BIANKA DAN MAFIA KEJAM

BIANKA DAN MAFIA KEJAM
S2 SALING MENGUATKAN


__ADS_3

Pintu terbuka, Keisya masuk menatap Lian yang masih duduk diam menunggu Miko. Kei melihat layar langsung membuka penutup Miko, merasakan detak jantung.


"Apa yang kamu lakukan Lian?"


"Hanya duduk saja Ma."


"Bukan, kamu melakukan sesuatu kepada Miko."


"Tidak, usaha Lian dan Rinda tidak ada gunanya. Kita bersusah-payah membuatnya, tapi kak Mik sudah tidak bangun lagi." Lian menghapus air matanya.


"Di mana penawarannya?" Kei mengecek infus.


"Lian suntikan diinfus."


"Kenapa bisa bereaksi padahal aku dan Rindu gagal?"


"Kak Miko sebelumnya tekena racun mematikan ciptaan Kaira, penawarannya menghilang, kita bertarung mendapatkannya kembali, lalu ...."


"Berarti dalam tubuh Miko ada penawar sebelumnya?"


"Iya, efek penawar akan hilang setelah dua minggu."


"Kenapa lama sekali?"


"Sebenarnya virus yang Kai ciptakan untuk orang yang memiliki penyakit berat, dosis juga sangat besar, sehingga tidak diizinkan untuk dikonsumsi oleh sembarangan, jika salahgunakan akan menjadi obat mematikan."


"Hebat, akhirnya setelah puluhan tahun racun ini memiliki penawarnya."


"Sudah Rinda katakan Mama, kita menemukan penawarannya?"


"Bukan seperti itu sayang, kita sudah bertahun-tahun meneliti tidak ada penawar yang bisa menyembuhkannya, tapi ternyata selama tubuh sudah terinfeksi dan mendapatkan pertahanan kekebalan, penawar berfungsi dengan baik, sehingga mengembalikan detak jantung secara normal." Keisya bertepuk tangan langsung berlari keluar.


Lian menggelengkan kepalanya, menghela nafasnya melihat ke arah pintu menatap Rindu, Bianka dan Reva masuk mengecek keadaan Miko.


"Pantas saja Paman meninggal padahal sudah disuntikan penawar, karena tubuhnya lemah, berbeda dengan Miko yang sudah penuh luka, tapi tubuhnya kuat karena sudah ada vaksin." Rindu membuka mata Miko.


Bara dan yang lainnya juga melihat keadaan Miko, Lian masih kebingungan tidak mengerti pembicara para orang tua.


"Kepala Lian pusing." Berlian melangkah pergi.


Reza keluar dari kamar Rinda, meminta dua pengawal berjaga. Langsung menuju kamar Kaira yang juga sudah dijaga tiga pengawal dan satu dokter.


Reza melangkah turun melihat Berlian yang duduk diam seorang diri, Reza juga duduk menatap Lian tanpa saling berbicara.


"Paman Ahlan meninggal Lian?"

__ADS_1


"Sebaiknya Lian melihat ke sana, bagaimana dengan Aunty Ais?"


"Dia dikembalikan kepada keluarga suaminya, seluruh keluarganya diusir dari negara ini." Reza melangkah bersama Lian menuju kamar Paman Ahlan.


Mentari sudah menunggu, mata Tari terpejam sedang tertidur. Lian masuk melihat tubuh Paman terlihat normal, tidak ada efek dari virus, karena obat penawar, tapi Paman tetap tidak bisa diselamatkan.


"Bagaimana keadaan kak Max? dia pasti paling kehilangan."


"Bagaimana hubungan kita setelah ini? kak Max mungkin memilih untuk pergi."


"Tari akan ikut kak Max."


Reza langsung menatap tajam, menundukkan kepalanya tidak tahu harus berkata apa lagi.


***


Boy melaju mobil tanpa tujuan, Maxi menatap keluar jendela dengan tatapan kosong. Rasa lapar dan haus tidak mereka rasakan lagi, hanya kesedihan yang terlihat.


Mobil Boy berhentikan di pinggir kebun binatang, Max melihat dua anak kecil sedang bermain bersama melihat hewan.


Maxi turun mengikuti langkah kaki anak-anak, Boy juga turun mengikuti langkah kaki Max. Melihat anak laki-laki berlari memeluk ayah mereka masing-masing.


"Boy tidak memiliki sahabat, pasti indah sekali bisa bermain bersama, bertengkar lalu saling merangkul." Boy tersenyum menatap Max, memberikan jaket, menukar baju mandi Max dengan jaketnya.


"Kak Max ayo bangkit, jangan seperti ini Kaira dan Rinda butuh kak Max."


"Bagaimana aku menghadapi mereka berdua Boy? aku penyebab Miko meninggal."


"Siapa pun yang ada di posisi awal, saat wanita itu masuk tetap akan mati. Kai dan Rinda tetap akan terluka."


"Jika aku di sana, dia tidak mungkin langsung menyerang Miko."


"Keinginan kak Miko ke kamar kehendak siapa? berarti kematian Paman Ahlan kesalahan Boy, berarti Boy yang membunuh Paman karena memintanya menemui Kak Max." Boy mengacak rambutnya.


"Sekarang kak Max ingin pergi, lari dari kenyataan. Bodohnya kak, kita yang hidup harus tetap menjalani kehidupan." Boy menepuk pundak Maxi.


"Aku tidak tahu harus melakukan apa?"


"Tidak perlu melakukan apapun, kita jalanin saja. Kenyataannya ini memang tidak mudah, tapi sebagai rasa hormat kita harus mengantarkan kak Miko dan Paman Ahlan ke tempat peristirahatan terakhir. Kalian sahabat jangan menolak untuk hadir." Boy merangkul Maxi yang menutup matanya.


"Menangis saja kak, lelaki menangis bukan karena lemah." Boy mengusap punggung Max untuk kuat.


Tubuh Max bergetar, banyak wanita menatap Boy dan Max yang terlihat seperti pasangan, Max langsung menyingkirkan tangan Boy melangkah dengan cepat menuju mobil.


Boy tersenyum langsung mengejar, membeli dua roti untuk mengganjal perut mereka, jika tidak terisi mereka akan ikut sakit.

__ADS_1


"Makan dulu roti ini kak, pasti dari malam kak Max belum makan."


"Terima kasih Boy."


Mobil melaju menuju Mansion, Maxi membuka bajunya yang masih lembab, langsung mengunakan jaket Boy.


"Bagaimana keadaan Paman Ahlan?"


"Kak Maxi tidak menyimak setiap orang berbicara, Paman meninggal dunia." Boy mengerutkan keningnya.


"Seperti aku kembali seperti dulu, ternyata aku masih gila, belum sembuh total."


"Orang gila tidak ada yang sadar jika dia gila, kak Max hanya belum bisa mengontrol diri. Siapa saja yang ada diposisi kak Max pasti akan hancur."


"Kamu kuat Boy, kamu yang paling kuat. Tolong bantu kak Max menguatkan Kaira dan Rinda."


"Mereka tidak perlu dikuatkan, mereka wanita tangguh. Hanya membutuhkan waktu untuk pulih." Boy tersenyum.


Sesampainya di Mansion, Boy langsung mengecek keadaan Rinda dan Kaira sedangkan Maxi berjalan menuju ruangan Paman Ahlan.


"Maafkan Max Paman." Max berdiri di depan pintu.


Bianka tersenyum menatap Maxi, tersenyum juga melihat putranya yang membawakan makan untuk kedua adiknya.


"Kehilangan bukan membuat kalian berantakan, tapi menjadi alasan agar kalian saling menguatkan, juga perduli. Saat kehilangan Rinda dunia kami runtuh, tapi Rinda berpesan dia tidak ingin hidup seakan mati, membuat seluruh orang semakin bersedih. Relakan yang pergi." Bianka berdiri di samping Max.


"Dia tidak pamitan nyonya, Miko hanya datang meminta tolong diobati. Dia ingin sembuh sehingga lukanya harus diobati." Max mengigit bibirnya.


"Dia menyayangi kamu Max, dia ingin kamu hidup lebih lama." Bianka menepuk pundak Maxi.


"Sejak Max kecil ingin sekali menemui kematian, ibu pergi Ayah juga meninggalkan Max, hanya Miko yang duduk sambil mengusap punggung Max melangkah bersama. Maxi bukan hanya yatim piatu, tapi tidak memiliki satupun keluarga." Max menundukkan kepalanya.


Bianka meminta Maxi beristirahat, pulihkan tenaga untuk pemakaman.


Berlian dan Tari keluar dari tempat ruangan Paman, langsung memeluk Maxi erat menahan air mata agar berhenti menangis.


"Tari maafkan kak Max menjadi penyebab Paman meninggal."


"Tidak kak, Paman sudah melakukan hal baik diakhir hidupnya, dia pasti bahagia." Tari memeluk Max meminta berjalan bersama saling menguatkan.


***


JANGAN LUPA LIKE COMENT DAN VOTE TAMBAH FAVORIT JUGA BIAR AUTOR SEMANGAT UP.


***

__ADS_1


__ADS_2