BIANKA DAN MAFIA KEJAM

BIANKA DAN MAFIA KEJAM
S2 TIDAK RELA


__ADS_3

Reza dan Boy masih duduk santai berdua, mereka menyusun rencana untuk menangkap pemimpin perusahaan yang berkerja secara ilegal.


Reza sudah habis batas kesabaran, dia sudah mulai muak bermain-main. Boy memberikan sebuah rekaman yang Tari dapatkan.


Tatapan Reza tajam ingin memukul Boy, dia membiarkan Tari pergi ke tempat yang berbahaya, banyak orang yang bisa dikirim untuk menemukan rekaman.


"Awas kamu Boy!" Reza menendang Boy sampai jatuh dari kursi.


"Sebesar apa kamu mencintai Tari Za?" Boy duduk kembali memukul kepala Reza.


Reza tertawa cinta sesuatu yang sulit dipahami, sulit dijelaskan dengan kata-kata. Mencintai seseorang membuat kita memiliki banyak rasa salah satunya rindu, kecewa, marah, salah paham, bahagia, bersedih juga rasa bosan.


Berani mencintai berarti berani terluka, juga bersiap untuk sebuah perpisahan.


"Kamu siap kehilangan Tari?"


Tatapan mata Reza tajam tidak akan pernah dia biarkan Mentari pergi dari hidupnya. Mentari memang wanita yang menyebalkan, tetapi hal ini yang membuat Reza semakin mencintainya.


"Za tidur bersama Tari kamu tidak tergoda?" Boy tertawa melihat Reza yang cengengesan.


"Setengah mati menahannya, kebayangkan nikmatnya berkeringat berdua. Sayangnya iman Tari kuat, dia tidak tergoda." Reza tertawa bersama Boy.


"Kamu yang hebat Za bisa menahan diri selama tiga tahun, aku tahu kamu setiap malam tidur berdua, kamu yang membobol pintu kamar Tari."


"Kak Boy tahu, kenapa tidak marah?"


"Kamu lelaki bisa menentukan pilihan sendiri, masih bisa menjaga pesan Mommy tidak."


"Kak Boy, Reza selama tiga tahun ini kehilangan kak Boy, baru hari ini kita bisa berbicara lagi."


"Maafkan kak Boy."


"Kenapa kita dari tadi bahas percintaan? seharusnya bahas penyerangan." Reza menyerahkan tabletnya kepada Boy.


"Kita bahas besok saja, lagi ingin cepat menunggu malam agar bisa tidur berpelukkan."


"Kak, seandainya Lian memberikan izin bercinta kak Boy siap tidak, kalau Reza langsung sikat."


"Aku mencintai Lian Za, kak Boy pernah melakukan kesalahan yang membuat Lian merasa jijik dengan dirinya, hal itu tidak akan terulang lagi. Aku akan menunggu Lian sampai kami dipersatukan dalam ikatan pernikahan."


"Kak Boy memang pria sejati, sebenernya Reza juga menolak." Reza tertawa bersama Boy.


***


Langkah kaki Kai langsung terdengar, mendobrak pintu kamar Maxi yang langsung kaget melihat Kai mendekat.

__ADS_1


"Kak Max apa maksudnya Kak Maxi akan menikah?" Lian menatap tajam.


Miko langsung berdiri menjatuhkan tabletnya, terkejut mendengar kabar Max akan menikah, bahkan Miko tidak mengetahui apapun.


"Menikah dengan siapa?" Miko mendekati Max yang duduk di pinggir ranjangnya.


Maxi menunjukkan foto seorang wanita yang dijodohkan dengan Maxi, kepulangan Max ke Mansion mendapatkan panggilan dari Bara dan keluarga besar.


Seorang wanita yang pernah Max selamatkan ternyata putri seseorang yang sangat berpengaruh, saat tahu Maxi bagian dari Chrispeter mereka langsung mengajukan lamaran untuk menjadikan Max menantu Putri semata wayangnya.


"Kak Max menerima?"


"Aku menyerahkan kepada keputusan keluarga, jika mereka menerima aku juga menerima." Maxi menundukkan kepalanya.


"Kaira kecewa dengan kak Max, pernikahan bukan sesuatu yang di jalankan oleh orang lain kak. Pernikahan kak Max yang menjalankan, kenapa kehidupan kak Max harus orang yang menentukan, kak Max tidak punya hutang dengan keluarga Chrispeter, bahkan dengan wanita itu." Kai teriak kuat.


"Kaira benar Max, kamu tidak punya hutang. Jangan menuruti perintah siapapun, apalagi sesuatu yang tidak kamu inginkan."


"Hubungan dengan Rinda diperbaiki dulu Maxi, jika kamu masih ingin mengikuti perintah keluarga Chrispeter silahkan keluar dari sini, jangan pernah berhubungan dengan kami." Kaira memukul kaca sampai pecah, langsung melangkah pergi.


Miko mengacak rambutnya, menepuk pundak Max memintanya untuk memikirkan kembali. Jangan mengikuti perintah orang, kebahagiaan bukan orang yang menentukan.


Miko langsung berlari mengejar Kaira yang sedang marah, melihatnya masuk kamar sambil menangis.


Pintu kamar Kai terbuka, Miko duduk di pinggir ranjang menepuk pundak Kai yang tidak terima jika Maxi menikah.


"Kai tidak rela jika kak Maxi menikah dengan wanita buta itu."


"Iya Kai, kamu jangan menangis lagi."


Kaira langsung memeluk Miko, menangis tidak menginginkan Max menikah. Kai hanya ingin Maxi memperbaiki hubungannya dengan Rinda.


Pintu kamar terbuka, Reza dan Boy masuk melihat Kaira menangis sesenggukan mengutuk Maxi.


Boy mengusap kepala Kai, mereka harus menyusun rencana memperbaiki hubungan Maxi dan Rinda.


"Reza juga heran, kenapa keluarga kita menawarkan pernikahan bodoh."


"Pasti ada sesuatu yang harus kak Max lakukan." Boy langsung mundur melihat Kai melotot.


"Tidak ada alasan mengorbankan kebahagiaan kak Maxi, hubungan dengan Rinda saja sudah bertahun-tahun tidak bertegur sapa." Reza melangkah melihat ke luar jendela, menatap Rinda yang sedang menyapa kupu-kupu.


"Jika Maxi sampai menikah, dia menjadi orang lain dalam tim kita. Rinda akan membenci Max seumur hidupnya." Kai mengusap air matanya.


Boy duduk melihat ke arah lantai, memikirkan sesuatu yang membuat mereka bisa menikmati kebersamaan.

__ADS_1


"Ayo kita liburan."


"Kak Boy masih sempat memikirkan liburan?" Kaira menggelengkan kepalanya.


"Liburan, kita sebaiknya berkemah. Bisa merasakan suasana baru." Reza memberikan solusi, jika ke pantai kasihan dengan Berlian.


Miko setuju, mereka harus memberikan peluang untuk Maxi dan Rinda menghabiskan waktu bersama.


Kaira menganggukkan kepalanya, akan mengatur jadwalnya mengabarkan kepada Rinda untuk cuti kerja.


Boy keluar bersama Reza, mereka berdua tidak bisa meninggalkan perusahaan untuk liburan. Sebelum liburan Boy akan segera membereskan hama di perusahaannya.


Reza langsung melangkah pergi untuk bertindak, meminta Tari mengirimkan semua laporan perusahaan.


Boy juga sibuk di kamarnya untuk penyerang besok, Lian masuk tetapi Boy tidak menyadarinya.


"Tuan besok Lian kembali kerja sebagai Cristal."


"Kerja apa Lian?" Boy mengehentikan sebentar pekerjaannya.


"Kerja di kantor sebagai OG."


Boy meminta Lian berhenti, Boy ingin Lian beristirahat total. Lian tetap memaksa, jika Boy tidak mengizinkannya Lian akan pergi dari rumah.


Tangga Boy yang sibuk bekerja akhirnya terhenti, berjalan mendekati Lian menakup wajahnya mencium lama bibir Lian.


"Kamu boleh berkerja, khusus melayani aku." Boy tidak memberikan Lian kesempatan untuk menjawab.


Bibir Berlian berubah merah, memukul dada Boy memintanya segera mandi. Boy memonyongkan bibirnya meminta ciuman, Lian mencium lama bibir Boy.


"Mandi dulu ya sayang." Boy mencium leher Lian memberikan tanda merah.


Lian berjalan melihat pekerjaan Boy, Berlian memperhatikan rencana Boy dan Reza.


Boy keluar dari kamar mandi memeluk pinggang Lian yang kecil.


"Boy aku menunggu kamu di meja makan. Langsung cepat ganti baju." Lian tersenyum meninggalkan boy yang cemberut.


Boy langsung memakai bajunya, melangkah keluar menuju ruang makanan.


***


JANGAN LUPA LIKE COMENT DAN VOTE TAMBAH FAVORIT JUGA YA


JANGAN LUPA KASIH HADIAH JUGA BIAR AUTOR SEMANGAT UP

__ADS_1


***


__ADS_2