
Mata Mentari menatap tajam, melihat Reza hanya berdiam diri di kamar, membuka komputernya, tidak paham apa yang sedang dia lakukan. Sibuk mengotak-atik selama berjam-jam.
"Mentari kamu bisa diam tidak?" Reza menatap tajam, terganggu dengan suara langkah kaki mentari.
"Tidak tuan, Tari bosan." Mentari membuka jendela, Reza yang menyukai kegelapan, langsung menutup matanya.
Reza kesal melihat Mentari yang kekanakan, dia langsung melangkah keluar melihat Mentari yang menikmati matahari.
Rencana awal ingin marah tidak jadi, Reza menerbangkan drone kecil melihat keadaan di hotel, duduk memperhatikan banyaknya aktivitas yang orang lakukan, Tari duduk di samping Reza memperhatikan layar yang terus bergerak melihat keanehan pulau.
Reza menghentikan gerakan drone, melihat ke arah ruangan yang cukup aneh, akhirnya dengan susah payah, Reza berhasil mengendalikan drone agar ikut masuk ke dalam bangunan.
Semakin masuk ke dalam semakin gelap, Reza dan Tari tidak bisa melihat apapun. Reza masih terus jalan sampai bertemu cahaya lilin, banyak orang berkumpul di sana, gelap ternyata mereka masuk area bawah tanah.
"Perkumpulan apa ini?" Reza melihat banyaknya lilin yang tersusun dan hidup, juga orang-orang yang bersujud.
Berdiri seorang pria yang masih muda, walaupun rambutnya sudah putih, dia berbicara bahasa yang tidak Reza mengerti.
"Mereka membaca mantra tuan, memanggil arwah."
"Gila, ini zaman apa masih percaya saja." Reza menggaruk kepalanya pusing melihatnya.
Mentari memperhatikan dengan jelas wajah pria yang berambut putih, dia terlihat sangat familiar, tapi Tari tidak tahu pernah bertemu di mana.
Keterkejutan Reza dan Tari semakin besar, melihat perlakuan lelaki yang mereka panggil Tuan, dia memukul dan menampar mengatasnamakan kebaikan.
Tangisan juga rintihan terdengar, Reza langsung berdiri ingin menuju ke sana, tapi Tari menahannya, Reza tidak bisa mengehentikan mereka.
Bukan salah orang yang memimpin, tapi salah orang yang mengikuti, mereka percaya jika sedang sakit, percaya juga jika dia mampu mengobati penyakitnya, sehingga mereka juga percaya jika sudah sembuh, tanpa harus bertanya lebih lanjut.
"Apa yang mereka lakukan Tari?"
"Mereka sudah stres, kepercayaan mereka yang berlebihan menjadikan tempat ini seakan-akan suci, tanpa mereka ketahui tempat ini kejahatan sesungguhnya, bukan hanya kejahatan, orang stres bisa menjadi gila jika berada di sini."
__ADS_1
Reza mengeluarkan drone, menyusuri bangunan sampai akhirnya bisa melihat cahaya lain, di tempat yang berbeda, seorang wanita cantik yang ketakutan.
Ternyata tempat ini juga digunakan tempat budak, pemuas nafsu. Mereka melakukannya sesuka hatinya sampai puas, memberikan suntikan penenang sehingga melupakan semuanya yang baru saja terjadi, mereka di buat seakan jatuh pingsan.
"Tuan bisa tidak drone jangan menyaksikan hal seperti itu? otak tuan mesum sekali." Mentari menyingkirkan drone agar melihat ke arah lain.
Reza menatap sinis, dia tidak memikirkan hal mesum apapun, tapi dia mencari sesuatu yang penting juga ingin melihat pelaku dan korban siapa.
"Otak kamu yang kotor, saat melakukan pengawasan hilangkan pikiran tidak karuan, kita perlu mengetahui motifnya." Reza mendorong Mentari untuk menjauhinya.
Reza memotret yang terjadi, tapi drone tertangkap. Seorang pria berbadan besar meremukkan drone Reza yang langsung mati total.
"Semua ini karena kamu Tari, seadanya kamu tidak mengajak mengobrol tidak mungkin ketahuan." Reza langsung berdiri melangkah masuk.
"Kenapa menyalahkan Tari, salahkan saja drone tidak ingin bersembunyi." Tari juga melangkah masuk, melewati Reza yang keningnya sudah berkerut kesal melihat ulah Mentari.
Reza mengambil jaketnya untuk melangkah pergi, Tari juga bersiap-siap memasang sepatunya untuk mengikuti Reza.
"Mau ke mana kamu?" Tatapan mata Reza tajam.
"Jangan pernah mengikuti aku, kamu hanya bisa mengacau. Perempuan hanya beban."
Bibir Mentari langsung monyong melihat Reza pergi sendirian. Bagi Reza wanita dan lelaki memang hidup berdampingan, tapi tidak akan bisa menjadi satu tim, dia tidak pernah gagal dalam mengendalikan drone, tapi karena ulah Mentari gagal total.
Tari tetap ingin ikut, pintu terkunci turun dari balkon. Reza sudah berdiri menggelengkan kepalanya, melihat Mentari turun sampai tiba di bawah kaget melihat Reza yang sudah berdiri dengan tatapan mematikan.
Miko menyaksikan pertengkaran Mentari dan Reza dari atas kamarnya, melihat tingkah Mentari memang bisa membuat darah naik. Reza pemuda cuek seperti Papinya, kekejaman Reza juga sangat mirip kedua orangtuanya, Mentari belum tahu jika Reza sudah marah, bahkan tidak ada satupun orang yang ingin mendampinginya.
"Kamu ingin kembali ke kamar atau aku patahkan tulang kamu?"
"Tari ingin ikut tuan, kita partner kerja." Mentari langsung berlari menghindari Reza.
Miko bertepuk tangan, Tari satu-satunya orang yang berani melawan seorang Reza Chrispeter Arvin.
__ADS_1
Tarik nafas buang nafas, Reza berusaha untuk tenang, suara Tari memanggil terdengar dari dalam mobil. Reza masuk mengangkat tangannya ingin memukul Tari.
"Tuan, lelaki tidak baik memukul wanita, Tari janji tidak akan menjadi beban, boleh ikut please." Tari memasang wajah imut.
"Awas saja kamu membuat susah, aku pastikan kamu pulang tinggal nama." Reza menunjuk kening Mentari.
"Jangan nama saja Tuan, tubuh Tari juga setidaknya makamnya, jadi jika Tuan rindu bisa berkunjung." Tari tertawa kuat, Reza hanya bisa mengusap dada.
Reza memukul setir mobil, langsung melaju dengan kecepatan tinggi, bukannya Mentari takut, tapi teriak kesenangan.
Tari sangat bahagia melihat pantai yang indah, menyambut matahari terbenam, menyusuri pantai dengan mobil.
"Tuan buka mobilnya, Tari ingin melihat sesuatu." Tangan Tari menyentuh Reza yang akhirnya langsung menurut.
Mobil terbuka, Mentari teriak kuat meluapkan kesedihan yang selalu dia tutupi. Mata Tari melihat sesuatu di air meminta Reza berhenti yang terpaksa menurut lagi.
Mobil berhenti Tari langsung berlari ke pantai, Reza diam saja langsung menjalankan mobilnya meninggalkan Mentari.
Tari lompat ke air, menyelam langsung menarik tangan seseorang yang hampir saja tengelam, sekuat tenaga Tari menariknya kuat ke pinggir pantai.
Tubuh Mentari langsung mengeras melihat mayat membusuk berada ditangannya, seorang anak kecil mengapung karena sudah terlalu lama di air.
Mentari gemetaran, melihat mobil tidak ada lagi, Tari terus mundur menjauh, sampai tubuh yang dia tarik kembali ke air terbawa oleh ombak, terombang-ambing terbawa gelombang pantai.
Wajah Mentari pucat, bibirnya gemetaran. Mobil Reza kembali lagi memanggil Tari tapi tidak mendapatkan respon. Reza keluar mendekati Tari, melihat matanya yang kosong.
"Tari." Reza menyentuh tubuh Mentari yang seakan tidak bernyawa.
"Mentari kamu kenapa?" Reza melepaskan jaketnya langsung memasang kepada tubuh Tari.
Reza mendekati pantai, melihat tubuh seseorang mengapung sudah membusuk bahkan sulit dikenali.
Reza langsung menggendong Mentari untuk kembali ke penginapan.
__ADS_1
"Hei, perempuan sinting sadar, kamu bilang tidak akan menjadi beban, tapi sekarang kamu bukan menjadi beban tapi patung."
***