
Keterkejutan terjadi, seluruh pengawal di gerbang utama sudah terkapar. Pengawal Bara mengecek dan melihat mereka keracunan, tim medis seluruhnya sudah meluncur. Bara mempercepat laju mobilnya, seluruh pengawal tidak ada yang tersisa.
Kemarahan Bara berada dipuncak nya, beberapa orang datang mendekat. Bara menggila melepaskan tembakan membuat puluhan orang tewas, Reva langsung berlari tapi terhenti oleh puluhan pengawal yang berkhianat.
"Brengsek kalian, mati tidak akan menjadi hukuman untuk kalian." Reva langsung maju menyerang, puluhan orang juga terlempar dari lantai atas.
"Berapa tahun kalian semua mengawal keluarga Chrispeter, tapi akhirnya berkhianat semua." Rindu dengan tata marah.
"Bunuh kami Nona,"
"Berhenti!" Haikal berteriak menatap tajam, banyak pengawal yang bertekuk lutut.
"Siapa yang mengerakkan kalian, maju jika ingin mati." Haikal melangkah masuk, Bara sudah bertempur dengan kemarahannya. Della melipatkan dadanya dari lantai atas, pengawal pribadi Bianka dilempar dengan berlumuran darah. Banyak orang yang terluka karena ulah Della yang gila.
"Siapa kamu!" Bara menatap tajam.
"Kenapa Bara? ingin membunuhku, istrimu bahkan anakmu sudah merenggang nyawa."
"Meregang nyawa, bahkan sehelai rambutnya tidak bisa kamu sentuh.
Seluruh keluarga masuk, tatapan mata mereka tajam dan mematikan. Bunga sangat terlihat mengerikan, dia kembali seperti Bee yang dulu, langkah kaki Bee menaiki tangga. Della mengarahkan senjata di depan Bee tapi tidak selangkah pun Bee mundur, dia tidak takut dengan senjata yang sudah sepuluh tahun tidak dia mainkan.
"Bunda menakutkan," Rindu sampai merinding.
"Bee jauh lebih kejam dari Bi putrinya, karena Bunga tumbuh tanpa kasih sayang berbeda dengan Bianka yang mendapatkan banyak cinta." Ara tersenyum, bergerak mengambil belati dari balik baju suaminya.
Sebuah belati melayang, tepat di kening Della. Reva sampai memalingkan wajahnya melihat Mommy yang terlihat lembut, tapi sangat ahli dalam permainan pisau.
"Mommy juga keren." Rindu bertepuk tangan.
Senjata Della jatuh, Bee tersenyum mencabut belati dari dahi Della.
"Mencinta suamiku, akan aku hilangkan matamu."
Kegilaan Bee terlihat, Reva melihat takut beda dengan Rindu yang bertepuk tangan senang. Della mengalami kebutaan juga kelumpuhan, Bi menyuntikkan racun mematikan yang dulu pernah dia gunakan, membuat orang lumpuh permanen.
"Matilah secara perlahan,"
Bara berlari, membuka pintu kamar Bianka. Terlihat Asep yang sudah bermandian darah, terdapat tembakan di bagian dadanya.
"Asep, di mana Bi ku." Bara melihat Asep yang masih bisa membuka matanya.
"Tidur, dia bilang hanya 10menit tapi aku bertahan selama 30menit."
"Tidur!"
"Bara jika aku berhasil selamat, aku tidak ingin melindungi Bi lagi. Dia wanita gila."
__ADS_1
"sialan kamu Sep,"
Bara melepaskan Asep, melangkah ke atas ranjang di bukanya selimut. Memperlihatkan Bi yang tidur menggorok dengan santai, tidak ada luka sedikitpun. Bara menyentuh perut Bi, terasa tendangan dari Bara junior.
Bunga langsung masuk berteriak memanggil Bi, tapi yang terlihat Bi asik tidur dengan tersenyum.
"Dasar anak sialan kamu Bi, kami semua hampir jantungan tapi kamu asik tidur."
Roy melihat Asep yang sudah tidak sadarkan diri, didekatinya dan merasakan denyut nadi yang stabil. Di lihat juga luka tembak, peluru sudah berhasil dikeluarkan.
"Berapa lama kamu bertahan? dan bertahanlah sedikit lagi."
Reva yang melihat Asep berlumuran darah, hanya diam terpaku. Teguran Dara juga tidak dihiraukan, matanya fokus melihat darah yang sudah mengalir.
"Jangan menangis, dia tidak akan mati."
***
Bara masih setia menemani Bi yang perlahan terbangun, mata Bi mengerjap melihat Bara di sisinya.
"Asep, Della berapa lama aku tidur." Bianka langsung berdiri, dia melihat ke luar kamar tidak ada yang siapapun. Ruangan laboratorium juga sudah dibersihkan.
"Asep kritis Bi!" Bara memeluk Bi dari belakang.
"Aku janji tidur 10menit, mata Bi sangat mengantuk."
Bara hanya bisa mengeratkan pelukannya, Asep tidak meninggalkan Bi sedikitpun. Setelah berhasil mengeluarkan Della juga para pemberontak, Asep berhasil menekan tombol alarm, dia tidak melangkah menjauh dari kamar Bi. Tidak ada yang berhasil masuk kamar Bianka karena Asep terus bertahan, bahkan dia menerima tembakan demi bertahan. Pengawal pribadi Bianka menyelamatkan Asep, dia berhasil masuk kamar Bi dan menguncinya agar tidak ada yang masuk.
"Paman!" Bara tersenyum berlutut mencium perut Bi.
"Sayang, saat kamu sudah bisa bicara, ucapkan terimakasih pada paman, kamu bisa tidur nyenyak karena kesetiaan paman."
"Sampai bertemu dua bulan lagi nak."
Bianka dan Bara turun, mereka mendekati ruangan perawatan Asep. Nayla langsung berlari memeluk Bara membuat Bi kesal menyingkirkan tangan Nayla, tapi saat Nay mengelus perutnya barulah Bi tersenyum.
Bi melihat Reva duduk di lantai, tidak ada air mata tapi sangat terlihat kesedihan. Semuanya tersenyum melihat Bi yang baik-baik saja, Bi duduk di samping Reva sambil memeluk lengan Reva.
"Maaf ya Aunty, tapi aku sangat mengantuk makanya tidur."
"Terimakasih kamu memilih tidur, sehingga kamu tidak terluka."
"Ohhhh, jadi memang sebaiknya aku tidur."
"Sebaiknya kamu diam Bi,"
"Apa gunanya mulut kalau harus diam?"
__ADS_1
Bara mendekat, menutup mulut Bi sambil memeluknya. Tidak lama Daddy keluar, Asep sudah aman. Pengawal pribadi Bi juga berhasil selamat, mendengar ucapan Daddy Bi bertepuk tangan.
"Kakek hebat,"
Dara yang mendengarnya langsung lepas kendali, tawa Dara terdengar disambut oleh Bunga dan Kia. Riani dan Nayla hanya tersenyum.
"Tua banget, pangkat kakek."
Mendengar kabar Asep sudah aman, Reva melangkah pergi keluar Mansion. Roy coba menghentikan tapi ditahan oleh Dara, Rindu melangkah mengikuti Reva yang sedang emosi.
***
Di tempat penjara Chrispeter, hampir ratusan pengawal yang ikut terlibat dalam pemberontak. Reva mendekati Della yang sudah buta sebelah, juga lumpuh permanen. Dia tidak punya pilihan selain mati perlahan karena tidak minum juga makan.
"Apa yang pengawal dapatkan dari membantu kamu?"
"Kepuasan!"
"OHH!"
Reva melangkah pergi, Della merasakan kebinggungan. Reva tidak berniat membunuhnya tapi memilih pergi.
Di depan para pengkhianatan, Reva meminta paman Ahlan dan Ahlam untuk datang. Menyambut hari bahagia kakaknya, juga hari pengkhianatan keamanan Mansion.
"Paman boleh Reva meminta tolong?"
"Silahkan Reva,"
"Hilangkan kelamin mereka, buat mereka menjadi lelaki yang tidak sempurna."
Paman Ahlam kaget, Rindu juga tidak bisa membayangkan Reva bisa memikirkan hal konyol.
"Mereka berkhianat karena imbalan kenikmatan, jadi dengan kehilangan miliknya, dia tidak akan tahu rasanya nikmat."
"Berapa panjang yang kamu inginkan, bagaimana jika mereka mati." Paman Ahlan tersenyum melihat Reva yang ceria ternyata mengerikan.
"Sampai habis, jika ada yang mati lemparkan di kandang buaya."
"Laksanakan tuan putri,"
Senyum menyeringai Reva terlihat, dia tertawa membuat para pengawal ketakutan. Mereka mati lebih baik dari pada merasakan sakit juga menjadi lelaki yang tidak berguna.
Memohon dengan keturunan Chrispeter, tidak akan ada yang memberikan kesempatan kedua, Keluarga kuat dan berkuasa tidak ada di dalam kamus mereka, sebutkan kesempatan untuk pengkhianatan.
***
JANGAN LUPA LIKE COMENT DAN VOTE TAMBAH FAVORIT JUGA YA
__ADS_1
SEKALIAN JANGAN LUPA KASIH HADIAH JUGA YA BIAR AUTHOR TAMBAH SEMANGAT UP
***