
Acara pernikahan yang paling lama Reva tunggu sudah di depan mata, persiapan sudah 80% tapi sampai detik ini Asep belum juga kembali, setelah memberikan kabar misi sukses dan sedang dalam perjalanan pulang.
Khawatiran juga dirasakan oleh Bara, Asep bahkan kehilangan sinyal yang Bara simpan di telapak tangannya.
"Sinyal hilang, ada yang memotong tangan atau kamu yang mengeluarkan." Bara bicara sendiri, tapi seorang bocah kecil berusia 6 bulan duduk menatap ayahnya dan bisa memahami kegelisahan.
Boy kecil yang tidak bisa diam bahkan tidak ada yang sanggup menjaganya termasuk Bianka, Boy hanya akan diam saat bersama Bara.
"Yah yah." Boy memegang celana Bara yang sedang berdiri.
"Boy," Bara langsung menggakat putranya, memeluknya sesaat.
"Apa yang kamu lakukan, pasti di bawah sedang heboh mencari kamu?" Bara menggelengkan kepalanya, Boy bisa naik tangga dan turun sambil merangkak.
"Boy, Ayah sedang memikirkan paman Asep, seharusnya dia kembali 3 hari yang lalu. Tapi bukannya sampai dia menghilang, Ayah boleh pergi tidak?"
"No no no!" teriak Boy sambil terus menggelengkan kepalanya.
Bara tersenyum, meminta Boy tidur memanggil Bianka untuk menyusui Boy. Bi yakin ada yang Bara pikirkan, sikap Bara yang usil akan menghilang saat dia sedang berpikir. Bi langsung mengambil Boy dan menidurkannya, Bara juga berbaring sambil memejamkan matanya.
Bi sudah mendapatkan kabar Asep menghilang, Maxi yang sudah Bi kirim untuk mencari Asep dengan bermodalkan sinyal terakhir keberadaan Asep. Keluarga besar juga banyak diam karena ulah Daddy Roy Reva banyak diam dan jarang terlihat.
Setelah Boy tertidur, Bi tidak tahu Bara tidur atau tidak karena Bara menutup matanya dengan tangannya.
Bianka mendapatkan panggilan jika, Rindu yang pergi bersama Maxi. Seluruh pengawal Asep tewas, satu-satunya orang yang menghilang hanya Asep.
"Bagaimana Bi?" Reva berdiri tepat di belakang Bianka.
"Kamu mengapa di sini Reva?"
"Hanya ingin bertemu Bunda, aku rindu Bunda ingin bercerita dan berkeluh kesah."
"Asep pasti kembali."
"Pengawalnya tewas semua, dia menghilang dan entah kapan kembali atau mungkin tidak akan pernah kembali."
"Berfikir positif Reva, dia pasti kembali."
"Batalkan saja acara pernikahan, biarkan semuanya kembali seperti awal."
"Reva!"
__ADS_1
Suara dobrakan kuat terdengar, Asep melangkah masuk dan langsung tumbang. Bara yang sudah keluar kamar melihat keadaan Asep. Reva dan Bianka langsung berlari, Bi menatap Bara yang pandangan sudah gelap.
Perintah Bara turun untuk menyelamatkan Asep, beberapa bayangan langsung muncul. Bianka dan Reva juga ikut mundur melihat Bara yang sudah mengeluarkan pasukannya. Bi tidak mengerti sekarang siapa lawan Bara, tapi yang jelas orang yang menyerang Asep musuh Bara.
Tanpa memperdulikan Bianka Bara melangkah pergi dengan pasukannya, Bi berlari mengejar dan menahan lengan Bara.
"Siapa musuh kamu?"
"Tanyakan pada Raffa." Bara meninggalkan Bi dan langsung menyerang musuhnya.
Bianka tidak mengerti, yang dia ketahui Raffa tidak pernah berurusan dengan masalah pertarungan, Raffa murni hidup normal dengan kebiasaannya yang bebas juga ceria.
"Reva mengapa ada sangkut paut lagi dengan Raffa?"
"Tanyakan Rindu?"
Bianka langsung meminta Rindu kembali dan menjelaskan semuanya, Rindu hanya cengengesan dan mengatakan jika dirinya melakukan Kesalahan menyerang seorang wanita culun yang selalu membuntuti Raffa dan ternyata wanita yang Rindu serang istri dari seorang Mafia.
Mafia yang sangat ingin menghancurkan Bara, setelah mengetahui jika Bara menantu dari Chrispeter dan putri Chrispeter menyerang istrinya sehingga dia memiliki alasan menghancurkan bisnis Bara, tapi semuanya salah sasaran, saat perjalanan kembali Asep mendapatkan kabar dan langsung putar arah.
"Aku pikir musuh yang luar biasa kuatnya, ternyata hanya seujung kuku Bara."
"Tapi mengapa Bara turun tangan?"
"Maxi, mengapa Asep terluka parah?"
"Karena dia mempunyai hati, demi menyelamatkan pasukannya Asep berkorban, bahkan mengeluarkan sinyal di tangannya untuk mengelabui Bara, agar tidak marah dengan pasukan yang melarikan diri."
"Jadi pasukan tewas, dia orang yang meninggalkan Asep berjuang. Dan sisa pasukan yang hidup sudah kembali ke Mansion Chrispeter." Reva menutup mulutnya.
"Berarti yang membunuh mereka Bara?" Bianka menghela nafas, Bara memejamkan mata berpura-pura tidur, tapi langsung banyak orang yang tewas.
"Siapa lagi, Bara marah karena Asep berkorban, sedangkan pasukan mereka berkhianat."
***
Keluarga besar Chrispeter sudah berkumpul untuk melihat keadaan Asep, Bara baru saja kembali dan menggendong putranya.
Asep lebih cepat pulih dan sudah keluar dari ruangan perawatan. Bara menatap sinis dan melayangkan pukulan. Boy yang dalam gendongan Bara bertepuk tangan langsung minta digendong oleh Asep. Cepat Asep menyambutnya, Boy mengelus pipi Asep dengan tangan mungilnya sambil tertawa.
"Kamu ini kasihan melihat paman atau sedang mengejek Boy?" Asep menatap Boy tajam, tapi Boy balik menatapnya tajam seakan-akan menantang tapi tawanya langsung terdengar.
__ADS_1
"Kenapa kamu menyelamatkan mereka, sejak kapan kamu bekerja menggunakan hati." Bara berteriak membuat Boy juga melotot mengikuti gaya ayahnya.
Asep menjelaskan jika dirinya hanya memecahkan teka-teki yang dikirim Ayah Haikal, kepergian Asep hanya alasan untuk menguji dirinya. Ada dua pasukan yang bergabung, tim asli dan palsu, ayah Haikal sengaja memasukkan para perampok dalam pasukan. Asep hanya memilih pasukan untuk dipisahkan, sampai akhirnya Asep berhasil keluar bersama pasukan setia, dan di dalam perjalanan bertemu mafia yang dikirim karena istrinya terluka patah hati, yang membuat Asep tidak mengerti tiba-tiba diserang, lukanya Asep bukan karena kalah tapi kebodohan Bara yang marah karena dia melepaskan sinyal sampai terjadi ledakan, Asep sampai jatuh ke jurang.
"Ya maaf aku tidak tahu cerita aslinya."
"Jika tuan tidak tahu maka jangan sok tahu, karena kecerobohan tuan saya terluka dan satu lagi, jika rindu bertarung jangan mencari alasannya sampai aku yang menjadi kambing hitam."
"Wahh, sekarang kamu sudah berani membantah ucapan saya Sep, sudah merasa hebat."
"Maaf Tuan, saya tidak ada berniat bertarung dengan Anda."
"Kak Ghavin, mengapa mafia itu bisa mengenali wajah kakak?" Raffa yang baru dapat kabar kembali dari perjalanan bisnisnya.
"Kamu lihat dulu siapa orangnya, dia pria tua berusia hampir ratusan tahun, dia pernah berjaya pada masanya."
"Tapi mengapa istrinya cantik, seksi dan masih muda?" buah apel langsung melayang menghantam kepala Raffa, Rindu langsung melangkah pergi dengan menghentakkan kakinya kesal.
"Rindu cemburu, Raffa wanita gila harta tidak memandang usia, karena sudah merasa memiliki harta dia mulai ingin merasakan cinta." Haikal menatap putranya, juga melihat punggung Rindu yang menghilang.
"Emhhh sekarang mulai tahu wanita seksi, sudah tua Haikal, ingat sudah ada cucu."
"Bunda sayang masih kurang kesetiannya ayah, dari muda sampai tua kamu wanita satu-satunya."
"Bukannya dulu dijodohkan dengan Kia?"
"Bunga Kia hanya makhluk tidak terlihat."
"Kurang ajar kamu Haikal, aku kutuk kamu menjadi siluman monyet."
"Berarti suami kamu juga monyet, secara aku adiknya."
"Ayo Boy kita pergi, pembicaraan orang tua yang masa kecilnya belum puas, jangan di dengarkan. Ikut paman ya." Asep langsung melangkah pergi bersama Boy yang menggagukan ucapan Asep.
"Asep tadi sedang menyindir ya?" Haikal menatap kesal.
"Ayah semakin tua, semakin kekanakan." Bunga ikut melangkah pergi.
***
JANGAN LUPA LIKE COMENT DAN VOTE TAMBAH FAVORIT JUGA
__ADS_1
SEKALIAN KASIH HADIAH JUGA YA BIAR AUTHOR TAMBAH SEMANGAT UP
***