BIANKA DAN MAFIA KEJAM

BIANKA DAN MAFIA KEJAM
KUTU BUKU


__ADS_3

Bianka membuka penyamarannya, Kristan cukup terkejut tapi langsung tersenyum.


"Di mana adikku?" Bianka menatap Kristan yang terlihat kacau.


Kristan menjelaskan keberadaan Rinda, mereka berpisah arah. Kristan pergi menuju tempat Bara, sedangkan Bianka langsung pergi menuju tempat Rinda.


Sepanjang jalan Bi tidak menemukan siapapun, tapi ada yang mengawasinya. Bi mencium bau yang membuatnya mual, tapi tetap menahan diri agar bisa stabil tidak terlihat lemah.


Bi berlari menendang kuat pintu, Kei sudah dengan posisinya siap menyerang. Tapi saat melihat Bi langsung tersenyum, cepat Bi mendekati Rinda l. Menyuntikkan anti virus untuk menghilangkan virus yang mulai menjalar di sekujur tubuhnya.


Rinda juga langsung meminum obat yang Bianka berikan, setelah melihat Rinda Bi sangat kaget melihat keadaan Nayla. Tidak bisa Bi bayangkan kemarahan Bara, pantas saja Kristan terlihat hancur.


"Bagaimana keadaan Nay?" Bianka menatap Kei.


"Pendarahan berhasil dihentikan, tapi karena alat medis yang terbatas takutnya dia mengalami infeksi."


Bianka memberikan suntikan kepada Nayla, berharap Nayla akan segera sadar sehingga dia bisa memprediksi keadaan Nayla.


Menunggu tidak akan menyelesaikan masalah, Bianka dan Kei dengan peralatan seadanya yang terdapat di dalam ruangan, membuat obat penawar untuk Nayla agar bisa segera sadar. Selama 2jam keadaan Rinda sudah normal Bi juga sudah meminumkan cairan ke dalam mulut Nayla.


"bangunlah Nayla, kamu harus ada sadar agar kakak bisa menolong kamu." Bianka berbisik pelan.


***


Di tempat lain Bara berhasil menemukan kunci tempat, di sana mereka bertemu dengan Boby Kamil dan para pengawalnya. Bara hanya tersenyum licik dan melemparkan belati membuat Boby marah.


"Kau sama seperti ayahmu! menjijikan."


"jangan sebut ayahku, kalau tidak aku akan merobek mulutmu."


"bukan hanya mulutnya Bara, keluarkan seluruh organ tubuhnya seperti yang dia lakukan terhadap Nayla." Kristan datang dengan matanya yang sudah gelap.

__ADS_1


"Apa maksud kamu Kristan?" Bara menatap Kristan tajam yang sudah menggenggam kuat tangannya.


"Dia membuat Nayla tersiksa, bertahan dengan satu ginjal."


Reva dan Rindu saling pandang, mereka tidak bisa membayangkan keadaan Nayla, belum lagi kekhawatiran terhadap Rinda. Tubuh Rindu bergetar memikirkan keadaan adiknya.


Boby memberikan perintah menyerang, Reva dan Rindu langsung maju. Kristan juga menyerang dengan membabi-buta membalaskan rasa sakit adiknya. Bara hanya terdiam memikirkan keadaan Nayla, tidak akan dia beri ampun jika memang benar Nayla terluka sampai separah itu.


Mata Bara langsung merah, memberikan perintah kepada Kristan menangkap Boby. Reva dan Rindu juga diminta mundur dengan cepat mereka semua mendengarkan perintah Bara. Dengan kemarahan Bara maju seorang diri melumpuhkan semua orang yang berjumlah puluhan.


Rindu ketakutan melihat Bara yang menggila, Kristan sedang bertarung dengan Boby, Reva mencoba membantu Kristan sampai Boby bertekuk lutut. Di saat yang bersamaan seluruh orang berjatuhan. Antara ingin tepuk tangan atau melarikan diri, Bara penuh dengan darah menyingkirkan seluruh pengawal Boby yang terkenal kuat.


Bara mendekati Boby memintanya diseret menemui Nayla, jika Nayla kehilangan ginjalnya maka harus digantikan dengan kedua ginjal Boby. Langkah Bara sangat menakutkan bagi Rindu dan Reva. Beginilah rasanya bertarung bersama dengan seorang mafia kejam.


Melewati lorong-lorong gelap, dengan mata tertutup Bara bisa membunuh dengan mudah. Reva dan Rindau tidak perlu bergerak karena Bara berada di depan mereka dengan kemarahannya. Tidak ada yang berani menegur Bara, Boby coba memberontak tapi mencekiknya dengan kuat membuat nyawa Boby diujung tanduk.


Bara berhenti saat ruangan terang benderang setelah melalui lorong. Asep terlempar yang langsung ditangkap Bara, tubuh Asep penuh dengan luka tapi masih bisa bertahan. Reva langsung berlari coba melihat keadaan Asep.


"Di mana dia?"


"Menuju ke tempat Bianka, kita harus ke sana sekarang." Asep coba berdiri, ingin berjalan tapi Reva langsung membantunya.


"Kalian tidak akan lolos Bara, biarpun kami tewas semua. Kalian juga ikut tewas." Boby tertawa melihat keadaan Asep yang sudah muntah darah.


Asep meminta Bara pergi, dia bisa menyelamatkan diri sendiri. Reva menolak pergi dan tetap ingin bersama Asep. Bara memerintahkan Kristan yang mendampingi Asep juga Reva. Hanya Rindu, Bara yang pergi sambil membawa Boby.


Keadaan Asep yang memburuk membuat Reva harus segera bertindak, dia menekan sesuatu di antingnya. Obat keluar dan meminumkannya kepada Asep yang nafasnya mulai tenang.


"Reva tempat ini berbahaya? kita harus segera pergi."


Belum sempat mereka pergi, segerombolan orang sudah mengepung. Seorang pria cupu yang Kristan dan Reva ketahui kutu buku di kota virus. Kristan menatap Reva yang juga keheranan.

__ADS_1


"Bunuh keturunan Chrispeter!" teriak kutu buku dengan senyum menyeringai membenarkan kacamatanya.


Asep berdiri menarik Reva agar berdiri di belakangnya, mata mereka berdua bertemu. Asep tersenyum mengelus kepala Reva yang sangat khawatir, melihat keadaan Asep yang tetap bangkit berdiri seakan dirinya kuat.


"Aku tidak akan membiarkan kamu terluka, tetap berada di sisiku." Asep bicara pelan membuat Reva tersenyum.


"Kamu mencintai aku!" Reva menatap mata Asep yang hanya tersenyum tipis.


Puluhan orang sudah berkeliling siap menembak mereka, Kristan membisikan sesuatu kepada Reva yang membuatnya menggagukan kepalanya. Cepat Kristan berlari dan melemparkan asap membuat tempat penuh kabut, di sanalah Reva Kristan dan Asep menyerang. Mereka sudah terbiasa bertarung dalam keadaan gelap jadi berada di kabut yang hanya hitungan menit akan segera menghilang.


Kutu buku terlihat kaget, melihat pengawalnya sudah jatuh semua. Kristan sudah mengarahkan senjata di depan kepala kutu buku, Reva dan Asep sudah melangkah pergi. Kutu buku langsung tumbang, ternyata Reva sudah menyuntikan Virus saat ada kabut yang dia simpan di kalungnya.


Mereka pergi menyusul Bara, jantung Reva berdegup kencang. Perasaan sangat tidak enak, ketakutan sedang menyerangnya sampai Asep menggenggam tangannya.


"Berapa banyak senjata mematikan ditubuh kamu Bi?" Kristan merasakan kagum dengan kehebatan seluruh girls Chrispeter.


"Rahasia!" Reva masih menghilangkan perasaan takutnya karena musuh mereka kali ini, sangat tidak bisa ditebak. Pemimpinnya tidak diketahui, sangat dekat tapi kehadirannya tidak disadari.


Beberapa tempat mulai hancur, hanya tersisa tempat tertentu. Reva bisa mengetahuinya melalui kupu-kupu yang dia terbangkan untuk mengintai pulau.


"Tempat ini perlahan akan menjadi lautan, kita tidak punya banyak waktu." Reva menatap Asep dan Kristan.


"Berhati-hati! mungkin pemimpin sebenarnya sudah berada dihadapan Bara atau Bianka sehingga tempat ini perlahan hancur."


"bukan Kristan, dia memang membuat tempat ini menjadi kuburannya. Hal buruknya ada yang akan dia bawa bersamanya ditempat ini, aku hampir melihat wajahnya dia perempuan tapi seperti laki-laki."


"Banci! dia laki-laki berpenampilan perempuan." Reva sangat yakin dia pasti menemui Bianka.


***


JANGAN LUPA LIKE COMENT DAN VOTE TAMBAH FAVORIT JUGA YA

__ADS_1


***----


__ADS_2