
Aroma bunga tercium menyengat, Mentari memeluk lengan Reza yang langsung memukul tangan Mentari.
Reza berjalan pelan melihat ruangan yang penuh bunga, Tari langsung mendorong tubuh Reza sampai terguling.
Tatapan mata Reza tajam melihat Tari, sebuah tombak sudah menancap di dinding. Reza berdiri menyambut tangan Tari untuk berjalan bersamanya.
"Tuan baik-baik saja?" Mentari mengusap punggung Reza.
Reza hanya berdehem, masuk ke dalam ruangan yang sangat harum, berjalan semakin jauh, terlihat banyaknya wanita tanpa busana terkulai lemas tidak berdaya.
Aroma bunga digunakan untuk menutupi bau bangkai yang ada di depan mereka, Reza meminta Mentari menunggu, Reza masuk sendiri, karena kemungkinan banyak mayat di dalam.
Mentari menolak tetap ingin bersama Reza, tetap bergandengan.
"Tuan, jangan berpisah bisa saja mereka tahu kita ada di sini."
Reza mengalah langsung menarik Mentari masuk, secara otomatis pintu tertutup dan terkunci, Reza berusaha membuka kunci, tapi gagal.
Keadaan gelap gulita, Reza mengumpat dalam hati, ucapan Mentari ada benarnya, kedatangan mereka sudah disambut.
"Tuan sebaiknya kita terus berjalan ke dalam, pasti ada sesuatu yang akan kita temukan."
"Bagaimana jika di dalam jebakan?"
"Kita tidak punya pilihan kecuali menghadapinya, jika ada pintu masuk, seharusnya ada pintu keluar, berdiam di sini tidak akan membuahkan hasil." Tari menggenggam erat jari jemari Reza.
Sudah cukup jauh Reza dan Tari berjalan, memasuki ruangan yang terang cahaya lilin, Reza langsung menutup mata Mentari saat melihat tumpukan mayat membusuk.
"Pejamkan mata kamu?"
Tari berdiri diam, mendengar suara pertarungan, langsung membuka matanya kaget melihat Reza bertarung dengan puluhan orang, Tari juga melihat tumpukan mayat yang sudah tidak berbentuk.
Seseorang menyerang Tari dengan tombak, tapi dia berhasil menghindar. Mentari mencoba konsentrasi, mencoba untuk fokus melupakan apa yang ada di tanah.
Mentari maju menyerang, Reza berteriak meminta Tari berhati-hati. Orang yang menyerang mereka, bawahan seseorang yang pernah berhadapan dengan Reza.
"Selamat datang Za, biasanya kamu seorang diri, tapi sekarang membawa pasukan." Seseorang tertawa melihat Reza, dia akan memastikan Reza mati ditangannya.
"Jangan bermimpi kamu yang mati di sini."
"Pacar kamu cantik, tapi terlalu muda."
"Kamu pikir aku sudah tua? berapa banyak penjahat yang ada di sini?" Reza menatap tajam, menarik Mentari agar berdiri di belakangnya.
__ADS_1
"Sangat banyak, semua orang yang datang tujuan menguasai tempat ini."
"Apa istimewanya tempat ini? banyak mayat." Tari menatap sinis ke arah bawah, Reza menarik tangan Tari agar tidak fokus ke bawah.
"Memang itu yang dicari, tempat kejahatan tapi dijadikan tempat kebaikan, di sini siapapun yang mati dianggap suatu anugrah."
Reza langsung berlari, menarik Mentari bersamanya. Puluhan tombak sudah menembus jantung, seluruh orang mati berdiri tertancap tombak.
Mentari dan Reza berhenti di ujung lorong, membalik badan melihat puluhan tombak sudah tergeletak.
"Terlalu banyak bicara, akhirnya mati ditempat." Reza tersenyum melihat genangan darah mengalir.
"Tuan, terlalu banyak orang yang datang ke sini menganggap tempat ini hal yang mudah dimasuki, tanpa mereka sadari sesungguhnya tempat ini bisa menjadi kuburan mereka." Mentari tidak nyaman mencium bau amis darah.
Reza menganggukkan kepalanya, membuka sebuah pintu yang membuat Reza dan Tari cukup terkejut.
"Wow, banyak sekali Tuan."
"Jangan disentuh."
Reza kaget melihat tumpukan emas sampai ke atas langit bangunan, suara beberapa orang terdengar, Reza dan Mentari langsung bersembunyi.
Reza kaget melihat siapa yang dia lihat, Noni yang memanfaatkan Boy ada di dalam ruangan, tertawa kuat mengatakan jika dia berhasil menyingkirkan Boy dan kekasihnya, sekarang mungkin kekasihnya Boy sudah menjadi mainan manusia kanibal, memuaskan hasratnya, sampai seluruh tubuhnya terkoyak-koyak.
"Bagaimana nasib kak Lian?" Tari menatap Reza yang mengusap air matanya.
"Jangan menangis."
Reza mengacak rambutnya, Boy bodoh sekali mementingkan kunci mengabaikan keselamatan Lian. Dia sibuk menasehati Reza jika tidak sendiri, padahal dia juga sama saja pelupanya.
Tari menatap tajam Noni, jika sampai terjadi sesuatu dengan kakaknya, dia bisa saja membunuh siapapun.
"Tuan, lakukan sesuatu agar mereka tidak bisa memanggil pasukan, wanita ini ingin tahu rasanya mati." Tari langsung berdiri, berjalan keluar ke arah Noni.
Reza panik, mengambil ponselnya tapi tidak bisa konsentrasi melihat Mentari mengeluarkan belati.
Mata Tari menatap ke samping, langsung melayangkan tendangan sebuah tombak menancap ke arah tumpukan emas sampai menutup pintu keluar.
"Siapa mereka?" Noni menatap tajam Mentari.
"Tidak ada waktu untuk kita berkenalan, setidaknya harus ada yang mati di antara kita." Mentari berlari, tapi sebuah senjata mengarah ke arah dada, Reza berhasil menangkap Mentari sampai terguling.
Belati Mentari sudah menancap di tangan pengawal Noni, Reza langsung berdiri melihat Noni melarikan diri.
__ADS_1
"Berapa nyawa kamu Mentari?" Reza langsung berlari, mengejar Tari yang sudah lari lebih dahulu.
Aksi kejar-kejaran terjadi, saling memukul dan menyerang. Mentari memukul kepala Noni membenturkan di besi, mencekik lehernya menarik sampai ke kobaran api unggun.
Reza berhasil melumpuhkan pengawal Noni, terdiam melihat kekejaman Mentari, dia membakar wajah Noni, tidak memberikan ampun sekalipun Noni berjanji akan mengatakan keberadaan Berlian.
Tari tidak membutuhkan informasi, baginya siapapun yang mencelakai keluarganya lebih dulu, dia harus mati.
Teriak Noni histeris, wajahnya terbakar, rambutnya juga habis terbakar, tangan kaki dipatahkan.
"Kamu harus hidup dalam keadaan cacat dan buruk rupa." Tari tersenyum menatap Noni yang teriak histeris.
"Ayo kita pergi Tari?" Reza menarik tangan Mentari.
Suara Boy meminta Reza cepat keluar, dari suara Reza sudah paham Boy sedang marah.
"Tuan apa itu?"
"Gila! Boy membakar bangunan ini. Sebaiknya kita pergi."
"Bawa wanita tadi, aku ingin dia hidup menderita." Tari menarik Noni keluar bersama mereka.
Berlari menaiki tangga, sampai menemukan pintu keluar.
Reza dan Mentari menggelengkan kepalanya melihat kobaran api, Boy memang gila jika sudah marah, Reza yakin pasti ada sangkut pautnya dengan Berlian.
"Boy mengerikan."
"Dia putra seorang mafia kejam, baginya menghancurkan apapun bukan hal yang sulit."
"Kak Lian."
"Boy tidak akan keluar, tanpa membawa Berlian bersamanya."
"Mereka berdua masih ada di dalam, bagaimana jika mereka terbakar?" Mentari memonyongkan bibirnya mengkhawatirkan Berlian.
"Mereka pasti keluar, tidak mungkin Boy bunuh diri di sana. Sebaiknya kita pergi, sebelum banyak yang datang."
Reza dan Mentari berlari menjauh, meninggalkan Noni tergeletak tidak sadarkan diri, sesekali Tari melihat kobaran api yang semakin besar.
"Kak cepat keluar, Tari akan menunggu di sini." Tari berdiri menatap lautan, Reza duduk dipinggir pantai memainkan tabletnya.
***
__ADS_1