
Puluhan orang berbadan hitam berkumpul di bangunan yang sangat luas, ada tempat pembakaran api unggun. Boy berdiri bersembunyi di balik pohon, melihat banyaknya manusia yang hancur hidupnya di pulau menakutkan.
Berapa banyak yang sudah mereka singkirkan, tapi kenyataannya juga ada ratusan yang masih tersisa.
Mereka hidup di pulau, sudah hampir 50 tahun, turun temurun keluarga orang terpandang memelihara mereka.
Awalnya pulau ini tempat tinggal orang sakit jiwa, berubah menjadi pulau mati, saling makan untuk bertahan hidup, sampai akhirnya dibangun sebesar ini.
Tidak banyak yang mengetahui keberadaan mereka, karena hidup mereka di pohon, hutan, bawah tanah bahkan selalu bersembunyi dari kehidupan manusia.
Mereka hanya memakan bangkai, baik hewan dan manusia. Bukan hanya rakyat biasa, ada juga pengusaha yang gulung tikar, para orang yang jiwanya sudah pasrah, juga banyaknya orang yang menyerah untuk hidup.
Orang pintar menguasai mereka, menggunakan untuk kejahatan sehingga sudah saatnya mereka dilenyapkan.
Boy melihat Juwi berlari ke arah puluhan orang kanibal, Reza juga muncul. Boy berlari menahan Reza agar tidak menyerang sekarang.
Reza menolak dia ingin membunuh Juwi, tapi Boy tidak ingin Reza mengacau rencana Lian.
"Juwi tidak akan pernah bisa keluar dari tempat ini." Boy menyakinkan Reza.
Melihat ratusan manusia kanibal, Juwi langsung melarikan diri ke arah tempat melarikan diri. Juwi tahu Lian akan membunuh mereka semua.
Mata Boy dan Reza melotot, Juwi melarikan diri bukan hanya dirinya, tapi bersama satu pria yang Boy kenali sebagai pemimpin setiap doa.
"Siapa dia?"
"Dia anak ...." Reza memejamkan matanya mengingat pria yang pernah kumpul bersama saat pernikahan Raffi Chrispeter dan Nakusha.
"Dia masih keluarga kita, hanya Kai yang mengingat dia karena Kai paling tahu urutan keluarga dari generasi pertama." Boy meminta Reza menangkap Juwi, dia pasti akan mengacau di kapal.
Reza melangkah pergi, bertemu dengan Lian yang tersenyum melihat Reza. Lian menahan tangan Reza mengatakan jika Juwi tidak lari ke kapal, dia lari ke arah kebun buah saat mereka datang.
Dari sana Juwi akan melewati perjalanan bawah tanah untuk keluar, resiko berjalan di sana berbahaya.
Lian meminta Boy membawa pria yang melarikan diri bersama Juwi, dia sebenarnya Iing orang yang hampir mati ditangan Nata. Sayangnya Juwi menyelamatkannya dan menyembunyikan keberadaannya.
Dia orang yang membuat tempat ini, Iing masih ada darah keturunan Chrispeter, dia cucu dari salah satu kakek mereka generasi pertama.
Reza harus membawa Juwi ke tempat pembakaran manusia kanibal, Boy harus membunuh Iing.
Boy langsung tertawa, mengusap pipi Lian mencekiknya erat. Boy tidak akan terpengaruh dengan ucapan siapapun yang wajahnya menyerupai Lian.
__ADS_1
"Kamu bukan Lian? di mana Berlian?"
"Mungkin sudah mati, kalian tidak punya banyak waktu Boy. Jika kamu ingin Berlian selamat, lakukanlah kamu tahu aku sedang tidak berbohong."
"Lian akan kembali bersamaku, aku pastikan kami akan kembali bersama." Boy melangkah pergi bersama Reza.
"Dia juga ingin bersama kamu Boy, kelemahan keluarga Chrispeter pasti soal cinta. Haikal Chrispeter melemah saat mencintai bunga. Sikap Haikal turun kepada kamu Boy."
Reza dan Boy melangkah pergi, mereka tidak melihat jalan saat mereka pertama datang, keadaan juga sudah tidak sama lagi karena banyaknya ledakan.
"Pergilah dari sini Boy." Iing berdiri di belakang Boy bersama Juwi.
"Aku tidak tahu hubungan kita apa? tapi sudah pasti kamu membenci keluarga Chrispeter." Boy tersenyum sinis.
"Berlian wanita sinting." Juwi menatap Boy tajam.
"kamu yang gila, kami akan menghancurkan kalian semua."
"Sudahlah Boy kita tidak punya banyak waktu, sebaiknya lenyap kan mereka sekarang juga." Reza menatap sinis.
Juwi melihat gerbang terbuka, Boy melemparkan peledak. Jalan keluar dari daratan hancur.
Tatapan Juwi langsung marah, mengeluarkan serbuk langsung menyerang Boy dan Reza.
Boy juga merasakan hal yang sama, suara teriakan terdengar. Boy menyadari dia tidak bertarung melawan dua orang, tapi lima orang.
Iing ternyata sudah menyiapkan bodyguard untuk membunuh Boy dan Reza secara terpisah.
Para pengkhianatan yang pernah kalah bertarung dari Bara dan Asep datang untuk membalas dendam, mereka ingin membunuh keturunan Bara atau Asep.
Tangan Boy menangkap tubuh Reza yang hampir mental, Asep pernah menceritakan jika Ayahnya Boy pernah membunuh keluarga orang-orang kuat yang memiliki tenaga besi.
"Bagaimana cara uncel Bara membunuh mereka Boy?"
"Mana aku tahu, aku pikir uncle Asep bohong. Mana ada manusia bertenaga besi, tapi ternyata benar."
"Apa yang harus kita lakukan?"
"Sekuat apapun seseorang kelemahannya hanya ada dua, bagian bawah dan kepala. Mereka ada lima orang, kamu tiga aku dua Za."
"Curang, kamu yang tiga aku dua."
__ADS_1
"Baiklah, satu kita sisakan untuk menyerang bersama."
"Boy, kamu tidak pernah ingin mengalah." Reza kesal mempunyai Kaka yang hobi membuat kesepakatan.
Reza dan Boy menyerang bersama, ucapan Boy benar kelemahan mereka hanya dua. Boy membuka sedikit matanya, melihat Iing melarikan diri, empat orang sudah tumbang.
Juwi sudah teriak histeris, rambutnya di tarik sejalan-jalan oleh Berlian. Tatapan mata Lian menatap Boy memainkan matanya menggoda Boy.
"Dia bukan Lian Boy? mayat hidup?"
"Dia manusia, tapi sepertinya dia sejak awal sudah mengincar Berlian, mengoperasi wajahnya agar mirip Lian. Tubuh mereka saja berbeda."
"Aku merasa mereka sama, hanya dadanya lebih besar." Reza langsung melangkah mengejar Iing yang berjalan ke arah pantai.
Boy mengatur nafasnya melihat empat orang yang memang sangat kuat. Boy melangkah pergi melihat Iing yang ingin menyerang kapal.
Boy melepaskan lensa matanya, melihat ke arah bangunan terakhir yang tersisa.
"Cepat keluar Lian, aku menunggu kamu. Kita hanya punya waktu 30 menit." Boy menyentuh perutnya yang mengeluarkan darah.
Bahkan Boy tidak menyadari jika dirinya tertusuk sangat dalam, pikiran Boy hanya Lian, sehingga lupa dengan tubuhnya.
***
Lian melangkah memasuki bangunan, suara manusia kanibal menggema. Lian melihat seorang wanita yang mirip dirinya tersenyum menyerahkan Juwi yang juga harus mati ditangan Lian.
"Kenapa kamu menggunakan wajahku?"
"Karena nasib kita sama, mencintai seorang tuan muda. Aku juga mencintai Tuan muda Bara, juga mengagumi tuan Haikal mereka dua pria impianku."
"Tuan Haikal memiliki dua bidadari cantik, istrinya Bunga yang juga seorang mafia wanita, juga putrinya Bianka suaminya bernama Ghavin." Berlian menatap mata wanita yang wajahnya sama dengan dirinya.
"Aku tahu semuanya, aku membutuhkan kamu untuk mengejar cintaku."
"Antara kita berdua harus ada yang tertinggal di sini." Lian tersenyum melihat ratusan manusia kanibal.
"Aku yang akan keluar, kamu tetap di sini Lian."
Berlian tertawa, menatap Juwi mencengkram erat rahangnya.
"Keluarlah dari sini." Lian menunjukkan pintu, sudah waktunya Lian melenyapkan seluruh kanibal.
__ADS_1
***