
Suara langkah kaki menaiki tangga, Rindu menendang Boy dan Reza yang asik tidur, Boy langsung berdiri mengucek matanya melihat seluruh keluarga di depannya.
"Minggir kalian berdua!" Bianka memukul Boy dan Reza.
"Bunda kenapa pagi-pagi sudah marah?" Boy melangkah mencari kamarnya.
Reza masih berjalan sempoyongan, menuju kamarnya. Langkah Reza dan Boy terhenti langsung membalik badan melihat kamar Miko, mereka lupa jika di dalam ada Kai.
Pintu terbuka menggunakan kunci serep, Kei langsung melihat Miko yang masih tidur sendiri, wajahnya merah. Kei menyentuh kening Miko yang panas, menyentuh tubuhnya yang juga panas.
"Miko demam tinggi, badannya panas sekali."
Rindu langsung mendekat, menyentuh kepalanya. Raffa juga mendekat menghela nafasnya.
Rindu pernah menangis histeris saat Miko demam tinggi, sudah dibawa ke rumah sakit, tapi tidak ada perubahan. Bahkan dokter sempat menyerah.
"Kak bagaimana ini Miko demam lagi?" Rindu mulai panik.
Rinda masuk, membuka jendela kamar melangkah ke balkon. Tatapan mata Rindu tajam saat melihat Kaira terjun dari balkon seperti Spiderman, senyuman Kai terlihat melipat kedua tangannya memohon kepada Rinda agar diam.
Rinda menganggukkan kepalanya, membiarkan Kaira pergi. Kei langsung memasangkan infus, Miko bangun menatap bingung, langsung melihat jam tangan teriak kaget, meminta maaf karena telat bangun.
Miko melihat ramainya orang, langsung mencari Kaira.
"Di mana Kai?" Miko menatap sekitar.
"Iya di mana Kai?" Keisya menatap Miko
"Kak Kai tadi di taman belakang sedang berolahraga, mungkin sekarang ada di kamarnya." Rinda tersenyum langsung melangkah keluar ingin mengambilkan minum.
Rindu meminta Miko ke rumah sakit, dirawat jangan sampai terlalu lelah. Kai masuk membawakan suntikan, langsung menyuntik Miko.
"Apa yang kamu lakukan Kai?" Keisya menatap putrinya.
"Kak Miko demam tinggi, jadinya Kai memberikan suntikan."
"Kamu tahu dari mana?" Rindu menatap Kai yang tersenyum sambil menunduk.
"Rinda, dia tadi mengatakan kak Mik demam tinggi."
"Di mana ketemu Rinda?"
"Kamar Rinda."
Bianka dan Reva tertawa melangkah keluar, mereka yakin sekali pasti Kai semalaman bersama Miko.
__ADS_1
Suara juga gerak tubuh Kai memperlihat jika dia sedang berbohong. Boy Reza masih duduk di luar menunggu keributan.
Bianka dan Reva menendang putra mereka kuat, meminta cepat mandi karena seluruh keluarga akan pulang.
"Kenapa harus mandi?" Reza langsung berlari melihat mata Mommy Reva hampir lepas.
Semuanya keluar meminta Miko beristirahat, berkumpul di ruang tamu. Rindu rasanya ingin menunda kepulangan mereka, karena mengkhawatirkan Miko, Rindu yang mengajari, melihat tumbuh kembang Miko bersama Rinda, merasa jika Miko seperti putranya.
Boy, Kai, Reza dan Rinda berkumpul memeluk kedua orang tua juga kakek neneknya. Lian, Tari juga hadir.
Miko turun ke lantai satu, tersenyum memeluk Rindu mengatakan jika dirinya baik-baik saja, Max juga muncul mengantar sampai ke depan rumah.
Satu-persatu mobil pergi, Maxi langsung mendekati Kai mengatakan jika dia harus ke rumah sakit.
Maxi mengambil jas putihnya, langsung berlari ke dalam mobilnya. Rinda mengetuk pintu mobil mengatakan ingin menumpang karena mobilnya bocor.
Max mempersilahkan, langsung melangkah pergi ke rumah sakit. Kai tetap di rumah bersama Miko yang tidak sehat.
Boy sudah bersiap untuk ke kantor, menggunakan jam tangan, dasi juga membawa jasnya.
Lian sudah berdiri di depan pintu Boy, tatapan mata Boy tidak berkedip melihat kecantikan Lian yang sangat modis.
Sama-sama menggunakan jas hitam kemeja putih, membuat Boy Lian sangat serasi. Boy membukakan pintu mobil mempersilakan Lian masuk.
Reza juga sudah rapi siap ke kantor, memasang dasinya. Tatapan mata Reza malas karena biasanya ada Mentari.
Reza melihat Tari sudah rapi melangkah pergi ke luar, langsung masuk ke dalam mobilnya. Reza juga masuk ke mobilnya.
Mobil Tari melaju ke arah kanan sedangkan Reza ke arah kiri, seperti hubungan mereka yang sudah tidak sejalan lagi.
Mentari tersenyum melihat mobil Reza, mempercepat laju mobilnya menuju toko bunga yang sangat besar.
Tari membuka bisnis bunga, karena dia sangat menyukai keindahan bunga, bukan uang yang Tari cari, tapi kesenangan hatinya.
Selama 17 tahun hidup dalam pertarungan, hanya tahu mengangkat pedang, tiga tahun hidup dalam aturan Reza mengikuti semua perintahnya membereskan banyak masalah, Tari bekerja siang dan malam demi Reza dan perusahan, sudah saatnya Tari menikmati hidupnya, dia masih muda, kuat, sehat untuk bertahan dan berjuang.
Mobil Tari sampai membuka tokonya seorang diri, merapikan beberapa bunga, tersenyum melihat satu persatu pelanggan datang menanyakan harga satu-persatu bunga yang sangat indah dan terawat.
Senyuman Tari terlihat mencium bunganya, melanjutkan pekerjaannya.
Sepanjang perjalanan Reza mendengarkan rekaman soal pekerjanya, Reza juga meminta bagian penerima karyawan baru membuka lowongan kerja untuk sekretaris pribadinya.
Reza hanya meminta kriteria pintar, bisa menguasai paling sedikit tiga bahasa. Reza menatap foto Tari di gantungan mobilnya.
Sesampainya di kantor Reza tidak tersenyum, banyak yang kebingungan melihat Reza tanpa Tari, biasanya sangat ramah tapi sekarang cuek sekali.
__ADS_1
Reza fokus di pekerjanya yang masih menumpuk, bahkan minuman juga tidak tersentuh. Reza menghela nafas melihat ke arah meja milik Tari, meminta karyawannya mengeluarkan milik Tari.
"Sudah saatnya aku tanpa kamu." Reza tersenyum melanjutkan pekerjaannya.
***
Area parkiran para bos sudah penuh, Boy naik ke parkiran lantai tiga. Berlian tersenyum melihat Boy yang terus tersenyum.
Lian keluar, melangkah bersama Boy masuk ke dalam kantor. Beberapa orang binggung tidak mengenali Lian yang terlihat sangat berbeda.
Wanita cantik satu-satunya yang bisa berjalan beriringan dengan Boy. Lift bagian bos terbuka, Lian masuk lebih dulu baru diikuti Boy.
"Boy,"
"Boy, beraninya kamu memanggil aku Boy." Senyum Boy terlihat menatap Lian.
"Pak Peter." Lian tersenyum.
Sesampainya di lantai atas, Boy melangkah diikuti oleh Lian. Sekretaris Boy masih ada di tempatnya, Boy berdiri terlihat wajah ketakutan.
Boy langsung melangkah masuk, Lian berdiri di depannya.
"Siapa nama kamu?"
"Sa saya Jesi."
"Mulai hari ini jaga sikap, berkerja dengan baik jangan coba-coba mengusik aku dan Boy. Lupakan masalah kita, kamu harus hidup demi anak dan ibu kamu." Lian langsung melangkah pergi masuk ke dalam ruangan Boy.
"Welcome sayang." Boy menyambut Lian.
"Apa yang harus saya kerjakan pak?" Lian duduk di kursinya.
"Seriusan ingin berkerja?" Boy mendekati wajah Lian.
"Seriusan pak, terus make up saya ini rugi jika tidak menghasilkan uang."
Boy tertawa mengambil air minum dari dalam kulkas, Lian langsung teriak kesal, ternyata ada minuman, tetapi kenapa Boy minta diambilkan saat Lian berkerja sebagai OG.
"Tuan sengaja ingin menyiksa Lian."
"Iya, aku memang berniat membuat kamu menderita dan hancur."
"Belum kamu lakukan Lian sudah hancur, sudah menderita."
"Karena itu aku ingin mengobatinya, mengubah membahagiakan." Boy mengusap wajah Berlian.
__ADS_1
***