BIANKA DAN MAFIA KEJAM

BIANKA DAN MAFIA KEJAM
S2 BERBICARA BERSAMA


__ADS_3

Matahari mulai terbit, Riani tersenyum menyambut pagi. Rinda juga tersenyum langsung memeluk neneknya, menciumi pipinya.


"Sayang, lihatlah indahnya lautan di pagi hari, sejuk tenang, menyegarkan."


"Nenek bisa sakit jika terlalu sering menghirup udara dingin, karena antara panas dan dingin harus imbang. Matahari pagi memang sejuk, tapi di tengah lautan sedang ada badai sehingga pantai memiliki gelombang yang tinggi." Rinda memeluk Riani dari belakang.


Senyuman Riani terlihat duduk bersama cucunya, menatap ke depan. Rinda menatap wajah cantik neneknya yang terlihat meneteskan air matanya.


Bahkan alam juga bersedih melihat Akhbar terbaring tidak berdaya, dia seorang kakak yang bertanggung jawab, sosok Ayah yang luar biasa. Sejak muda Akbar tidak pernah merasakan iri dengan kelebihan Haikal, Roy dan Rian.


Sekalipun ketiganya terus meningkatkan kemampuan, dia tetap dengan kemampuannya yang biasa, berkerja dengan normal menolong banyak orang.


"Kakeknya Kai orang yang sangat baik, sehingga dia pantas mendapatkan kasih sayang dari banyak orang, bahkan yang mahakuasa."


"Nek, kenapa Rinda tidak mendapatkan petunjuk apapun?" Rinda menggenggam tangan Riani.


"Petunjuk, memangnya kamu siapa yang punya kemampuan melihat masa depan seseorang?" Riani tertawa mengusap kepala cucunya.


"Nenek, benarkan Rinda tidak memiliki kemampuan itu?" Rinda terkejut.


"Sayang, dulu saat masih ada di hutan nenek merasa bukan manusia, lalu menikah dengan Rian yang super pemarah, posesif juga banyak penggemarnya, rasa curiga dan penasaran yang membuat banyaknya pemikiran."


"Nenek, Rinda tidak mengerti."


Riani tertawa lucu, tidak pernah bisa mengerjai cucunya yang jauh lebih pintar dari Rinda putrinya.


"Kamu lebih banyak mengikuti jejaknya Raffa yang sangat pintar, bahkan gen nenek hampir hilang. Bukan hanya kamu yang tidak memiliki petunjuk, tapi nenek juga. Hanya saja ada beberapa burung gagak yang datang menyapa."


"Rinda hanya merasakan perasaan takut hukuman."


"Kamu berhubungan kembali dengan Max, memangnya Maxi sudah berani mengahadapi Papi kamu, mengulangi kejadian tiga tahun yang lalu."


"Rinda tidak tahu, ada permintaan, hukuman, juga sebuah perintah yang mana bagian Rinda?" bibir Rinda monyong.


"Kakek Akbar mempunyai permintaan, kamu mengabulkannya?"


"Iya ada, tapi Rinda tidak mendengarkannya."

__ADS_1


"Permintaan ini untuk Kaira bukan kamu." Riani tersenyum melihat Rian berdiri di depan mereka.


"Kalian berdua masih bisa tertawa, sedangkan kami bertiga berkumpul menyimpan kesedihan. Kehilangan kak Akbar sama seperti rasanya kehilangan Rinda. Apa yang sedang dilakukan putriku sekarang? kapan aku akan bertemu dengannya?" Rian duduk di rerumputan, memeluk kaki istrinya.


"Kakek jangan bicara seperti itu, Rinda masih ingin bersama kakek dan nenek melihat Rinda menikah dan hidup bahagia, kalian tidak boleh pergi dulu." Rinda menangis duduk memeluk kaki Riani.


Rian mengusap kepala cucunya, memejamkan matanya mengigat moments saat pertama bertemu Akbar, juga saat melihat kelahiran putrinya.


"Sayang mungkinkah keluarga kita akan berduka kembali?" Rian menatap wajah Riani yang tersenyum sambil meneteskan air matanya.


Rinda langsung berdiri, menatap neneknya langsung berlari ke dalam rumah. Rian panik langsung berdiri mengejar cucunya, sedangkan Riani hanya tertawa kecil melangkah masuk ke dalam.


Di ruang tamu seluruh keluarga kumpul, Kiara tersenyum melihat ketegangan. Rinda duduk di samping Reza, menatap Boy dan Kai yang pucat.


"Boy, Kai, Reza dan Rinda masuk ke sini panggil Maxi, Miko, Berlian dan Mentari." Haikal meminta keempat cucu Chrispeter masuk.


"Permintaan, perintah, apa satunya. Sial kenapa bisa lupa." Rinda bergumam pelan membuat Kai mengerutkan keningnya.


Rian masuk bersama Rinda dan Kaira, duduk di kursi panjang. Kaira langsung mendekati kakeknya yang tersenyum masih terbaring di atas tempat tidur.


Kiara tersenyum melihat suaminya menunjukkan perkembangan, sudah bisa makan dan minum setelah berbicara dengan Rinda, bahkan berusaha untuk duduk, alat bantu pernafasan juga sudah dilepas.


"Tidur saja kak,"


"Bantu kak Akbar Haikal, ini akan menjadi pembicara pajang kita."


Haikal langsung berdiri membantu Akbar untuk duduk di kursi roda, Roy juga membantu memberikan tempat untuk Akbar duduk bersama mereka.


Maxi mengetuk pintu melangkah masuk memberikan hormat, langsung duduk di antara Kai dan Reza.


Miko juga muncul bersama Lian dan Tari, ketiganya langsung duduk di kursi yang sudah disiapkan.


Air mata Tari menetes, duduk menundukkan kepalanya tidak ingin melihat ke arah Akbar. Lian yang tersenyum menatap Akbar yang juga tersenyum.


"Mentari jangan menangis, kakek belum mati." Akbar meminta Tari duduk di sampingnya.


Kepala Mentari menggeleng, dia tetap duduk di tempatnya.

__ADS_1


"Kenapa kamu menangis?"


"Kakek, Tari bermimpi seseorang datang, tapi tidak terlihat wajahnya. Dia bercerita dulu ada dua manusia kanibal yang sangat kuat, mereka tidak memiliki hati dan perasaan, seorang dokter datang selalu memberikan obat penenang, selama satu jam bercerita. Apa dia Ayah Tari dan kak Lian, dokter yang datang Kakek Akbar." Tari menutup wajahnya.


"Ayah kalian berdua bukan seorang kanibal, mereka memang sangat kuat bahkan tubuhnya kebal senjata, sehingga orang menyebutnya manusia kanibal, di penjara di tahanan Chrispeter. Kakek hanya ingin mereka merasa cinta, juga hidup kembali." Akbar tersenyum melihat Lian juga meneteskan air matanya.


"Lian, Tari kehadiran kalian sudah kami persiapkan, sebelum kalian lahir sudah kami lindungi. Kalian harus kuat jika ingin berada di antara Chrispeter."


Berlian melangkah duduk di dekat Akbar, menatapnya sambil menangis. Lian mengigat sesuatu saat dirinya selamat dari pulau yang membuatnya penuh penderita.


"Kakek Akbar yang menyelamatkan Lian."


"Kakek bertanya apa yang kamu inginkan saat kita bertemu tiga tahun yang lalu?"


"Hidup normal, bebas, penuh kebahagiaan jauh dari kekerasan juga pertempuran." Berlian menangis sesenggukan langsung memeluk Akbar.


"Sudah banyak hal yang aku lakukan di dunia ini, apapun yang kakek lakukan didampingi oleh tiga orang hebat. Sejak kecil bertemu dengan Haikal, Rian dan Roy membuat kakek tidak memiliki rasa takut karena mereka akan datang melindungi, dan menyelematkan kakek." Akbar menghapus air matanya.


"Satu keinginan yang belum kakek capai, anugerah terindah bisa mencintai seorang Kaira, memiliki keluarga, diberikan putra dan putri juga cucu yang baik, semuanya sudah kakek Akbar miliki hanya satu yang belum terlihat, saat penerus generasi kalian. Berlian, Tari, Rinda dan kamu Kaira Kakek harap kalian bersedia melahirkan, membesarkan, mendidik, juga menjaga penerus Chrispeter." Akbar mengusap kepala Lian dan Kai yang memeluknya erat.


"Rinda bersedia. Kakek ingin cowok, cewek, atau kembar dua, tiga, empat atau lima sekaligus." Rinda tersenyum membayangkan banyaknya anaknya.


"Rinda kamu ingin melahirkan anak manusia atau anak kucing?" Boy mengerutkan keningnya.


"Kak Boy, Kakek Rian kembar tiga, berarti Rinda bisa kembar lima pasti perut Rinda besar sekali." Rinda berdiri mengukur besarnya perut Rinda.


"Masalahnya siapa bapaknya, kak Maxi tidak mampu memberikan kamu bayi kembar lima." Reza menatap sinis.


"Siapa bilang tidak mampu, kak Maxi bahkan sebelas juga mampu. Lian mendukung kamu Rinda." Berlian berpelukan mengusap perut Rinda.


"Rinda kembar sebelas, Kak Kai dua belas, Tari berapa ya, sepuluh, kak Lian lima belas." Rinda dan Lian melihat ke atas menghitung banyaknya bayi langsung merinding.


"Kebanyakan Rinda, bisa saja perut kita meledak." Lian tertawa bersama Rinda, Akbar juga tertawa melihat lucunya Rinda dan Lian.


***


JANGAN LUPA LIKE COMENT DAN VOTE TAMBAH FAVORIT JUGA YA

__ADS_1


JANGAN LUPA KASIH HADIAH JUGA BIAR AUTOR SEMANGAT UP


***


__ADS_2