
Hari kebahagiaan semakin dekat, Riki berdiri melihat foto saat kecil yang terpasang di dinding. Dia tersenyum melihat adiknya Reva yang selalu bikin masalah, kehebohan terjadi saat pertemuan dengan Bianka, Keisya, ditambah si kembar yang bikin heboh. Sebagai putra tertua Riki sangat menyayangi kelima wanita Chrispeter. Kehadiran Raka juga menambahkan kebahagiannya tidak lama juga hadir Raffa dan Raffi.
Walaupun personil Chrispeter sudah berkurang, tidak mengurangi kekompakan Keluarga. Waktu sangat cepat berlalu, para wanita kuat Chrispeter mulai jatuh cinta dan ingin menjadi sosok wanita sesungguhnya, salah satunya Bianka, adiknya Reva yang mencinta orang biasa.
"Melihat apa kak Riki?"
"Mengenang masalalu, kita yang dulunya masih kecil sekarang semuanya sudah dewasa dan mulai meniti kehidupan berkeluarga."
"Kak Riki benar, sebentar lagi Bi akan menjadi seorang ibu, kakak dan Kei menjadi sepasang suami-isteri."
"Ya begitulah kehidupan, sudah selesai kamu mengidam gila nya, membuat heboh setiap hari."
"Jangan di pancing, ini bocah sudah pintar bergerak. Apalagi menyadari hadir bapaknya, mirip orang mengajak main tonjok-tonjokan."
Tawa Riki dan Bianka terdengar, Kei ikut mendekat dan tersenyum melihat Bi dengan perutnya yang sudah masuk bulan ke tujuh.
Sesekali Keisya mengelus perut Bi, bisa merasakan gerakan di dalam perut.
"Sehat-sehat ya sayang, kami semua menanti kelahiran mu."
"Kei jaga mulut, nanti dia maksa keluar sebelum sembilan bulan kacau juga."
Keisya tertawa dan mencium perut Bi, Kei sangat gemas melihat perut besar Bi, setelah bicara santai, Bi langsung pergi meninggalkan keduanya yang sedang berdiri melihat Keluar.
Tatapan mata Riki menatap kagum dengan kecantikan calon istrinya, dia sangat gemas tidak sabar lagi ingin segera menikah.
"Sabar ya, nanti kita juga buat yang mirip seperti punya Bianka, tapi semoga saja sifat gilanya tidak menular."
"Kak Iki jangan bicara seperti itu, Kei jadinya malu."
Tangan Riki menarik Kei, dia memeluk Kei dari belakang. Jantung Kei berdegup kencang, ini pertama kalinya Riki romantis biasanya hanya bicara seperlunya, walaupun sudah menyatakan cinta.
Perbuatan keduanya tidak lepas dari pandangan Akbar, dia sangat mempercayai Riki untuk menjaga putri kesayangannya. Sudah cukup pertualangan para girls, sekarang sudah saatnya semuanya memulai kehidupan berumahtangga.
***
Hari ini Bara dan Bianka bersama Rindu dan Reva akan menembak, tiga mobil beriringan memasuki kawasan menembak keluarga Chrispeter. Di dalam mobil Bara juga ada Asep, Reva dan Rindu membawa mobil masing-masing.
Kedatangan mereka sudah di sambut, Bi yang perutnya sudah besar sangat ingin menembak. Bara tidak bisa mengehentikan jika Bi ada maunya, daripada dia berenang dengan buaya lebih baik menembak.
__ADS_1
Reva sudah lebih dulu memulai, Bi tersenyum melihat keahlian Reva yang semakin berkembang. Bi juga sudah memfokuskan senjatanya kepada target, lima tembakan berada dalam satu lobang.
Pelukan Bara dari belakang membuat konsentrasi Bianka buyar, Bara mencium lehernya, mengelus perutnya.
"Kak, bisa stop tidak, Bianka jadinya nafsu, di sini tidak ada kamar." Bi kesal sedangkan Bara hanya tertawa.
Tembakan Reva langsung nyasar, Rindu tidak punya semangat lagi menembak. Dua manusia tidak tahu tempat, juga tidak pengertian dengan para jomblo.
Mata Bara menatap tajam sasaran Bianka, tangan Bara membantu tangan Bi. Keduanya konsentrasi dan melepaskan tembakan bersamaan, sasaran sampai hancur.
Tiga orang yang melihat keahlian menembak Bara memberikan tepuk tangan, Bi tersenyum karena jarak sangat jauh, tapi Bara bisa.
"Keren banget."
"Asep lebih keren dari aku."
"Benarkah," Reva menatap Asep yang berdiri diam, memandang ke arah lain. Tangannya langsung ditarik Reva, memeluk dari belakang, Reva meminta Asep membantunya menghabisi sasaran.
Nafas Asep terasa menerpa leher Reva yang rambutnya diikat ke atas, senyuman Reva terukir. Asep menggakat senjata bersama Reva, tangan Reva digenggam. Mata Reva langsung melihat wajah Asep dari jarak dekat, mata sipit bibir tipis membuat Reva mengigit bibirnya pelan.
"Mau terus memandangi aku atau menembak?"
"Kamu ganteng, pengen mencium bibir kamu."
Asep dan Reva sama-sama fokus, keduanya mengarahkan senjatanya ke sasaran. Tembakan terdengar, sasaran langsung hancur. Reva tersenyum kagum melihat untuk pertama kalinya dia bisa menembak dengan jarak yang sangat jauh. Tubuh Reva berbalik dan memeluk tubuh Asep.
Kedua mata mereka bertemu, tangan Reva langsung digantungkan dileher. Wajah Reva mendekat, mengigit bibir Asep yang sangat menggoda. Mata Asep langsung melotot tidak percaya, Reva tidak perduli dengan Bara dan Bianka, apalagi Rindu yang sudah mencaci maki akan melaporkan Reva kepada Daddy Roy.
Bi dan Bara saling pandang langsung pergi, Reva melemparkan senjatanya langsung pergi juga sambil terus mengomel. Asep tidak percaya Reva bisa melakukannya bahkan di depan yang lainnya, para pengawal juga sudah berbalik badan, bahkan pergi atas perintah Bianka.
"Kenapa kamu melakukan ini?"
"Karena aku ingin, aku tidak perduli kamu setuju apa tidak." Reva mencium sekilas.
Asep menutup matanya, senjatanya juga langsung jatuh. Reva kaget karena Asep menarik pinggangnya, menekan tekuk lehernya menghabisi bibir Reva.
Keduanya beradu, sudah tidak perduli lagi akhirnya. Asap sudah pasrah jika harus mati di tangan Daddy Roy atau keluarga besar Chrispeter, karena mencintai putri Chrispeter.
Dari kejauhan Bara melihat sambil tersenyum, dia akan melindungi Asep untuk menaklukkan keluarga Chrispeter, Bi juga menatap geram dengan keduanya yang masih asik berciuman.
__ADS_1
"Kak jadi pengen juga."
"Ayo ke mobil," Bara mengandeng Bi, mobil melaju pelan.
"Katanya ke mobil, Bi pikir ciuman kenapa kita pergi."
"Kita ke Mansion sayang, tempat kita membuat anak."
"Kita mau membuat anak lagi?"
"Bianka, satu saja belum lahir."
"Tadi Ayy yang bilang bikin anak."
"Emhhh, kita bercinta di Mansion, setelah kamu lahiran kita kembali ke Mansion sendiri ya sayang."
"Bi ikuti saja."
Mobil Bara masuk ke dalam Mansion, tapi langsung terhenti saat Bianka teriak menginginkan buah mangga. Bara menurut, permintaan Bianka yang gila membuat nafsu Bara yang tadinya lagi pengen langsung lenyap.
Dengan susah payah, Bara naik ke atas pohon, memilih buah mangga yang panjang tidak boleh bengkok.
"Sayang ini mangga bukan pisang."
"Bi maunya mangga atasnya hijau bawahnya kuning, tapi harus lurus tidak mau bengkok."
"cari yang lurus saja tidak ada, apalagi yang atasnya hijau bawah kuning."
Sudah satu jam Bara di atas pohon, dia sangat kesal dengan Bianka yang membuatnya hampir gila, karena marah Bara menjatuhkan seluruh buah mangga. Bi bisa memilih sendiri, tidak ada satupun yang menarik perhatiannya.
Pengawal yang berjaga juga dibuat sibuk karena Bi, yang masih juga memaksa buah mangga lurus. Bara sudah kehabisan cara, buah mangga juga sudah habis, tua muda, masak ataupun mentah sudah penuh di bawah pohon. Dengan kesal Bara turun, tubuhnya penuh dengan kotoran sampai, bibir Bi manyun karena keinginan tidak terpenuhi.
"Tidak ada sayang, makan yang ada saja."
"Tidak mau."
Mata Bi berkaca-kaca, bibirnya sudah manyun tapi mendadak senyumannya terukir. Bi mendekati buah mangga yang masih sangat kecil, diambilnya langsung di makan langsung. Bara yang melihat langsung teriak, dia berusaha mengeluarkan yang Bianka tapi langsung ditolak.
Bi mengambil mangga yang baru tumbuh, mengumpulkannya dan langsung memakannya. Bara pasrah hanya membantu membersihkan getahnya.
__ADS_1
"Tebang pohon ini, aku tidak ingin melihatnya lagi." Bara kesal melihat pohon petaka.
***