BIANKA DAN MAFIA KEJAM

BIANKA DAN MAFIA KEJAM
S2 PENGKHIANATAN


__ADS_3

Semuanya pulang larut malam, Boy berkali-kali melirik Rinda yang senyum menyentuh bibirnya. Boy juga tersenyum melihat adik kecilnya akhirnya tersenyum tanpa beban.


"Kak Boy fokus menyetir, jangan menatap Rinda."


"Kak Boy gemes melihat Rinda, pengen cium."


"Rinda sudah besar kak Boy."


"Iya kak Boy tahu, hanya cium kening bibir hanya khusus Max." Boy tertawa melihat Rinda salah tingkah.


Reza menatap Rinda dari depan, tangan Rinda langsung memukul kepala Reza yang tersenyum manis.


"Kak Reza Rinda jijik melihat senyuman Kak Za." Rinda menutup wajahnya.


"Kak Boy pasti Maxi mencium Rinda, kita harus melaporkan kepada Daddy Raffa. Reza tidak rela mereka kembali akur."


"Jahat!" Rinda memukuli Reza menjambak rambutnya.


Suara teriakan Reza kesakitan terdengar, Kai belum tidur menunggu kepulangan Rinda. Mobil berhenti, Kai membukakan pintu untuk Rinda.


"Rinda kamu baik-baik saja?"


"Baik banget dia kak Kai, lihat bibir kak Max sudah warna merah sebentar lagi bibirnya bolong-bolong karena ada racunnya." Reza mengejek Rinda.


"Enak saja, kalau bibir kak Max bolong, berarti bibir Rinda juga bolong." Rinda teriak kuat.


"Rinda baru saja mengakui kalau dia sudah berciuman dengan kak Max." Tari tersenyum menutup mulutnya.


"Mentariku yang polos jangan diperjelas dong sayang, nanti Rinda ketagihan." Reza menjulurkan lidahnya, merangkul Tari masuk ke dalam.


"Ada apa?" Lian berlari sambil membawa apel ditangannya.


"Telat kak Lian, sudah terlambat." Rinda masuk ke dalam menghentakkan kakinya.


Lian menatap Boy, senyuman Boy terlihat mencubit pelan hidung Lian. Merangkulnya masuk ke dalam.


Kaira langsung melangkah masuk mengikuti Reza yang ingin masuk ke kamar Tari, tapi rambutnya langsung dijambak oleh Kai, Boy juga sama ingin masuk kamar Lian, tapi kerah bajunya sudah ditarik kuat.


Kai memasukkan Reza ke kamarnya begitupun dengan Boy.


"Jangan coba-coba tengah malam pindah kamar." Kai menatap tajam.


"Lian, Tari kunci pintu. Dua makhluk ini bisa saja menyelinap masuk." Kaira langsung masuk kamarnya.


Boy dan Reza menatap sinis, langsung menutup pintu mereka. Miko dan Max hanya tersenyum melangkah ke kamar masing-masing.

__ADS_1


Maxi menuju dapur mengambil air minum, Max menatap minuman langsung mengurungkan niatnya.


Max berjalan ke arah kamar para maid, melihat kamar gelap semua. Senyuman Maxi terlihat, menutup pintu pembatas antara dalam dan tempat para penjaga.


"Keluarlah, aku tidak tahu cara kamu masuk ke sini, tapi kalian sudah mengantarkan nyawa, sudah lama juga aku tidak membunuh." Max menekan remote mematikan seluruh lampu rumah kecuali kamar Boy, Reza, Lian, Rinda, Tari, Mik dan Max selain kamar mereka gelap gulita.


Maxi langsung berlari kencang mengeluarkan belati, leher seseorang langsung disayat. Max juga terkena pisau mengejar orang yang ingin melarikan diri.


Pertarungan di kegelapan terjadi, Max bisa bergerak hanya dengan mendengarkan suara.


Suara tembakan terdengar, Max berhasil menghindar langsung menumbangkan lima penyusup.


Setelah tidak ada lagi pendengar, Max menghidupkan seluruh lampu. Menatap ke lantai atas melihat Rinda yang terdiam melihat Max.


Max mengerakkan tangannya meminta Rinda masuk, cepat Rinda masuk ke dalam mengunci kamarnya menatap Max yang pergi.


Melihat lampu yang mati seketika, membuat para penjaga ketakutan. Dugaan mereka benar Maxi datang dengan tatapan marah, langsung melayangkan pukulan kepada seluruh penjaga, meminta mereka semua meninggalkan Mansion jika masih ingin hidup.


Sesuai peraturan seluruh maid harus keluar dari Maison jika sampai ada penyusup, tidak ada yang berani memohon resiko sejak awal sudah ada peringatan, Max yang paling kejam soal disiplin.


Semuanya angkat kaki tengah malam, Max menatap lima orang. Seseorang wanita tangannya gemetaran langsung menangis histeris memohon agar anaknya dibebaskan.


Max sudah menduga, penyusup pasti orang dalam yang ingin melakukan pencurian.


"Apa gaji kalian kurang? bekerja di sini dengan gaji besar melebihi karyawan kantor, tetapi dengan ketatnya peraturan dan kedisiplinan."


Maxi menghela nafas, meminta semuanya keluar. Menyita seluruh akses untuk masuk ke dalam Mansion. Max menendang lima orang sampai mental ke jalanan.


"Jangan pernah tunjukkan wajah kalian, karena bisa saja aku mengeluarkan isi perut kalian." Max menutup gerbang.


Max masuk ke dalam rumah menuju dapur, membakar semua kode khusus karyawan. Rinda menatap Max yang memejamkan matanya memijit pelipisnya.


Rinda melangkah mendekat, menepuk pundak Max.


"Ada apa?"


"Pengkhianatan dalam rumah, mereka melakukan pencurian."


Rinda melihat tetesan darah, membalik tubuh Maxi melihat perutnya berdarah. Rinda langsung berlari ke kamarnya megambil obat-obatan.


Maxi masuk ke kamarnya langsung mandi, membersikan darah dari lukanya. Berendam sejenak menenangkan pikirannya.


Sejak mulai menggunakan hati Max mulai memiliki rasa kasihan, dulu Max pasti langsung menembak pengkhianatan mencabik mereka semua, tapi sekarang Max tidak tega.


Melihat seorang ibu menangis membuat hatinya luluh, Max takut dengan perasaannya sekarang yang mulai melemah.

__ADS_1


Max memejamkan matanya mengingat ucapan Haikal Chrispeter, saat kamu mulai memiliki rasa iba artinya kamu sudah kembali menjadi manusia yang memiliki akal sehat.


"Apa benar aku sudah menjadi manusia? aku tidak bisa membunuh sembarang lagi, kekejaman hanya akan muncul saat orang yang aku cintai berada dalam masalah." Gumam Max pelan.


Selesai mandi, Max melihat Rinda tidur di atas ranjangnya. Membawa alat medis, Max mengambil perlahan meletakkan di atas meja.


Megambil pakaian santai, mengunci pintu kamar sebelum para pengacau mengganggu.


Max naik ke atas tempat tidur, mengelus pelan wajah Rinda mencium keningnya penuh cinta. Max sudah lama tidak melihat wajah Rinda dari jarak dekat.


Rinda bergerak memeluk tangan Max, Maxi megambil guling melepaskan tangannya memberikan jarak antara mereka.


Menarik selimut menutupi tubuh mereka berdua dengan selimut tebal, tidur bersama. Maxi juga terlelap dengan cepat.


***


Suara teriakan pagi-pagi membangunkan Max dan Rinda, Maxi langsung terjatuh dari ranjang karena dia tidur memeluk Rinda.


Cepat Rinda membuka pintu, belum sempat Max menghentikannya. Boy, Kai, Reza yang berdiri di depan pintu terdiam melihat Rinda yang keluar.


"Kenapa kak Max sudah berubah menjadi perempuan?" Reza menatap Kai.


"Rinda Chrispeter, kenapa kamu bisa di kamar laki-laki?" Kai menatap tajam.


"Astaga, Rinda sepertinya tidur sambil berjalan, tidak sengaja masuk kamar kak Max." Rinda tertawa langsung berlari ke arah kamarnya.


Maxi ragu untuk keluar, memilih mengurung diri di kamar mandi.


"Kak Max ke mana para maid?" Reza menggedor kamar mandi.


Maxi keluar langsung menuju dapur, Boy sudah merapikan dasinya.


"Kalian semua sarapan di kantor, baju cuci masing-masing. Semua maid sudah aku pecat."


Boy dan Reza langsung menatap tajam, Miko juga membawa minum mendekati Maxi.


"Ada pengkhianatan?" semuanya teriak.


"Iya dan kalian semua tidur nyenyak."


Reza langsung berlari pergi sebelum Max marah, Tari melambaikan tangannya kepada Kai pergi kerja. Boy juga melangkah pergi tidak berani protes.


***


JANGAN LUPA LIKE COMENT DAN VOTE TAMBAH FAVORIT JUGA YA

__ADS_1


JANGAN LUPA KASIH HADIAH JUGA BIAR AUTOR SEMANGAT UP


***


__ADS_2