BIANKA DAN MAFIA KEJAM

BIANKA DAN MAFIA KEJAM
CEMBURU Yang aneh


__ADS_3

Suasana bahagia sedang menyelimuti keluarga Chrispeter, senyum terlihat dari seluruh keluarga. Nayla menatap seluruh keluarga tapi ada satu orang yang tidak terlihat, tidak ada juga keluarga yang bertanya.


"Mami," Nayla menatap Mami Riani, senyum manis terukir dari wajah cantik Mami.


"Ada apa sayang." Mami mengelus kepala Riani, Rian juga langsung melangkah mendekat takut Nayla merasakan sakit.


"Ada apa Nayla, bagian mana yang sakit?" Rian duduk dekat, Bara juga melangkah mendekat. Seluruh keluarga menatap Nayla cemas.


"Tidak ada Papi, Nayla hanya binggung dari tadi tidak melihat kak Rinda." Nayla menatap wajah Riani dan Rian yang langsung berubah.


"Nayla kita kembali ke dalam kamar, kakak akan bicara sama kamu." Bara menyambut tangan Nayla, meninggalkan ruang makan.


Melihat Bara yang pergi bersama Nayla, bibir Bianka langsung manyun. Tatapan tidak suka mulai dia tunjukkan, Rindu menyenggol lengan Bi yang matanya melotot kejam.


Bara dan Nayla masuk, Bara meminta Nay duduk sedangkan Bara menarik kursi. Sudah saatnya Bara bercerita, tapi rasa cemas juga khawatir masih terlintas di kepala Bara.


"Kak, Nayla juga mau bertemu kak Kristan sebentar lagi ulangtahun, Nayla mau menjadi orang pertama yang mengucapkan."


"iya nanti kita menemui Kristan, tapi ada hal penting yang harus kakak katakan." Bara menarik nafasnya lalu menghembuskannya.


"Iya kak, Nayla akan mendengarkan." Perasaan Nayla tidak enak, dia yakin pasti ada hal buruk.


"Kamu melihat perbedaan dari tubuh kamu?"


Nayla langsung berdiri di depan kaca, matanya melihat kaca tajam. Nayla tidak mengenali matanya, karena mata dulu warna hitam tapi sekarang berwarna sedikit biru, Nayla baru ingat jika dia pernah tidak melihat. Nay juga menggakat bajunya, melihat luka di perutnya yang sudah mulai sembuh. Kini Nay juga ingat dia kehilangan ginjal.


"katakan kak, mata siapa yang Nayla gunakan, apa sekarang Nayla sudah mempunyai dua ginjal?" Nayla meneteskan air matanya, Bara hanya menundukkan kepalanya.


"Nayla, kamu harus kuat mendengarkannya."


"Siapa kak?"


"Rinda ada di mata kamu, dia tidak bisa diselamatkan karena meminum racun sedangkan Kristan menyumbang ginjalnya, dia juga tidak bisa diselamatkan karena berkorban menyelamatkan kakak." Bara menatap Nayla yang hanya diam.


Tidak ada pertanyaan, tidak juga ada jawaban. Nayla melangkah keluar kamar perlahan, Riani berada di depan pintu dengan wajah cemas. Air mata sudah mengalir di pipi Nayla, Rian melihat dari kejauhan.


"Maafkan Nayla Mami, jangan kasihan kepada Nayla." Nayla melangkah keluar rumah, dilihatnya cahaya bulan, Bara berjalan di belakang Nay.


"Bunda! Nayla selalu menjadi petaka bagi banyak orang. Nayla mau ikut Bunda!" Tangan Nay terangkat ke atas seakan dia minta di sambut.

__ADS_1


Bara menunduk, kini Bara sangat menyesal pernah membunuh ibunya Nayla. Gadis kecil yang merindukan sosok ibu, Bara orang yang merusak kebahagiaan Nayla.


"Bunda...! Bunda...!" teriak Nayla di dalam tangisannya.


Seluruh keluarga yang mendengar langsung berlari, Riani sudah menangis dalam pelukan Rian. Tidak ada yang mendekati Nayla, hatinya pasti sedang hancur. Bertahan hidup dengan organ kakaknya, melihat dengan mata Rinda yang sangat dia sayangi.


Nayla berlutut dengan terus menangis, Bara ingin mendekat tapi Nayla sudah berteriak untuk menjauh.


"Bunda, Nayla takut saat melihat darah, Nay juga takut melihat pertempuran, Nay takut kehilangan, Nay juga takut kegelapan, Nay banyak takutnya Bun. Tapi hidup Nayla berada dalam perperangan, keributan perkelahian. Kenapa Bunda meninggalkan Nayla, seharusnya Bunda membawa Nayla agar kita bisa tertawa bersama, berjalan bergandengan, berdiri melihat matahari terbenam."


"Kamu marah dengan takdirmu? kenapa tidak bilang terimakasih bunda sudah melahirkan Nay, Bunda harus melihat Nay bahagia." Riani mengelus kepala Nay lembut.


"maafkan Nayla Mami, kalian boleh mengambil kembali mata kak Rinda. Nayla tidak mau dikasihani, tidak apa Nayla buta, agar Nayla tidak melihat dunia yang kejam. Kurung saja Nayla di dalam Lab, Nay tidak mau membuka mata lagi."


"Sia-sia Rinda berkorban, Kristan berkorban, Papi berjuang menemukan obat kamu, Bara berjuang menyelamatkan. Kamu tidak menghargai perjuangan kami semua, agar kamu bisa hidup bahagia." Rian mendekat, Nayla langsung berdiri menatap Rian.


"Ayo sayang kita masuk, jika Nayla ingin mengambil keputusan untuk menemui bundanya silahkan, membuat matanya buta juga silahkan. Kita menyayangi dia bukan karena kasihan, tapi tulus dari hati." Papi Rian menarik Riani masuk ke dalam rumah.


Seluruh keluarga masuk termasuk Bara, sejujurnya Rian juga terluka melihat kesedihan Nayla. Tapi Papi melakukan agar Nayla menerima semuanya dan belajar lebih kuat. Gerbang pintu mulai tertutup, Nayla langsung berlari mengedor pintu dengan histeris.


"Papi! Mami! kak Bara. Buka pintu!" Nayla memukuli pintu kuat, sesekali dia juga menendang.


"Papi, Nayla bisa terluka!" Riani menatap tajam dengan kemarahan.


"Biarkan, dia harus belajar menghargai dirinya bukan selalu ingin menyerah dan ingin mati."


"Papi, kasihan adik Rindu jangan terlalu kejam. Dia gadis yang haus kasih sayang," Rindu melihat Nayla dari jendela yang hanya bisa terlihat dari dalam.


Tidak ada lagi suara teriakan, kening Rindu berkerut sambil tersenyum. Nayla berlari meninggalkan pintu utama, mencari pintu lainnya sambil terus berlari. Rasa sakit diperutnya tidak di rasakan, sampai dirinya sudah berada di dalam. Tangan Nay memegang perutnya tapi masih bertahan.


"Mami maafkan Nay, Papi juga maafkan Nay, kak Bara maaf, semuanya tolong maafkan Nayla."


"Jika ingin Mami maafkan, sini peluk Mami." Nayla langsung melangkah masuk kedalam pelukan Mami.


"Mami menyayangi kamu dari hati Mami yang terdalam, kamu bisa mengganggap Mami seperti Bunda Nay. Minta apapun yang Nayla inginkan, soal Rinda kita ikhlaskan." Riani mencium kening kening Nay, Rindu melangkah memeluk Riani dari belakang.


"Adiknya Rindu jangan cengeng." Rindu menjulurkan lidahnya kepada Nayla tapi kepalanya sudah dipentung.


Nay tersenyum, menatap Rian dan memeluknya. Rian juga membalas pelukannya. Rindu juga ikut memeluk Papi, tatapan Rindu masih mengejek membuat Riani menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


"Ini Papinya Rindu."


"Papi Nay juga,"


"Tidak boleh."


"Nay juga punya kakak." Nayla melangkah memeluk Bara dan menjulurkan lidahnya.


"Rindu juga punya kakak ada kak Riki."


Seluruh keluarga bernafas lega, Rindu bisa mengalihkan kesedihan Nayla. Tapi berbeda dengan Bianka yang menatap seakan ingin membunuh.


"Bara suaminya Bianka, beraninya perempuan lain memeluknya." Suara Bi tinggi, tangannya dilipatkan, matanya tajam. Semua orang menatap aneh dengan cemburunya Bianka.


Raka langsung cepat bergerak menarik Nayla menjauhi Bara, Haikal memeluk Bi tapi langsung meronta melangkah mendekati Bara.


"Kamu memang tidak pernah mencintai aku, kamu tidak pernah menginginkan aku dan anakku. Kemarin kamu memeluk wanita seksi, semalam juga dan sekarang wanita itu, besok siapa lagi."


"Semalam?" Bara binggung, wanita yang dia peluk Bianka, tapi Bi cemburu dengan dirinya sendiri.


"Bianka benci Bara!" teriak Bi langsung melangkah pergi menuju kamarnya.


"Perempuan gila, kumat penyakit anehnya." Reva mengaruk kepalanya.


"Bianka kenapa ayah, bunda tidak mengerti."


"Ayah juga binggung bunda."


"Bara! Bianka minta temani tidur." Teriakkan Bi dari lantai atas membuat yang lainnya menganga.


"Tadi marah, sekarang minta temenin. Kak Bi memang gila." Raffa langsung pergi.


"Mami Bianka gila ya." Rindu menatap aneh.


"Perasaan Mami, puluhan pengawal tidak akan mampu mengawal anak Bi."


Haikal tersenyum melihat Bara yang menurut, generasi penerus selanjutnya akan seperti apa? Persiapan pernikahan Keisya dan Riki akan segera dimulai, gabungan keturunan Chrispeter akan segera dipersatukan.


***

__ADS_1


__ADS_2