
Maxi mondar-mandir melihat matahari semakin terbenam, kapal juga sudah bersiap untuk kembali. Kai berjalan mendekat bersama Tari dan Lian, mata Tari menatap sekitar mencari Reza yang mungkin saja melihatnya pergi, setidaknya dia ingin meminta maaf.
"Ada apa kak Max? terlihat gelisah sekali." Kaira berdiri di depan pengawal pribadinya.
"Tidak ada Kai, hanya saja aku berstatus meninggalkan istriku di sini?" Maxi menundukkan kepalanya, tidak habis pikir dengan ucapannya.
Kaira membenarkan ucapan Maxi, langsung menatap Lian dan Tari, mempertanyakan ingin pulang atau tetap di sini. Secara serempak Tari Lian ingin tetap tinggal, Kai menggaruk kepalanya langsung meminta semuanya kembali ke penginapan.
Boy, Reza, Rinda dan Miko sedang makan malam di pinggir pantai, sesekali menatap lautan yang sangat tenang.
"Mereka sudah pulang belum? kasihan Rinda ditinggal suami." Rinda memanyunkan bibirnya, Reza langsung batuk menatap Boy yang tertawa.
Miko hanya tersenyum melihat Rinda yang serius menanggapi status mereka, langkah kaki empat orang menjadi pusat perhatian, Reza langsung berdiri melihat Tari berlari kesenangan merasakan angin pantai.
"Aku tidak salah lihat?" Reza menunjuk ke arah Tari yang heboh sendiri.
"Kak Kai." Rinda langsung berlari memeluk Kaira.
Boy terduduk lesu mendengar Kai memutuskan tidak akan kembali, mereka ingin datang dan pulang bersama.
"Kak Boy, ingat pesan kakek saat kita pergi. Kepergian kita bukan hanya untuk mendapatkan kemenangan, tapi mengetes kekompakan. Jika satu mengalami kesulitan yang lain datang merangkul."
"Iya ya ya, adikku Kaira Chrispeter, sekarang kamu terlihat mirip Mama Kei. Kak Boy yakin kamu lapar, sebaiknya makan." Boy menyuapi Kai, wajah Boy cemberut memikirkan banyaknya wanita yang ikut bergabung.
Rinda tersenyum melihat Tari, Lian dan Maxi yang hanya membuang pandangannya ke arah lautan. Tari duduk di samping Reza yang masih menghabiskan makanan seafood.
"Tuan maafkan Tari sudah menjadi beban."
"Kamu bukan hanya menjadi beban, tapi patung." Reza menatap Kai yang matanya melotot.
Tari mengambil sendok, memakan milik Reza, seumur hidup Reza dia tidak pernah suka makan satu piring sekalipun dengan orang tuanya, beraninya Tari makan bersama.
Kaira berdehem, menendang pelan kaki Tari, seluruh keluarga tahu jika Reza tidak suka makanannya diambil orang lain, dia bisa marah besar.
Tatapan mata Reza tajam, berusaha untuk tenang, sabar, juga menahan dirinya agar tidak membanting wanita di sampingnya.
Suara Mentari batuk terdengar, langsung mengambil minuman ditangan Reza yang matanya semakin tajam. Giliran Reza yang batuk Tari langsung meminumkan Reza dengan minuman bekasnya.
__ADS_1
Kaira dan Rinda langsung melangkah pergi, pasti sebentar lagi teriakan Reza menggema. Senyuman Mentari seakan-akan tidak punya dosa, Reza tersenyum langsung melangkah pergi meninggalkan tempat makan, mendekati Boy yang berdiri melihat ke arah lautan.
"Sekali saja tidak usah memancing emosi?"
"Jangan terlalu keras, nanti jatuh cinta." Boy tersenyum melihat Reza yang sedang mengendalikan emosi, mencoba mengalah sekali saja.
Boy melihat jam tangannya, meminta Reza bersiap, tepat tengah malam, mereka akan mengikuti acara ritual yang hanya dilakukan di bulan purnama, melepaskan wanita dan pria lajang.
"Kak ritual yang mereka maksud pria wanita berarti sebuah pernikahan?" Reza menatap Boy yang menggelengkan kepalanya.
"Entahlah, menurut cerita hanya dilakukan oleh dua orang berpengaruh juga mereka mempunyai nama di sini."
"Intinya tetap saja soal uang."
Boy setuju dengan ucapan Reza, Max mendekati Reza dan Boy mengatakan jika dia melihat wanita yang sedang Boy cari, kemungkinan besar dialah pengantinya.
Boy langsung melangkah pergi, Reza menatap aneh, setiap membahas soal wanita masa lalu Boy sikapnya langsung berubah, Reza penasaran sehebat apa wanita yang bisa mendekati seorang Boy.
Rinda melangkah pergi meninggalkan tempat makan, menyusuri sepanjang pantai, Max mengikuti dengan jarak yang cukup jauh..
"Aku percaya lautan sebenarnya tempat yang suci, dia luas, bersih juga indah, tapi sayang kehadiran makhluk tidak berotak seperti kalian membuatnya menjadi tempat yang kotor, menjijikan, juga menjadi sebuah kesalahan. Manusia memang paling sempurna, tapi ada juga manusia yang menjijikan seperti kalian."
"Apa urusan kamu? wanita kesepian sebaiknya bergabung bersama kami."
"Kalian jangan salahkan alam yang murka karena ulah kalian, banyak makhluk yang hidup di lautan, menyaksikan tempat mereka menjadi kotor."
Rinda langsung diserang mengunakan belati, bukan hal yang sulit bagi Rinda untuk menaklukkan sampah yang tidak berguna.
Hanya hitungan menit, dua tubuh terlempar ke air, Rinda tersenyum menatap tajam kembali menyusuri pantai.
"Sudah aku singkirkan, kalian bisa kembali. Kemungkinan besok aku akan kembali normal, jangan temui aku." Rinda berbicara sendiri.
Rinda juga heran, keturunan neneknya terlihat aneh. Nenek Riani bisa mengendalikan hewan, terkadang bisa melihat yang terjadi, diteruskan oleh aunty Rinda yang juga bisa berbicara dengan hewan, mengendalikan mereka, kemampuan dari neneknya turun juga kepada Rinda, hanya saja tidak setiap hari.
Kepala Rinda tertunduk, memainkan air pantai, terhenti saat melihat kaki besar dihadapannya.
"Kembalilah kepada kak Kai, aku bisa bersama kak Miko." Rinda melewati Maxi, langsung berlari kencang, naik ke punggung Reza yang masih marah.
__ADS_1
"Kak Eza, Rinda baru saja menghentikan orang yang ingin berbuat kotor."
"Kamu baik-baik saja? tidak ada gunanya kamu mengehentikan mereka, kita hanya memiliki dua tangan, gunakan untuk menutup telinga atau mata, abaikan saja Rinda, sudah hukum alam, jika ada baik pasti ada jahat, jika ada orang beriman, pasti ada orang tidak beriman mudah tergoda rayuan."
"Salah satunya kak Reza."
"Bukan aku, tapi kak Boy. Lihat saja sekarang dia sedang mencari kekasihnya."
"Bukan kekasih, dia wanita yang mencuri kalung kak Boy."
"Kamu tahu dari mana? memangnya apa pentingnya kalung yang wanita itu ambil?"
"Rinda tidak tahu." Rinda memeluk Reza yang sudah menggendongnya.
Reza berjalan sambil berpikir, kalung yang penting bagi Boy. Tidak ada yang paling berharga, kecuali kunci markas bawah tanah yang menyimpan ratusan senjata bersamaan dengan mas batangan milik seorang mafia yang mati beberapa tahun yang lalu.
"Rin, sepertinya kak Reza harus pergi sekarang. Mengambil kalung sangat penting." Reza menurunkan Rinda langsung berlari, tanpa memperdulikan teriakan Rinda.
Boy melihat banyak orang berkumpul, membeli aksesoris buatan asli untuk cendramata. Reza langsung menepuk pundak Boy.
"Kak Boy kehilangan kunci? Reza tersenyum licik.
"Ya, dia mencurinya."
"Reza juga menginginkannya, setelah keluar dari tempat ini, kita bisa mengambil senjata."
"Bodoh kamu Za, dia datang ke sini membawa kunci karena markasnya ada di sini. Masalahnya hanya satu, siapa orang yang membuat perkumpulan, persembahan, doa, penyembuhan, kematian, masih banyak lagi."
"Bukan tugas kita mencari tahunya."
***
JANGAN LUPA LIKE COMENT DAN VOTE TAMBAH FAVORIT JUGA YA
JANGAN LUPA KASIH HADIAH JUGA YA BIAR AUTOR SEMANGAT UP
***
__ADS_1