
Seluruh keluarga berkumpul untuk makan malam, Bianka terdiam melihat makanan. Tidak ada yang menggugah seleranya, bibir Bi langsung manyun.
"Kak, mau makan seafood." Bianka menarik lengan Bara.
"Tadi siang sudah makan seafood, makan sayuran bagus untuk kesehatan."
"Mau seafood!"
"Bianka suami kamu makan, diamlah makan apapun yang ada di atas meja." Haikal menegur Bi yang terlihat manja dan aneh.
Suara teriakan memanggil nama Bara terdengar, Mami langsung berdiri dan melangkah melihat Nayla yang berlari sambil menangis. Mata Nayla yang berwarna biru milik putrinya mengeluarkan air mata. Mami Riani menarik Nayla dalam pelukannya.
"jangan menangis sayang, Nayla tidak boleh menangis."
"Kak Bara!" Nayla berlari kedalam pelukan Bara.
Semua orang berdiri melihat kedatangan Nayla yang panik, keadaan Nayla belum stabil sehingga Bara belum mengizinkan pulang.
"Kakak jangan tinggalkan Nay, tidak mau tinggal di sana." Nayla terus menggeleng kepalanya.
"Kaka tidak suka melihat wanita lemah, menangis dan menantang perintah. Kamu membuat banyak orang kerepotan, keberadaan kamu di sana demi kebaikan kamu. Jika tidak mau terserah, jangan membuat susah." Bara bicara pelan tapi penuh penekanan.
"Maaf! Nayla balik lagi ke sana." Nayla melangkah menjauhi Bara, menghapus air matanya.
Papi Rian menghela nafasnya, mendekati Nayla dan mengelus rambutnya. Nay hanya tersenyum dan langsung meminta pengawal Bara mengantarnya kembali.
"Nayla mau tinggal di Mansion?" Papi menahan lengan Nay.
"Tidak Uncle, Nayla balik saja. Tidak ingin menganggu kebahagiaan orang lain tapi Nayla ingin bertanya satu hal, Nayla gadis yang sedang sekarat ya?" Nayla hanya melihat Rian menggelengkan kepalanya.
"Lalu mengapa Nayla di sana, sendirian, kesepian? seperti hidup seakan mati, kenapa tidak membunuh Nayla saja, jika kehadiran Nay hanya sebuah petaka."
Bara yang mendengar ingin sekali berteriak jika tidak ada keluarga Chrispeter, Rian yang mendengar hanya tertawa. Riani mendekat dan mengelus rambut Nay.
"Papi tidak akan memberikan jawabannya sayang, tapi Papi tidak akan membiarkan kamu terbunuh."
"Nay tidak punya ayah, ibu, Nay mempunyai kakak dua, tapi yang satunya tidak pernah datang mengunjungi Nay sedangkan kakak satunya hanya melihat Nay dari balik kaca, salah Nay sebenarnya apa?"
__ADS_1
"kamu tidak salah Nayla, Bara melakukan semuanya demi kesehatan kamu nak. Saat kamu pulih bisa tinggal bersama kami." Riani menenangkan Nayla.
"Kembalilah Nayla, jangan banyak menuntut." Bara menatap tajam, memberikan perintah kepada pengawal untuk membawa Nayla.
"semoga saja aku tidak akan pernah sembuh, dan mati di sana." Nayla berlari keluar Mansion menahan air matanya.
Bara tertunduk, bukannya Bara tidak ingin membawa Nayla kembali bukannya hanya untuk pemulihan. Bara binggung cara mengatakan kebenarannya kepada Nayla jika dia mengunakan ginjal Kristan dan mata Rinda.
Rian melangkah keluar mengejar Nayla, gadis kecil yang masih membutuhkan kasih sayang dan perhatian. Keluarga juga mengerti keadaan Bara, tapi tidak tega dengan Nayla. Dia masih sangat polos dan emosinya sangat labil.
Rian memberikan perintah untuk seluruh pengawal Bara kembali tanpa Nayla, Rian menarik tangan Nay dari dalam mobil tapi dia menolak untuk keluar. Dengan terpaksa Rian menggendong Nay membawanya ke dalam ruangan perawatan keluarga Chrispeter.
Mami ikut masuk, melihat keadaan Nayla yang jauh lebih baik. Nayla terus diam menahan air matanya, Riani mencium kening Nay.
"Nayla, lihat Papi." Rian tersenyum melihat Nay yang melihat kearahnya.
Perlahan Rian menekan perut Nay tapi dia diam saja, beberapa kali Rian mengontrol Nayla semuanya normal. Nayla menahan setiap rasa sakit.
"Bagian mana yang sakit sayang!" Rian duduk di kursi menatap Nayla.
"Sini!" Nayla menunjuk hatinya, dadanya terasa sesak.
"cepat sembuh luka yang tidak berdarah, biarkan putri kecilku tersenyum."
Nayla menahan tawanya, akhirnya tawanya pecah. Melihat tawa bahagia Nayla Mami dan Papi memeluknya. Nayla gadis kuat, tubuhnya lemah tapi memaksakan diri agar tegar.
"Aunty, Nayla sakit apa? tubuh Nayla selalu lemas. Nayla selalu menjadi beban."
"Bertahanlah! Papi akan menyembuhkan kamu dari rasa sakit."
Rindu ikut masuk bersama Kei, Haikal Bunga Roy dan Dara juga masuk. Mereka melihat keadaan Nayla yang sempat koma selesai operasi. Tubuhnya yang terkena racun menolak pengobatan sehingga harus di jaga dengan teliti, bahkan Bara tidak bisa menemuinya langsung.
Bara ikut masuk melihat Nayla yang sudah terlelap, Rian memberikan suntikan agar Nayla tidak terlalu lelah menahan rasa sakitnya.
"Bara biarkan Nayla tinggal di sini."
"Iya Papi."
__ADS_1
Sudah larut malam, keluarga masih berdiri di depan ruangan perawatan Nayla. Hanya Bianka yang tidak ikut bergabung, kehadiran Bi hanya akan membuat kesal karena hanya membahas makanan seafood.
Sudah lima jam, Bunda Bunga sudah tertidur di paha Raffa, Rindu berbaring di lengan RAFFA. Riani duduk dalam pelukan Raka yang juga mengkhawatirkan keadaan Nayla menolak segala jenis obat.
Reva duduk dengan pahanya menjadi tempat tidur Kia dan Mommy Ara, Riki duduk bersandar di punggung Reva. Kei dan Bara ikut dengan para ayah mengontrol Nayla dan menemukan obatnya.
Keisya dan Bara keluar dengan senyuman, Nayla menerima pengobatan obat terbaru yang berhasil Rian ciptakan, seharusnya Rindu ikut bergabung tapi karena lelah dia menolak takut ada Kesalahan. Haikal keluar menggendong Bunga masuk kamar, Papa Akbar juga Daddy Roy mengambil istri mereka dari paha Reva.
Rian keluar memeluk Riani yang langsung ingin melihat keadaan Nayla, tapi Papi tidak mengizinkan karena Nayla harus beristirahat.
"Kalian semua bubar, beristirahatlah."
Semuanya bubar kembali ke kamar masing-masing, Bara berlari dari atas mencari Bianka yang tidak ada di kamarnya. Alarm keamanan berbunyi, para mommy yang yang tidur langsung keluar lagi.
"Kenapa Bara?"
"Bianka tidak ada di dalam kamar, di kamar penuh kertas tulisan seafood."
Pengawal utama langsung datang, para girls mengerutkan keningnya melihat keanehan Bianka.
"Kalian melihat Nona Bi keluar rumah."
"Nona awalnya ingin keluar mencari seafood tapi sekarang berada di kolam sedang menangkap ikan, udang, kepiting."
"Apa?" Bara kaget bukan main, langsung berlari diikuti yang lainnya.
"Bianka kerasukan setan seafood." Reva tertawa diikuti oleh Rindu dan Kei.
"Kakak gue mulai gila." Raffa tertawa bersama Raka.
Semuanya terdiam melihat Bi yang menyusun udang, bajunya kotor, ditangannya juga ada serokan untuk menangkap udang. Reva, Rinda menutup mulut mereka menahan tawa melihat seorang Bianka menangkap udang hampir Pajar.
"Ayah ayo masuk, biarkan Bara yang mengurusnya." Bunga menarik Haikal yang tertawa.
Rian Riani, Roy Ara, Kia Akbar juga berlalu pergi menahan tawa. Sedangkan Reva dan Rindu sudah nempel didinding karena tertawa, Kei juga tersenyum. Tawa lebih besar terdengar dari Raka, Raffa, Raffi dan Riki yang sudah terduduk. Bianka tidak bisa mendengar tawa mereka jika tidak sudah mengamuk.
Bara menghela nafas, coba memahami Bi dan bicara baik-baik.
__ADS_1
***