BIANKA DAN MAFIA KEJAM

BIANKA DAN MAFIA KEJAM
S2 PULANG


__ADS_3

Mobil Lian sampai di Mansion, Reza langsung keluar melangkah ke kamarnya. Boy langsung berlari ke arah lab.


Rinda dan Maxi juga sampai, tangisan Rinda sudah pecah karena marah kepada Reza dan Tari. Langsung berlari ke kamarnya untuk pulang ke Mansion Chrispeter.


Max binggung harus menemui Miko atau menenangkan Rinda. Miko berlari mengejar Rinda, masuk ke dalam kamarnya.


Rinda mengambil koper besar, memasukan bajunya, alat make up nya. Max menahan tangan Rinda untuk menenangkan diri terlebih dahulu.


"Rin, sebaiknya kita melihat keadaan Miko."


"Rinda akan membawa kak Miko pulang, sejak Rinda kecil hanya kak Miko yang menjadi teman Rinda, dia bukan hanya sekedar kakak. Teganya Reza dan Tari lebih memilih orang lain, walaupun mereka tidak dekat dengan kak Mik, tapi setidaknya kita tinggal bersama selama tiga tahun, makan bersama, bercerita, tapi mereka tega melihat kak Mik kesakitan." Rinda terus mengoceh, sambil terus menangis.


"Kak Max mengerti kesedihan kamu, kita juga tahu betapa dekatnya kalian. Kita bantu Kai mengobati Mik."


"Tidak kak, Rinda harus memberitahu Mami soal keadaan kak Miko, Rinda tidak ingin tinggal di sini lagi, semuanya pengkhianatan." Rinda langsung menarik kopernya.


Di dalam kamarnya Reza langsung menghidupkan shower, membuka bajunya perlahan. Membasahi luka tubuhnya dengan air, Reza megambil alat mengeluarkan pelurunya dari lengannya, satunya ada di pundaknya.


"Seharusnya kalian menembak tetap di dada atau kepala, kenapa harus meleset." Reza menghela nafasnya melihat air berubah merah, membiarkan darah keluar sepuasnya.


Reza langsung menangis mengusap dadanya, saat dirinya terluka tidak ada Mentari di sisinya. Sekarang ada lelaki lain yang Mentari obati, bukan dirinya lagi.


Tangan Reza mengusap dadanya, memukul kuat merasakan sesak. Reza langsung terduduk di bawah tetesan air merasakan kehancuran.


Selesai mandi Reza megambil handuknya, memakai celana mengeluarkan peralatan obat untuk menutup luka, tapi langsung membantingnya memutuskan untuk tidur, berharap saat membuka mata, sakitnya telah menghilang.


Berlian masih berdiri di depan pintu, dia binggung harus melakukan apa. Suara mobil masuk gerbang terdengar, Mentari berlari kencang meninggalkan botol ke tangan Lian.


Tatapan mata Lian kebingungan melihat botol, langsung melangkah keluar langsung balik lagi ke dalam.


"Botol ini untuk siapa?" Lian menatap sambil tersenyum.


"Untuk kak Miko, Nando mati saja."


"Untuk Nando kak Miko mati juga, jadi Nando saja yang mati." Lian tersenyum langsung melangkah masuk ke dalam lab.


Lian menatap tajam Miko melihatnya sudah duduk dan tersenyum melihat Lian, Berlian menunjukkan botol penawarannya.

__ADS_1


"Kak Miko sudah sembuh, tidak butuh botol ini lagi?" Lian menatap Kai, dan Boy.


"Tidak Lian, Reza sudah mengirimkan resep obat dari buku yang aku buat saat kalian ada di kapal."


"Berarti ini untuk Nando saja." Lian langsung melangkah keluar.


"Boy, pacar kamu sejak pulang kurang normal. Lian yang pendiam berubah menjadi sedikit bego." Miko tertawa, Boy langsung tertawa kuat membenarkan ucapan Miko.


"Spesial Lian yang sekarang, bisa diajak gila bersama. Dia sepertinya pernah tinggal di desa pelawak." Boy berlari keluar.


Kaira membantu Miko berjalan untuk kembali ke kamarnya, senyuman Miko terlihat mengucapkan banyak terima kasih.


Mentari yang berlari kencang mengabaikan Rinda yang membawa koper, tidak mendengar teriakan Rinda yang sangat kuat.


"Mau apa kamu ke sini perempuan tidak tahu diri, kamu diharamkan menginjak Mansion ini. Selamatkan saja kekasih baru kamu, sudah puas kalian menyakiti kak Miko." Rinda menangis histeris menuruni tangga.


Boy, Berlian, Miko dan Kaira melihat Rinda yang menangis, mencaci-maki Tari. Miko langsung berjalan menghadang Rinda.


"Kak Miko mereka jahat, tega melihat kak Miko sakit. Rinda gagal membawa obatnya, bagaimana ini? ayo kita pulang kak, temui Mami pasti tahu solusinya."


"Sekarang Rinda ingin pergi ke mana?"


Miko tersenyum, menutup matanya mendengar tangisan Rinda. Rinda salah satu alasan Miko ingin menjadi orang yang berbeda, walaupun sejak kecil sudah dibuang, Rinda gadis kecil yang sangat menghargainya.


Kasih sayang Rinda mengubah sikap Miko yang dingin, keras, juga banyak diam menjadi ceria, suka tertawa, melakukan banyak hal yang lucu dan gila.


"Rinda, nanti pulangnya."


"Rinda tidak ingin kehilangan kak Miko, Rinda marah dengan mereka berdua."


"Rin, saat kamu ingin mengatakan cinta, memaksa tuan Raffa menerima Maxi, kak Miko marah sama kamu, tapi saat tahu kamu terluka patah hati, kak Miko marah dengan Max, tapi lebih marah kepada diri sendiri. Satu tidak bisa menghentikan kamu, dua tidak bisa mengobati luka kamu, ketiga kak Miko kehilangan keceriaan adik kak Miko. Jangan salahkan siapapun Rinda, tidak ada yang ingin kehilangan dan terluka, jika kita boleh memilih ingin selalu hidup bahagia."


"Terus Rinda harus bagaimana?"


"Jangan salahkan Tari, apalagi Reza."


"Iya Rin, Reza yang sudah berjuang mendapatkan buku kembali sehingga aku bisa langsung bertindak, kak Miko tidak membutuhkan penawarnya lagi, dia bisa pulih perlahan." Kai tersenyum menatap Rinda, menghapus air matanya.

__ADS_1


"Terus obat ini harus Lian apakan?"


"Katanya untuk Nando?" Boy menatap Lian yang melotot.


"Astaga Berlian lupa, keburu mati Nando karena mendengar omelan Rinda." Lian langsung melangkah keluar.


Rinda melempar Lian dengan sepatunya, beraninya menyalahkannya jika Nando mati. Miko memeluk Rinda sambil tertawa mendengar Lian yang konyol.


Max tersenyum menepuk pundak Miko, mengatakan Rinda baik-baik saja tidak harus dipeluk lama. Kai dan Mik mengerutkan keningnya, tidak biasanya Max mengurusi hal tidak penting.


Maxi menarik Rinda, Miko tertawa langsung memeluk lengan Maxi.


"Tubuh aku masih lemas Max, tolong pinjamkan lengan kamu yang kokoh untuk menuju sofa."


Mentari berlari dari lantai atas, melewati yang lainnya. Masuk ke dalam lab megambil sesuatu.


"Mentari ada apa?" Kaira langsung menyingkir hampir ditabrak Tari yang berlari kembali ke kamar Reza.


Mentari membuka pintu, melihat Reza tidur tengkurap. Handuknya berwarna merah darah, langsung Tari membuangnya.


Air mata Mentari menetes membersikan luka perlahan. Mulai menjahit lengan, juga pundak Reza. Rasa sakit tidak membangunkan Reza sama sekali.


Tari melihat wajah Reza yang pucat, melihat air mata mengalir dari matanya sambil tidur.


"Sakit ya tuan, maafkan Tari yang meninggalkan tuan tidak mempedulikan tuan lagi. Jangan sakit. Hati Tari lebih sakit jika tuan terluka." Tari menghapus air mata dari pipi Reza.


Menutupi tubuh Reza dengan selimut, memasangkan infus, juga menambah darah karena Reza kehilangan banyak darah.


Mentari tersenyum menatap Reza yang menyelamatkannya, melihat Reza yang selalu diam membuat Tari tidak nyaman, apalagi Reza memintanya menyelamatkan Nando.


"Nando, bagaimana keadaan dia?" Tari menghapus air matanya.


***


JANGAN LUPA LIKE COMENT DAN VOTE TAMBAH FAVORIT JUGA YA


JANGAN LUPA KASIH HADIAH JUGA BIAR AUTOR SEMANGAT UP

__ADS_1


***


__ADS_2