
Suara langkah kaki terdengar di dalam lorong, gemericik air terdengar. Jalan yang gelap tanpa penerangan, melangkah hanya dengan amarah dan emosi.
Langkah kaki berhenti membuka pintu ruangan, senyuman licik terlihat. Mengeluarkan senjata ingin menembak, sebelum tembakan tejadi tangannya sudah ditarik, dipeluk erat.
"Jangan mencari mati Berlian, kamu hanya boleh mati ditangan aku." Boy melepaskan lensa mata Lian mengambilnya kembali.
"Lian akan membunuhnya."
"Tidak semudah itu, jika hanya sekedar membunuh aku juga bisa." Boy menarik Lian menjauhi sebuah ruangan.
Berlian masih ingin memberontak, tapi cengkraman Boy jauh lebih kuat di pergelangan tangannya.
Boy mendorong tubuh Lian di dinding, mencengkram rahangnya. Memperingati Lian tujuan kedatangan mereka bukan untuk membalas dendam, tugas Lian mengawal Boy bukan mengungkit masa lalunya.
Berlian terdiam menyentuh wajahnya yang terasa perih, Boy sudah melangkah pergi meminta Lian mengikutinya tidak menerima penolakan Lian.
Berlian menendang batu, menatap tajam ke arah sebuah ruangan bersumpah akan kembali ke sana.
Lian melihat banyak bola lampu yang pecah, ternyata ada rekaman CCTV. Boy berjalan melewati seluruh lorong mematikan setiap CCTV.
Lian berlari berjalan di samping Boy, melihat tangan Boy mengontrol CCTV hanya dengan satu remote.
"Jika kamu membuat masalah sekali lagi, aku pastikan kamu lenyap dari dunia ini Lian." Boy melihat ke arah Berlian yang juga menatapnya tajam.
"Mereka membunuh kedua orang tuaku, tidak pantas hidup , mereka harus lenyap."
Boy berhenti, menarik Berlian menatap matanya, kematian Paman Ahlam bukan karena satu musuh, jika gugur pada pertarungan pertama, tidak ada gunanya lagi karena mati satu masih tersisa banyak.
Boy ingin mati semua, bukan hanya satu. Lian terlalu mudah tersulut emosi sampai tidak bisa mengendalikan diri.
Mentari berlari saat melihat Lian, memeluknya erat. Maxi menatap tajam Berlian memintanya mendekat.
Max mencengkram kuat lengan Lian, menatap tajam. Max tahu sejak kecil Lian sangat keras kepada, dia selalu mengingatkan kematian orang tuanya, selalu ingin melakukan balas dendam.
"Kamu tahu tindakan kamu berbahaya?"
__ADS_1
"Iya Lian tahu, seharusnya sejak aku kecil mereka membunuhku bersama orang tuanku. Kak Max tidak mengizinkan aku menyalahkan Tuan Bara, karena tugas Ayah melindunginya." Lian tertawa melepaskan tangannya.
"Lian kematian Ayah kamu sudah menjadi pilihannya, jangan salahkan tuan Bara. Jika kamu ingin menyalahkan aku juga bersalah." Max menaikan nada bicaranya, Lian sangat sulit mencerna penjelasan Max.
Boy tertawa, mendekati Lian dan Maxi. Lian menatap tajam Boy, terlihat tatapan tidak suka membuat Boy tertawa semakin kuat.
"Pertahanan tatapan kamu, setelah masalah ini selesai kamu aku berikan izin untuk membunuhku Lian, sebagai ganti kematian Ayah kamu. Agar kita berdua impas." Boy mengulurkan tangannya, Lian menyambut uluran tangan Boy.
"Jangan kasihan kepada aku Boy, jika kamu tidak ingin mati, maka kamu harus membunuhku. Melihat mereka semua hidup bahagia, penuh canda dan tawa, mengembalikan luka lama, aku tidak memiliki alasan hidup di dunia ini." Lian tersenyum menatap seluruh keturunan Chrispeter.
"Baiklah, pasti aku kabulkan. Kamu dan aku sekarang bermusuhan, kita akan saling membunuh setelah masalah ini selesai."
Rinda menghela nafas, melihat kupu-kupu putih mendekatinya, terbang di atas kepalanya.
"Kematian memang tidak bisa dihentikan, pada kenyataannya pasti akan tetap ada yang gugur." Rinda melangkah mendekati Miko, memintanya mengawasi Kaira, karena Kai bisa menjadi boneka mereka.
Miko menganggukkan kepalanya, dia akan melindungi Kai dan Rinda dengan nyawanya. Boy meminta semuanya berhati-hati, satu gugur tidak punya alasan untuk diselamatkan.
Reza yang asik duduk menghidupkan sebatang rokok, menghisapnya mengeluarkan banyak asap, meminta Tari tetap berada di sisinya.
"Lian jika kamu terus egois seperti ini, kamu akan gugur pertama kali."
"Tidak masalah, tempat ini akan menjadi kuburan bagi Lian." Berlian membuka jaketnya, mengencangkan sepatu high heels, mengikat tangannya dengan kain.
Suara jam berdentang terdengar, sebuah gerbang terbuka, Boy dan Reza tersenyum langsung melangkah keluar. Max melihat hutan kecil yang pernah dia dan Rinda masukin.
"Hutan buatan, pasti banyak hal yang menarik. Lihatlah bulan yang sangat terang, sehingga kita bisa melihat jalanan." Rinda menatap bulan.
"Tempat yang luar biasa hebatnya, kalian akan aku hancurkan." Boy langsung melangkah berjalan bersama yang lainnya ke dalam hutan.
Mentari menyentuh tangan Reza, mata Reza menatap arah pandangan Tari, bulan yang tidak bergerak, berarti sebenarnya tempat mereka berada sebuah bangunan yang dibuat seperti hutan.
"Tuan, banyak mata yang mengintai. Mereka seperti manusia serigala." Tari merinding.
"Mereka semua kanibal bukan manusia serigala."
__ADS_1
Kaira merinding mulai mencium bau amis darah, juga bau bangkai. Menatap Max yang ada di sampingnya.
"Ada apa Kai?"
"Aku mual, di sini banyak ramuan beracun. Pohon yang ditanam semuanya ada manfaatnya, tapi dalam katagori tidak baik. Mereka membangun hutan buatan, mengembangbiakkan tumbuhan beracun dan berbahaya." Kai ingin mual, Max merangkul pundak Kai, menutup mulutnya.
Rinda menyerahkan sebuah pil untuk Kai, Kaira langsung meminumnya dia sejak kecil sangat sensitif dengan ramuan beracun yang pernah dikembangkan oleh kakeknya Rian.
Langkah kaki Lian terhenti melihat sebuah tombak mengarahkan kepada Mentari, Lian berlari menahan tombak, tapi Reza sudah lebih dulu menghancurkannya.
Reza tersenyum melihat Lian, wanita memang tidak pernah bisa dipegang ucapannya, belum lama Lian mengatakan tidak akan peduli dengan siapapun, tapi dia ingin menyelamatkan Tari.
"Lian, kita berdua sama sulit mengendalikan emosi, jika sedang marah apapun diucapkan, tapi di dalam hati kecil tidak mungkin sanggup mengabaikannya. Berhati-hatilah kamu harus menyelamatkan diri kamu sendiri." Reza mengedipkan sebelah matanya menggoda Lian.
"Pikirkan nasib kamu sendiri."
"Aku dan Boy berbeda, jika kamu berpikir aku kejam salah besar. Boy lelaki paling kejam melebihi Ayah Bara, aku pastikan sekalipun kamu meregang nyawa, Boy tidak akan menyelamatkan kamu, jadi sebaiknya jaga ucapan kamu kepadanya."
Mentari menatap Lian yang hanya tersenyum, Tari juga menatap Reza yang memang sangat memahami karakter Boy.
"Tuan, Boy pernah jatuh cinta? ada hubungan apa Boy dengan Noni?"
"Tidak ada kata cinta dalam hidupnya, aku mendapatkan laporan terakhir tentang Boy, dia memang pengusaha, tapi dia juga bergelar pembunuh berdarah dingin. Noni satu-satunya orang yang bisa melarikan diri, istimewanya Boy, dia orang yang tepat janji."
"Bukannya Boy berjanji akan melindungi kak Lian?"
"Boy sudah menepati janji, menyelematkan Lian dari manusia kanibal, juga ...." Reza diam melihat Boy menatap tajam ke arahnya.
"Kalian berdua ingin mati, asik bercerita."
"Jangan sibuk mengurusi aku, pikirkan saja diri kamu sendiri." Reza menepuk pundak Boy.
***
^^^.^^^
__ADS_1