BIANKA DAN MAFIA KEJAM

BIANKA DAN MAFIA KEJAM
S2 FILM


__ADS_3

Suasana pagi yang cerah, Maxi tidak bisa tidur sama sekali karena Rinda yang jatuh pingsan, belum lagi drama Rinda melupakan pernikahan.


Reza menatap Max yang sedang bermain bilyar, terlihat keahlian Max yang ternyata punya bakat lain, bukan hanya hebat bertarung, menembak dan melumpuhkan.


"Kak Max hebat bermain bilyar, Reza saja tidak bisa."


"Hanya sekedar hobi Za, kamu kenapa di sini tidak mandi bersama dengan Tari?"


"Jangankan ingin mandi, dipeluk saja Reza dipukul. Perempuan aneh, sebelum menikah senyum setelah menikah melotot." Reza menghela nafasnya.


Maxi menghentikan permainan, menatap Reza yang sibuk memainkan ponselnya. Max langsung merampas melihat isi ponsel Reza yang penuh dengan pekerjaan.


"Sekarang kamu banyak berubah Za, biasanya masalah perusahaan Tari yang mengurus, sekarang kamu mengontrol sendiri."


"Proses belajar kak, Tari bukan sekretaris aku lagi, statusnya sekarang istri tidak mungkin Reza memerintahkannya mengurus perusahaan, jatuh harga diri Reza sebagai lelaki. Reza punya kemampuan dalam teknologi, hanya saja Reza harus mengubah metode, biasanya mengurus elektronik canggih untuk melumpuhkan musuh, sekarang gunakan elektronik canggih mengontrol perusahaan."


"Segala sesuatu pasti ada baik buruknya Za." Max duduk di dekat Reza menatap Boy yang wajahnya kusut.


"Pagi kak Max, pagi Za." Boy langsung mengambil gitar duduk di pojokan.


"Ada apa Boy?"


"Lian menolak malam pertama."


"Ini sudah siang kak, jangan konyol."


"Hanya bercanda Za, tapi respon Lian tidak bagus."


"Sama saja, Reza juga tidak mendapatkan respon bagus."


"Kak Max, sebagai pria yang lebih dewasa dari kita, sebelum memulai apa yang harus dilakukan?" Boy mendekati Maxi.


"Memulai apa?"


"Berhubungan kak Max." Reza juga fokus mendengarkan.


Maxi menggaruk kepalanya, bukan Max tidak ingin berbagi resep, tapi dia juga tidak tahu caranya, karena selama hidup Maxi tidak pernah menatap wanita dengan perasaan kecuali Rinda.


"Kalian membicarakan apa?"


"Malam pertama, kak Miko bagi kita resep. Menikah bersama, malam pertama juga harus sama-sama." Boy menarik Miko.


"Malam pertama bukan perlombaan Boy, bukan juga sebuah rasa yang harus dipaksakan. Jika wanita kalian belum memberikan izin jangan dipaksa, masih ada hari besok, besok, dan besok."


"Lalu kapan jika besok terus?" Max mengerutkan keningnya.


"Ada saatnya mereka sendiri yang akan terbuka."


"Terbuka atau membuka kak?" Reza tersenyum.


"Terbuka Reza, bukan baju yang dibuka, tapi perasaan siap."

__ADS_1


"Dapat pengalaman dari mana kamu Mik?"


"Kakek Akbar yang cerita."


"Kenapa kita tidak dipanggil?" Boy memukul meja bilyar.


"Bukan pembicaraan ke bagian situ Boy, tapi aku yang mencernanya seperti itu."


"Pernah melihat wanita tanpa busana?" Reza tersenyum melihat tiga pria di depannya menganggukkan kepalanya.


"Di mana?"


"Pulau Heart, bukannya di sana tidak ada yang menggunakan busana, tapi manusia kanibal."


"Bodoh! kalau mereka Reza juga melihat. Masalahnya mereka tidak memancing hasrat." Reza menghela nafasnya.


"Ingin menonton film dewasa." Boy langsung menghidupkan tabletnya, menyambungkan ke televisi besar di depan mereka langsung menayangkan video panas.


Boy mengganti banyak film, tidak ada yang membuatnya tertarik. Reza memijit kepalanya melihat ulah Boy.


"Sebenarnya kamu mencari apa Boy?" Maxi menghentikan Boy yang memainkan tabletnya.


"Boy merasa jijik melihat adegan mereka."


"Kak Boy pernah menonton mereka?"


"Belum, tapi mendengar suaranya pengen muntah." Boy memutar film fantastis.


Suasana langsung hening melihat film action fantastis yang membuat tegang, bukan hanya Boy, Reza, Max dan Miko yang fokus, tapi banyak juga orang di belakang mereka yang ikut menonton.


"Reza ingin di dalam air,"


"Menjadi putra duyung kamu Za." Boy tertawa kuat.


"Maknanya dari film tadi untuk hubungan pernikahan kita apa Boy." Miko menatap Boy serius.


"Maaf semuanya Boy lupa, jika kita berencana menonton film dewasa." Boy langsung terkejut melihat Ayahnya juga ikut menonton.


"Keren filmnya." Bara tersenyum.


"Kenapa kita baru menonton sekarang?" Asep bertepuk tangan kagum.


"Kalian berdua sibuk di markas terus." Raffa tersenyum sinis.


"Kamu yang sibuk sendiri, Riki apa lagi hanya perusahaan saja yang dia urus." Bara menghela nafas.


"Kalian kenapa ingin menonton film dewasa?"


"Hanya ingin belajar papa." Reza langsung tertawa kuat.


"Boy, Maxi, Miko dan kamu Reza. Hubungan suami istri bukan sesuatu hal yang bisa kalian pelajari dari film yang tidak baik. Hubungan bisa dibentuk melalui naluri, kalian ikuti keinginan hati kalian, dengan catatan tanpa pemaksaan."

__ADS_1


"Kak Boy yang suka memaksa."


"Asep yang paling berpengalaman, berapa banyak pelakor yang hadir dalam rumah tangga Lo." Bara tersenyum.


"Mana aku tahu, lebih tepatnya tidak perduli. Daddy hanya fokus membahagiakan Mommy, membesarkan Reza dengan baik, agar tidak seperti masa lalu Daddy. Cukup fokus pada satu wanita, tidak memikirkan banyaknya konflik, tapi lebih konsen memperbaiki diri, juga melangkah bersama pasangan ke arah positif."


"Daddy memang yang terbaik, Boy mengagumi Daddy, tidak heran Mommy belajar membuat racun, sedikit saja Daddy berpaling langsung dikasih racun." Boy tertawa memeluk Asep.


"Mommy bisa menangis, menenggelamkan satu negara." Reza tersenyum sangat mengenal Mommy.


"Siapa yang paling posesif, Mommy, Bunda, Mami atau Mama Kei."


"Hanya ada satu wanita yang normal di dalam keluarga Chrispeter, Mama Keisya, lainnya setengah gila." Bara merinding jika mengigat kejamnya Bianka.


"Hal paling lucu saat Raffa bertarung dengan Bianka, Maxi jatuh pingsan Raffa hampir cacat, terus hampir cerai." Bara tersenyum takut.


"Bagaimana rasanya Pi?"


"Rasanya marah, kesal, kecewa, takut, sakit, tapi jika kak Bi sampai terluka karena keegoisan Papi Raffa pastinya tidak mungkin bisa memaafkan diri sendiri. Belum lagi menghadapi Rindu yang mendadak diam. Kalian harus ingat ini, jika istri marahnya masih mengomel, memukul masih aman, jika mereka sudah diam, bersiaplah dunia kalian hancur."


"Bara setuju, jangan sampai Bianka marah dalam diam, hancur hidup Bara tidur di luar." Bara langsung melangkah pergi.


"Reva juga mengerikan jika marahnya dalam diam, jangan sampai kalian mengalaminya." Asep melangkah pergi.


"Santai saja, pernikahan indah. Jangan menjadi beban pikiran, kalian cukup fokus menjadi suami yang baik, juga membimbing istri kalian lebih baik lagi." Riki tersenyum langsung pergi bersama Raffa.


"Apa lagi yang kalian pikirkan, cepatlah bersiap-siap satu jam lagi kita jalan ke hotel tempat pesta." Raffa teriak kuat.


Boy menganggukkan kepalanya, tersenyum langsung melangkah pergi.


"Intinya pernikahan ikuti saja hati nurani, jalani, nikmati setiap prosesnya. Masalah kita yang membuatnya, bahagia juga kita yang menentukannya." Maxi tersenyum merangkul Boy.


"Kak Max sedikit benar." Reza lompat dari atas meja.


"Jadi bagaimana dengan malam pertama?"


"Harus sukses kak Miko, walaupun harus menunggu besok-besok dan besok." Reza tersenyum.


"Bagaimana jika kita taruhan? siapa yang unggul lebih dulu."


"Keuntungannya apa Boy?"


"Siapa yang pertama dia pemilik Mansion di kota."


"Setuju."


"Kalian gila, Mansion di kota aku yang membelinya, dengan uang pribadi." Maxi menatap tajam.


***


JANGAN LUPA LIKE COMENT DAN VOTE TAMBAH FAVORIT JUGA

__ADS_1


JANGAN LUPA KASIH HADIAH JUGA BIAR AUTOR SEMANGAT UP


***-


__ADS_2