BIANKA DAN MAFIA KEJAM

BIANKA DAN MAFIA KEJAM
SEBUAH PENGORBANAN


__ADS_3

Di dalam kamarnya, Bianka duduk dipinggir ranjang. Air matanya terus terjatuh, Haikal masuk dan menggenggam tangan Bi, menghapus air matanya.


"Bara! adikku," Bianka masuk dalam pelukan Bara, mereka berdua menangis.


Bara baru saja berduka kehilangan buah hatinya, lanjut lagi kehilangan adik lelakinya, melihat adik perempuannya yang terluka, sekarang ditambah lagi dengan sekaratnya sahabat, dan adiknya.


Di dalam kamarnya juga, Rindu menangis sesenggukan memeluk fotonya dengan adiknya Rinda dan Raka.


Raffa masuk coba menyapa Rindu, Raffa hanya diam menemani Rindu yang terus menangis. Selama 20tahun, Raffa baru melihat sosok Rindu yang menangis sesenggukan.


"Raffa, Rinda pasti bisa sembuh." Rindu menatap Raffa, memohon agar Raffa setuju.


Terlihat senyum Raffa, sambil mengulurkan tangannya, meminta Rindu menggenggam tangannya. Cepat Rindu meletakkannya, Raffa menggenggam kuat sampai Rindu berhenti menangis.


"Kamu kuat! Rindu tidak sendirian ada aku yang akan terus menggenggam tangan kamu."


Tangan Rindu ditarik, masuk ke dalam pelukan Raffa. Tangisan Rindu pecah dengan teriakan, Rindu memukul dada Raffa yang juga akhirnya meneteskan air matanya.


"Rindu! akan ada hikmah dibalik sebuah pengorbanan."


"Rinda selalu berkorban Raffa."


"Jika kamu diposisi Rindu, apa yang akan kamu lakukan."


"Berkorban!" Rindu menghapus air matanya, jika Rindu yang berada di sana dia akan melakukan hal yang sama,hal ini juga akan terjadi.


Dari kecil mereka belajar sebuah rasa pengorbanan, rasa ini telah tertanam. Hanya saja mereka tidak siap semuanya terlalu cepat, bersama sejak kecil bukan hal yang mudah untuk Rindu menerima kepergian Rinda.


***


Papi Rian sudah mengetahui yang terjadi di dalam Lab, digenggamnya tangan Putrinya tanpa air mata. Mami juga menggenggam tangan Rinda, menciuminya.


"Terimakasih Papi Mami sudah tegar dan kuat, ikhlaskan Rinda." Air mata Rinda membasahi pipinya.


"Papi sangat sayang Rinda." Air mata Rian mengalir perlahan, ingin sekali Rinda menghapusnya tapi tangannya sudah tidak bertenaga lagi.


"Rinda bangga menjadi putri Rian Chrispeter," senyuman manis masih terlihat di bibir Rinda, walaupun air matanya mengalir.


"Kamu juga putri kebanggaan kami."

__ADS_1


"Mami! Papi! jika Rinda terlahir kembali, izinkan Rinda tetap menjadi putri kalian."


Rian dan Riani terdiam, tangisan pilu mulai terdengar. Sakit dan sesak mereka rasakan, nafas Rinda juga mulai naik turun tidak beraturan.


"Rinda akan terlahir menjadi putri Mami, anak kesayangan Mami. Jangan pikirkan kami, jangan rasakan lagi sakitnya, hati kamu terlalu baik.


"Rinda tidak menyesal Mami,"


"Berikan mata Rinda pada Nayla, kalian bisa melihat Rinda di mata Nay Papi. Rinda mohon anggap Nay putri kalian." Permintaan terakhir Rinda, hanya mendapatkan anggukan dari Rian dan Riani.


Riani sangat mengerti Rinda, jikapun di sana Rindu dia akan melakukan hal yang sama. Sejak kecil saat mengandung ketiga anaknya Riani dan Rian terkena masalah, kandungan Riani mengalami benturan,di dalam mimpi seorang putri ingin pergi tapi dua anak menangis kuat. Sampai dia kembali dan saling menggenggam.


Selama puluhan tahun Riani menyimpan sendirian, dan setelah melihat keadaan Rinda barulah Riani mengatakan kepada suaminya. Rian tidak bisa menerima salah satu terluka tapi satu yang tidak bisa dia lawan ialah takdir.


Saat anaknya berusia 10tahun, Rinda juga berkorban dari sebuah peluru yang hampir melukai Rindu tapi Rian berhasil menyelamatkannya Rinda.


"Papi Mami, Rindu sudah saatnya pergi."


"Tidakkah kamu ingin menunggu sampai Papi tua, sampai Papi menutup mata selamanya.".


"Sakit Papi! Rinda tidak kuat. Jangan selamatkan Rinda jika ingin melihat tubuh Rinda, biarkan Rinda berada dihati kalian tanpa merasakan sakit."


"Maafkan Papi, kali ini harus melepaskan kamu. Lahirlah kembali menjadi putri kami." Rian menundukkan kepalanya, tangisannya pecah dalam hening. Rasanya Rian ingin mati bersama putrinya.


"Temani Rinda ya Papi Mami! Rinda mau tidur."


Mendengarkan suara pelan Rinda membuat Rian semakin terpukul, digenggamnya kuat tangan putrinya. Riani juga sama terpukulnya, tidak terdengar lagi suara putrinya hanya suara tangisan dari Riani dan Rian yang terdengar.


Kedua orangtua Rinda hanya terpejam, berbaring disisi kanan dan kiri putrinya. Rian memeluk tubuh Rinda yang perlahan dingin, tidak terasa lagi nafas Rinda. Rian tidak ingin membuka matanya, dia tidak siap melihat putrinya.


'Rinda lapar tidak?"


"Rinda tidak ingin bertemu Rindu dan Raka." Rian bicara pelan dalam tangisan melepaskan tangan Rinda perlahan, duduk dipinggir ranjang sambil sesenggukan.


Perlahan Rian melihat wajah Rinda yang sudah tidak ada lagi, tarik nafas buang nafas Rian coba mengontrol dirinya. Rian teriak sekuatnya, berkali-kali dia berteriak sampai yang berada di depan pintu menangis histeris.


Riani sudah jatuh pingsan, Rian berdiri mengambil istrinya, menggendong Riani keluar.


Di depan pintu Haikal, Akbar, Roy dan istrinya semuanya masih duduk dilantai menunggu Rian keluar. Pintu terbuka, Rian keluar menggendong Riani.

__ADS_1


Bunga langsung jatuh pingsan, lanjut juga Dara. Kia ingin berdiri dengan gemetar tubuhnya lalu ambruk jatuh pingsan dalam pelukan Akbar.


Para boys mendekat, Haikal meminta Raffa membawa Bunda ke dalam kamar. Raffi juga membawa mamanya, Riki juga membawa Mommy nya.


Raka berdiri tepat dihadapan Papinya yang masih membopong Mami yang sudah jatuh pingsan, tubuh Raka gemetaran karena tangisannya mulai terdengar. Melihat keadaan kedua orangtuanya sudah dipastikan kakaknya sudah tiada.


"Raka kuatkan diri kamu, lelaki jangan lemah. Bawa Mami ke dalam kamarnya, Papi yang akan mengurus Rinda.


Dengan bersusah payah Raka coba mengontrol dirinya, dan menguatkan dirinya. Riani berpindah ke tangan Raka yang langsung melangkah pergi menjauhi kamar Rinda, sepanjang jalan Raka menangis melihat kondisi Mami.


***


Di depan kamar Rinda, Rian langsung terduduk. Roy langsung membantunya berdiri dengan meletakan tangan adiknya didekat pundaknya. Roy memeluk Rian yang sangat terpukul.


Haikal juga mendekat menguatkan semuanya, sesekali mereka menghapus air mata.


"Maafkan aku Rian, luka kamu juga luka kami." Haikal memeluk Rian yang masih berusaha menahan air matanya.


"Apa ini karma aku pernah membunuh putra Boby? dia juga berhasil melukai putriku."


"Ini pengorbanan Rinda, bukan balas dendam. Hati putrimu terlalu baik, tulus, penuh kasih sayang." Haikal menyakinkan Rian, jika kepergian Rinda membuktikan arti sebuah pengorbanan.


Rinda memang tidak ahli dalam beladiri, tidak hebat juga dalam dunia medis, tidak suka dengan pertarungan. Dia hanya suka menyelamatkan apapun yang membutuhkan pertolongan, orang jahat juga dia selamatkan, apalagi orang baik. Rinda bergerak menggunakan hatinya." Akbar memegang kedua bahu Rian, mengeratkan genggamannya agar Rian lebih kuat lagi.


***


UNTUK PENDUKUNG RINDA MAAFKAN AUTOR MENGHILANGKAN DIA.



RINDA CHRISPETER


VISUAL: Yiiiwha


***


JANGAN LUPA LIKE COMENT DAN VOTE TAMBAH FAVORIT JUGA YA


SEKALIAN JANGAN LUPA KASIH HADIAH JUGA YA BIAR AUTHOR TAMBAH SEMANGAT UP

__ADS_1


***


__ADS_2