BIANKA DAN MAFIA KEJAM

BIANKA DAN MAFIA KEJAM
S2 MENDADAK SAKIT


__ADS_3

Seluruh orang sibuk mempersiapkan acara anniversary yang akan diadakan khusus keluarga, mengumpulkan semua keturunan tanpa terkecuali.


Berlian memainkan kakinya di dalam air, menatap Rinda dan Tari yang tidak berhenti berdebat dalam banyak hal.


"Rinda, berapa bulan usia kandungan kamu?" Lian menatap tajam.


"Sebulan, tapi isinya enam." Rinda mengejek Lian.


"Banyak sekali, anak manusia atau anak kucing?" Tari mengerutkan keningnya menatap perut besar Rinda.


"Siapa namanya?"


"Michael, di panggil Mic."


"Mirip mic untuk bernyanyi?" Lian tertawa kuat.


"Aku tahu siapa nama bayi dalam kandungan kamu?" Rinda tersenyum sinis.


"Jangan coba-coba kamu berani membocorkan?"


"Namanya Benz ...."


"Rinda!" Lian teriak kuat menatap tajam.


Kaira menghela nafasnya, menarik menghembuskan nafas merasakan sakit perutnya melihat pertengkaran Lian dan Rinda.


"Sudah jangan bertengkar terus, perut Kai sakit." Kaira meringis menyentuh perutnya.


"Kak Kai ingin melahirkan?" Tari mendekati Kaira.


Rinda dan Berlian langsung mendekat, membantu Kaira berdiri. Mengusap perut Kai yang sakitnya langsung hilang.


"Kontraksi palsu." Kai tersenyum lucu.


"Keterlaluan kamu Kenzo, kami tidak akan memaafkan kamu." Rinda langsung menghentakkan kakinya.


Rinda langsung melangkah pergi, Tari juga langsung pergi karena kesal.


Lian tersenyum mengusap perut Kai, menyentuh perutnya juga.


"Siapa namanya Lian?"


"Rahasia kak Kai, Lian ingin memberikan kejutan."


"Baiklah, sehat terus." Kaira tersenyum manis.


Di area pertarungan sedang ada adu kehebatan antara Bara dan Reza, keduanya sedang beradu pedang.


Seluruh anggota keluarga yang pria berkumpul di sana untuk mendapatkan giliran, sedangkan para wanita sibuk mempersiapkan acara anniversary.


"Cukup." Bara menghentikan Reza yang mengarahkan pedang di lehernya.


"Ayah, Reza belum puas."


"Lanjut saja dengan Daddy kamu, biar dia patah tulang melawan tenaga muda seperti kamu." Tatapan Bara tajam langsung melangkah turun.


Boy tersenyum menatap Ayahnya yang banyak alasan, Haikal memukul kepala Bara yang langsung mengajak mertuanya untuk adu pedang.


"Bara kamu sudah tua, akui saja." Haikal tertawa kuat.


"Diam Ayah, Bara pukul patah semua gigi Ayah."


"Haikal, kamu selalu menjahili menantu kamu, sedangkan Roy selalu mengajak menantunya berburu, memancing." Akbar tersenyum.


"Bara berburu melihat ular saja berlari kencang."

__ADS_1


"Bukannya kamu juga takut Kal?" Rian tertawa kuat.


"Sebentar lagi Boy, Max, Miko dan Reza akan menjadi Ayah. Kalian harus menjadi suami yang siaga menjaga istri kalian."


"Sejak awal hamil Boy sudah siaga kakek." Senyuman Boy terlihat menatap Akbar.


"Jangan kebanyakan gaya Boy, kamu tidak tahu saja bagaimana hebohnya Ayah kamu saat Bi melahirkan, dia lebih mirip pria bodoh." Haikal menatap Bara sinis.


"Boy sudah tahu Kakek."


***


Kaira sudah mondar-mandir merasakan perutnya sakit, Berlian hanya memperhatikan saja.


Tatapan mata Lian langsung melihat ke arah perutnya, menyentuh perut besarnya yang merasakan tidak nyaman.


"Lian, air apa yang mengalir." Kai langsung mendekati Lian yang juga melihat ke bawah.


Kaira menatap wajah Lian yang tersenyum santai, Kai sebagai dokter sudah tahu jika ketuban sudah pecah.


"Pengawal, panggil tuan Boy sekarang." Kaira teriak kuat.


"Iya panggil, Kaira ingin melahirkan." Lian tersenyum manis melihat Kai meringis menyentuh perutnya.


"Tarik nafas Kai, hembuskan." Lian menarik nafas buang nafas.


"Lian, kamu juga ingin melahirkan."


"Tidak mungkin, Lian baru delapan bulan."


"Kenapa kamu bodoh sekali Lian, lihatlah air ketuban sudah pecah." Kaira menatap kesal.


"Lian tidak merasakan sakit, hanya perut sering kram." Lian menyentuh perutnya.


Keisya langsung mendekati putrinya, meminta Kaira tenang. Meminta supir langsung menyiapkan mobil untuk menuju rumah sakit.


Rinda dan Mentari langsung duduk di samping Lian yang menatap binggung.


"Ken sudah siap lahir?" Rinda menatap Lian yang menganggukkan kepalanya.


Mentari menatap para Ayah berlarian kebingungan, saling mendorong meminta Miko, Maxi untuk segera bergerak.


"Sayang, perut kamu sakit?" Miko mendekati Kaira yang meringis mencengkram kuat lengan Miko.


Kening Tari berkerut, menggelengkan kepalanya menatap Boy, Reza hanya menjadi penonton.


"Kalian semua pria bodoh, apa yang kalian lihat?" Tari menatap Reza tajam.


"Kenapa kamu juga ingin melahirkan? belum sembilan bulan." Reza menatap binggung.


Kepanikan semakin menjadi melihat Reza yang ketakutan karena Tari ingin melahirkan, kandungan belum cukup sembilan bulan, berarti bayi akan prematur.


"Mereka semua Ayah bodoh." Tari menepuk jidat.


"Daddy apa yang harus Reza lakukan?"


"Siapkan apa Za?"


"Daddy, kenapa bertanya balik?"


"Kalian berdua mendingan lenyap saja." Reva menatap kesal.


"Tari belum ingin melahirkan!" Tari teriak kuat menghentakkan kakinya, langsung meringis menyentuh perutnya.


"Mampus, keluar langsung Ren. Mommy kamu kebanyakan gaya." Rinda tertawa kecil.

__ADS_1


"Sayang, kamu seriusan ingin melahirkan?"


"Mommy darah." Tari melihat ke bawah di bagian betisnya mengalir darah.


"Reza sebenarnya berapa bulan usia kandungan Tari?" Dara membentak Reza yang sudah panik.


"Baru masuk enam bulan Mommy, Dokter kandungan Tari memprediksi tiga bulan lagi " Reva kebingungan langsung menetes air matanya, takut cucu dan menantunya terluka.


"Tenang saja Dara, bawa dulu Tari ke rumah sakit Chrispeter, minta semua dokter bersiap, paling penting keselamatan ibunya." Roy meminta Reza membawa Tari.


"Max kamu bawa mobil untuk Kai, Boy juga bawa mobil untuk Tari. Rindu dan Bianka bawa persiapan persalinan." Haikal memberikan perintah.


Semuanya langsung bergerak, Rinda dan Berlian hanya diam saja melihat semua orang pergi mengerjakan tugas masing-masing.


"Benz belum ingin lahir?" Rinda melihat ke bawah sudah penuh air.


"Air siapa ini banyak sekali?" Lian menatap Rinda.


Semua perdebatan terdengar dari lantai atas, Bara sibuk membawa banyak koper bersama Asep. Raffa masih terdiam menjadi patung menatap beberapa mobil mulai pergi.


"Raffa bantu bawa koper." Bara memberikan tiga koper untuk Raffa.


"Banyak sekali?" Raffa menatap binggung.


"Hanya Kaira yang melahirkan, Tari mungkin hanya perdarahan ringan karena terlalu banyak bergerak." Riki langsung berlari keluar untuk pergi ke rumah sakit.


"Ngomong-ngomong ini isinya apa Bara, kenapa banyak sekali?" Asep kebingungan juga.


"Tiga koper untuk baby Ken, tiga untuk baby Rendri, tiga untuk Michael, limanya untuk baby tanpa nama." Bara tersenyum.


"Kak Bara gila." Raffa langsung membuang koper.


"Kamu yang gila Raffa, aku dan Boy sudah menyiapkan semua ini sebelum mereka hamil." Bara menarik koper keluar.


"Bapak sama anak sama gilanya." Asep mengikuti Bara membantu membawa koper.


"Biarkan saja, nanti juga dia marah Ayah." Raffa juga melangkah pergi.


Rinda menunduk melihat air semakin banyak, berbau amis yang sangat pekat. Perut Rinda juga sudah mulai sakit bersamaan dengan Berlian yang mulai meringis kesakitan.


"Sakit sekali perut Rinda, kak Max tolong." Rinda melihat air mengalir bersama dengan darah.


"Rinda kandungan kamu baru tujuh bulan, bagaimana bisa melahirkan sekarang?"


"Rinda tidak tahu kak Lian, mereka ingin lahir bersamaan." Rinda langsung berkeringat.


Berlian langsung menghubungi Boy, lama tidak mendapatkan jawaban.


[Boy, Lian ingin melahirkan."]


[Apa?] Boy yang sedang menyetir mobil kebingungan melihat panggilan mati.


[Kak Max, perut Rinda sakit.]


[Kenapa bisa sakit.]


[Baby ingin lahir sekarang.] Rinda langsung menangis.


Maxi mengerem mobil terkejut, melihat Kaira juga ingin melahirkan membuat Max binggung.


Boy juga sama kebingungan, satu sisi Tari pendarahan, satu sisi istrinya juga ingin lahiran.


***


SATU EPISODE LAGI

__ADS_1


__ADS_2