
Reva, Asep dan Kristan tiba di Lab Chrispeter tapi langsung mundur, karena seluruh wilayah sudah dijaga ketat oleh orang-orang bersenjata lengkap.
"Sial! bisa mati konyol kita sekarang." Reva sudah seperti manusia tidak berguna karena tidak bisa menggunakan kemampuan teknologinya karena ledakan di markas Bara.
"Ikut aku," Asep menarik Reva yang diikuti oleh Asep. Mereka berpapasan dengan Rindu dan Raffa.
"Rindu Raffa, ayo cepat!" Reva dan lainnya sudah masuk wilayah hutan untuk bersembunyi.
Rindu menceritakan kejadian di dalam Lab, juga lawan sekarang bukan musuh yang mudah dikalahkan. Untuk keluar dari gerbang lab juga akan mempertaruhkan nyawa.
"Keluarga Chrispeter tahu tidak tentang penyerangan mereka, Lab sudah dikuasai. Kita juga tidak bisa mengirimkan sinyal."
"Aku yakin ayah Haikal pasti tahu! yang pertama harus kita lakukan menyelamatkan diri dari sini." Reva menatap Raffa yang terlihat binggung.
"Raffa bukan salah kamu, sudah jadi takdir kita sebagai keturunan Chrispeter. Akan tiba saatnya di mana hari ini terjadi." Reva menggenggam tangan Raffa yang memang tidak terbiasa dengan suasana pertarungan.
Suara tembakan terdengar, tapi bisa melarikan diri hampir ratusan orang mengepung mereka. Gerry keluar sebagai pemimpin penyerangan.
"Gerry!"
"Hai Kristan, aku akan membunuh kamu sebagai bayaran kematian Clori."
"Kalian semua pengkhianatan!"
"Awalnya aku ingin mengkhianati keluarga Kamil, tapi saat mendapatkan kabar kematian Clori aku berubah pikiran. Aku ingin kalian mati!" Gerry tertawa kuat, membuat Rindu tersenyum.
"Cinta bisa mengubah kamu menjadi penjahat sesungguhnya." Rindu tertawa membuat tatapan Gerry gelap.
"Bunuh mereka!" Gerry langsung meminta pasukannya maju, dan dia mundur ke belakang.
Rindu menatap Raffa yang terlihat santai, Reva juga menatap Raffa. Kristan sudah maju menyerang, Asep juga sudah memisahkan diri, mencari peluang yang lebih besar untuk mudah melumpuhkan karena mereka tidak memiliki senjata.
"Jangan khawatirkan aku! fokus saja." Raffa tersenyum menatap Reva dan Rindu.
Reva maju menyerang, Rindu juga sudah bertarung tapi masih di sekitar Raffa. Sesaat Raffa menghela nafas panjang, tidak pernah dia pikirkan akan bertarung. Puluhan orang mulai mendekati Raffa menjatuhkan pukulan, Raffa membalas dan dengan mudah menumpas mereka semua.
Raffa bertemu dengan Gerry, tatapan mata Raffa tenang dan penuh wibawa. Gerry tidak tahu jika pria yang berada di hadapannya adik dari Bianka.
"Kamu cukup hebat, bunuh aku jika kamu bisa."
__ADS_1
"Kami keluarga Chrispeter tidak belajar membunuh, tapi melindungi. Demi melindungi keluarga aku akan melumpuhkan kalian, karena kalian yang memulai perperangan."
Gerry menatap benci, Raffa hanya tersenyum menerima serangan Gerry yang memang kuat. Bukan hal yang sulit untuk Raffa mengalahkan Gerry, kemampuan beladiri Raffa sangat tinggi hanya saja dia tidak menyukai bertarung seperti kakaknya.
Reva dan Rindu terdiam, mereka tidak pernah tahu seorang Raffa ahli beladiri. Dalam hitungan menit Gerry lumpuh, Raffa mengalahkan tanpa menggunakan senjata.
"Raffa mengambil suntikan dari tangan Gerry dan menusukannya. Ini balasan untuk hilangnya keponakanku." Sesekali Raffa menepis air matanya karena masih tidak akan pernah bisa melupakan rasa bersalahnya.
Mereka semua Keluar, Reva dan Rindu heran dengan Raffa yang bisa mengetahui seluk-beluk hutan. Sampai mereka tiba di mobil yang sudah ada Riki dan Raffi.
"Aman bro!" Riki tersenyum melihat Raffa yang tertunduk.
"Di mana Raka?"
"Tidur!" Raffi menunjuk Raka yang sedang asik tidur di dalam mobil.
"Apa yang kalian lakukan di sini? dari mana kalian tahu Lab Chrispeter." Reva menatap Riki heran.
"Dari Kei! kita harus segera ke laut mengejar kapal pesiar yang membawa Rinda dan Nayla.
"Siapa yang memimpin?"
"Apa tidak salah kalian ikut terlibat, lawan kita keluarga Kamil?" Rindu menarik Raka keluar dari mobil.
"Hanya Raffa dan Raffi yang ikut! Raka yang akan mengontrol keamanan kalian, dan Riki yang akan mengatur pasukan."
"Terserah! tidak ada Bianka posisi tidak imbang."
"Repot ada Bianka! nanti dia minta ikan bakar paus." Raka tertawa dan langsung pindah mobil.
***
"Hai cantik!"
"Kakek tua berhati busuk!"
"Mimpi terakhir aku, bisa melihat keturunan Arnold lenyap."
"Kamu tidak akan bisa mengalahkan kakakku."
__ADS_1
"Kakak yang mana? keduanya pasti akan datang ke sini tapi setelah kamu mati."
Nayla hanya tersenyum, sekarang Nayla lebih kuat dan tenang. Rindu tersenyum melihat Nayla yang sangat santai dan sudah siap berperang.
"Singkirkan keturunan Chrispeter! aku ingin memisahkan setiap organ tubuh gadis kecil ini, dan menunjukkannya pada Bara.
"Nayla!" Rinda menahan tangan Nay, tidak ingin melepaskan tangan mereka.
"Kak Rinda jaga diri, Nayla akan kuat tidak akan pernah menjadi beban kak Bara."
Rinda dibawa ke ruangan bawah tanah, dan dikurung di dalam kurungan jeruji besi dengan penjagaan ketat. Rinda berharap Nayla baik-baik saja, perasaan Rinda sedang tidak baik. Rinda teringat saat dia dan Nayla pulang belanja dan memutuskan untuk menemui Kei.
Belum sempat Rinda sampai di rumah sakit, mobil sudah dikepung, seketika supir tewas, ternyata pengawal juga sudah tumbang. Dengan tenang Rinda keluar menatap komplotan orang bertopeng yang memaksa Nayla keluar. Rinda meminta Nayla menurut dan ikut dengan mereka. Rinda mengirimkan sinyal ke Mansion dan juga kepada Kei.
"Jaga Nayla tuhan!" Rinda coba memejamkan matanya, berpikir cara untuk memberikan kode keberadaannya.
Di ruangan lain, Nayla mendapatkan tamparan juga pukulan sampai mengeluarkan darah. Nayla tidak menangis dia hanya diam sambil tersenyum dan menatap tajam.
"Berani sekali kamu menatap mataku, kamu ingin kehilangan mata indah kamu." Boby Kamil mengelus pisau di pipi Nay.
Boby sudah menggoreskan pisau sampai darah keluar dari wajah cantik Nayla. Nay menahan sakit juga air matanya, Nayla sudah pasrah jika harus mati, dia sudah cukup bahagia bisa disayang oleh kedua kakaknya.
***
Bara dan para ayah sudah berkumpul, berita penculik Nayla dan Rindu sudah diketahui, penyerangan Lab sudah sampai ke Mansion. Bara sangat mengkhawatirkan Nayla yang berada di tangan Boby Kamil, pria yang jatuh cinta kepada ibunya yang ingin membunuh seluruh keturunan Arnold.
Haikal mengirim Raka dan Riki untuk menyingkirkan orang yang berani menyentuh Lab Chrispeter, sudah waktunya sekarang para boys ikut turun, walaupun dibelakang layar. Bara juga sudah membereskan musuh yang menyerang markasnya.
"Di mana Reva dan Rindu?" Haikal mencari lokasi keduanya yang ternyata sudah menuju ke lokasi Kei.
"Kal, sebaiknya para boys ditarik lagi. Jangan membongkar identitas mereka."
"Hanya Raffa dan Raffi! mereka sudah diketahui karena terlibat dengan putri Kamil."
"Kapan Bara pergi ayah? Nayla pasti terluka."
"Temuin Bianka sebentar, laku pergilah! ingat Bara kita mempunyai musuh yang sama, jangan putuskan komunikasi dengan kami."
"Baiklah ayah! Bara akan membawa mereka semua kembali."
__ADS_1
***