
Mata Miko berkeliling melihat atas bangunan, Kai juga menatap banyaknya anak tangga menuju bawah tanah.
Miko heran, setiap orang yang memiliki kemewahan pasti membangun ruangan bawah tanah, tapi tempat ini sedikit berbeda, bangunan bawah tanah mereka seperti rumah lama yang digunakan sebagai tempat persembunyian.
Kai melangkah menuruni tangga, Miko mengikuti Kai berjaga dari belakang. Perasaan Kai sedikit tidak nyaman, dia merasa pergerakan mereka dalam pengawasan.
Bangunan bawah tanah yang tidak begitu penting, tidak ada yang Kai dan Miko temukan.
"Kak Mik, sebaiknya kita keluar, tidak ada yang kita temukan. Mungkin tempat ini hanya ruangan kosong, sudah tidak digunakan." Kai melangkah kembali.
"Tempat ini digunakan sebagai lab, salah satu dari dinding salah satu pintunya." Miko memperhatikan seluruh dinding yang nampak sama.
Miko menarik tangan Kai, berjalan maju terus maju sampai akhirnya menemukan ruangan kosong. Kai langsung cemberut, seharusnya dari tadi sudah balik lagi, tidak ada juga pintu keluar, pilihan terakhir harus kembali ke pintu utama.
"Tidak ada apapun, kita hanya membuang-buang waktu." Kai melepaskan tangan Miko, langsung melangkah kembali.
Miko tersenyum, menemukan satu dinding yang paling berbeda. Melepaskan sebuah kepala rusa yang sudah kering, langsung meleparkannya.
Kai mendekati Miko melihat kode yang terlihat di dinding. Kai ingin mencobanya, tapi Miko melarangnya, tidak mungkin membuka gerbang dengan mudah.
"Mundur Kai, berdiri di belakang aku." Miko mengambil kepala rusa, langsung melempar ke arah tombol.
Kaira langsung teriak kaget, puluhan tombak menghantam. Miko memeluk Kai yang kaget, melihat tombak, penerang juga sangat minim.
"Jangan takut Kai, sebelum aku terluka tidak ada yang bisa melukai kamu."
"Kai tidak takut, hanya kaget."
Miko langsung menatap wajah Kaira, tawa Miko terdengar mengacak rambut Kaira. Bayi kecil walaupun sudah besar, wajah mengemaskan Kai masih sama seperti saat pertama Miko mengendong.
Mata Miko tajam menatap sekeliling, suara tendangan terdengar kuat, Miko menarik Kaira langsung masuk, banyak benda berjatuhan, Kai dan Miko tidak melihat langsung.
Kaira tersenyum melihat ruangan laboratorium, banyak penelitian yang kaget melihat kehadiran Kai dan Miko. Semuanya menundukkan kepala, terlihat wajah takut bahkan hanya untuk menatap.
Melihat dari gerakan tubuh, Kai mengerti para ilmuwan dipaksa untuk bekerja di dalam lab, Miko juga berjalan santai, merangkul pundak Kai.
"Hentikan Miko! jangan ikut campur. Sebaiknya kalian pergi secara baik-baik, jika wanita yang kamu cintai tidak ingin terluka."
"Siapa wanita yang aku cintai?" Miko Tertawa.
__ADS_1
"Mereka sedang di tempat paling buruk, mungkin keduanya tidak akan bisa keluar."
"Ohhh Rinda, dia bukan kekasih, tapi adikku. si kecil, tapi kalian jangan khawatir selama Rinda bersama Maxi dia akan selamat."
"Sebaiknya kamu mati saja Miko."
"Teruslah awasi kami, cari tempat persembunyian yang aman, jangan sampai kami menemukan kamu." Miko mengarahkan tembakan ke kamera.
Kai mendekati beberapa hasil penelitian, puluhan orang masuk langsung menyerang Miko. Seluruh ilmuan langsung melarikan diri Miko menghadapi lawan seorang diri, Kai sibuk melihat hasil penelitian soal buah yang menjadi racun, juga pembuatan obat terlarang.
"Kak Miko bisa tidak berkelahinya jangan di sini." Kai melayangkan tendangan, langsung duduk melanjutkan penelitian.
Miko tidak habis pikir, Kai membiarkan dirinya diserang seorang diri, sedangkan dirinya sibuk meneliti.
"Kaira, jangan dilanjutkan berbahaya." Miko langsung menarik kursi Kai sampai jatuh ke lantai.
Kai langsung ikut menyerang, puluhan orang terlempar. Suara pecahan kaca, cairan yang tumpah, bau menyengat sudah berkumpul menjadi satu.
Miko langsung menarik Kai, jangan sampai terkena cairan yang tumpah, kulit putih bersih Kai bisa saja terbakar.
Suara ledakan terdengar Miko dan Kaira langsung cepat keluar, menutup pintu. Bunyi dentuman seperti bom terdengar, cairan berbahaya yang sudah menjadi satu, mengakibatkan ledakan mematikan.
"Kedatangan kita bukannya mendapatkan apapun, tapi menghancurkan. Semua gerakan kita sudah diawasi." Kai teriak kesal.
"Bagus, terkadang kita harus menghancurkan bangunan agar bisa membangun gedung yang lebih mewah." Tangan Miko menggenggam tangan Kai, tatapan mata Kai memperhatikan pria dewasa di sampingnya.
"Kenapa selalu mengandeng Kai?"
"Bukannya saat kamu kecil selalu menggenggam jari kak Mik." Miko tersenyum melihat Kaira yang mengerutkan keningnya.
Kai tidak pernah melihat Miko, dia hanya tahu nama. Sejak kecil hanya Max yang dia kenalin, tapi sikap dingin Max membuat Kai jarang berkomunikasi dengan Max, walaupun Maxi pengawal terbaik.
"Sekarang kita ke mana kak?"
"Mencari Rinda, mereka dalam bahaya." Miko melangkah cepat.
"Kak Miko mencintai Rinda, sepertinya sangat menghawatirkan Rinda?"
"Cinta, mana mungkin berani mencintai keturunan Chrispeter, kami tahu diri Kai, hidup mati kami hanya untuk melindungi putri Chrispeter."
__ADS_1
"Kenapa? keluarga Chrispeter tidak pernah membedakan siapapun."
Miko tertawa, ucapan Kai memang benar, keluarga Chrispeter tidak pernah membedakan siapapun, darah golongan manapun.
"Kak Miko belum menjawab pertanyaan Kai." Kaira berhenti melangkah.
"Pertanyaan apa, soal cinta?"
"Iya, kak Miko mencintai Rinda?"
"Tidak Kaira, dia adik bagiku. Jika memang ada kesempatan untuk jatuh cinta, bukan Rinda orangnya, tapi kamu." Miko berjalan cepat, Kaira langsung berlari mengejar Miko.
"Kenapa Kaira?" Kai menghentikan langkah Miko.
Miko berhenti, menatap wajah Kaira yang memiliki rasa penasaran. Miko melepaskan alat pendengar suara, melepaskan juga milik Kaira.
"Apa yang ingin kamu bicarakan Kai?"
"Kenapa kak Miko lebih memilih Kai?"
"Aku memandang Rinda sebagai seorang adik, sedangkan kamu sejak pertama aku kembali, pandangan yang dulu rasa kagum kepada bayi kecil, sekarang mengagumi sebagai wanita." Miko mendorong tubuh Kai ke dinding, menyentuh wajahnya yang mulus.
"Bagaimana rasanya jatuh cinta?"
"Seperti ini." Miko mencium bibir Kaira, menangkap wajahnya, mengigit pelan, sampai Kai membuka mulutnya.
Jantung Kaira berdegup kencang, dia tidak tahu harus merespon bagaimana. Miko menghentikan tindakannya, rasa bersalah juga terlihat dari tatapan mata Miko.
"Kai, kamu tahu sejarah hidup aku dan Maxi, Kekejaman bukan hal yang menakutkan, bahkan aku membunuh orang sejak kecil. Sejujurnya selama ini aku memiliki mimpi, ingin hidup normal, jatuh cinta, berkeluarga, memiliki anak, tapi akhirnya aku sadar aku tidak akan pernah keluar dari kegelapan." Miko membersikan bibir Kai.
"Apa maksud ciuman tadi?"
"Peringatan untuk kamu, agar berhati-hati dalam memilih pasangan. Maafkan kak Miko yang lancang." Miko menundukkan kepalanya.
Kaira langsung tertawa, melangkah pergi. Mengumpat di dalam hatinya, Miko mengaggap dirinya seperti anak kecil yang tidak mengerti cinta, setelah ciuman bersikap seperti ketidaksengajaan.
Miko berjalan di belakang Kai, mengacak rambutnya. Jika Maxi sampai tahu dia mencium Kaira, sudah pasti akan terjadi pertarungan. Max sangat menyayangi Kaira, sama seperti Miko yang sayang Rinda, bisa membunuh orang yang berani menyakitinya.
***
__ADS_1