
Keluarga Chrispeter yang mendapatkan kabar soal keadaan Rinda langsung lemas. Haikal memberikan perintah Raka yang menjemput kedatangan Rinda, Rian sudah tertunduk mendapatkan kabar putrinya meminum racun pelumpuh.
Roy langsung berlari masuk ke Lab nya mencari tentang racun pelumpuh, karena yang membuatnya sudah meninggal ditangan Roy. Beberapa puluhan tahun yang lalu, Roy mengambil penawar terakhir. Haikal juga masuk dan mengecek soal penawar, tapi mereka harus melihat keadaan Rinda terlebih dahulu. Berharap penawar yang mereka miliki bisa menyelamatkan nyawa Rinda.
Bunga dan yang lainnya sudah mendapatkan kabar, hanya Riani yang belum tahu. Dia masih berdiam di dalam kamar memandangi kupu-kupu yang masuk ke wilayah taman, hewan kesayangan Rinda sudah menyambut kedatangannya.
Air mata Riani mengalir, perasaan seorang ibu tidak pernah salah. Pasti putrinya sedang terluka, Rinda sudah datang dalam mimpi menyampaikan perpisahan, Rinda juga sudah melangkah pergi meninggalkannya. Riani berdiam untuk menguatkan diri akan kabar duka yang akan dia dengar, setidaknya dia ingin mendengar suara putrinya.
Rian mengetuk pintu, langsung masuk dan memeluk istrinya dengan erat. Riani yakin kabar sudah sampai soal putrinya Rinda.
"Rinda terluka ya Papi?"
"Iya sayang, mereka akan menuju ke arah Mansion."
"Kuatkan diri Papi, Rinda sudah datang di mimpi Mami."
Kita akan berusaha menyelamatkan Rinda sayang." Air mata Rian dan Riani mengalir.
Raka menghidupkan mobilnya diikuti oleh Raffa, Riki dan Raffi menyiapkan tempat untuk Nayla dan Kristan yang akan melakukan operasi di sana. Selama diperjalanan jantung Raka berdegup kencang, pikirannya sangat buruk soal perintah ayah Haikal.
"Tenanglah Raka, semuanya akan baik-baik saja."
"Aku dan kedua kakakku tumbuh dalam satu rahim, besar bersama. Perasaan buruk ini tidak mungkin salah Raffa, kami kembar."
Raffa terdiam, dia hanya berdoa semoga tidak terjadi masalah serius. Sudah cukup kehilangan keponakan, jangan sampai ada berita duka lagi.
***
Kapal bersandar di pelabuhan, paman satu menggendong tubuh Rinda yang sangat lemah. Para girls juga keluar melihat Raka dan Raffa bersama puluhan pengawal.
Dengan cepat Raka mendekati Rinda dan mengambil alih menggendongnya. Rinda membuka mata sambil tersenyum, meletakkan tangannya dileher Raka adik lelakinya.
"Raka!"
"Diamlah! jangan bicara lagi." Raka sedang menahan kesedihannya, melihat kondisi Rinda yang memprihatinkan.
__ADS_1
'Kaka sayang Raka, jangan sedih berlarut-larut ya dek."
Bianka, Bara masuk ke dalam mobil bersama Rinda Raka dan Rindu. Berkali-kali Rindu menguatkan dirinya, dia yakin Rinda bisa bertahan, Rinda pasti selamat. Tidak ada lagi air mata, semuanya menguatkan diri.
Mobil melaju beriring-iringan dengan kecepatan tinggi, di dekat persimpangan. Beberapa mobil belok sedangkan mobil yang Bara gunakan tetap lurus menuju Mansion. Bara memberikan kepercayaan keselamatan Nayla pada Asep yang membawa Nayla menuju Lab untuk mendapatkan perawatan medis, dengan peralatan lengkap juga dokter terbaik.
Sepanjang perjalanan memasuki gerbang, pengawal sudah berdiri dengan memberikan hormat. Air mata Rindu tidak tertahankan, saat pertemuan mereka di gerbang, balapan sampai Mansion.
Para ayah sudah berdiri di depan pintu masuk, mobil berhenti, Raka langsung menggendong Rinda untuk masuk ke dalam ruangan perawatan.
"Kamar Rinda, mau masuk kamar saja." Rian menggagukan kepalanya, menyetujui keinginan putrinya.
Roy langsung masuk memberikan infus, Rinda sudah berbaring di ranjangnya. Rinda tersenyum melihat kearah jendela, ratusan kupu-kupu terbang menabrak jendela seakan-akan ingin menyentuhnya.
Haikal mengambil darah Rinda langsung berlari ke dalam Lab bersama Roy juga Akbar. Mereka melakukan penelitian, menyesuaikan dengan penawar yang mereka miliki.
Seluruh keluarga berdiri di depan pintu, Rian keluar meminta para Bunda masuk. Bunga dan Dara masuk, tangisan pecah terdengar. Dara keluar dengan penuh air mata begitupun dengan Bunga yang langsung pergi ke depan ruang penelitian Haikal.
Kiara masuk bersama Raffi, di dalam mereka hanya melihat senyuman Rinda. Wajah putih bersih, sudah berubah mulai memerah tapi tetap terlihat cantik.
"Raffi, bisa tolong Rinda. Tepati janji Rinda untuk datang ke panti memberikan hadiah ulang tahun untuk sahabat Rinda." Raffi menggagukan kepalanya, mengambil sebuah kalung cantik memiliki gambar kupu-kupu.
Mama keluar dan mengatakan, Rinda ingin bertemu Raffa dan Riki. Cepat keduanya masuk, Papi yabg berdiri di depan pintu memeluk Mami yang menangis sesenggukan.
Melihat kedatangan dua boys Rinda tersenyum lebar, ingin sekali dia duduk tapi tubuhnya tidak mampu lagi.
"Raffa, jaga Kaka Rindu kamu harus kuat agar bisa menguatkan dia. Jangan terlalu bersalah soal anak Bianka, dia baik-baik saja."
"Kak Riki jaga Kei, dia wanita lembut dan sabar juga sangat penyayang. Dia adik ipar ku, cepatlah menikah agar lahir penerus Chrispeter selanjutnya."
Riki tidak bisa menahan air matanya, diantara yang lainnya Rinda sosok yang peduli terhadapnya, setelah mm mendapatkan keroyokan dari para girls.
"Rinda tidak ingin bertemu yang lain, minta Mami dan Papi datang menemui Rinda."
Tidak ada yang bisa Raffa dan Riki katakan, mulut mereka pahit karena menahan air mata. Melihat kupu-kupu yang berkeliling, hewan kesayangan Rinda sudah muncul bukan hanya menyambut kedatangannya tapi juga ikut bersedih melihat keadaan Rinda.
__ADS_1
***
Di dalam Lab, Haikal memijit pelipisnya tubuhnya langsung lemas melihat darah Rinda yang tidak bersatu dengan penawar racun pelumpuh.
"Racun sudah dimodifikasi, bahan pembuat kita tidak tahu. Bahkan siapa yang membuatnya juga tidak diketahui." Roy terduduk lemas, menundukkan kepalanya memikirkan keponakannya yang sedang bertahan hidup.
"Penawarnya tidak ada gunanya, Rinda sudah masuk zona kritis." Akbar menatap Haikal dan Roy memikirkan cara bicara dengan Rian.
Bara mengetuk dan cepat masuk, dilihatnya para ayah terdiam dalam kebinggungan. Bara melihat hasil Lab yang tidak bisa menyelamatkan Rinda. Darah Rinda juga terpisah dari penawarnya, Bara ikut tertunduk.
"Tidak ada yang bisa kita lakukan untuk menyelamatkan Rinda ayah."
"Tanpa dijelaskan kamu sudah mengerti Bara, semua peneliti pernah mencoba memahami racun ini. Tapi beberapa tahun yang lalu, Ilmuwan yang menciptakan mati ditangan Roy, penawarnya jatuh ditangan kita. Tapi lihatlah!" Haikal menunjuk kearah darah Rinda yang awalnya merah langsung berubah hitam.
"Jika kita memasak penawar masuk, Rinda tidak sadarkan diri. Terjadi pembekuan darah, jantungnya berhenti. Sama saja kita yang membunuhnya." Roy langsung menangis, tidak bisa membayangkan kondisi Rian adiknya harus kehilangan putri kesayangannya.
Semuanya terdiam, Bunga juga ikut menangis mendengarkan pembicaraan Haikal. Bunga masuk ke dalam pelukan dan menangis sesenggukan.
"Haikal! tidak ada gunanya kalian hebat dan berkuasa. Jika menyelamatkan putri Chrispeter juga tidak bisa." Bunga memukuli Haikal, Dara juga ikut masuk dan menangis.
Kia masuk ke dalam pelukan Akbar memohon agar melakukan sesuatu, Rinda tersenyum menahan sakit.
"Pa tolong Rinda!"
"Roy lakukan sesuatu, Haikal bertindaklah."
Bara melangkah keluar melihat para orangtua menagis, tidak ada tempat mereka untuk mengamuk karena yang menyakiti Rinda sudah tiada. Hanya bisa menunggu waktu Rinda menutup matanya.
***
TERIMAKASIH YANG SUDAH BACA YA JANGAN LUPA LIKE COMENT DAN VOTE TAMBAH FAVORIT JUGA.
SEKALIAN JANGAN LUPA KASIH HADIAH JUGA YA BIAR AUTHOR TAMBAH SEMANGAT UP.
***
__ADS_1