BIANKA DAN MAFIA KEJAM

BIANKA DAN MAFIA KEJAM
S2 SURAT CINTA


__ADS_3

Mendengar penjelasan Lian membuat Boy merasakan bersalah, dia sulit untuk memaafkan dirinya, tetapi di satu sisi Boy tidak mempercayai Lian sepenuhnya.


Boy berdiam di kamarnya, memutuskan tidak masuk kerja, memejamkan matanya coba memahami yang terjadi.


Langkah kaki Lian memasuki kamar Boy, Lian melihat Boy yang tidak tenang sama sekali.


"Tuan." Lian tersenyum duduk di sampingnya Boy.


Boy juga duduk meminta Lian duduk di mendekatinya, Lian menatap kamar Boy yang serba hitam, membuat Lian merinding.


Senyuman Lian terlihat menatap Boy yang menatapnya tajam, perlahan Lian melangkah ingin keluar tidak berani melihat Boy yang menunjukkan mata menakutkan.


Tangan Boy bertepuk, pintu langsung tertutup rapat. Seluruh lampu mati, tidak ada cahaya sedikitpun membuat Lian teriak panik langsung lari ke arah tempat tidur naik memeluk erat tubuh Boy.


"Sakit Lian, jangan memeluk aku seperti itu." Boy menghidupkan kembali lampu kamar, melihat Lian yang tidur di atas tubuhnya.


"Tuan Boy." Lian memukuli dada Boy yang sengaja menjahilinya.


Boy membalik tubuh Lian di bawah, menatap mata wanita yang sangat dia benci dan rindukan.


Berlian tersenyum mengusap wajah Boy, meminta Boy jangan sering marah, Lian takut melihatnya. Di mata Berlian Boy pria yang lucu, cerdas, lembut juga sangat penyayang.


Walaupun di dalam hatinya ada rasa kecewa, tapi tidak bisa membohongi rasa cintanya. Saat Lian sadar dari koma dia mengigat Boy, mengigat mata indah Boy.


Berlian ingin menjadi wanita yang lucu, tidak seperti dirinya sebelumnya agar bisa mengimbangi Boy, agar dia bisa saling menjahili. Tidak pernah Lian sangka melihat Boy dengan kekejamannya.


"Tuan, jangan marah lagi. Jika ini mimpi Lian tidak ingin bangun lagi, menatap wajah tuan hal yang sangat menenangkan." Lian tersenyum menutup matanya.


"Maafkan aku Lian, ini bukan mimpi aku sekarang bersama kamu." Boy mencium kening Lian yang langsung membuka matanya.


Berlian langsung menendang Boy sampai jatuh dari ranjang, Lian berdiri melihat pakaian Boy, mencari sesuatu.


"Mencari apa Lian?"


"Surat cinta." Lian tertawa melihat Boy yang mengerutkan keningnya.


Berlian berlari ke kamar mandi melihat baju kotor Boy, senyuman Boy terlihat langsung mengambil sebuah kertas berwarna pink, membuka isinya.


"Ini yang kamu cari." Boy mengangkat tinggi tangannya.


"Tuan itu punya Cristal?" Lian berlari langsung melompat ingin mengambil kertas.


"Siapa Cristal?"


"Lian." Tangan Lian tergantung dileher Boy.

__ADS_1


"Siapa Berlian?"


"Cristal." Senyuman Lian terlihat memohon meminta kertasnya.


"Sebenarnya kamu Berlian atau Cristal?" satu tangan Boy memeluk pinggang Lian.


"Emmhh, Berlian dan Cristal dua orang yang bernilai mahal." Lian menundukkan kepalanya malu.


"Semahal apa?"


"Sangat mahal sampai tidak ada yang bisa membelinya."


Boy memeluk erat tubuh Lian, mengelus kepalanya.


"Kamu memang mahal, karena hanya diciptakan untuk aku. Lian maafkan aku yang gagal melindungi kamu, kemarahan aku tidak beralasan. Aku sangat mencintai kamu, ingin hidup bersama kamu. Sehingga akan sangat merasakan kehilangan dan terluka."


Lian menarik tangan Boy, megambil kertas menyembunyikannya di dalam bajunya. Boy hanya tertawa mendorong Lian ke atas ranjang.


"Kenapa kamu mengirim surat cinta?"


Lian tersenyum, dia sedang melakukan taruhan dengan para OG siapa yang berani mengirimkan surat cinta, Lian dengan percaya dirinya mengajukan diri.


"Sekarang kamu sudah berubah Lian, di luar terlihat kuat, bahagia, tidak punya masalah, tapi di dalam tubuh kamu memiliki luka yang dalam." Boy berbaring bersama Lian.


Tangan Boy menyentuh perut Lian, perlahan masuk megambil kertas yang Lian sembunyikan. Suara Lian sibuk bercerita banyak hal tanpa dia sadari kertas sudah ada ditangan Boy.


"Tuan tahu tidak ...." Lian menutup mulutnya yang mendapatkan ciuman.


Boy mengelus wajah Lian, meminta tidur bersama. Boy ingin merasakan tidur nyenyak setelah sekian lama tidak bisa tidur.


Karena kemarahannya, Boy menghabiskan waktunya hanya untuk bekerja, terus bekerja siang dan malam. Saat tidur hanya mata saja yang tertutup, tapi Boy sulit tidur bahkan sering sekali minum obat tidur.


"Tidurlah, Lian akan tetap di sini." Lian menggenggam tangan Boy.


Mata Boy perlahan tertutup, nafasnya sudah teratur. Lian tersenyum melihat Boy yang cepat sekali tidur.


Tangannya memeluk tangan Lian, perlahan air mata Lian menetes mencium kening Boy. Lian juga merasa bersalah dia penyebab Boy berubah menjadi orang yang kejam, pemarah, emosinya sulit dikontrol.


"Maafkan Lian Boy, aku sangat mencintai kamu. " Lian mencium bibir Boy yang sudah terlelap tidur.


Mata Lian juga tertutup memilih untuk tidur juga, senyuman Lian terlihat sambil tidur bisa berdekatan kembali dengan pria yang dicintainya juga yang pernah Lian benci.


Suara pintu digedor tidak didengar, Reza menendang kuat mengatakan kepada Boy jika Bunda Bianka, Mami Rindu, Mama Keisya juga Mommy Reva datang.


Langkah kaki Bianka menaiki tangga menuju kamar Boy, melihat Reza yang sedang menendang pintu.

__ADS_1


"Ad apa Za?"


"Kak Boy tidak keluar Bunda."


"Biarkan saja mungkin dia sedang kelelahan." Bianka mengandeng Reza turun ke bawah.


Reza menganga seandainya Bunda tahu Boy sedang dengan wanita, sudah dipastikan kepala Boy langsung menjadi bola bekel.


"Di mana Boy kak Bi?"


"Masih tidur mungkin."


"Kak Boy jarang tidur, walaupun tidur dia hanya menutup matanya." Rinda mengunyah buah yang Rindu kupas.


Bianka menatap tajam ke arah pintu kamar Boy, mencari Maxi untuk mengatakan letak kunci serepnya. Max tidak berani membantah langsung menyerahkan.


Bi langsung berlari ke lantai atas, semuanya mengikuti Bunda Bi untuk mengecek Boy.


"Kak Lian di mana kak Kai?"


"Mungkin sedang bersama Boy."


Reza menatap ngeri melihat ke lantai atas, Kaira dan Rinda berdiri menatap pintu. Miko dan Maxi juga deg-degan menuggu hasil penggerebekan Boy.


"Kak Lian bisa terkena masalah?"


"Ini kejutan juga amukan Bunda Bianka." Tari menyentuh dadanya khawatir.


Pintu kamar terbuka, suasana di dalam gelap. Bi menghidupkan lampu, menatap di atas ranjang, Boy tidur memeluk seorang wanita.


Baju Boy berhamburan, baju wanita yang bersama Boy juga berhamburan.


"Boy!" Bianka langsung menarik selimut, melihat tangan Boy berada di dalam baju tipis wanita disampingnya.


"Anak kurang ajar, sudah dikatakan jika memang ingin tidur dengan wanita harus menikah dulu." Bianka mengambil bantal langsung memukuli Boy sambil teriak.


Tangisan Lian terdengar, Boy memeluk erat. Reva menarik Bianka untuk mundur, melihat Boy yang menenangkan Lian yang gemetaran.


"Lian, Bunda hanya bercanda kamu jangan takut." Boy memeluk mencium kepala Lian yang menyembunyikan wajahnya.


"Lian, siapa dia Boy?" Bianka teriak kuat.


Boy meminta Bundanya mengecilkan suaranya, Boy tidak melakukan apapun hanya tidur.


"Siapa dia?" Bi menarik tubuh wanita dari pelukan Boy.

__ADS_1


"Berlian." Bianka teriak kaget.


***


__ADS_2