
Mobil kebut-kebutan di jalanan hutan, Boy balapan bersama Berlian, jika Berlian bisa mengalahkan Boy dia diizinkan ikut.
"Tancap terus kak Lian." Mentari bersorak.
Maxi dan Miko yang satu mobil dengan Berlian berpegang kuat, Lian bisa saja membawa mobil terjun ke bawah jembatan. Mata Miko tertutup, karena tidak biasa kebut-kebutan, berbeda dengan Maxi yang sudah biasa melatih Lian, tapi tetap saja takut. Lian tidak pernah takut mati.
Boy tersenyum melihat kecepatan juga kecerdikan Berlian dalam mengontrol kecepatannya, Kai juga tersenyum karena dia mengetahui akhir dari balapan ini.
"Jangan coba-coba mengalah kak Boy." Reza fokus melihat ke depan.
Rinda sibuk joget cantik, mendengarkan musik sambil menebalkan lipstiknya. Kai melihat isi tempat makeup Rinda yang penuh lipstik, Kai yakin pasti alat tempur Rinda yang berbahaya.
Mobil keluar dari hutan, masuk ke area jalan. Boy menarik nafas dalam-dalam, melihat ramainya jalanan, tapi Berlian tidak ada masalah sedikitpun, bisa melewati Boy.
Reza menatap tajam Boy, bisa kalah dengan wanita. Reza juga mengakui keberanian Lian yang mengorbankan banyak nyawa orang.
"Memang wanita sinting, di tengah keramaian masih tidak mengurangi kecepatan." Boy memukul setir mobilnya.
"Jangan salahkan dia kak Boy, Lian memang seorang pembalap. Seharusnya sebelum kak Boy menerima tawaran seseorang, harus mengecek lebih dulu kelemahannya." Kai tersenyum mengejek Boy.
"Sudahlah biarkan saja mereka ikut, bukannya kak Boy sebenarnya setuju, hanya saja gengsi dan malu di kawal seorang wanita." Rinda menari di kursi penumpang sambil melihat ke arah luar jendela.
Berlian sudah tiba lebih dulu di bandara, Mentari sudah tersenyum bahagia akhirnya bisa keluar dari negara yang membosankan.
Mobil Boy juga sampai, Lian langsung membukakan pintu untuk Boy, Tari membukakan pintu untuk Reza, sekalian pintu Rinda dan Kai.
"Selamat ya Berlian dan Mentari, akhirnya kita bisa bertualang bersama. Ingatlah kita pergi dan pulang harus dalam keadaan utuh, jika ingin menyelematkan kami setidaknya kalian harus selamat lebih dulu." Kaira melangkah masuk ke dalam bandara.
Maxi mengambil koper Kai melangkah masuk mengikutinya. Rinda hanya tersenyum, menggunakan kacamata hitam, melangkah pergi menyusul Kai, Rinda menatap Miko yang berjalan tidak jauh darinya.
Berlian mendekati Boy, membawakan koper Boy, tapi langsung ditolak. Boy meminta Lian berjalan di sampingnya, Reza juga tidak mengizinkan Tari menyentuh barangnya, cukup berjalan di sampingnya.
Semuanya masuk ke dalam Jet pribadi, menuju Negara yang memiliki banyak misteri. Miko menatap Maxi tersenyum, setelah puluhan tahun akhirnya mereka bisa bertualang bersama lagi.
__ADS_1
Boy memejamkan matanya, duduk bersama Rinda yang tidur meletakkan kepalanya di bahu Boy. Tiba-tiba mata keduanya langsung terbuka, Boy menutup mata kembali, Rinda juga menutup matanya sambil tersenyum sinis.
Seorang pramugari berjalan melewati Boy, meletakkan sebuah pelacak di baju Boy. Rinda langsung merangkul Boy mengambil pelacak, tersenyum bodoh melihat orang yang tidak berpengalaman.
Boy menggelengkan kepalanya, melihat Rinda yang menatap sinis, langsung berjalan mengejar pramugari yang berjalan ke belakang.
Maxi langsung menahan Rinda untuk menghentikannya yang sudah mengeluarkan senjatanya.
"Ada apa Rinda? kita sudah terbang jangan membuat masalah. Kembali ke tempat duduk kamu." Maxi menarik Rinda kembali.
Semuanya berdiri melihat Rinda yang tertawa, meminta Maxi melepaskannya, Miko juga sudah berdiri di depan Rinda menahan Maxi untuk tidak menyentuh Rinda.
Berlian melihat ke arah belakang, seorang pramugari terlihat ketakutan. Sedangkan Boy hanya menahan tawanya.
"Kebodohan kalian beraninya berurusan dengan keluarga Chrispeter, menyentuh kami sama saja mati. Keluar! siapa yang mengirim kamu?" Rinda menatap tajam, Boy tersenyum meminta Rinda duduk.
"Maafkan saya Nona, saya membutuhkan uang untuk operasi Ayah saya. Mereka hanya ingin tahu keberadaan Boy."
Maxi mundur duduk kembali, Miko langsung berdiri di belakang Rinda. Langkah kaki Rinda maju, Lian dan Tari berdiri melihat Rinda yang terkenal baik dan mengemaskan berubah menjadi wanita kejam.
"Maafkan saya Nona, ampuni saya." Tangisan juga teriakan histeris terdengar. Rinda terus memojokkan, lipstik yang berada ditangannya sudah berubah menjadi jarum beracun.
"Sebenarnya saya dikirim untuk membunuh Boy, tapi saya takut Nona." Tatapan memohon terlihat.
Miko masih setia berdiri di belakang Rinda, melindunginya jangan sampai ada serangan balik.
"Kalian pikir kami bodoh, manusia yang penakut, membutuhkan uang tidak mungkin bisa mendekati kami. Kamu orang kepercayaan dari perusahaan xxxx yang aku buat bangkrut, kedatangan kamu untuk balas dendam karena kekasih kamu bunuh diri." Boy membuang minuman yang ada dalam genggamannya.
"Dari mana kamu tahu?"
"Kematian mereka bukan karena kebangkrutan, tapi sesama saudara saling memperebutkan kekuasaan. Dalam bisnis tidak ada yang ingin menjadi bawahan, semuanya ingin menjadi pemimpin yang berkuasa,. Manusia tidak pernah ada kata puas, lebih lebih dan terus ingin lebih.
Tangisan kuat, mengumpat kasar, teriakan histeris tidak terima dengan kenyataan hidupnya. Rinda langsung kembali ke tempat duduknya. Miko ingin menangkap tangan Pramugari yang berlari membuka pintu langsung lompat, tapi terlambat dia sudah terjun keluar. Miko menutup pintu sambil menatap Rinda yang duduk bersandar kembali kepada Boy.
__ADS_1
"Kak Rinda ingin sekali saja membunuh orang." Rinda menggakat tangannya yang menggenggam jarum beracun.
"Rinda, jangan membuat kotor tangan kamu. Aunty Rinda, wanita terbaik, lembut, penuh kasih sayang. Dia tidak pernah membunuh, jangankan untuk membunuh menyakiti sedikit saja dia tidak tega."
"Kami berbeda kak."
"Rin, ingat pesan kakek. Saling menyakiti, bermandian darah cukup generasi mereka, bahkan orang tua kita diajarkan cara melumpuhkan, bukan membunuh." Kai menutup matanya, memasang earphone.
"Kamu wanita Rinda, suatu hari akan menjadi seorang Ibu. Jangan mencari musuh, tugas kita hanya bertahan untuk menjaga keluarga kita."
Rinda mengagukan kepalanya, memeluk lengan Boy. Sekilas mata Boy beradu tatap dengan Berlian yang melihat Boy sebagai pria licik.
Kematian Pramugari yang memilih untuk terjun karena ucapan Boy, terkadang ucapan menjadi senjata yang paling tajam, bukan hanya bisa melukai, tapi bisa membunuh. Seadanya pramugari tadi tidak terlalu terbebani, tidak mungkin dia lompat.
Boy hanya tersenyum menggakat alisnya melihat Lian menatap tajam, Boy paham Lian bisa memahami pikirannya yang bisa mematahkan semangat hidup orang lain.
"Dasar laki-laki brengsek." Lian duduk tenang, Tari melihat sekilas, tidak ingin berbicara dengan Lian yang mulai emosi.
Boy memejamkan matanya, mungkin Ayahnya selalu berpesan untuk menjauhi kekerasan. Boy tidak bisa menghindar, dari pada dia mencari cara untuk menghindar, lebih baik dia mencari cara untuk maju, menyerang dan bertahan.
"Ayah, memegang peran sebagai putra dari keluarga Arnold dan Chrispeter, membuat hidup Boy berada dalam dua simpang, bertahan di tengah melawan musuh dari dua keluarga." Batin Boy dalam hati.
***
MAAFKAN LAMA TIDAK UP, DO'AKAN SEMOGA BISA UP SETIAP HARI.
***
JANGAN LUPA LIKE COMENT DAN VOTE TAMBAH FAVORIT JUGA YA
SEKALIAN JANGAN LUPA KASIH HADIAH JUGA YA BIAR AUTHOR TAMBAH SEMANGAT UP
***
__ADS_1