
Keputusan Boy tetap sama menolak kehadiran Mentari dan Berlian, Reza, Kai dan Rinda hanya mengikuti keputusan Boy.
Besok menjadi jadwal kepergian Boy ke daerah yang sekarang menjadi incaran para pembisnis muda, baik secara resmi ataupun ilegal.
Bianka mendekati Boy yang sedang berdiri di depan balkon kamarnya, Bi menepuk bahu Boy yang langsung tersenyum.
"Kenapa kamu menolak?" Bianka tahu Boy tidak pernah meremehkan orang lain, tapi tidak biasanya dia menolak keputusan Ayahnya.
"Berlian wanita yang membabi buta, dia akan melakukan segala cara agar menang. Boy tidak suka dengan seseorang yang berambisi hanya untuk menang, dia tidak memandang kawan atau lawan."
"Lian gadis yang baik, Bunda mengenal baik keduanya." Bianka menatap tajam Boy.
"Bunda ingin tahu, kemampuan bela diri Kai sejak kecil sangat kuat, dia menghindari Lian karena melihat luka bakar di bagian perut Lian, tapi melihat Kai melemah dia mengambil keuntungan, berarti Berlian tidak bisa membaca situasi."
Bianka tidak bisa bicara lagi, Boy bisa membaca gerakan orang lain. Dia juga bisa memutuskan suka dan tidaknya.
"Boy, Bunda berharap kamu mengubah pemikiran kamu, setidaknya untuk Mentari." Bi belum ingin menyerah.
Boy tertawa mendengar nama Mentari, Boy yang Bianka lihat lebih mirip Bara, lucu tapi saat serius menyeramkan.
"Mentari tidak semanis namanya, dia menggunakan senjata saat menyerang Rinda. Adik kecilku hanya melihat saja, memberikan senyuman, biarkan lawan menang, tidak menunjukkan kemampuannya. Mentari hanya tahu bertarung, tapi tidak mengerti arti dari sebuah pertarungan."
Bianka gemes sekali melihat putranya yang sekarang, seperti orang paling pintar, kuat juga banyak pengalaman.
Bi langsung melangkah pergi menemui Berlian dan Mentari yang berada di kamar, Bi duduk di pinggir ranjang menatap Mentari yang memainkan belati.
"Boy tetap menolak, dia bilang kalian berdua tidak bisa membaca situasi."
"Kai memang kuat Bunda, pukulan pertamanya mematikan, tapi setelahnya dia melemah, lebih lembut, membuat aku kesal akhirnya lepas kendali, hampir menyakitinya." Lian tersenyum melihat Bi.
"Rinda juga kuat, kedua putri Chrispeter luar biasa, aku belum menemukan lawan selincah Rinda, tapi sayang dia tidak ingin melawan."
"Jadi apa yang akan kalian lakukan?" Bianka menatap keduanya sambil tersenyum.
"Kita datang sebagai pengawal, tidak diwajibkan bisa lebih kuat dari tuannya. Tugas kami membantu, bukan hanya menjadi perisai." Lian tersenyum.
"Kami akan tetap ikut Bunda, Mentari akan menemui Reza sekarang."
"Tari, Bunda mendengar kabar. Senyuman Reza memiliki dua arti, dia memang sedang bahagia, atau dia sedang ingin menghancurkan. Semoga kamu beruntung."
"Apa dia juga bisa membunuh Bunda?" Mentari menatap serius.
__ADS_1
Bianka mengagukan kepalanya, Berlian memberikan semangat, Mentari langsung memeluk Berlian yang seperti kakaknya.
Mentari langsung keluar, mencari keberadaan Reza, Tari tidak yakin Reza sudah tidur, pasti di suatu tempat.
"Kamu mencari kak Reza?" Rinda datang mendekat, wajahnya putih menggunakan masker.
"Selamat malam Nona." Mentari menundukkan kepalanya.
"Panggil saja Rinda, kak Reza ada di lapangan belakang. Dia tidur di bawah pohon." Rinda langsung pergi, Mentari berlari ke belakang.
Di bawah pohon Mentari melihat Reza yang tidur di bawah sinar bulan, Tari menutupi cahaya bulan yang menyinari wajah, mata Reza langsung terbuka melihat bayangan hitam.
"Minggir!" suara dingin Reza terdengar.
Mentari langsung menyingkir, menatap Reza yang memejamkan matanya. Tari melihat bulan yang memang sangat indah, duduk bersama Reza yang asik tidur.
Malam semakin larut, Tari mulai menguap, menutup matanya merasakan angin malam, juga cahaya seadanya. Tangan memeluk dengkulnya.
***
Matahari bersinar, Mentari membuka matanya, tidak ada lagi Reza. Tari berdiri mengucek matanya, dia tidur semalaman di luar, sedangkan Reza sudah pulang, tidak berniat membangunkannya.
"Putra Chrispeter Arvin kejam, teganya dia meninggalkan wanita sendirian. Laki-laki brengsek." Mentari menendang angin.
Mentari langsung berlari mengejar Reza, keluarga sudah bersiap menunggu Reza untuk berangkat.
"Kak Reza lama sekali." Rinda melotot kesal, tapi kaget melihat Mentari yang masih wajah bantal.
"Tuan, saya ikut." Mentari memohon kepada Reza.
"Saya tidak tertarik membawa putri tidur, busuk lagi belum mandi." Reza merasa geli langsung memeluk Reva, meminta doa, memeluk Daddy-nya.
"Reza biarkan Mentari ikut." Asep meminta Reza memikirkan kembali.
"Tidak Daddy, dia hanya beban."
"Tuan, jangan tinggalkan saja, nanti saya hamil bagaimana? kita semalam tidur berdua." Mentari memelas.
Tawa Boy terdengar kuat, Reva menundukkan kepalanya, Asep memalingkan wajah menahan tawa. Bara sudah tertawa lepas, Bianka menutup mulut Bara.
"Perempuan gila!" Reza menatap sinis.
__ADS_1
Kaira menggelengkan kepalanya melihat Mentari yang sangat polos, Rinda juga heran melihat Boy tertawa, yang lainnya juga menahan tawa.
"Kita semalam tidur di bawah pohon, laki-laki dan perempuan, katanya tidur bersama bisa hamil."
"Perempuan sinting, sini kamu aku ajari cara hamil, bodoh." Reza menendang batu ke arah Mentari.
"Mentari tidak bohong ...." Mulut Mentari langsung ditutup oleh Berlian, berjam-jam Berlian mencari Mentari, ternyata dia sedang membuat lelucon.
"Kak Lian, Tari tidak bohong jika lelaki dan perempuan ...." Mulut Mentari ditutup kembali.
"Maafkan Mentari tuan, izinkan dia masuk ke dalam untuk mandi." Berlian membawa Mentari cepat pergi.
Bianka tersenyum melihat Mentari yang polos, Berlian yang dewasa. Tawa semua orang tua terdengar, merasa lucu dengan tingkat dua bodyguard girls.
"Boy, berikan kesempatan untuk Berlian dan Mentari ya sayang." Bianka memohon, Boy masih belum berhenti menahan tawa.
"Reza kenapa kamu bisa tidur bersama wanita bodoh itu?" Boy terus tertawa.
"Dia tidur sendirian, aku tidur di kamar. Dia saja yang polos, kak Maxi yang melatih mereka berdua, setidaknya ajari hal dewasa kak." Reza menatap Maxi kesal.
"Saya laki-laki Reza, belum menikah jadi tidak mungkin mengajari cara membuat anak." Maxi menatap arah lain.
"Kalian bisa meminta Mommy Reva mengajari?" Rindu tertawa melihat anak-anak yang sekarang sudah besar.
"Mami, Rinda juga belum belajar. Pikiran Rinda masih polos, Papi Rinda juga ingin tahu banyak hal."
"Rindu, mulut kamu akhirnya membuat Putri kamu yang polos kumat. Silahkan dinasehati." Raffa menatap arah lain.
"Belajar dengan kak Kai, dia tahu banyak hal. Pengetahuannya sangat luas." Rindu mengaruk Kepalanya.
"Rinda, tidak ada yang perlu kamu pelajari, pecahkan mata lelaki yang berani menatap tubuh kamu, seorang wanita memiliki aset yang mahal."
"Siap kak Kai."
Rindu menatap Keisya yang mengerutkan keningnya, menggelengkan kepalanya melihat Kai sangat dingin, hanya terkadang saja dia lemah lembut, tapi jika soal keluarga sangat sensitif.
"Ayo kita berangkat." Miko yang baru datang dari markas akhirnya muncul.
***
HARI INI AUTHOR BIRTHDAY boleh tinggalkan COMENT, yang ingin memberikan kado, boleh VOTE atau HADIAHNYA ðŸ¤ðŸ¤ðŸŽ‰ðŸŽ‚🎂🎂🎂
__ADS_1
***
SEASON 2 AKAN UP SESUDAH LEBARAN, SEMOGA SETIAP HARI TAYANG. MOHON DUKUNGANNYA.💛💛💛💛💛