BIANKA DAN MAFIA KEJAM

BIANKA DAN MAFIA KEJAM
JURANG KEHANCURAN


__ADS_3

Bibir Kaira monyong menatap Rinda, perlahan mata Rinda terbuka melihat semuanya berkumpul di sisinya.


"Kita di mana ini?" Rinda langsung duduk tersenyum menatap Max, langsung memeluk lengannya.


"Rinda kamu keterlaluan sekali, di saat tegang kita bertahan antara hidup dan mati, sedangkan kamu memilih tidur. Aku sangat mengkhawatirkan kamu saat sadar kepala kamu dipukul." Kaira teriak menatap tajam.


"Salah Rinda di mana kak Kai?" Rinda mengerutkan keningnya.


"Seharusnya kamu mengatakan kepada kita jika kamu baik-baik saja, kita tidak minta bertarung bersama."


"Rinda harus bagaimana Lian? kepala Rinda dipukul, Rinda memejamkan mata sejenak. Tiba-tiba ada bayangan muncul, Rinda melihat Z terbunuh oleh lima tombak, saat membuka mata kalian sedang bertarung, jadi Rinda tidur saja."


"Bagaimana jika kita mati dalam pertempuran?"


"Bukan salah Rinda, kalian tidak tahu bagaimana rasanya kehilangan gigi? tidak tahu rasanya ompong, jika memang setia patahkan gigi kalian agar kita sama." Rinda menatap Kai, Lian dan Tari.


Boy mendekati Rinda menatap wajahnya, Rinda menutup mulutnya keceplosan. Rinda malu karena giginya patah.


"Coba lihat Rin?" Boy mengusap kepala Rinda.


"Malu kak, Rinda ompong lagi."


"Tidak apa dek, nanti bisa diperbaiki."


"Bisa tumbuh lagi?"


Reza langsung tertawa, sejak kapan gigi orang tua bisa tumbuh lagi. Rinda kebanyakan mengkhayal.


Boy mempertanyakan tubuh yang di makan anak-anak di dalam terowongan, mengapa bisa ada cincin Rinda disisinya.


Rinda mengigat jika cincinnya hilang saat bertarung dengan buronan yang jatuh bersama Kai, sempat bertarung sampai akhirnya dia mati.


Matahari sudah bersinar dengan terang, Boy berdiri meminta semuanya untuk kembali. Rinda langsung memeluk Boy, Kaira juga memeluknya erat.


Boy meminta Tari dan Berlian mendekat, melangkah memeluk Boy bersama.


"Kaira terimakasih sudah kembali, Rinda terimakasih karena kamu baik-baik saja. Berlian terimakasih karena sudah berjuang dan kembali dalam keadaan baik, Tari terimakasih juga." Boy memeluk keempatnya karena sangat takut.


Reza juga ikut memeluk, Maxi dan Miko hanya tersenyum menatap semuanya baik-baik saja. Paman Ahlan juga tersenyum karena merasakan haru.


"Kalian berempat hebat sudah membuktikan jika kalian kuat, bekerja sama dalam tim. Kak Boy sangat ketakutan, jika sesuatu terjadi kepada kalian."


"Kai juga takut, tapi juga bahagia bisa bertemu kembali."


"Rinda juga takut, takut mati kelaparan." Rinda mengusap perutnya yang lapar.

__ADS_1


Boy tersenyum mengacak rambut Rinda, memeluknya erat.


Rinda langsung memeluk Miko, mengatakan jika dirinya baik. Kaira juga langsung memeluk Miko menyingkirkan Rinda.


Berlian dan Tari memeluk Max yang membuat Rinda teriak histeris meminta Lian dan Tari menyingkir. Maxi tertawa melihat Rinda memaksa memeluknya.


"Minggir kak Max punya Rinda."


Kaira langsung memeluk Max, Rinda melotot tajam mengambil tulang langsung memukul kepala Kai, Lian dan Tari.


"Rinda!"


"Sudah Rinda katakan kak Max pun Rinda."


"Kita yang sejak kecil bersama kak Max." Lian menatap tajam.


Maxi langsung memeluk Rinda, membuang tulang membelai rambut Rinda.


"Terimakasih karena Rinda baik-baik saja, karena aku tidak mungkin sanggup hidup tanpa kamu." Max mencium kening Rinda.


Rinda tertawa menunjukkan giginya, Max tersenyum karena yang patah hanya gigi samping.


Mentari minta digendong, karena tubuhnya lemas sekali untuk naik ke atas, Reza langsung mempersilahkan Tari naik ke atas punggungnya.


Senyuman Tari terlihat memeluk erat Reza yang juga tersenyum, karena hati Reza sempat hancur karena kehilangan Tari.


Paman Ahlan berjalan di belakang sekali, tersenyum melihat setiap pasangan yang tertawa.


Sampai tiba di atas, para penjaga sudah berbaris rapi menunggu. Boy meminta semua bertugas kembali, jangan sampai ada pengkhianatan jika sampai Boy dan tim tahu mereka akan langsung dilempar ke bawah jurang.


"Jurang ini bernama jurang kehancuran." Reza melihat ke arah bawah.


"Jurang ini dijaga oleh seseorang, dia akan menetap di sana, menjaga, merawat juga melindungi hutan di bawah jurang, jangan sampai ada orang yang masuk kecuali Boy dan tim." Maxi melangkah mengandeng Rinda untuk masuk ke dalam mobil.


Maxi memejamkan matanya, Boy juga masuk menepuk pundak Max jika tidak ada lagi yang perlu dikhawatirkan.


Miko dan Reza juga masuk, Tari menatap wajah Reza yang juga babak belur, Miko lebih parah lagi karena mengalami cendera, Maxi dan Boy juga memiliki banyak luka.


"Kalian juga terluka, maaf karena kita tidak perduli." Tari menundukkan kepalanya.


"Sayang, kami tidak merasakan sedikitpun rasa sakit, selama kalian baik-baik saja. Jangan khawatir luka ini bisa diobati." Reza mencium kening Tari.


mobil berjalan menuju markas, Rinda dan Lian tertawa karena mobilnya panjang seperti kereta api, tapi geraknya lambat.


"Lucu ya, Rinda baru tahu." Tangan Rinda melambaikan tangannya saat melihat beberapa pengawal.

__ADS_1


Kaira langsung memeluk Miko saat melihat seorang wanita wajahnya hancur, Rinda teriak bersama Lian melihat hantu.


"Hantu kenapa ada di siang hari?"


"Dia bukan hantu sayang, memang kejiwaan sudah terganggu jadinya begitu."


Berlian langsung merinding, takut melihatnya. Mobil sampai markas, Boy menyambut tangan Lian untuk masuk ke dalam mobil mereka.


Maxi dan Miko masuk ke dalam gedung, tidak lama langsung keluar lagi. Membuka mobilnya meminta Rinda masuk.


"Kita pulang sekarang Boy, tadi seluruh keluarga datang ke sini, tapi langsung pulang lagi."


"Kenapa tidak menunggu kita?"


"Tidak tahu, sebaiknya kita kembali ke Mansion utama."


"Kak Miko biar Reza yang membawa mobil. Kak Mik istirahat saja." Reza mengambil remote mobil langsung masuk.


Dua mobil melaju meninggalkan markas Chrispeter, penjara paling menakutkan Chrispeter yang menelan banyak korban.


Maxi membuka seluruh jendela mobil, Rinda dan Lian melihat ke jendela masing-masing menatap penuh kesedihan.


"Pertarungan ini masih sama seperti dulu?"


"Beda Rinda, dulu kehilangan satu personil, tapi kali ini kita membawa satu orang keluar." Lian tersenyum melihat mobil di depan yang dikendarai oleh Reza, Miko, Kai dan Tari ditambah lagi satu pria yang sedang mengangkat tangannya menghirup udara segar."


"Kak Lian benar, korban memang sama banyaknya setidaknya kita menang membawa kemenangan."


Reza menatap Paman Ahlan yang bertengkar dengan Tari karena sempit, Miko menghela nafasnya melihat Paman yang berlebihan semangatnya.


Mobil Maxi dan Miko berhenti di perbatasan, Paman Ahlan sangat ketakutan. Menundukkan kepalanya, Tari menepuk pundak Paman.


Reza melajukan mobil, seluruh alarm berbunyi Paman teriak kuat membuat mobil berhenti. Reza menatap tajam melihat Paman sudah berdiri sambil teriak jika dirinya bebas.


Boy dan Maxi yang belum keluar langsung tertawa, Rinda dan Lian menatap sinis melihat tingkah norak, Tari menarik tangan Paman meminta untuk tenang.


"Saya bahagia sekali nona."


"Karena bebas Paman bahagia?" Kai mengerutkan keningnya.


"Bukan, saya bahagia akhirat bisa bertemu dengan kekasih saya."


Tari dan Kai menggaruk kepala, sudah lebih dari lima puluh tahun masih memiliki kekasih.


JANGAN LUPA LIKE COMENT DAN VOTE TAMBAH FAVORIT JUGA

__ADS_1


JANGAN LUPA KASIH HADIAH JUGA BIAR AUTOR SEMANGAT UP


***


__ADS_2