BIANKA DAN MAFIA KEJAM

BIANKA DAN MAFIA KEJAM
S2 SERAKA


__ADS_3

Kapal sudah berada di tengah lautan, mendekati kapal yang tidak kalah besar, Boy dan Maxi sudah mendekati kapal langsung terjun.


Reza meminta pengawal bersiap, mereka sudah menyadari keberadaan Boy dan Maxi.


Beberapa orang bersenjata mendekati, memberikan perintah kapal untuk menjauhi. Lian langsung melompat ke kapal sebelah menjatuhkan beberapa orang.


Rinda menolak untuk melompat meminta tangga, barulah dia pindah kapal. Tari mengikuti Rinda bersama Reza di belakangnya.


Kapal Reza di tabrakan sampai mundur jauh, Maxi dan Boy sudah ditodong senjata. Senyuman Boy terlihat melihat wanita seksi duduk dengan arogan.


Berlian mendekati Boy, menatap wanita yang ternyata Amel. Wanita yang pernah Maxi selamat mengaku jika mengalami kebutaan di sebelah matanya ternyata bohong.


Mereka sengaja mendekati keluarga Chrispeter, tapi sekarang Raffa menolak menikahkan Max. Mereka akhirnya memilih melarikan diri dengan mengambil obat terbaru Kai untuk menggunakan di luar.


"Sia-sia kalian datang ke sini, karena obat dan penawar sudah tidak ada."


"Kamu pikir kami datang untuk itu?" Rinda tersenyum sinis langsung menebak kaki pengawal Amel.


"Beraninya kamu Rinda!"


"Kedatangan kami ingin membuat bukan hanya sebelah mata kamu yang buta, tapi keduanya."


Tatapan Amel tajam, langsung memberikan perintah untuk membunuh mereka semua. Kedua orang tua Amel keluar melihat cucu Chrispeter berada di kapal mereka


"Kalian ingin apa?"


"Kembalikan buku juga penawar suntikan yang sudah kalian ambil."


"Tidak akan pernah kami juga membutuhkannya."


Boy dan Reza saling pandang, Reza langsung melangkah pergi mencari sesuatu. Rinda dan Tari juga mundur membiarkan Boy, Maxi dan Berlian yang menyingkirkan puluhan bodyguard.


Suara pertarungan terdengar, Berlian mengejar Amel yang wajah tidak secantik yang orang bicarakan. Suara beradu tembakan terdengar,


Boy bersembunyi di balik tumpukan pelampung menembaki seluruh pengawal, Max juga menebak puluhan orang banyak yang berjatuhan di dalam air.


Berlian mengejar Amel sampai ke atas kapal, bertarung saling menjatuhkan. Amel kewalahan melawan Lian, Lian langsung menendang kuat.


Amel terguling hampir jatuh dari kapal, Lian tersenyum berdiri melihat Amel.


"Tolong aku Lian, aku berjanji akan menyerahkan penawar yang aslinya."


"Kamu pikir aku bodoh, kalian manusia licik yang bisa membuat janji dan langsung mengingkarinya."


"Aku tidak akan mengingkarinya, jangan bunuh aku."


"Lepaskan dia."

__ADS_1


Berlian melihat ke belakang, seorang pemuda yang menggunakan baju pasien mengarahkan senjata ke arah Lian. Suara Lian tertawa terdengar melihat pemuda yang berdiri saja kesulitan mengancamnya.


Lian melangkah mendekat, Amel berhasil naik kembali. Melangkah merangkak perlahan mengambil senjata.


Saat tangannya menyentuh senjata Lian langsung menembak tangan Amel, tapi tatapan tidak lepas dari pemuda yang melangkah mundur.


"Saat kamu melepaskan tembakan, bukan hanya tangannya, tapi kepalanya akan aku pecahkan." Lian tersenyum sinis.


"Kamu lupa Lian siapa kamu, keluarga Chrispeter yang menyebabkan kamu menjadi yatim piatu, mereka membesarkan kamu hanya untuk balas budi, Boy juga mencintai kamu atas amanah bapaknya."


"Biarkan saja, Lian tidak peduli dengan kesepakatan keluarga Chrispeter dengan Ayah. Kenyataannya aku sudah yatim piatu, tidak ada alasan untuk balas dendam." Lian tersenyum mengambil sesuatu dari tangan pemuda juga membuang senjatanya ke lautan.


Lian melangkah pergi meninggalkan Amel, Lian memegang obat penawar yang sudah di minum setengah.


Suara tembakan membuat Lian harus bersembunyi, Boy menatap Lian langsung mendekatinya.


"Kamu baik-baik saja sayang?"


"Boy, kamu mencintai aku hanya karena amanah ayah?"


"Amanah apa? saat Paman menutup mata aku juga tidak melihatnya."


Boy memegang tangan Lian masuk ke kamar, di sana Boy mendengar suara pertengkaran kedua orang tua Amel.


Mereka saling menyalahkan, seharunya mereka tidak mengusik hidup keluarga Chrispeter. Ibu Amel menyalahkan suaminya yang menyebabkan Amel kehilangan calon suaminya.


"Bohong, sejak menikah Bara berhenti bertarung hanya sibuk mengurusi istrinya."


"Kamu selama ini mengawasi Bara tahu banyak hal soal dia."


"Apa yang kalian bahas soal kedua orangtuaku?" Boy melangkah masuk mengelilingi kamar.


Berlian langsung lompat di atas ranjang menarik selimut memejamkan matanya. Boy menunjukkan keterlibatan perusahaan, sejauh manapun mereka pergi akan tetap masuk penjara.


Boy sudah menutup area perbatasan, memastikan seluruh bisnis baik dalam dan luar negeri akan hancur.


"Jangan Boy, kamu boleh mengambil apapun, tapi tolong lepaskan kami."


"Terlambat, kalian sudah berkali-kali diberikan waktu agar berhenti mengusik keluarga Chrispeter. Kalian merasa kalian hebat, saat kecelakaan uncel Raffa kalian sudah merencanakan agar memiliki hubungan baik sehingga bisa masuk dan keluar dengan mudah." Boy melemparkan belati ke arah kaki.


Suara teriakan meringis terdengar, melihat suaminya terluka, ibu Amel langsung melarikan diri. Boy membiarkan saja melihat Ayah Amel keluar dengan menyeret kakinya.


"Kalian orang tua seharusnya memberikan yang terbaik untuk anak, dengan menjaga, melindunginya, mendidih dan melihat tumbuh kembangnya." Boy tersenyum sinis merasakan jijik dengan tingkah keluarga Amel.


Reza masuk melihat banyaknya tumpukan berkas penting, seluruh isinya palsu dan banyaknya berkas penipuan.


"Manusia serakah." Reza menghamburkan banyak berkas.

__ADS_1


Reza menghela nafasnya beberapa orang masuk langsung menyerang Reza, tumpukan kertas berhamburan.


Amarah Reza yang sedang terpancing mulai naik, melihat salah satu perusahaan yang berhasil mereka tipu perusahan yang Mentari perjuangkan.


Wajah Reza terkena pukulan, satu kali dipukul Reza membalas berkali-kali sampai wajahnya hancur.


Tangan Reza berdarah, tapi langsung menyerang lagi. Seseorang menyerang Reza dengan tembakan, tubuh seseorang digunakan sebagai pelindung.


Reza mengeluarkan senjatanya, menembak secara bertubi-tubi. Sebuah peluru menembus pundak Reza, darah langsung mengalir.


Senyuman Reza terlihat berjalan melewati puluhan orang yang sudah berjatuhan di tumpukan berkas penipuan.


"Kalian menghancurkan banyak perusahaan, tidak memikirkan nasib karyawan yang bekerja demi sesuap nasi." Reza menendang kepala seseorang yang menghalangi jalannya.


Tubuh Mentari terlempar, Reza langsung menangkapnya. Tari teriak histeris melihat Reza tertembak.


Baju Tari disobek, langsung menutupi luka mengikat pundak Reza kuat.


"Tuan berhati-hatilah, terima kasih sudah menolong Tari." Mentari menundukkan kepalanya.


Reza menggenggam tangan Tari, langsung melangkah pergi. Banyak orang yang tergeletak karena kalah bertarung


Reza melihat Amel berjalan memegang tangannya, kedua orang tua Amel juga ketakutan.


"Tarik mundur tim kalian Za."


"Di mana penawarannya."


"Ada pada Berlian, dia sudah merampasnya."


Tatapan mata Reza tajam, mengarah senjatanya di kepala pemuda penyakitan yang Amel sangat cintai.


"Buang senjata kalian."


Amel meminta semuanya membuang senjata, Reza meminta semua orang yang selamat terjun ke lautan. Jika tidak ingin dia ledakan di kapal.


Tari menatap Reza yang menatap Amel, mencengkram kuat rahang Amel agar berhenti mengusik keluarganya.


"Kembalikan seluruh saham yang berhasil kalian miliki, aku tidak akan membiarkan kalian lolos."


Mentari menatap Reza yang terlihat berbeda ....


***


JANGAN LUPA LIKE COMENT DAN VOTE TAMBAH FAVORIT JUGA


JANGAN LUPA KASIH HADIAH JUGA BIAR AUTOR SEMANGAT UP

__ADS_1


****


__ADS_2