BIANKA DAN MAFIA KEJAM

BIANKA DAN MAFIA KEJAM
S2 PULANG


__ADS_3

Gelombang semakin tinggi, Boy berdiri di atas kapal sambil mandi air hujan. Langit gelap suara petir menggelegar.


Reza memanggil Boy untuk masuk, luka Boy harus di obati. Reza mengerutkan keningnya menatap Boy yang tidak bergerak sama sekali.


"Boy." Reza teriak.


Boy melangkah masuk membuka bajunya, Reza melihat luka tusuk diperut Boy yang cukup dalam dan banyak darah.


Selesai Boy ganti baju langsung berbaring, Reza mengobati luka tusuk diperut Boy.


"Bagaimana keadaan Tari?"


"Belum sadarkan diri, Rinda juga terkena racun sehingga sampai sekarang belum bangun." Reza menghela nafasnya.


Kaira mengetuk pintu melihat Reza dan Boy berdiam diri di kamar, Kai melihat luka diperut Boy, menatap wajah Reza yang banyak luka.


"Sebentar lagi kita akan tiba di pelabuhan, semoga badai berlalu, kita bisa segera menepi." Kai duduk di samping Boy.


"Bagaimana keadaan Lian?"


"Buruk, Mentari belum stabil, Rinda juga belum sadarkan diri, sedangkan Lian harus dalam perawatan khusus, masih menunggu pengaruh obat." Kaira melangkah keluar meninggalkan Boy dan Reza yang masih menundukkan kepalanya.


Rinda terbangun, memegang jantungnya yang berdegup kencang, langsung melangkah keluar merasakan kapal yang bergoyang.


Rinda berlari ke arah atas, Maxi melihat Rinda berlari langsung mengejarnya. Rinda berada di atas kapal melihat lautan yang tidak bersahabat.


Langit gelap, gelombang besar banyak petir di langit hitam. Air laut tinggi, ditambah lagi hujan lebat.


Keadaan yang menyakitkan, Rinda mengetahui mereka sudah ada di tengah laut, jauh dari pulau yang hanya tersisa asap hitam.


Maxi kaget melihat Rinda mandi hujan, langsung mencari payung, berjalan menemui Rinda yang sedang menangis.


Maxi terhenti saat air semakin tinggi, Rinda mendekati air memberikan tangannya.


"Arrggg ...." Rinda teriak kuat, membuat petir menyambar ke air, Max hanya bisa terdiam melihat hal yang lebih mengerikan dari pertempuran.


Maxi memberanikan diri, memayungi Rinda yang terduduk sambil menangis sesenggukan. Max tidak tahu cara menghibur Rinda, juga tidak memahami karakter Rinda yang baru kali ini Max temui.


"Rinda, kamu baik-baik saja?"

__ADS_1


"Kita kalah dalam pertempuran kak Max." Rinda menghapus air matanya.


Maxi duduk diam bersama Rinda, perlahan hujan berhenti. Air laut mulai tenang, gelombang juga terlihat mulai tenang.


Maxi melihat banyak lumba-lumba berenang mendekati kapal, Rinda tersenyum melambaikan tangannya. Langsung berlari ke bawah untuk bisa menyentuh lumba-lumba.


Max hanya bisa mengikuti Nona muda yang paling aneh, Rinda langsung lompat ke dalam air. Maxi teriak kaget langsung lompat menangkap Rinda yang memeluk lumba-lumba.


Banyak pengunjung yang teriak bahagia melihat cuaca terang, menyambut bahagia kehadiran banyaknya lumba-lumba juga ikan.


Kaira keluar, melihat banyak orang berkumpul berteriak tertawa. Kai melihat Rinda dan Maxi berenang bersama lumba-lumba.


Boy keluar bersama Reza melihat Rinda yang memeluk erat lumba-lumba, Maxi terlihat ketakutan meminta Rinda naik ke kapal.


Miko melemparkan pelampung, sangat memahami Rinda yang menenangkan hewan, masih mending hanya ikan, lumba-lumba. Miko pernah masuk kandang singa karena ulah Rinda.


Mengawal Rinda sejak usia Rinda 5 tahun, sampai dia berusia 17 tahun banyak hal yang sudah Miko lewati, tidur tidak tenang, ketakutan, khawatir, tertawa, bahagia, juga bersedih bersama si kecil manja.


Waktu Rinda lebih banyak bersama Miko daripada kedua orang tuanya, Miko bukan hanya seorang pengawal Rinda, tapi perisai bahkan bagian dari Rinda.


Maxi tidak terbiasa dengan Rinda, pasti sekarang sedang ketakutan melihat banyaknya keanehan.


"Keturunan Chrispeter sangat aneh, mereka memiliki kelemahan juga kelebihan yang istimewa. Kaira dan Rinda, dua orang yang memiliki dunia yang berbeda, Reza dan Boy juga dua orang yang berbeda, karakter yang berlawanan.


Rinda naik kembali ke kapal, berjalan memeluk Kai, meminta temani menganti bajunya. Kaira mengusap kepala Rinda, mempertanyakan keadaan adik kecilnya yang bisa berubah-ubah sesuai hatinya.


***


Semuanya berkumpul di kamar melihat Mentari dan Berlian, Lian sudah sadarkan diri. Obat yang Kai berikan bekerja dengan baik, tubuh Lian menerima dengan baik, merespon dengan cepat.


"Mentari bangun, kamu harus bangun. Kita harus menyapa seluruh keluarga." Rinda mengusap wajah Tari.


Perlahan mata Mentari terbuka, menatap Rinda langsung tersenyum. Reza mendekati tari membantunya untuk berdiri, Reza tersenyum memeluk tubuh kecil Tari yang masih lemah.


"Tuan, baik-baik saja? Kak Lian."


"Kita kembali dengan personil yang lengkap." Reza mengusap wajah Tari.


Mentari menyentuh perutnya, mengusap wajah Reza yang bengkak, bahkan pinggir matanya membiru.

__ADS_1


Setelah cukup lama di lautan, kapal akhirnya mendarat di pelabuhan. Seluruh orang berlari menangis sesenggukan ingin bertemu keluarga mereka.


Maxi sudah mengingatkan semua orang jangan pernah mengatakan apapun yang mereka lihat, jika sampai terbongkar sudah dipastikan seluruh keluarga sampai 7 turunan akan dilenyapkan.


Setelah semuanya keluar, barulah Boy, Lian dan yang lainya melangkah keluar. Mereka akan segera menuju Mansion.


Mobil sudah siap, Boy satu mobil bersama Lian, Reza dan Tari yang masih memegang perutnya, wajahnya juga pucat.


"Kita pulang." Lian tersenyum melihat mobil melaju dengan kecepatan tinggi.


Rinda terdiam di dalam mobil, bahkan tidak terlihat canda tawa Rinda seperti biasanya.


Kabar kepulangan Tuan dan Nona muda Chrispeter sudah terdengar, seluruh gerbang Chrispeter terbuka.


Bianka tersenyum menghias wajahnya, bersiap menyambut anak-anak pulang membawa kemenangan.


Bara mencium pipi Bi yang tidak berhenti tersenyum, melangkah bersama menuruni tangga, melihat yang lainnya sudah menunggu di ruang tamu.


Alarm kedatangan berbunyi, semuanya berjalan ke arah pintu. Jantung Bi berdegup kencang, ada perasaan tidak nyaman.


Rindu menghentikan langkahnya, melihat ke arah foto Rinda Chrispeter yang sudah tiada, rasa yang sama saat mereka kembali membawa Rinda dalam keadaan sekarat.


Reva menepuk pundak Rindu, terkadang girl Chrispeter memiliki trauma setiap para anak pulang, mereka tidak siap kejadian puluhan tahun yang lalu terjadi kembali.


Bianka melihat dua mobil berhenti, senyum Bi terlihat melangkah melihat Boy langsung memeluknya.


Reza juga keluar bersama Tari, mobil satunya terbuka, Rinda berlari dalam keadaan menangis langsung memeluk Maminya.


Raffa sampai tercengang melihat Rinda menangis, biasanya putrinya selalu tertawa bahagia, baru pertama kalinya Rinda pulang menangis.


"Papi." Rinda memeluk Raffa yang meminta Rinda tenang.


Reva mengusap wajah putranya Reza yang bengkak, hanya Kai yang tersenyum memeluk Keisya.


Berlian dan Mentari memeluk Bianka, tangan Bi mengusap punggung dua anak yang dia anggap putrinya.


Boy dan Reza melangkah masuk ke dalam, memeluk nenek kakek yang berada di dalam. Hal yang selalu dua tuan muda lakukan memeluk nenek mereka sampai para kakek cemburu.


Suara tembakan terdengar di luar rumah, tatapan mata Bi tajam, hilang sudah senyuman lembut, penuh cinta.

__ADS_1


Suara teriakan histeris terdengar, Rinda jatuh pingsan dalam gendongan Raffa, begitupun dengan Mentari jatuh pingsan.


***


__ADS_2