
Door door door..., suara tembakan terdengar di area latihan menembak. Boy tersenyum manis melihat tebakannya tepat sasaran, dilihatnya seorang pemuda lebih kecil darinya juga hampir berhasil tepat sasaran.
"Reza, good." Boy memberikan jempolnya.
"Terima kasih kak, kak Boy juga terbaik."
Tidak jauh dari mereka, seorang wanita centil sedang sibuk berdandan, sedangkan satu gadis lagi sibuk membaca buku.
"Kak Maxi, sebaiknya kita kembali sekarang karena hari ini pernikahan Aunty Nayla dan Uncle Raka."
"Baik tuan muda," Maxi dan Miko menjadi pengawal pribadi empat bocah yang sedang mencari jati diri.
Boy dengan sikapnya yang ceria, ramah, lucu tapi menyimpan sifat dingin dan arogan. Dia usianya yang menginjak lima tahun Boy sudah ahli menembak.
Kaira gadis pendiam penerus keluarga Chrispeter, dia tidak suka perkelahian, lebih suka ketenangan dengan membaca buku soal medis, bahkan Kai bisa meracik obat dengan tangan mungilnya.
Reza bocah mengemaskan yang sangat menyukai alam, Reza suka mengikuti Daddy Asep untuk berburu, dia sangat ahli memainkan busur panah, juga sangat cepat dalam berlari.
Dan si bungsu yang paling centil, heboh, berisik, cengeng, pemarah, keras kepala, paket komplit dari yang lainnya. Rinda gadis kecil yang baru berusia 2tahun, sangat suka menggunakan make up, dia setiap hari harus ke Mall untuk membeli make up baru, kamar Rinda sudah mirip toko kosmetik. Rindu tidak bisa menghentikan putrinya yang keras kepala, sedangkan Raffa selalu menuruti keinginan Rinda.
Mobil melaju menuju gedung tempat pesta pernikahan, suara berisik Rinda membuat ramai isi mobil.
"Rinda, kamu itu perempuan atau laki-laki?" Boy menatap Rinda yang sedang meminum susu botol sambil berbaring di paha Kai.
"Laki-laki kakak,"
"Laki-laki tidak menggunakan makeup, lihat aku, Reza juga."
"Tapi kakak, Rinda laki-laki."
"laki-laki jadi-jadian." Ravi tertawa bersama Reza.
Sesampainya di gedung keempat langsung turun, Boy mengandeng tangan Rinda, sedangkan Reza menjaga Kai.
Kepulangan bocah berempat di sambut langsung di iringi untuk berganti baju, Boy menatap pelayan yang mengikutinya sambil tersenyum jahil.
Boy mengeluarkan ular yang Reza tangkap, melemparkannya sampai terjadi teriakan histeris, Boy tertawa sambil berlari melompati beberapa meja tamu.
"Boy!" teriak Bianka, sedangkan Boy sudah melambaikan tangan masuk dalam lift bersama empat bocah juga Maxi dan Miko.
"Kak Axi, gendong Rin."
"tapi Rin laki-laki tidak boleh manja."
"Rinda perempuan kak."
Boy langsung tertawa, adik kecilnya yang mengemaskan, dulu sebelum Reza lahir dan Rin berada dalam kandungan, Boy setiap hari bertanya kepada mi Riani soal keturunan lelaki, tapi ternyata Reza dan Rinda terbalik, dan sangat membuat Boy bahagia.
__ADS_1
Maxi langsung menggendongnya, Rinda gadis manja yang selalu mencari perhatian Maxi.
Seluruh keluarga berkumpul, Bara memeluk adik kesayangannya yang akhirnya akan segera menjadi istri dari Raka Chrispeter.
"Kak terima kasih sudah menjadi kakak terbaik untuk Nayla?" air mata Nayla menetes, Bara keluarga satu-satunya yang Nayla miliki.
"Jadilah istri yang baik, Kaka sayang Nayla."
Bianka juga memeluk Nayla, menghapus air matanya yang bisa merusak make-upnya.
"Kak Bi terima kasih sudah menerima Nay di keluarga Chrispeter, menjadi putra papi dan mami, menjadi adik dari kak Rindu, sekarang Nayla akan Mejadi istri dari Raka."
"Kamu bagian dari Chrispeter."
Seluruh mata tertuju kepada Raffi yang untuk pertama kalinya dalam hidup melihatnya membawa seorang wanita, Akbar dan Kiara langsung tersenyum, semuanya diam menatap wanita cantik di samping Raffi.
"Siapa uncle?" Boy langsung berdiri tepat di hadapan gadis cantik milik Raffi.
"Masih kecil, nanti saat kamu besar baru Uncle ceritakan."
"Aunty cantik sekali, mau menjadi pacar Boy?"
Raffi langsung melotot, senyuman menyejukkan terlihat, tangan putih bersih membelai rambut Boy penuh kelembutan.
"Boy, jangan main embat, tidak kasihan melihat Uncle menjadi jomblo satu-satunya."
Acara langsung akan di mulai, pengucapan janji suci mulai terdengar, suara tangisan kebahagiaan terdengar, Pernikahan Raka dan Nayla sudah lama di nantikan oleh Riani.
Kesibukkan Raka membuat Riani harus mengancam putranya untuk kembali karena akan menikahkan Riani dengan pria lain, rencana Riani berbuah manis Raka kembali langsung melamar.
"Kak Boy, Rin mau mahkota itu?"
"Baiklah, tunggu sebentar."
Boy langsung berjalan mendekat meminta Nayla menunduk, dengan senyuman Nayla langsung menunduk menyerahkan mahkota. Kebiasaan Boy belum juga berubah, dia masih menyukai mahkota pernikahan.
Dengan lembut Boy memasangkan mahkota di kepala Rinda yang sudah tersenyum bahagia.
Reza mulai bosan dan mengantuk, dia langsung melangkah pergi. Kai yang melihat Reza pergi langsung mengikutinya, kedua bocah melangkah keluar duduk di tangga ruang masuk sambil bersantai.
Mata Reza tajam melihat ke depan, dengan senyuman licik, Reza menekan jam tangannya. Tidak lama body sudah keluar ikut duduk bersama melihat di depan mereka segerombolan orang yang tidak menerima pernikahan.
"Kak Boy, apa sejarah keluarga Chrispeter sehingga banyak musuh."
"Generasi utama memperebutkan harta, sehingga para penerus berpisah tapi bersatu kembali di sebuah panti, dan generasi kedua yang paling kejam."
"Haikal pembunuhan berdarah dingin, Rian manusia gila penelitian, tidak takut mati dan dengan mudah membunuh, Akbar yang paling baik juga pelindung, sedangkan Roy pemuda dengan gaya santai, bisa membuat bom dan dengan mudah juga bisa membunuh." Senyum Kai terlihat saat melihat kekejaman kakek mereka.
__ADS_1
"Akbar pernah membunuh tidak?" Rinda duduk sambil minum susu.
"Pastinya pernah, bahkan Bu Bunga, mo Dara juga pernah karena mereka Mafia wanita." Boy tersenyum, bangga juga dengan Kai yang pintar.
"Generasi kakek serem, kalau generasi ketiga semuanya wanita lalu generasi kita." Reza menatap semuanya.
"Gabungan!"
Keributan terjadi, keamanan sudah heboh di dalam semuanya binggung mencari empat bocah yang tidak terlihat.
Tangisan Rin kuat, membuat Rindu langsung panik, melihat kening putrinya benjol besar, tidak lama juga Miko menggendong Kai menyerahkan kepada Kei.
"Rin kenapa sayang?" Bianka panik melihat di kecil terluka, sampai menangis sesenggukan.
"Rin jatuh dari tangga, kepala Rin hampir copot, es krim Rin juga tumpah." Bianka dan Rindu saling tatap menahan tawa, mereka pikir berkelahi ternyata mempertahankan makanannya.
"Kalau Kaira kenapa sayang?" Bianka melihat rambut Kai yang berantakan.
"Tidak tahu, tiba-tiba saja banyak orang bertengkar, kak Boy juga ikut bertarung, Reza juga di sana, Kai ikut saja."
Bara dan Asep langsung berlari tabrakan ingin melihat anak mereka, semuanya sudah terbiasa dengan penyerang dadakan jadi tidak panik, yang membuat panik tangisan Rinda yang datang dengan kepala benjol.
Bianka menunggu putranya dan putra Reva muncul, ingin melihat keadaan mereka. Suara kemarahan Boy sudah terdengar, semuanya melotot melihat Reza yang penuh darah, Boy tidak kalah penuh luka.
Bianka dan Reva langsung terduduk lemas, Reva lebih shock lagi, putra kecilnya sudah berani melihat pertengkaran, Reva langsung menatap Asep tajam.
Bi hanya bisa menghela nafas, Boy akan menyerang jika dia di sakiti.
"Rin juga mau seperti kak Boy, lucu sekali." Rindu menepuk jidatnya, meminta Raffa membawa putri cerewet mereka.
"Sekarang kasih alasan ke Bunda alasan kamu berkelahi?"
"Tanya Reza Bun."
"Kenapa Reza?"
"Karena kamu tidak akan tahu kehebatan kamu, jika kalian tidak merasakan yang namanya terluka dan jatuh." Boy dan Reza menjawab bersama.
"Ohhhh jadi kalian berdua sedang tes kemampuan." Bianka geleng-geleng.
"Betul Bunda."
***
JANGAN LUPA LIKE COMENT DAN VOTE TAMBAH FAVORIT JUGA YA
SEKALIAN JANGAN LUPA KASIH HADIAH JUGA YA BIAR AUTHOR TAMBAH SEMANGAT UP NYA
__ADS_1
***