BIANKA DAN MAFIA KEJAM

BIANKA DAN MAFIA KEJAM
S2 PENCARIAN NANDO


__ADS_3

Mobil Maxi dan Reza tiba bersamaan, mereka langsung melangkah menuju kamar hotel yang sudah Boy siapkan.


"Hebat sekali Boy harus bertemunya di hotel, dia berduaan dengan Lian."


"Kak Reza iri." Rinda tertawa langsung melangkah masuk.


Max menekan bel, pintu langsung terbuka. Rinda masuk ke dalam melihat Lian yang tersenyum mempersilahkan masuk.


Reza melihat Boy tidur di atas ranjangnya, Reza menarik selimut Boy memukulnya dengan bantal guling langsung menimpanya.


Suaran teriak Boy menahan sakit terdengar, langsung memukul Reza marah. Keduanya duduk di pinggir ranjang.


Maxi mengeluarkan hasil stempel darah, dugaan Kai sudah benar jika Miko terkena suntikan racun, sehingga sekarang efek samping baru bekerja.


Target mereka sebenarnya Maxi, tapi terkena kepada Miko. Rinda langsung panik karena demam Miko sama seperti saat dia kecil, Miko meminum racikan yang Rinda buat, ternyata berefek fatal membuat Rinda sangat ketakutan.


Reza melihat gambar obat yang Maxi perlihatkan, memperhatikannya membaca dengan teliti.


Boy juga melihatnya, seharusnya Kaira tidak membuat obat berbahaya yang bisa dikembangkan lebih dalam lagi.


"Apa yang harus kita lakukan sekarang?" Max menatap Boy dan Reza.


"Menemukan keberadaan Nando."


Reza langsung mengambil tabletnya megambil ponsel Rinda menemukan lokasi Nando, Boy melihat sebuah rekaman menatap tajam berkali-kali mengulangnya.


"Ada apa Boy?" Max melihat layar tablet Boy.


"Aku mungkin salah lihat."


Maxi melihat ulang, mengulang berkali-kali berharap yang dia lihat juga salah. Boy dan Maxi saling tatap.


"Mentari, kenapa dia bersama Nando? sejak kapan juga Tari bisa dekat dengan sembarang orang." Max langsung menghubungi Tari, nomornya sudah tidak aktif lagi.


Reza melihat rekaman kedekatan Tari dan Nando, mereka tertawa bersama, makan bersama terlihat sangat bahagia.


Tangan Tari merapikan rambut Nando, menyuapinya makan. Tatapan mata Reza tajam mengembalikan tablet Boy.


"Ayo kita pergi." Reza langsung melangkah pergi keluar.

__ADS_1


"Za, kita tidak bisa pergi hari ini." Boy meminta Reza kembali duduk untuk menyusun rencana.


Boy memberikan saran untuk rencana mereka, Reza hanya diam saja tidak menyimak apapun, matanya melihat ke luar jendela menatap tetesan hujan.


Rinda menatap Reza yang terlihat mata penuh kekecewaan. Rinda tahu rasanya sakit hati, sekarang Reza sedang merasakannya. Saat terluka dan marah tidak bisa meluapkan amarahnya, hanya bisa memendam di dalam lubuk hati paling dalam.


"Reza menurut kamu bagaimana?"


"Terserah, intinya aku ingin Nando mati."


Boy mengerakkan bawahan untuk mengawasi Nando yang berada di markas, tidak ada yang tahu siapa saja di sana, mungkin saja Nando bukanlah pemimpi, tapi digerakkan oleh seseorang.


"Kak Boy, bagaimana jika Tari terlibat?" Rinda memperlihatkan hasil lab.


Sebelum obat dipindahkan Tari pernah datang, rekaman mati Tari hanya terlihat saat datang dan pergi.


"Apa maksudnya kamu Rinda?" Lian duduk di samping Rinda.


"Rinda berharap salah kak, pulang dari sini lebih baik kita temui Tari pertanyaan langsung kepadanya, pasti Tari tahu sesuatu tentang Nando."


Max masih berusaha menghubungi Tari, Rinda, Boy, Lian tapi tidak ada yang tersambung.


Rencana sudah dipersiapkan, hanya menunggu waktu dan kabar dari bodyguard Boy. Mereka semua keluar dari hotel menuju rumah untuk melihat keadaan Miko.


Semuanya pergi menuju Mansion, Kai menghubungi semuanya untuk segera pulang, ada yang harus Kai katakan, hal penting.


Mobil Boy melaju dengan kecepatan tinggi, Lian memijit pelipisnya berusaha yakin jika semuanya pasti baik-baik saja.


Kaira berada di ruangan lab melihat Miko terbaring dengan alat bantu pernapasan, Kai tidak tega melihatnya, sedangkan penawar belum ada untuk menyembuhkan Miko.


Kai merasa bersalah, jika terjadi sesuatu dialah pembunuhnya, tidak bisa memaafkan dirinya sendiri.


Mendengar pintu terbuka, Kai langsung berlari memeluk Boy, menangis sesenggukan tidak tega melihat keadaan Miko.


Rinda langsung berlari melihat, air mata Rinda langsung tumpah memanggil Miko meminta untuk bangun.


"Kak, kak Miko jangan sakit nanti Rinda siapa yang jaga, maafkan Rinda yang selalu menyusahkan kak Miko.


Rinda melihat alat yang terpasang di tubuh Mik, langsung melihat monitor menatap keadaan Miko yang turun drastis.

__ADS_1


Maxi mendekati Miko, menggenggam tangan sahabat kecilnya. Mereka berdua selalu saling menggenggam dan menguatkan.


"Bagaimana kak Miko bisa terkena suntikkan." Boy menatap Kai minta penjelasan.


Miko dan Maxi bertengkar karena rekaman video, Miko melihat Max mencium Kaira sampai membuka bajunya.


Video hanyalah hasil editan, Maxi tidak mengakuinya karena jangankan menyentuh Kai menatap tubuhnya saja Maxi tidak pernah melakukannya.


Karena marah Miko mencari pelaku, dia bertemu Nando di sebuah bar, langsung terjadi pertengkaran hebat. Saling kejar-kejaran.


Miko masuk ke apartemen Nando langsung melemparkan Nando yang sudah babak belur, memeriksa seluruh komputer Nando menyingkirkan foto Kaira yang ribuan, belum lagi video dewasa yang sangat banyak.


Setelah semua hilang, Miko langsung melangkah pergi. Nando menerkamnya menyuntikan suntikan dileher Miko, tangan Miko lebih kuat menyuntikan balik kepada Nando.


Suntikan tidak semua masuk ke tubuh Miko, ada juga yang masuk ke tubuh Nando keduanya sama-sama langsung terjatuh.


"Jika Nando juga terkena suntikan, berarti dia memiliki penawarannya." Rinda menatap semuanya, mereka harus cepat bergerak sebelum keadaan Miko semakin buruk.


Semuanya langsung ingin melangkah pergi, Kai menghentikan mengatakan jika ada satu masalah lagi.


"Ada apa Kai?" Boy menutup kembali pintu, menunggu ucapan Kaira.


"Mentari sudah angkat kaki dari sini, dia sudah membawa seluruh pakaiannya, mengembalikan pelacak, menyerahkan seluruh rekeningnya." Kai meneteskan air matanya tidak bisa menghentikannya.


"Apa yang dia katakan?"


Kaira terlalu shock tidak bisa menghentikan Tari, dia ingin memulai hidup baru bersama kekasihnya. Tidak ingin ada dalam pertarungan lagi.


Reza langsung melangkah keluar menuju kamar Tari, melihat isi kamar yang masih penuh.


Tari meninggalkan semua yang bersangkutan dengan Reza, Tari hanya membawa bajunya.


Reza melihat jam tangan coupel, bahkan Reza masih menggunakannya, Tari meninggalkannya tidak ada yang dia bawa hanya pakaian.


Boy mengetuk pintu, mendekati Reza berharap bisa membawa Tari kembali. Boy hanya takut Tari sudah berkhianat bukan hanya menyakiti hati Reza, tapi seluruh kepercayaan Chrispeter.


"Za, selidiki keberadaan Tari. Dia orang yang mungkin tersangka mengambil obat." Boy langsung melangkah pergi.


Reza membanting seluruh isi meja rias Tari, meninju kuat kaca sampai retak. Reza teriak kuat meluapkan kemarahannya.

__ADS_1


"Kamu bahkan tidak merasakan betapa besarnya cintaku Tari, jika kamu berpikir hanya cinta sepihak, kamu salah besar aku tidak tahu mampu atau tidak melupakan kamu." Reza membanting vas bunga terduduk di lantai merasa sakit hatinya.


***


__ADS_2