BIANKA DAN MAFIA KEJAM

BIANKA DAN MAFIA KEJAM
S2 BANYAK DRAMA


__ADS_3

Segala cara sudah Boy lakukan untuk membujuk Lian, tapi masih saja ditolak. Pergi tidak diizinkan, bekerja dimarah, akhirnya Boy memilih untuk tidur siang.


Berlian sibuk main game, membiarkan Boy tidur di sisinya. Panggilan dari ponsel Boy terdengar, terlihat di layar nama Kaira.


Lian langsung menjawab panggilan Kai, tapi langsung mati. Lian melihat ponsel Boy penuh dengan foto dirinya.


"Kamu sebenarnya cinta tidak sama Lian?" Berlian mencium kening Boy yang masih tidur.


Tangan Lian memainkan hidung, mata, bibir, menggigitnya pelan jari tangan Boy.


"Kamu lapar Lian?"


"Tidak." Berlian tertawa langsung tidur di atas tubuh Boy.


"Enak menggigiti tangan aku?"


"Enak, tidur kamu nyenyak sekali." Lian tersenyum ingin mencium, tapi Boy langsung memalingkan wajahnya.


"Kenapa mulut Lian tidak bau Boy?"


"Ayo kita pulang saja." Boy meminta Lian turun.


Kedua tangan Lian langsung memukuli Boy, tapi tangan Boy jauh lebih kuat untuk menghentikan gerakan Lian, membalik tubuh posisi mereka sampai Boy berada di atas.


"Aku minta baik-baik tidak diizinkan, tapi dari tadi terus memancing."


"Memangnya kamu ikan?"


"Kamu yang ikan, sedangkan aku kucing yang tidak mungkin bisa menahan diri melihat makanan enak."


"Kenapa kita berubah menjadi binatang?" Lian tertawa kuat, membayangkan dirinya menjadi ikan.


"Ketawa, aku tidak akan melepaskan kamu."


"Lian menjadi ikan apa? ikan duyung saja." Berlian mendorong tubuh Boy, tapi tidak kuat.


"Tidak lucu." Boy menatap tajam.


"Tidak lucu terus, tidak ada juga yang sedang melucu. Boy aneh." Lian memalingkan wajahnya.


"Kamu mengizinkan tidak?"


"Apa?"


Tatapan mata Boy tajam, Lian langsung tersenyum mendorong sedikit demi sedikit dada Boy untuk melepaskan dirinya.


"Boleh tidak?" Boy menyingkirkan selimut langsung memeluk Lian lembut.


Berlian tersenyum menatap wajah Boy, menatap ke arah lain masih ragu.


"Tunggu sebentar."


"Apa lagi?"


Lian mengambil ponselnya, mengirimkan pesan kepada Tari menanyakan rasanya malam pertama. Boy menatap ponsel Lian sambil menggelengkan kepalanya, lebih kaget lagi dengan balasan Tari mengatakan kenikmatan yang tiada duanya.


Kening Boy berkerut, mengenali tulisan yang sejak kecil selalu bisa membobol ponsel orang lain.


"Ini yang membalasnya Reza?"


"Tidak mungkin, Reza ada di kantor sedangkan Mentari di toko bunga."


"Baiklah tidak perduli siapapun, kita sudahi main handphonenya." Boy menyita ponsel Lian langsung menyingkirkannya.


"Boy tunggu lagi?"


"Apa lagi?"

__ADS_1


"Kita makan siang dulu." Lian nyengir.


"Sudah aku pesan, mereka akan tiba dua jam lagi." Boy langsung berdiri, emosinya akhirnya terpancing.


Lian langsung memeluk Boy dari belakang sambil tersenyum.


"Dasar pemarah, kita masih punya waktu dua jam untuk malam pertama." Lian tersenyum.


"Nanti kamu pingsan tidak makan?"


Lian langsung tersenyum meminta Boy mendekatinya, sekarang giliran Boy yang jual mahal.


"Boy sialan." Berlian menatap tajam Boy yang menuju tempat minum.


Lian menarik selimut, berjalan mendekati Boy meminta minum.


"Mau minum, duduk disitu." Boy menunjuk meja makan.


Lian langsung duduk manis, Boy menahan tawa membawakan segelas air meminumnya langsung mendekati bibir Lian yang memberikan minum ke mulut Lian melewati mulutnya.


"Boy jorok." Lian langsung batuk air tertelan karena langsung bicara.


Suara Boy tertawa terdengar, langsung memeluk menepuk pelan punggung Lian. Mengigit leher putih menurunkan selimut.


"Lian haus butuh air bukan ...."


Boy menutup mulut Lian yang tidak berhenti mengomelinya, tangan Boy juga tidak tinggal diam.


Sama-sama memiliki tenaga yang kuat, Lian berusaha menghentikan Boy karena dirinya tidak kuat lagi menahan sensasi yang baru pertama kali dirasakannya.


"Kak, tolong berhenti."


Boy tidak menggubris, sampai Berlian kehabisan tenaga terbaring di atas tempat makan menutup wajahnya.


"Bagaimana rasanya? tidak sakit." Boy menggendong Lian berjalan ke atas tempat tidur.


"Boy, tunda dulu. Lian kehabisan tenaga."


"Tiga puluh menit saja."


"No." Boy tersenyum mencium kening Lian yang sudah mulai berkeringat karena merasakan pertama kalinya rasa nikmat.


"Kak."


"Iya sayang."


"Lian takut. Kejadian tiga tahun yang lalu masih menjadi bayangan hitam yang menakutkan." Lian menetes air matanya.


"Apa yang terjadi tiga tahun yang lalu?"


"Saat Lian sadar dari koma, seseorang hampir menodai Lian. Dia meninggal karena Lian membunuhnya, sejak kejadian itu Lian dipukuli dan diusir dari desa, sampai melarikan diri sejauh ini."


"Kenapa kamu tidak datang menemui aku?"


"Karena Lian ingin menghilangkan kehidupan yang penuh darah, Lian ingin hidup normal."


"Apa yang tidak bisa aku lakukan untuk kamu Lian? apapun yang kamu inginkan akan aku berikan, kehidupan normal juga akan aku jalani jika itu keinginan kamu."


"Tidak mau, lihatlah yang baru saja terjadi. Melihat kamu mulai tersenyum,


tiga wanita langsung mendekati kamu, sehingga Lian harus menyingkirkan mereka. Lian tidak ingin melemah."


"Baiklah, aku janji akan membahagiakan kamu." Boy mencium tangan Lian lama.


"Lian tidur dulu, capek."


"Enak saja, kamu tidak akan bisa menghindar hari ini."

__ADS_1


"Boy Lian takut, nanti sakit."


"Barusan sakit tidak?" Boy menghela nafasnya karena Lian kebanyakan drama.


"Beda Boy." Lian langsung ingin menangis.


"Janji tidak akan sesakit yang kamu bayangkan. " Boy melipatkan kedua tangannya memohon.


Boy tersenyum setelah mendapatkan persetujuan, melanjutkan permainan mereka yang sempat tertunda.


Gerakan Boy tidak ada penolakan seperti sebelumnya, Lian hanya menutupi mulutnya tidak ingin terdengar jika dirinya sedang menikmati.


"Sayang, kamu tahan sebentar ya. Peluk saja." Boy mencium kening Lian.


"Aww sakit. Kamu jangan mencekik kuat, bisa mati aku Lian."


"Tadi katanya boleh peluk?"


"Memeluk apa ingin mematahkan leher?" Boy cemberut, Lian hanya tertawa.


Kedua tangan Lian ditahan, Boy mencium bibirnya lama menghentikan omelan Lian yang tidak jelas. Suara Lian meringis terdengar berusaha melepaskan tangannya ingin menyingkirkan tubuh Boy.


"Kak ...."


Lian mencengkram kuat bantal membuat kukunya patah, merasakan sakit, perih karena kehilangan kehormatan yang Lian jaga selama dua puluh dua tahun.


"Kak minggir, turun dari atas berat."


Boy membalik posisi Lian yang di atas merasakan nafas Lian yang ngos-ngosan.


Boy melihat jam sudah pukul delapan malam, tidak ada makan siang ataupun malam, Boy dan Lian menghabiskan waktu berjam-jam bersama.


Melihat istrinya sedang tertidur, Boy membuka ponselnya menghidupkan seluruh lampu, menyiapkan makan malam untuk Lian meletakan di meja menunggu Lian bangun.


Sampai Boy tertidur lagi, Lian belum juga bangun sampai tengah malam baru merasakan perutnya lapar, menghidupkan ponselnya melihat Rinda yang mengirimkan pesan.


"Rasanya sakit, tapi bahagia karena bersama orang yang dicintai. Lian tidak menyesal mencintai kamu Tuan Boy Chrispeter" Lian mencium bibir Boy yang masih terlelap.


"Astaga tubuh Lian remuk, Boy tidak kira-kira." Lian tertawa melihat Rinda mengirimkan foto malam pertamanya.


"Sayang, jam berapa ini?" Boy memeluk erat pinggang Lian.


"Tidak ada mengulang lagi, bagian bawah masih sakit."


"Iya, tenang saja masih ada hari esok."


"Lian lapar, kak Boy sudah makan belum Ini sudah tengah malam?"


"Tengah malam." Boy langsung duduk melihat ponselnya kaget.


"Kita harus pergi dari sini sebelum lewat jam satu."


"Kenapa?"


Boy langsung megambil kemejanya meminta Lian memakaikannya.


"Lian mandi dulu."


"Di Mansion saja sayang. Kita tidak punya banyak waktu." Boy langsung langsung mengambil ponselnya, memakai baju, menggendong Lian keluar dari gedung apartemen.


***


JANGAN LUPA LIKE COMENT DAN VOTE TAMBAH FAVORIT JUGA


JANGAN LUPA KASIH HADIAH JUGA YA BIAR AUTOR SEMANGAT UP


***

__ADS_1


NOVEL HAMPIR TAMAT, JANGAN ADA YANG MINTA LANJUT LAGI ANAK MEREKA.


AUTHOR TIDAK SIAP MEMBUNUH GENERASI PERTAMA HAIKAL DAN BUNGA.


__ADS_2