BIANKA DAN MAFIA KEJAM

BIANKA DAN MAFIA KEJAM
S2 KETAKUTAN


__ADS_3

Suara Lian teriak terdengar merasakan Boy mendorongnya ke atas tempat tidur, Lian memukul meminta tolong.


"Kenapa teriak?"


"Lian takut."


Boy langsung tertawa, menarik tangan Lian untuk duduk. Tatapan mata Lian tajam melihat Boy terus mentertawakan.


"Tidak ada yang lucu Boy?!"


"Kenapa kamu takut? Rinda sampai pingsan karena takut, Kaira takut menikah, sekarang kamu juga takut. Sayang tidak akan ada bahaya saat malam pertama."


"Kamu tertawa lagi, satu minggu jangan tidur sama Lian."


Boy langsung diam, Berlian melangkah pergi menutup kamar melangkah ke luar menuju ruang makan.


"Rinda kak Max di mana?"


"Gila kamu Lian mencari suami orang." Rinda menatap tajam.


"Rinda Lian ikut aku." Kaira menarik tangan Lian dan Rinda masuk ke kamar Tari.


Mentari merinding takut melihat rekaman di dalam laptop, Rinda duduk di samping Tari yang mematikan video.


"Kalian ingin melihat video malam pertama?"


Berlian langsung menyingkirkan Tari dan Rinda, mengambil guling untuk tiduran sambil menonton.


Rinda juga langsung ikut tiduran di samping Lian, menatap layar laptop yang sudah mulai diputar.


Kaira dan Tari hanya duduk fokus melihat adegan di depan mereka, Mentari langsung mual berlari ke kamar mandi memuntahkan isi perutnya melihat adegan gila.


Rinda memegang tenggorokan, menatap Lian yang menutup mulutnya. Kai langsung merinding ngeri membayangkan jika dirinya di posisi video.


"Jorok sekali, Lian tidak mau."


"Rinda juga tidak mau, menjijikan."


"Matikan filmnya, perut Tari mual." Mentari menutup mulutnya.


Kaira langsung mempercepat video, mendengar suara teriakan wanita di dalam video membuat Tari, Lian, Rinda dan Kai teriak histeris.


Wajah keempat langsung pucat melihat ke arah bawah milik mereka, menatap video yang menakutkan.


"Rinda tidak mau yang ukurannya besar, sakit."

__ADS_1


"Lian juga tidak mau, nanti sobek." Lian langsung ingin menangis.


"Seharusnya kita melihat video dulu baru menikah, bukan menikah dulu baru melihat." Kaira memijit pelipisnya.


Reva masuk kamar langsung mengambil laptop melihat video yang ditonton pengantin baru, suara teriak wanita menggema di kamar.


"Suara apa itu Reva?" Rindu melihat video langsung menutup mulutnya.


"Apa yang sedang kalian lihat?"


"Tari hanya mencari malam pertama, tapi keluarnya film menjijikan."


"Ini bukan menjijikan, tapi surga dunia Tari." Rindu menahan tawa.


"Tari tidak mau, pokonya Tari tidak ingin melakukan malam pertama."


"Mami, bagaimana bisa menjadi surga dunia? perempuan itu teriak kesakitan." Rinda merinding.


"Mami rasa kamu paling menginginkannya Rinda, bayangkan saja tubuh kamu yang kecil sedangkan Max yang gagah berada di atas."


"Rinda tidak mau Mami, bisa saja Rinda mati malam pertama."


Reva langsung membalikkan badannya menahan tawa, rasanya Reva ingin tertawa kuat melihat anak-anak polos yang membayangkan mereka mati saat malam pertama.


Bianka masuk bersama Keisya, mendengarkan curhatan anak-anak yang tidak ingin malam pertama.


"Sayang, kenyataannya tidak semenakutkan ini, tidak sesakit ini. Kalian berhubungan dengan suami, bukan menjadi artis film dewasa. Jika malam pertama saja takut, bagaimana dengan melahirkan? kalian ingin menjadi ibu tidak?" Kei menatap tajam.


"Mama, masalahnya itu besar sekali." Lian menunjuk ke arah laptop.


"Lian, kepala bayi melebihi besarannya genggaman tangan. Berat bayi bisa mencapai dua kilo, bisa kalian bayangkan betapa hebatnya wanita."


Berlian langsung menarik selimut menutup kepalanya, Rinda juga masuk ke dalam selimut tidak ingin membayangkan.


Bianka tersenyum, hal yang sangat normal karena mereka masih sangat muda, usia Tari dan Rinda baru dua puluh tahun, sedangkan Berlian dan Kaira juga masih muda.


"Bunda apa kita menikah terlalu muda?"


"Bunda menikah dengan Ayah Bara juga masih muda, kita berdua sama-sama masih muda. Sama-sama tidak mengetahui hubungan dewasa, tapi dalam pernikahan mengikuti naluri saja, karena kita manusia normal yang memiliki *****, juga keinginan memiliki keturunan." Bianka mengusap kepala Kaira duduk di pinggir ranjang.


"Bunda Bi benar, Rinda dan Kai enak Max dan Miko sudah dewasa, bisa mengendalikan diri. Bisa banyangkan Mami yang menikahi brondong." Rindu tertawa lucu.


Berlian dan Rinda membuka selimut langsung duduk menatap Mami yang bercerita jika kedewasaan seseorang tidak dilihat dari usia, mereka bisa mengontrol diri demi kenyamanan bersama.


"Kalian bodoh menonton video seperti ini, karena kalian tumbuh dan besar dalam lingkungan yang jauh dari hubungan dewasa hanya tahu pertarungan." Rindu menutup laptop.

__ADS_1


"Makanya lain kali pacaran dulu, jangan hanya tahu cium peluk. Malam pertama tidak semenakutkan ini." Reva tersenyum merindukan malam pertamanya.


"Indahnya malam pertama bukan hanya soal begituan, tapi rasa kebahagiaan karena bisa menikah dengan lelaki yang kita cintai, bisa tidur bersama, berbagi cerita sampai matahari terbit, setiap hari melalui segala hal bersama." Kei tersenyum.


"Jika kalian ingin tahu versi bahagia karena saling mencintai lihatlah Mama Kei karena mereka menikah karena saling mencintai, jika ingin melihat kisah cinta brondong lihatlah Mami Rindu, jika ingin melihat versi terpaksa menikah kalian bisa melihat Bunda. Jika Mommy Reva jangan kalian tiru dia perempuan ekstrim memaksa lelaki menikahinya." Bianka tertawa diikuti oleh Rindu dan Kei, Reva menatap tajam.


"Apapun proses dan awal pernikahan kami, lihat sisi baiknya tidak peduli apapun kisah kami, intinya saat ini sangat bahagia dalam pernikahan." Keisya tersenyum.


"Kalian juga harus bisa menjadi wanita lembut di dalam pernikahan, jangan hanya ingin menang sendiri. Ingat hadirnya orang ketiga, karena kalian membukakan pintu." Reva menatap tajam.


"Lian akan menutup pintu rapat, angin juga tidak boleh masuk."


"Tari sudah menutup pintu, Reza membuka jendela."


"Bukan pintu rumah Tari." Reva menepuk jidat.


"Baiklah sudah waktunya menjadi Ratu satu hari, kalian harus di make up secantik mungkin. Jam sepuluh kita harus ke lokasi pesta." Bianka meminta semuanya bersiap.


"Sudah siap belum?" Reva mengedipkan matanya.


Berlian, Tari, Rinda, Kaira menggelengkan kepalanya. Reva menghela nafas.


"Dasar anak-anak polos, jika Reva bisa mengulang ingin rasanya setiap hari merasakan malam pertama. Sayangnya dapat suami yang super cuek, minta jatah saja Reva yang menggoda lebih dulu."


"Dasar Reva tidak tahu malu." Bianka mendorong Reva keluar kamar.


"Sorry ya Bi, kamu tidak tahu saja berapa banyak aku hampir membunuh perempuan, mereka memasuki kamar memberikan tumbuh suka rela, untungnya Asep bukan tipe pria yang mudah tergoda."


"Benar juga, coba saja Raffa ada perempuan di depannya tanpa busana, langsung menerkam." Bianka tertawa bersama Reva membuat Rindu kesal.


"Raffa tidak seperti itu, waktu Rinda masih kecil juga ada pelakor, tapi Reza menghindar."


"Rindu, kita hanya bercanda. Tidak ada sejarah keluarga kita yang mudah tergoda kepada sang penggoda." Bianka merangkul Rindu yang langsung tersenyum.


"Semoga anak-anak kita rumah tangganya selalu harmonis, jika ada konflik bisa menyelesaikannya." Kei tersenyum.


"Amin."


***


JANGAN LUPA LIKE COMENT DAN VOTE TAMBAH FAVORIT JUGA


JANGAN LUPA KASIH HADIAH JUGA BIAR AUTOR SEMANGAT UP


***

__ADS_1


__ADS_2