BIANKA DAN MAFIA KEJAM

BIANKA DAN MAFIA KEJAM
S2 DUA TIM


__ADS_3

Boy baru selesai mandi, merasakan tubuhnya segar dan nyaman. Langsung melangkah ke luar kamar, masuk ke kamar Reza tempat semuanya berkumpul.


Tatapan Boy tajam melihat posisi bom yang sudah ditentukan, Reza mengatur semuanya tidak ada tempat yang tersisa.


"Kak Boy kita bicara sebentar." Reza meminta Boy menjauh dari yang lain.


Boy mengikuti Reza tanpa protes, tidak seperti Boy biasanya yang banyak bicara, sekarang Boy lebih memilih diam, tapi tidak terlihat wajah kesal, takut, marah ataupun sedang senang.


Reza menyerahkan sesuatu untuk Boy, pelacak yang Reza gunakan untuk menjaga Tari. Boy juga bisa mengawasi Berlian sampai tidak ada yang bisa menemukannya kecuali Boy.


"Terlambat Za."


"Tidak ada kata terlambat kak, jangan menyerah. Kalian berdua jangan sibuk berkorban, kita harus yakin bisa keluar dan menghancurkan tempat ini." Reza memelas melihat wajah Boy.


"Apa rencana kamu?"


Reza menolak menjelaskan hanya memberikan kode, berharap Boy bisa memahaminya. Reza hanya berharap mereka semua bisa keluar.


Boy mengangguk kepalanya, kembali bergabung bersama yang lainnya. Boy mengisi peluru, menatap beberapa belati yang akan dia gunakan.


Rinda masih diam di meja rias, melihat wajahnya yang tanpa make up. Megambil lipstiknya yang paling merah, memerahkan pipinya, menebalkan alisnya, melentikkan bulu matanya, menggunakan lensa mata.


Mentari mengikuti apapun yang Rinda gunakan, tapi tidak berani menyentuh milik Rinda karena Kai sudah memperingati jika tidak ingin mati jangan menyentuh milik Rinda.


"Arrggg ...." Rinda teriak kaget melihat wajah Mentari.


"Kenapa Rin?" Tari tersenyum.


"Kenapa lipstiknya panjang sekali, mata kamu juga kenapa hitam." Rinda menatap ngeri.


Kaira melihat wajah Mentari langsung tersenyum, membersihkan wajah Tari memasangkan make up tipis karena wajah Tari masih sensitif, berbeda dengan Rinda yang memang sudah terbiasa dengan make up.


Berlian hanya tersenyum, memasang peluru bersiap untuk pergi. Boy menyerahkan sesuatu untuk Berlian yang langsung menyambutnya, memasangkan cincin pelacak ke jari manisnya.


"Hati-hati Lian, jangan pernah kamu membiarkan mereka menyentuh kamu, lebih baik kamu mati, karena kamu hanya boleh melayani aku." Boy menatap tajam.

__ADS_1


"Iya tuan, Lian berjanji. Tuan juga harus berhati-hati, mereka sangat kuat dalam hal licik." Lian berdiri memeluk erat Boy.


Rinda langsung melangkah keluar, tidak menatap sedikitpun ke arah Boy dan Lian. Miko juga langsung melangkah pergi, mengikuti langkah kaki Rinda.


Di depan pintu Rinda memegang dadanya, Miko menatap Rinda yang memalingkan wajahnya. Rinda langsung melangkah pergi, tangannya ditahan oleh Miko.


"Rinda."


"Mereka akan berpisah kak, tidak ada yang bisa kita lakukan. Dada Rinda sesak." Rinda memeluk erat Miko, Max mendengar pembicaraan Miko dan Rinda, melihat Rinda yang menangis.


"Semuanya pasti baik Rinda, kita bukan hanya berdua. Kita di sini berkelompok pasti bisa menyelesaikan masalah ini."


Semuanya keluar melangkah bersama dalam kegelapan malam, suasana hening juga terasa, lautan juga sedang tidak tenang, ombak besar sedikit badai karena baru selesai hujan.


Boy membagi dua tim, Reza Mentari, Kai Miko. Sedangkan Boy Berlian dan Maxi Rinda. Kedua kelompok berpisah satu dipimpin Boy, satunya Reza.


Reza pergi ke arah tempat para pengunjung, mereka akan menyelamatkan pengunjung dari beberapa titik ledakan.


Sebelum mereka masuk sudah ada beberapa orang yang menunggu, mereka menolak tim Reza masuk untuk mengusik ketenangan para pengunjung.


Reza melarang Mentari untuk membujuk mereka, tidak ada gunanya menasehati orang-orang yang tidak bisa di ajak berbicara lagi. Kepercayaan mereka tidak bisa diubah, apapun yang terjadi mereka harus masuk dan menyingkirkan siapapun yang menghalangi.


Pilihan satu-satunya hanya menyingkirkan mereka, tidak harus membunuh setidaknya jangan menghalangi.


Kaira meminta Reza dan Miko yang menyerang, keduanya langsung maju. Bukan hal yang sulit mengalahkan orang yang tidak memiliki pengalaman bela diri hanya tahu memukul saja.


Reza melayangkan pukulan dan tendangan, juga melumpuhkan pergerakan agar tidak lari dan menggagalkan rencana mereka.


Kaira dan Mentari melangkah lebih dulu, melihat ke arah bangunan para pengunjung. Mentari dan Kaira menganti baju mereka dengan pakaian para petugas, sehingga bisa dengan mudah berbicara dengan para pengunjung.


Reza dan Miko menyingkirkan para penghuni pulau yang memilih menetap, mereka ingin langsung menyelesaikan misi sebelum matahari terbit.


Kaira mengetuk pintu satu persatu, memasukkan kertas yang memberikan perintah untuk segera kembali ke kapal.


Seluruh pengunjung sudah mendapatkan surat dari Kaira, meminta mereka segara ke kapal. Semuanya tergantung para pengunjung, cepat atau lambatnya menyingkapi surat mereka.

__ADS_1


Seorang pengunjung menatap Mentari, dia mengenali Tari yang berjalan bersama mereka. Tari tersenyum memeluk seorang ibu hamil, memberikan surat agar pergi ke kapal sebelum matahari terbit.


Pengunjung mengangguk kepalanya, mereka akan segera pergi ke kapal agar tidak tertinggal adanya perubahan jadwal.


Kaira tersenyum meminta Tari kembali bekerja, Tari langsung melangkah mendekati Kai melangkah bersama mencari keberadaan Miko dan Reza yang juga menyelesaikan tugasnya.


Reza langsung meringis, Tari menyentuh dada Reza yang mengeluarkan darah. Miko mendekati Reza, tangannya menggenggam Kai yang mendadak ada yang menarik, Miko menarik tangan Kai, melayangkan tendangan ke arah bayangan hitam, memeluk Kai yang berhasil ditahan.


Miko dan Kai melihat ke arah Reza, Mentari sudah menghilang. Kaira melihat ke arah Reza yang tertusuk jarum beracun.


Kai mengeluarkan suntikan, menyuntik Reza agar racun tidak menyebar. Miko menatap Reza yang mengendalikan dirinya, langsung berusaha untuk berdiri.


"Sialan." Reza melihat lokasi Mentari yang tidak terlacak.


Reza menghidupkan drone yang terhubung dengan Mentari, mengikuti drone yang akan menunjukkan keberadaan Tari.


Kaira dan Miko mengawasi Reza dari belakang, melihat sekitar yang sepi, langkah kaki Reza terhenti melihat Mentari terikat di tempat pembakaran.


Tidak ada orang di sana, tumpukan kayu bakar sangat banyak, Tari terikat di tengah menatap Reza sambil tersenyum mengatakan jika dirinya baik-baik saja.


Bau minyak pembakar tercium, Reza memperhatikan tumpukan kayu, berkeliling melihat Tari untuk melepaskan keberadaan Tari.


"Biar aku yang melepaskan Mentari tuan Reza." Miko ingin mendekat, Reza menahan langsung melepaskan tembakan ke arah jantung Tari.


Kaira teriak kaget melihat Reza yang membunuh Mentari, Miko juga terkejut melihat Mentari tewas di tiang pembakaran.


"Reza ...." Kaira teriak kuat.


"Dia bukan Mentari, tapi orang yang menyerupai Tari." Reza langsung melangkah pergi.


Kaira dan Miko masih tidak percaya, melihat ke depan mencoba lebih dekat melihat Tari yang di tidak memiliki darah, tapi sudah meninggal.


"Dia memang bukan Mentari, mereka sedang mengacak konsentrasi kita." Miko menggenggam tangan Kai untuk segara pergi.


Kai terdiam melihat mayat yang bisa menyerupai Tari, tapi suara yang mereka dengar memang mirip Tari, berarti Mentari ada yang menahannya.

__ADS_1


Reza melangkah cepat, menatap tajam memberikan peringatan untuk segara sembunyi, jangan sampai dia menemukan keberadaannya, karena Reza pasti akan langsung membunuh.


***


__ADS_2