
Sudah tengah malam Reza dan Boy baru pulang, melihat Miko dan Max mempertanyakan keberadaan Rinda dan Kaira.
Max mengatakan keduanya ada di rumah, Max melihat Tari yang langsung melangkah ke lantai atas menuju kamarnya.
Reza juga langsung naik ke lantai atas, menarik tangan Mentari ke dalam kamarnya.
Boy melangkah duduk di ruang tamu bersama Maxi dan Miko, Boy menceritakan beberapa minggu yang lalu dia menemukan beberapa penyusup ke perusahaan, mereka sengaja selalu memancing amarah Reza.
Mentari Boy kirim untuk menemukan markas, membiarkan Reza bergerak sendiri, sampai akhirnya Boy membiarkan mereka masuk ke dalam perusahaan memancing mereka dengan berkas kerjasama dengan perusahaan luar.
"Siapa mereka Boy?"
"Kiriman dari perusahaan yang sekarang gulur tikar, Reza menghancurkan mereka."
"Berarti mereka memiliki bisnis ilegal, perusahaan mereka hanyalah sebagai tempat penyimpanan."
"Benar, mereka tidak terima hancur."
"Kamu membunuh mereka?" Max menatap Boy.
"Belum, tapi nanti masih menunggu pemimpin mereka muncul."
Maxi terdiam, menatap Boy ragu membuat kening Boy berkerut aneh menatap Max.
"Ada apa kak Max?"
"Berlian kembali, dia Lian atau bukan?" Max menatap tajam, memohon jawaban.
Boy tersenyum menepuk pundak Maxi, mengatakan jika Berlian kembali, dia mengingat mereka semua, tetapi Boy sendiri tidak tahu alasan Lian berpura-pura tidak mengenal.
Pertemuan Lian dan Kai tidak disengaja, Lian juga panik saat melihat Kai sampai melarikan diri, berusaha mengendalikan keadaan saat pertemuan kedua, akhirnya memutuskan untuk kembali bergabung bersama Rinda dan Kai.
Boy melangkah pergi meninggalkan Maxi, senyuman Maxi terlihat membayangkan kehebohan besok pagi.
Di dalam kamar Boy mandi terlebih dahulu, baru dia melanjutkan tidur. Boy membuka matanya, mengigat Berlian yang ketakutan, ada perasaan khawatir.
"Boy abaikan dia." Boy menarik selimut, menutup kepalanya.
***
Mentari keluar dari kamar Reza perlahan, mengutuk Reza yang memaksanya tidur bersama, jangan sampai ada yang melihatnya.
Langkah kaki Tari terhenti melihat seorang wanita cantik yang sangat dia rindukan, air mata Tari langsung menetes berlari ke arah Cristal.
"Kak Lian, kakak Tari rindu." Tangisan Tari terdengar histeris.
__ADS_1
Kamar Reza terbuka, kamar Rinda dan Kaira juga terbuka. Cristal teriak melihat Reza hanya menggunakan celana pendek, Tari melempar Reza menggunakan sendalnya.
"Cepat pakai baju Reza." Tari teriak, langsung mengejar Cris yang berlari ke lantai bawah.
Boy teriak kuat masih pagi sudah mendengar suara tangisan juga keributan, langsung melangkah keluar melihat ke lantai satu menatap Mentari menangis memeluk Cristal.
"Berlian." Boy langsung melangkah turun, melihat ke bawah.
Mentari memeluk erat, Cristal berusaha melepaskan Tari mendorongnya menjauh.
"Aku Cristal bukan Berlian." Cris melihat tangannya yang merah.
"Benarkah." Tari langsung melayangkan pukulan.
Cristal teriak kuat langsung jatuh pingsan, Boy menahan tangan Tari menangkap tubuh Cris agar tidak terjatuh.
Semua orang terdiam dan panik, melihat Lian yang biasanya bermain senjata melihat pukulan saja langsung jatuh pingsan.
"Kak Lian kenapa?" Tari menangis menakup wajah Cristal.
"Dia memiliki trauma, kita tidak tahu trauma apa, tapi pastinya ada sangkut pautnya dengan pulau. Kak Boy bawa Lian ke kamarnya." Rinda menatap Boy yang tidak ada penolakan langsung menggendong Cristal.
"Kak Lian tidak mengigat Tari?" air mata Tari menetes.
Boy meletakan Cristal perlahan, duduk di pinggir ranjang menatap wajah Cris yang ketakutan.
Kaira masuk langsung memasangkan infus, Kai menceritakan jika Cris menghubunginya meminta Kai datang untuk menemaninya.
Saat Kai datang keadaan Cris sangat memperihatinkan, dia gemetaran, wajah pucat, bibir gemetar. Kaira membawa Cris ke Mansion, bergabung bersama yang lainnya.
Awalnya Maxi dan Miko sangat terkejut, mereka tidak percaya bisa melihat Berlian kembali. Harapan terbesar Maxi bisa melihat Lian hidup bahagia, Max langsung memeluk Lian yang langsung memukulinya.
"Kak Boy biarkan Cristal tinggal di sini?" Kaira menggenggam tangan Boy.
"Usir dia saat sadar." Boy langsung berdiri meninggalkan kamar.
Di dalam kamarnya Boy mengacak rambutnya tidak mengerti yang terjadi. Sejak kejadian di pulau tiga tahun yang lalu, Boy melakukan segala cara menemukan Berlian.
Boy masih berharap bisa hidup bersama, menikah seperti janji mereka. Di tengah perjuangan Boy dia melihat sebuah rekaman yang menangkap keadaan sebelum pulau terbakar.
Berlian meminta orang yang mirip dengannya mengantikan dirinya, menjadi seorang Berlian. Boy sangat terpukul, dia merasakan Lian tidak mencintainya sehingga tega meminta orang Lain menjadi dirinya sendiri.
Pintu kamar Boy diketuk, tapi tidak dijawab berkali-kali sampai pintu terbuka sendiri barulah Mentari melangkah masuk.
"Kak Boy, sebenarnya apa yang kak Boy temukan saat mencari kak Lian?" Tari melangkah mendekati Boy.
__ADS_1
"Dia mengkhianati aku, sudah ada peluang besar untuknya melarikan diri, tapi Lian meminta wanita yang mirip dengannya pergi mengantikan dirinya." Boy melangkah ke arah balkon.
"Kak Lian mengatakan alasannya?" Tari berdiri di samping Boy.
Boy tertawa, Lian mengatakan jika dirinya tidak ingin kembali, terlalu berat baginya untuk hidup bersama Boy, hal yang paling Lian sesali memberikan Boy harapan. Mungkin dengan dirinya tidak kembali, jalan satu-satunya untuk mengakhiri hubungannya dengan Boy.
Sudah cukup dia terlibat dengan keluarga Chrispeter, cukup ayahnya yang menjadi korban, tidak ingin dirinya dan keturunannya menjadi seperti ayahnya.
"Di mata Lian kami hanya keluarga pembunuh, dia memilih memulai hidup baru sehingga tidak ingin kembali."
"Kak Boy sudah lama tahu kak Lian masih hidup?"
"Emmhh, ketulusan cinta aku kepada Lian, membuat seorang Boy siap mempertaruhkan nyawa, membuat jalan untuk Lian bersembunyi dan melarikan diri."
Tari meneteskan air matanya, melihat Boy menyentuh dadanya yang terasa sesak.
"Tari, Lian membalas aku dengan keji, dia menutup jalan membuat jalannya sendiri, sengaja menghindari aku, Lian ingin kita semua tahu jika dia sudah meninggal. Seharusnya kalian tidak pernah menganggapnya kenal. Melihat Berlian sebagai Cristal membuat luka lama aku terkoyak kembali." Boy menatap Tari yang menangis.
Reza juga muncul merangkul Tari, memeluknya dengan erat. Reza sepemikiran dengan Lian, mencintai seorang Boy sama saja dia menentang dua keluarga besar, bukan Lian yang harus naik ke tempat Boy, tetapi Boy yang harus turun ke posisi Lian.
"Aku siap melakukan apapun Za, siap mengikuti semuanya demi dia, bahkan aku menahan diri aku sendiri untuk menyentuh, menunjukkan keseriusan bukan sekedar janji." Boy langsung memukul tembok, melangkah pergi.
Reza mengejar Boy, menahan lengannya. Menatap mata Boy yang terlihat sangat marah.
"Kamu menginginkannya, pernah kamu bertanya kepada Lian bersedia tidak dia. Status Lian di mata kak Boy hanya sebatas pelayan." Reza melepaskan tangannya.
"Apa?"
"Kak Boy tidak bisa membedakan cinta."
"Pelayan."
"Aku mencintai Mentari, selalu ingin dia di sisinya aku ingin Tari melihat semua keburukan aku, melihatnya sampai kapan ingin bertahan, kami bertengkar, tertawa, bercerita, makan, berlari, bahkan saling berbagi, sedangkan kak Boy meminta Lian melayani lalu menjanjikan pernikahan, hal bodoh yang kak Boy janjikan hanya ucapan, buktinya kak Boy marah tanpa mendengarkan penjelasan dia, namanya kak Boy egois." Reza menepuk pundak Boy, menarik tangan Tari melangkah pergi.
***
SATU DULU YA GUSY AUTHOR SEDANG KURANG FIT.
***
JANGAN LUPA LIKE COMENT DAN VOTE TAMBAH FAVORIT JUGA
JANGAN LUPA KASIH HADIAH JUGA BIAR AUTOR SEMANGAT UP
***
__ADS_1