BIANKA DAN MAFIA KEJAM

BIANKA DAN MAFIA KEJAM
S2 KEHILANGAN OBAT


__ADS_3

Pintu kamar Miko terbanting, Miko yang baru selesai membersihkan tubuhnya berbaring di atas ranjang binggung melihat Kai.


Ponsel Kaira melayang menghantam Miko, cepat langsung ditangkap. Miko melihat kekacauan di dalam lab.


Miko menjadi tersangka pertama orang yang sudah menghancurkan hasil penelitian, menghilangkan jejak hasil penelitian obat berbahaya.


Ponsel Kai dikembalikan, Miko memejamkan matanya mengabaikan Kaira. Memilih untuk tidur.


Kaira naik ke atas ranjang menendang Miko meminta dikembalikan, Mik menarik tangan Kai untuk berbaring bersama memeluk erat tubuhnya.


"Kai hal yang dibutuhkan dalam tim ataupun pasangan sebuah kepercayaan, kamu cukup percaya jika aku tidak melakukannya."


"Saat bukti ada di depan mata? kamu membodohi kami semua."


Miko tertawa, melepaskan pelukannya langsung duduk mengacak rambutnya. Mengambil tabletnya memberikan sesuatu, Max dan Miko bertengkar karena obat keras di lab hilang.


Melihat hasil rekaman orang terakhir melihat Miko dan Max, jika bukan mereka berdua yang melakukannya tidak tahu siapa.


Max mengakui jika dia tidak tahu, Miko juga tidak tahu, mereka berdua juga binggung. Jika Maxi dan Miko tidak ada yang merasa berarti obat tersebut dari awal memang tidak pernah ada.


Kaira melihat dengan tatapan tajam, hasil pencarian Miko yang melihat detail saat Maxi dan Miko masuk, obat ada di dalam saat keluar juga tidak ada yang membawanya.


"Obat ini sangat berbahaya, dampaknya juga besar, jika disalahgunakan akan banyak korban jiwa."


"Lagian kenapa juga membuat obat dengan resiko besar, jika jatuh ditangan orang tidak bertanggung jawab, lalu disalahgunakan. Mereka bisa meneliti efek obat, menciptakan dengan yang baru dan efek sampingnya lebih mematikan."


"Hal itu yang Kaira takutkan, obat masih gagal belum disempurnakan, dia obat jenis penenang yang dosis tinggi." Kaira menatap Miko tajam.


Kaira mengacak rambutnya, Miko menghela nafas. Obat yang Kai ciptakan sudah dicuri sejak awal, tapi mereka berhasil menukarnya dengan yang palsu, saat masuk lab langsung mencair.


"Kai obat itu jatuh ditangan salah satu tim kamu, dia lelaki yang mencintai kamu secara diam-diam."


"Siapa, bagaimana dengan obatnya?"


Saat Maxi mengetahui salah satu obat hilang langsung menemui Miko di kantor, perdebatan terjadi karena tidak ada yang mengakui. Seseorang menghubungi Miko, menunjukkan rekaman Maxi dan Kaira berhubungan.


Mereka berdua bertengkar, lalu menyadari jika seseorang sengaja mengadu domba mereka, antara pengawal Kaira dan orang terdekat Kai.


"Alasan kalian berdua selisih paham beberapa hari yang lalu karena obat ini?"


"Iya, sama video. Ingin melihatnya?"


"Tidak mau, masa iya Kai suka kak Max sampai berhubungan, jangan berpikir macam-macam." Kiara mengancam Miko.

__ADS_1


Kaira berbaring memejamkan matanya, menatap Miko yang masih duduk memperhatikan Kai.


"Kak Miko ingin tahu obat itu untuk siapa?"


"Seorang ibu yang berjuang melawan kanker."


"Dia sudah meninggal sebelum obat sempurna." Kaira menutup matanya meneteskan air mata.


Miko menghapus air mata Kai, wanita yang memiliki segalanya tetapi hatinya luar biasa baiknya, selalu berjuang menyelamatkan banyak nyawa.


Hal yang sangat Miko kagumi dari sosok Kaira dia tidak pernah menunjukkan kemewahan, selalu merakyat, tidak membandingkan pasiennya, meyelamatkan tanpa balasan.


Setiap hari berjuang di dalam ruangan operasi, juga lab membuatnya tidak pernah melirik banyaknya pria yang mengagumi sosok wanita pendiam yang gila kerja.


"Siapa yang mencurinya kak?"


"Sudah lenyap, dia hanya sampah yang mengotori lingkungan. Kecerdasan dan kehebatan digunakan untuk kejahatan."


"Beberapa banyak masalah yang datang?"


"Kak Miko menyadari satu hal Kai, masalah muncul saat kita mulai menyadari sesuatu sebuah rasa."


Kaira tertawa kecil, ucapan Miko ada benarnya, Boy yang biasanya ditakutin banyak orang mulai menghilang sejak Lian kembali, selalu mengatakan benci, tapi hati rindu.


Kekecewaan Rinda membuat goresan luka yang dalam melihat Maxi yang menutupi perasaannya, luka mereka sendiri yang membuatnya karena membohongi perasaan masing-masing.


Sedangkan Reza yang keras kepala menganggapnya tidak ada yang bisa mengambil Tari dari hidupnya, tanpa menyadari Tari yang mengejar sedangkan Reza tidak ada perjuangan.


"Kak Miko merasa pasangan yang mana paling cocok?"


"Boy Berlian, karena mereka pasangan saling mencintai, Boy pria yang sangat menghargai wanitanya."


"Kak Boy pria gila yang banyak tingkah."


"Dia gila karena kehilangan cintanya, kamu belum pernah jatuh cinta Kai, sehingga tidak tahu betapa indahnya cinta."


"Memangnya kak Miko tahu?" Kaira memonyongkan bibirnya.


"Aku sudah hidup lama dari kamu Kai, saat kamu lahir aku sudah bisa menembak, bahkan membunuh orang. Mengenal banyak jenis wanita." Miko tersenyum mencubit pipi Kai.


"Dasar aki tua."


"Aki, Kai kira-kira dong. Masa iya setampan ini kamu bilang aki-aki." Miko mencubit kuat pipi Kai.

__ADS_1


Tangan Kaira langsung memukuli Miko, kesal melihat Miko sampai menjambak rambut Miko.


"Kai kenapa jadinya marah?"


"Tujuan Kai datang ke sini memang ingin marah!" Kaira menendang Max sampai jatuh dari ranjang.


"Kai kamu jangan banyak pikiran, cukup diam kami yang akan membereskan semuanya. Masalah obat, keterlibatan perusahaan. Semakin banyaknya kita mengatasi sesuatu akan semakin banyak masalah."


"Baiklah, Kai minta maaf karena sudah berpikir kak Miko berkhianat."


"Mana mungkin mampu berkhianat, keluarga Chrispeter yang membesarkan aku, mengobati luka, tumbuh bersama Rinda penuh kasih sayang tanpa dibedakan, tidak mungkin aku sanggup berkhianat, lebih baik aku mati."


"Kai takut jika salah satu dari kita berkhianat, terlalu banyak hari yang kita lalui bersama, penuh luka, kebahagiaan." Kaira menatap mata Miko.


Miko berbaring di ranjang, memejamkan matanya. Kaira juga memejamkan matanya, berbaring di samping Miko.


"Kai,"


Kaira tidak menjawab panggilan Miko, membalik badannya menghadap Miko. Mik juga membalik badannya menatap mata Kai.


Tangan Miko menyentuh pipi Kai, mengelusnya mencium hidung Kai.


"Kamu cantik dan sangat baik." Miko tersenyum mendekatkan tubuh Kai, memeluknya erat.


Kaira tersenyum membalas pelukan Miko, memejamkan matanya sampai terlelap. Miko juga memejamkan matanya memilih untuk tidur.


Reza dan Boy duduk di depan pintu kamar Miko, menunggu Kaira keluar hanya sedikit saja terdengar suara pertengkaran.


"Kenapa hening sekali?" Reza menatap Boy.


"Mungkin sedang ciuman, jadinya harus hening, tidak mungkin sambil mengoceh." Boy menutup mulutnya ingin tertawa.


Matahari sudah tinggi, Boy dan Reza tertidur depan kamar Miko. Seluruh keluarga sudah bangun menatap aneh dua pria yang tidur berpelukan.


Haikal dan Rian saling pandang, tidak mengerti dengan tingkah cucu mereka yang aneh. Bunga juga lewat bersama Bianka, mengabaikan Boy dan Reza.


Seluruh orang berkumpul, Rian memperhatikan yang tidak hadir.


"Di mana Miko dan Kaira, sedangkan Boy dan Reza masih tidur."


"Kamar Kai kosong, mungkin tidur di kamar kak Miko." Lian tersenyum menatap seluruh orang kaget.


"Berarti kak Boy dan Reza sedang menguping?" Tari tersenyum.

__ADS_1


***


__ADS_2