiri saat mendengar suara mobil Bara. Bi berdiri di balik pintu, langkah kaki dan suara wanita meenggagu pendengaran Bianka.
"Kamu cari mati Bara! beraninya kamu dekat dengan wanita lain, keluar dari sini aku pastikan cacat." Bi menggenggam tangannya kuat.
Seorang wanita sedang mabuk masuk ke dalam rumah, Bara berjalan di belakangnya dengan memijit kepalanya. Bara berharap Bianka belum bangun, dan tidak menyadari jika dirinya belum juga kembali.
"Sayang! ayo bobok ke kamar."
Bara hanya berdiri terdiam melihat wanita seksi menggodanya, Bara langsung merinding melihat langkahnya mendekati Bara dan hampir terjatuh. Bara berlari menangkap, wanita tersebut memeluk Bara kuat, dan matanya menatap mata Bi yang sangat mengerikan.
__ADS_1
"Sayang di sini ada hantu! aku takut."
"Iya lepaskan dulu, aku tidak bisa nafas." Bara berusaha melepaskan diri.
"Sayang! takut." teriakan kuat membuat Bara menutup mulutnya.
"Diam, kecilkan suara kamu, nanti istri aku bangun."
"Lihat ada hantu!"
Bara langsung menoleh ke belakang dan berdiri kaget, Bianka menatap dengan tatapan amarah. Bara hanya menggelengkan kepalanya, dia tidak tahu harus mengatakan apa.
"Bi!"
Belati tajam langsung dilemparkan Bianka ke arah Bara, dengan cepat Bara menghindar. Matanya langsung melihat kearah Bianka yang mendekat.
"Bianka! dengarkan aku dulu." Bara mendekati Bi, tapi tamparan langsung menghantam wajahnya.
"Bianka!" Bara menatap Bianka tidak kalah tajam, tamparan Bi melukai harga dirinya.
Bi senyum menyeringai, dan langsung maju menyerang Bara. Pertarungan antara Bara dan Bianka terjadi, Bara terus berusaha menghindar karena tidak mungkin dia memukul Bi.
"Sekarang giliran kamu! aku sudah lama tidak bertarung. Tapi mencabik-cabik tubuh kamu mungkin lebih menyenangkan.
Bianka mendekati wanita yang pulang bersama Bara, dia bersembunyi karena ketakutan. Bi menarik rambutnya dan membenturkan di lantai, berkali-kali Bianka menendang dan menampar. Suara teriakan juga tangisan membuat seluruh maid keluar dan teriak histeris melihat nyonya mereka memukuli wanita dan menelanjanginya.
Tubuh wanita tersebut penuh dengan luka, suara teriakan Bara membuat emosi Bianka semakin menjadi-jadi.
Asep dan Reva baru saja datang, mereka binggung melihat Bara yang menendang kuat pintu. Reva bisa mendengar suara keras dari dalam.
"Cari cara biar kita bisa masuk, wanita itu bisa mati di tangan Bianka."
"sudah Reva katakan, jangan ke mansion Bara. Bianka bisa ngamuk." Reva menendang kuat pintu bersama dengan Bara dan Asep.
Seluruh pengawal di kumpulkan, pintu terbuka. Wanita terlempar diri dalam jatuh ke dalam dekapan Bara. Cepat Bara dan Asep membuka jaket menutupi tubuh wanita yang sudah berlumuran darah, juga tidak sadarkan diri. Bara menatap Bi langsung mendekatinya, dan mencengkram erat rahang Bi.
__ADS_1
"Kamu gila ya, wanita itu sedang hamil. Tidak bisa kamu dengarkan dulu penjelasan sebelum marah." Bara melempar Bianka sampai terjatuh, fokus Bara langsung beralih ke wanita yang sudah teriak histeris.
"Tuan, dia berdarah. Nanti dia ke guguran." Teriak Asep.
Reva langsung berlari ke kamar melewati Bianka yang menatap mereka, Reva membawa baju dan memasangkannya. Cepat Bara menggendong membawa masuk ke dalam ruangan perawatan, dokter langsung berlarian.
Bi langsung berdiri, memegang perutnya. Dia langsung tersenyum dan menggelengkan kepalanya.
"Aku gila! kalian yang gila. Wanita mana yang rela suaminya membawa wanita lain ke dalam rumah hampir subuh." Bianka menangis, menekan kuat perutnya, dan memukulinya.
"Aku tidak ingin mengandung anak kamu!" Bianka berlari ke kamarnya, di carinya obat-obatan penggugur kandungan.
Bianka menangis sesenggukan, menghamburkan seluruh obat yang berada di lab nya. Bi berpikir dengan berita kehamilannya akan membuat Bara lebih sering di rumah bersamanya. Bukan sibuk bekerja, pergi pagi pulang malam, tapi ternyata rasa pahit yang Bi terima.
Di genggamnya obat yang bisa mengakibatkan keguguran, Bianka memegang perutnya. Kandungan yang baru satu minggu bahkan belum berbentuk gumpalan darah, tapi sudah harus di gugurkan.
Langkah kaki Bi berlari keluar kamarnya, di sana dia bertemu dengan Raffa dan Raffi. Tatapan mata Raffa sangat tajam, penuh amarah terhadap Bi.
"Kak Bianka memang wanita egois, lakukan sesuatu pakai otak bukan emosi." Raffa mendorong Bianka, tapi Raffi langsung menangkapnya.
"Kak Bi, maafkan Raffa dan kak Bara. Dia tidak bermaksud menyakiti kakak. Mohon pengertiannya."
"Pengertian! kalian tidak memikirkan perasaan aku, suami pulang bersama wanita mabuk. Memeluknya, memanggil sayang. Ini jam berapa Raffi, seharusnya Bara menemani aku bukan wanita hina itu."
"Kak cukup!" Raffi langsung meninggalkan Bianka yang menangis sesenggukan.
"Siapa pun kamu, ada hubungan apa dengan keluarga kami. Setidaknya kalian semua menyakiti aku, hidup aku selama ini tenang tanpa air mata. Hanya karena seorang suami, aku harus menangis."
"Ayah! Bunda!" bibir Bianka gemetaran, darah keluar dari balik celananya mengalir mengenai lantai, bercampur dengan darah wanita yang harus menjadi penghancur hatinya. Bi memegang perutnya dan langsung keluar rumah.
"Ayah Bianka rindu! mau bersama ayah." Bianka menangis di dalam mobilnya, rasa sakit diperutnya tidak dipikirkan. Dia hanya ingin kepelukan ayahnya.
***
JANGAN LUPA LIKE COMENT DAN VOTE TAMBAH FAVORIT JUGA YA.
__ADS_1
ASLI AUTHOR SAKIT HATI SAMA KAYAK BI
***