
Suara gemericik air terdengar, Rinda bermain air malam hari. Lian juga mencelupkan kakinya merasakan dinginnya air kolam.
Kai datang membawakan cemilan, Tari membawakan minuman. Duduk di pinggir kolam, menikmati bulan purnama.
"Tidak terasa hitungan hari kita akan menikah, pertualang akhirnya berhasil berakhir." Kai menatap bulan.
"Setelah menikah mungkinkah kita akan berpisah." Lian menatap Kaira.
"Tentunya tidak, kita akan tinggal bersama di Mansion, tetap menjalankan aktivitas kita seperti biasanya." Rinda mengerakkan kakinya di dalam air.
Dari lantai atas, Boy berdiri bersama Reza yang sibuk menatap para wanita, keempat wanita sedang asik tertawa sambil bercerita.
"Kak, siapa yang akan meneruskan pertualang kita? mungkinkan Nathan dan Nissa?"
"Jangan sampai, Nissa ingin menjadi artis, sedangkan Nathan akan dikirim ke luar untuk pendidikan. Mereka juga cucu Chrispeter yang memiliki peran. Cukup kita yang hidup dalam bahaya, mereka jangan."
"Ada beberapa hal yang tidak bisa dihindari kak, takdir mereka tidak bisa ditentukan."
"Aku tahu Za, awalnya aku berpikir pergi jauh dari kediaman Chrispeter untuk menjadi pebisnis seperti Ayah Bara, tidak pernah aku pikiran akan menjadi Boy yang meneruskan pertualang Chrispeter."
"Kemapuan bela diri kak Boy tinggi, padahal kak Boy sibuk di kantor."
"Hanya untuk antisipasi, aku memegang dua keluarga. Ayah Bara memang seorang pebisnis, tapi tidak aku lupakan jika dia juga seorang mafia."
"Reza tidak punya bakat dalam bisnis, naluri pertarungan sulit Reza kendalikan. Melakukan banyak hal sendirian membuat Reza terus ketagihan, tapi memiliki tim lebih menyenangkan."
"Kamu ingin anak kamu seperti kita?"
"Tidak, aku ingin dia menjadi orang normal, tapi tetap menanamkan ilmu bela diri."
"Harapan orang tua kita dulu juga seperti itu Za." Boy tertawa.
"Bagaimana rasanya ingin menikah kak?"
"Happy, juga tidak sabar lagi." Boy merangkul Reza menatap Berlian.
"Siapa yang paling cantik?" Reza menatap Boy, langsung melihat ke bawah.
"Rinda. Jangan sampai dia mendengar kita memuji orang lain."
"Nissa yang paling cantik, kak Rinda sudah tua." Nissa menatap tajam.
"Panjang urusan." Boy langsung mengusap kepala Nissa, mengatakan jika Nissa memang paling cantik.
Nissa langsung minta digendong oleh Reza menatap ke bawah melihat empat wanita main air, Nissa langsung tersenyum.
"Nissa juga ingin menikah, carikan Nissa pacar."
"Baiklah, nanti kita carikan."
__ADS_1
"Nissa suka Om Max."
"Tidak boleh, dia sudah aki-aki." Reza tertawa membawa Nissa menemui Nakusha.
Boy duduk seorang diri, melihat bulan yang sangat indah. Melihat ke bawah menatap seorang pemuda yang menatap ke arah kolam.
"Cari mati ini orang!" Boy mengeluarkan senjata, siap menembak sampai Max memberikan peringatan Boy harus menurunkan senjata.
"Tuan Boy yang terhormat, jatuhkan senjata sebelum aku yang menembak."
Boy langsung berlari ke ruangan pengawasan, melihat Maxi yang sedang tertawa. Boy ingin menembak seorang pemuda yang baru bekerja di area kebun.
"Siapa dia?"
"Pegawai baru, jangan bunuh dia. Usianya baru 12 tahun, bekerja di sini mengantikan Ayahnya yang sedang sakit."
"Kenapa dia mengintai di kolam?"
"Dia bukan mengintai, tapi mencari akar bunga untuk obat tradisional."
Boy langsung tersenyum, duduk di samping Maxi yang mengawasi area Mansion.
"Kak Max, bagaimana rasanya menikah terakhir?"
"Biasa saja."
"Gayanya, padahal wajah sudah pucat." Boy tertawa mengarahkan kamera memperbesar wajah Lian.
"Boy, kamu sedang melakukan pelecehan." Max langsung melihat ruang tamu, melihat Nathan turun bukan melewati tangga, tapi langsung lompat dari lantai dua.
"Nathan, kamu ingin mematahkan tulang."
"Telat Om Max, kaki Nathan sudah patah."
Boy langsung tertawa bersama Max langsung melangkah keluar melihat Nathan yang sudah dimarahi oleh Nay.
"Memang anak jagoan, ingin bunuh diri dia Aunty." Boy tertawa.
***
Seluruh rumah sibuk untuk persiapan pesta pernikahan, rebutan warna baju menjadi perundingan panjang.
Pesta akan diadakan secara besar-besaran, mengundang tamu luar dan dalam negeri, juga seluruh kolega bisnis.
Undangan juga dilakukan untuk rekan kerja, bahkan dihadirkan untuk umum. Pesta terbesar Chrispeter yang mengeluarkan biasa yang tidak sedikit.
Hotel yang digunakan salah satu hotel terbesar di negara mereka, langsung menghadirkan ribuan tamu undangan dalam dua hari dua malam.
Pernikahan gabungan cucu Chrispeter, menjadi pesta paling mewah dalam puluhan tahun. Setelah pesta masih dilanjutkan dengan acara menyumbang, bahkan melakukan lelang beberapa barang antik, hasil penjualan akan disumbangkan ke beberapa negara yang mengalami bencana, juga kesulitan.
__ADS_1
Selain pesta pernikahan, acara amal juga boleh dihadiri oleh seluruh kalangan, tanpa terkecuali.
Setiap pengantin juga mendapatkan tata make up masing-masing, sibuknya keluarga dalam mempersiapkan pesta melibatkan banyak orang.
"Di mana Max dan Miko?" Bianka mencari calon pengantin yang tidak pernah terlihat.
"Boy Reza juga mana? niat menikah tidak anak empat ini." Rindu memegang tumpukan undangan.
"Mami, jika mereka tidak ingin menikah, lalu kita menikah dengan siapa?" Rinda memonyongkan bibirnya.
Boy dan Reza datang mengatakan jika Max sedang mengatur seluruh pengawal, agar tidak ada masalah.
Penjaga sangat ketat walaupun boleh dimasuki oleh umum, terutama keamanan keluarga Chrispeter.
"Ayang, bisa tidak yang lain saja mengurusnya?" Rinda memeluk lengan Max.
"Ayah, keamanan ditambah lagi, karena bukan hanya demi kebaikan kita, tetapi para tamu yang hadir." Maxi menyerahkan laporan.
"Di mana Miko Max?"
"Di dalam ruangan pengawasan, melihat detail denah hotel memasang kamera tersembunyi di segala sisi."
"Reza kamu berikan alat tercanggih kamu untuk alarm keamanan?"
"Sudah, langsung ditangani oleh yang bertugas."
"Setelah lama tidak ada pesta, akhirnya kita akan berpesta. Bagaimana jika kita memiliki cucu bersamaan?" Rindu mengkhayal.
"Paling penting diberikan kelancaran di acar ini, jangan ada hambatan. Acara selesai dalam keadaan lancar, kita juga bahagia dengan pernikahan ini." Riani tersenyum menatap anak cucunya.
"Amin ...." Semuanya mengaminkan.
Pemilihan baju sudah selesai, baik baju saat janji suci dan pesta sudah dipersiapkan. Baju coupel keluarga juga sudah ada di depan mata.
Keluarga hanya perlu mengurus baju, karena dekor, undangan, catering sudah ada yang mengurusnya, keluarga hanya menerima semuanya beres.
Suasana Mansion sangat ribut, Max menarik tangan Rinda ke tempat lain memeluknya erat. Terlalu sibuk mengurus pernikahan menimbulkan rasa rindu karena jarang berbicara lagi.
"Ada apa?"
"Kangen kamu, berikan aku sedikit waktu untuk memeluk calon istriku."
"Di mana Boy, Max dan Reza?" Miko membawakan beberapa map untuk tiga pengantin.
"Biasalah Mik, kamu dan Kai menjadi yang terakhir memiliki anak. Lihatlah mereka bertiga, Max sudah keluar bersama Rinda, Reza sudah di kamar bersama Tari, jika Boy jangan kalian tanyakan dia di mana, sudah pasti menyusup kamar Lian." Bianka menyusun beberapa perhiasan.
"Ayo Kai kita juga pergi." Miko mengandeng tangan Kaira.
Seluruh orang menatap tajam Miko dan Kai yang melangkah pergi.
__ADS_1
***