
Maxi menghentikan omelan Rinda, meminta semuanya untuk bersiap karena mendapatkan perintah untuk segera kembali ke Mansion.
Mendengar perintah kembali, perasaan Boy dan Reza tidak nyaman. Pasti ada saja yang diinginkan keluarga.
Maxi juga duduk di depan Mansion, menunggu yang lainnya turun. Max merasakan tidak nyaman di minta kembali ke Mansion.
"Ada apa Max kita diminta kembali?" Miko duduk di samping Max
"Aku juga tidak tahu, kita semua diminta pulang tanpa terkecuali."
"Siapa yang menghubungi kamu?"
"Tuan Raffa, nadanya juga sangat dingin, terdengar keributan di sekitarnya."
Miko menundukkan kepalanya, memikirkan apa yang diinginkan keluarga Chrispeter, mungkinkah soal obat yang Kaira ciptakan.
Boy keluar bersama Lian, Rinda, Kai dan Tari. Reza masih berdiri di depan pintu kamarnya. Penasaran mengapa mereka semuanya diminta kembali.
Jika ada sesuatu hanya Max yang pulang, menyampaikan kepada mereka semua, tidak biasanya sekarang semuanya diminta kembali.
Reza melangkah turun melihat semuanya sudah berkumpul, langsung berdiri di samping Tari.
"Ayo kita berangkat." Max berjalan ke arah mobilnya, diikuti oleh yang lainnya.
"Kenapa kalian mengikuti aku, di sana mobil Boy, itu mobil Miko, dan yang biru punya kamu Za." Maxi melangkah menuju mobilnya.
"Tubuh aku masih lemas, jadi ikut kamu saja Max." Miko melangkah mengikuti Maxi.
"Pundak Reza masih sakit, jadinya ikut kak Max."
"Perut Boy juga sakit kak, jadinya tidak bisa membawa mobil." Boy meringis menatap Maxi yang kesal.
"Kalian takut jika panggilan pulang karena ada masalah?"
Semuanya mengangguk kepala, Maxi langsung membuka bagasi. Mengeluarkan mobil yang berukuran besar untuk mereka semua.
Melihat mobil keluar, semuanya tersenyum langsung melangkah masuk mobil meninggalkan Mansion menuju Mansion Chrispeter.
Sepanjang perjalanan tidak ada yang berbicara, hening fokus dengan pikiran masing-masing. Max melihat ke kursi penumpang, terlihat wajah tegang.
"Kenapa Uncle Raffa yang memanggil kita, biasanya Uncle Bara?" Reza menatap yang lainnya.
"Karena yang memanggil Papi, rasanya kita semua terkena masalah. Jika Papi turun pasti ada perdebatan dengan Bunda Bianka." Rinda menatap ke belakang.
__ADS_1
"Rinda ada benarnya, Bunda yang menjaga keamanan nama baik Chrispeter, bahkan seluruh rahasia kekejaman Chrispeter, sedangkan Uncle Raffa yang menjaga keseimbangan perusahaan. Pasti dua bersaudara ini bertengkar lagi." Boy menghela nafasnya.
"Sejak kapan Uncle Raffa turun ke lingkungan Bunda Bi?" Kaira menatap Miko dan Max.
"Sejak pertarungan di pulau, saat kembali mereka kehilangan saudaranya tuan Bara, juga membawa pulang Rinda Chrispeter yang sekarat. Raffa, Raffi, Raka dan Riki yang tidak pernah mengangkat senjata turun tangan." Miko masih mengigat jelas saat dia mengintip dari balik pohon, saat kepulangan putri Chrispeter yang membawa kabar duka.
"Kenapa Papi dan Mami menikah sedangkan mereka beda usia, juga sangat berbeda pandangan." Rinda menatap Maxi.
"Entahlah."
Miko tertawa, Maxi tidak pernah ingin tahu kisah cinta keluarga Chrispeter. Raffa dan Raffi yang paling muda diantara yang lainnya.
Mereka keturunan Chrispeter yang memiliki darah asli berbeda dengan Raka dan Riki, nenek mereka memberikan amanah untuk menikahkan putra dan putri sampai akhirnya pernikahan Kaira dan Riki.
Raffa mencintai Rindu, tapi karena mereka memiliki jalan yang berbeda jadinya pernah menolak cinta Rindu.
"Mami pernah patah hati?" Reza tertawa.
"Tidak, Mommy Reva yang patah hati soal cinta, bahkan pergi seorang diri membuat heboh satu rumah karena cintanya ditolak."
"Tidak perlu diperjelas kak Miko, Reza sudah tahu sejarahnya."
"Tuan Raffa sebenernya ahli bela diri, karena dia mencintai Rindu. Melihat cara kakaknya Bianka memimpin membuat Raffa mundur memilih dunia bebas dengan merakyat, tapi sebenarnya Raffa dan Bianka sama saja, Bi hanya unggul karena Putri utama Chrispeter."
"Berarti gosip tiga tahun yang lalu Mami minta cerai karena Raffa menyakiti kak Max." Kaira menatap Maxi.
"Iya, sampai seluruh keluarga dikumpulkan. Nona Rindu memaksa untuk cerai, sikap posesif tuan Raffa membuat kecewa Mami."
"Papi menyerang kak Max karena Rinda memaksa ingin menikah?"
"Iya Rin, maafkan kak Maxi. Kejadian tiga tahun yang lalu sangat kacau, tapi semuanya sudah baik, tuan Raffa sudah meminta maaf dia tidak bermaksud menyakiti aku, terlukanya aku karena diam saja tidak melakukan pembelaan."
"Maafkan Rinda."
"Pasti Ayah dan Papi bertarung?" Boy tersenyum penasaran.
"Bukan Tuan Bara, tapi Bianka. Keduanya bertarung melepaskan status saudara hampir tiga jam, tuan Raffa sudah muntah darah sampai meminta ampun." Miko tersenyum.
"Kak Miko juga tahu?" Kaira dan Rinda menatap Mik.
"Kasihan Mami Rindu, satu sisi mencintai suaminya, tapi disisi lain ingin membela Putrinya." Tari memonyongkan bibirnya sedih.
"Selama satu bulan keluarga Chrispeter asing, alasan kita semua dikirim keluar mansion karena keributan yang membuat tuan Akbar marah besar."
__ADS_1
"Kakek Haikal?" Semuanya menatap Miko.
"Raffa dan Bianka di penjara bawah tanah atas perintah tuan Haikal, tapi rasa kesetiaan Rindu, Kai dan Reva mereka juga ikut di penjara."
"Kasihan Tuan Bara, Asep dan Riki?" Berlian menatap sedih.
"Tuan Bara dan Asep sampai berlutut bersedia mengantikan istrinya, tapi tidak di terima. Rasa cinta mereka membuat menunggu di luar penjara bawah tanah sampai semuanya di keluarkan." Miko langsung batuk melihat gerbang Chrispeter.
Maxi menghentikan mobil, ragu ingin lanjut masuk. Penjaga sudah mempersilahkan, tapi masih memilih diam.
"Perasaan Rinda tidak enak."
"Rinda!" semuanya teriak, jika Rinda saja takut bagaimana nasib yang lainnya.
"Kita balik saja, jika di marah urusan belakang." Reza menatap Boy.
"Pengecut, kita lelaki tidak boleh lari." Boy menelan ludah.
"Boy, kamu saja yang membawa mobil." Maxi menatap Boy.
"Kita putar arah saja kak Max." Boy langsung memeluk Lian.
"Jangan bilang kita di penjara bawah tanah."
Semuanya menatap Lian, tatapan panik terlihat dari semua mata yang beradu tatap.
"Salah kita apa?" Reza menatap Lian.
"Catatan obat Chrispeter bocor, perginya Mentari dari Mansion, terlukanya kak Miko karena bertidak sendiri, kecerobohan Kaira yang tidak teliti. Keegoisan Reza yang tidak terkendali."
"Boy, Rinda dan kak Max aman." Boy mengusap dadanya.
"Siapa bilang kamu aman Boy?" Kaira menatap tajam.
"Apa salah aku? kak Max yang bertanggung jawab atas keamanan."
"Kejadian tiga tahun yang lalu saat kita kembali kekurangan personil, Jika kita sampai dihukum karena lalai, terima nasib saja kak Boy yang bertanggung jawab atas tiga tahun yang lalu."
"Rinda juga pasti kena, karena bertarung dengan Tari." Wajah Rinda langsung lesu.
"Pada akhirnya aku orang pertama yang dihukum karena bertanggung jawab atas kesalahan kalian semua." Maxi mengacak rambutnya.
"Ayo kita balik lagi." Semuanya setuju.
__ADS_1
***