
Semuanya bernafas lega karena lelaki tua yang Bara cekik bisa diselamatkan, Bara sudah pergi bersama Bianka. Asep menjadi orang yang disalahkan dengan Reva yang terus membelanya.
Tamu undangan perlahan mulai pergi, acara sudah selesai. Asep berada di tengah keluarga menjadi korban karena obat perangsang yang Miko bawa.
Daddy Roy melayangkan pukulan kuat kepada Asep, Reva langsung menangis melihat sifat egois Daddy.
"Kamu ingin merusak acara pertunangan putra saya, juga ingin menjebak putriku."
"Daddy," Reva menangis di samping Mommy.
"Maafkan aku tuan,"
"Maaf!" pukulan kembali melayang, terlihat rasa kasihan terhadap Asep yang hanya menerima tuduhan. Roy sangat berharap Asep membela diri tapi dia hanya diam.
Melihat kekacauan Bara langsung berlari menarik Asep yang beberapa kali mendapatkan pukulan, Bara menyembunyikan Asep di belakangnya.
"Daddy, Bara mohon jangan seperti ini."
"Jangan ikut campur Bara, menyingkirkan."
"Dad hanya aku yang punya hak menyakitinya, dia adikku, sahabatku. Jadi masalah Asep menjadi urusan Bara juga."
"Jadi kamu menantang!"
Reva langsung berdiri di depan Daddy, air matanya dihapus tatapannya tajam.
"Daddy masih belum berubah, egois tidak ingin mendengarkan juga suka mengambil keputusan sendiri. Tidak salah jika dulu Mommy memilih meninggalkan Daddy, karena setiap wanita menginginkan lelaki bijak."
Parrrrkk tamparan keras mendarat di pipi Reva, melihat tindakan Roy seluruh keluarga berdiri. Putri kesayangannya ditampar sampai mengeluarkan darah, Dara langsung teriak menangis melihat putrinya disakiti.
Senyuman terukir di sudut bibir Reva, hati Asep tersayat melihat Reva yang mendapatkan pukulan dari ayahnya. Langkah kakinya mendekati Reva, melihat darah keluar.
"Tuan, kenapa harus menyakiti Reva, musuh anda saya bukan putri anda."
"Kamu pikir saya tidak berani membunuh kamu di depan Reva, kamu hanya mendapatkan perlindungan dari Bara."
"Anda salah, saya yang melindungi dia. Sejak pertama mengangkat senjata, aku menganggap diriku mati, yang kalian lihat sosok orang lain yang menggunakan diriku. Tapi aku akui kehadiran Reva mengusik pikiranku, mengembalikan jiwaku yang sudah mati, selama ini aku tidak takut mati, tapi saat melihat dia terluka, tersenyum, tertawa, dan menangis aku ketakutan, aku takut jatuh cinta."
Senjata sudah berada di kepala Asep, Bara ingin maju tapi ditahan ayah Haikal, Riki juga ingin maju ditahan oleh Papa Akbar. Reva langsung bertekuk lutut, menyentuh kaki Daddy-nya untuk memohon.
__ADS_1
"Reva mohon jangan Daddy, jangan sakiti lelaki yang Reva cintai, sama saja Daddy membunuh Reva. Lakukan apapun yang Daddy ingin, jodohkan Reva, nikahkan kami tapi jangan disakiti Asep, lepaskan dia Daddy." Reva mencium kaki Roy, sakit sekali hati Roy melihat putrinya yang selalu menggakat kepala tapi sekarang bersudut.
"Jangan bodoh Reva, kamu melihat sendiri lelaki sialan itu membawa obat perangsang, dia tidak membutuhkan kamu karena dia mencintai sesama jenis, dia sengaja ingin mempermalukan keluarga. Kamu hanya akan menjadi perisai menutupi keburukannya. Jika kamu memutuskan bersama dia, aku akan membunuhnya juga melawan Daddy kamu."
"Sudah Daddy katakan, kalian akan hilang kekuasaan, kekuatan, kekayaan, kehebatan karena cinta." Roy menggakat Reva, menghapus air matanya, membersikan darah dibibir Reva.
"Daddy."
"Maafkan Daddy, sakit ya sayang. Kamu boleh pukul Daddy, wajah putri cantikku terluka. Daddy memang egois, Daddy keras. Karena cinta Daddy menggila, tapi bukan berarti Daddy rela menyerahkan putri kesayangannya Daddy kepada sembarang lelaki. Kamu berbeda dengan Riki, Reva wanita kedua yang Daddy cintai, sungguh Daddy belum rela kamu mencintai pria lain."
"Maafkan Reva, cinta Reva hanya untuk Daddy. Lelaki yang paling Reva cintai." Reva memeluk erat.
"Sayang, tolongin Daddy takut melihat Mommy kamu."
Dara maju, Reva didorong oleh Roy sampai masuk pelukan Asep. Dara melayangkan pukulan tapi masih bisa dihindari.
"Maaf sayang,"
"Aku yang mengandung, melahirkan, membesarkannya, berani kamu Roy menampar putriku. Aku tidak akan mengampuni kamu."
Cepat Riki maju menarik Mommy, langsung memeluknya. Dara masih terus meronta-ronta, Roy sudah bersembunyi di balik Haikal, dan Bara.
"Mommy, Daddy tidak rela melihat Reva mencinta Asep sama Riki juga. Saat Raffi tahu Riki mencintai Kei kami juga berkelahi sampai babak belur, bahkan Raffa dan Raka ikut bertarung."
"karena cinta saudara sangat besar Mommy, aku tidak rela Kaka menikah dan cintanya terbagi lagi. Saat aku patah kaki semua karena kak Riki." Raffi tersenyum, melihat Kei yang terkejut.
"Tapi kenapa harus ditampar."
"Karena Asep mengakui kesalahan orang lain, dia pengecut tidak berani berjuang. Jika tidak suka bilang tidak, jika suka bilang suka."
"Jika kalian diposisi Asep, maju atau mundur." Bianka mendekati Raffa, Riki, Raka, Raffi dan Bara. Jawaban mereka semua mundur.
"Para putra Chrispeter pengecut, ayah kamu juga nak. Sia-sia kita mendorong uncle Asep, buang waktu saja, kita harus menemukan mainan baru, karena uncle sudah mendapatkan restu dengan cepat, kita tidak akan kehilangan villa juga pulau." Bianka bicara dengan perutnya, sekarang semuanya menyadari semua masalah diciptakan oleh Bianka.
"Bi, kamu taruhan."
"Iya, Rindu menginginkan pulau yang baru aku dapatkan, Kei menginginkan pulau yang paling aku cintai. Jadi demi menyelamatkan, aku harus melakukan hal curang, maaf ya."
"Jadi kamu yang memberikan obat perangsang, sengaja memancing Asep untuk menyelidiki kebiasaan Miko." Bara menatap tajam.
__ADS_1
"Ya,"
Bi tersenyum langsung melangkah pergi, yang lainnya hanya melongo melihat Bianka yang menang. Bisa menunjukkan keburukan Miko, juga bisa menguji cinta Reva Asep, dan menunjukkan kasih sayang Roy walaupun di luar ekspektasi, jika Reva mendapatkan tamparan, juga kemarahan Mommy.
"Bara, berdoalah semoga anak kamu cepat lahir. Bisa heboh setiap hari kediaman Chrispeter ulah Bianka."
"Bara lebih takut saat dia lahir ayah, nanti anak Bara nakal."
Baru saja bernafas, bunyi ledakan besar terjadi. Bara yang tahu Bi melangkah ke arah kolam langsung berlari, semuanya terdiam melihat kolam yang sudah di bom. Bianka berdiri bersama Rindu, Bi tersenyum bahagia sedangkan Rindu hanya geleng-geleng.
"Apa yang terjadi Rindu?" Bunda mendekati Rindu yang terlihat murung.
"Bianka gila!"
"Ada apa Bi?"
"Ikan mati semua kak, ayo kita panen."
"Sayang, ikannya banyak sekali kalau kamu mau cukup ambil secukupnya, sekarang mereka mati semua karena kamu ledakan."
"Iya ya Bun, kasihan mereka."
Melihat ratusan ikan mati membuat Bi sedih, padahal dia yang meledakkan. Rindu masuk ke dalam dengan wajah kesal, dia bersusah payah coba meneliti bom berkekuatan kecil langsung diledakkan oleh Bi.
"Sabar Rindu," Kei tersenyum mengelus punggung Rindu.
***
Di dalam kamar Bianka sedang berkaca melihat perutnya, Bara hanya tersenyum melihat dari atas ranjang.
"Kak, banyak sekali hal yang ingin Bi lakukan."
"Contohnya sayang."
"Bi pengen banget lompat dari lantai dua, merosot di tiang, menembak hewan, bahkan pernah terpikirkan untuk berenang bersama buaya. Tapi Bi bisa mati ya kak."
"Ya tuhan sayang, jika hal gila kamu harus bisa menahan diri, apapun katakan kepada kakak ya. Mulai sekarang kemanapun kamu pergi harus izin dulu."
"Iya kak, sekarang juga Bi pengen banget makan bunga sakura. Bi tidak suka hanya dipandangi pengen dimakan." Bi menunjuk sebuah majalah yang terlihat sampul Bunga sakura, banyak orang menatap mengaguminya.
__ADS_1
Bara hanya bisa menelan ludahnya yang terasa pahit, kekacauan belum cukup. Ngidam yang ekstrim.
***