BIANKA DAN MAFIA KEJAM

BIANKA DAN MAFIA KEJAM
S2 MASA LALU


__ADS_3

Matahari mulai terbenam, misi akan di mulai untuk menemukan keberadaan Nata. Keheningan terjadi tidak ada yang mengeluarkan suara, larut di dalam pikiran masing-masing.


Boy melangkah meninggalkan pinggir pantai, mengeluarkan senjata, mengisi pelurunya. Reza juga sama duduk di samping Boy.


"Kita tidak bisa menyelamatkan satu orangpun di sini?"


Boy hanya menggelengkan kepalanya, tidak ada yang harus di selamatkan. Semua orang yang sudah terpengaruh tidak tertarik untuk keluar hidup, mereka semua lebih memilih mati di pulau sebagai tempat peristirahatan terakhir.


"Kita harus segera bergerak, jika menunggu sampai matahari terbit akan terlambat. Besok ratusan pengunjung akan datang dari berbagai negara." Miko menatap Boy yang tersenyum.


"Ayo kita mulai, sebelum dini hari kita semua harus keluar dari tempat ini."


"Sayangnya kita tidak bisa bergerak sekarang, kita bergerak setelah tengah malam." Rinda tertawa memperlihatkan bukti persiapan musuh.


Boy langsung mengambil tablet Rinda, melihat keadaan beberapa bangunan yang sudah menanti mereka. Puluhan orang sudah bersiap-siap untuk menyerang.


"Aish sialan." Boy mengacak rambutnya.


"Lian boleh bergabung di sana?"


Tatapan mata Boy langsung tajam, menolak keinginan Berlian yang ingin bergabung dengan ratusan orang yang sudah tidak waras.


"Berbahaya Lian, mereka semua bisa saja membunuh kamu." Max melihat ke tablet Kai.


"Kita tidak bisa menunggu di sini, waktu kita tidak banyak."


"Diam Berlian! kamu tidak akan bisa mengeluarkan mereka, jadi hilangkan niat baik kamu." Boy membentak Lian.


"Kamu tidak tahu betapa kejamnya mereka Lian, bahkan saat kami kecil dia melakukan segala cara untuk membunuh kami." Reza menatap Berlian tidak suka dengan pikiran Lian.


Berlian tersenyum, tidak heran banyak yang ingin membunuh Reza dan Boy, mereka berbeda dengan kakek dan orang tua mereka. Pemikiran Boy dan Reza ingin cepat selesai, tidak perduli berapa banyak orang yang mati.


Terlalu terbiasa melakukan semuanya sendiri, tidak memikirkan keselamatan tim. Lian ingin melihat akhirnya, seberapa hebat dia lelaki Chrispeter yang merasa dirinya hebat dan tidak terkalahkan.


Mentari melihat bulan yang mulai naik, melihat Berlian yang berjalan mendekatinya. Tari tersenyum memeluk lengan Lian.


"Kak, jika Tari gugur jangan sedih ya. Kakak harus hidup."


"Kenapa kamu berpikir kita akan kalah?" Lian tersenyum mengusap kepala adiknya.


"Mentari hanya merasakan keluarga Chrispeter egois, apalagi penerus sekarang."

__ADS_1


Lian menyakinkan Mentari mereka semua akan selamat, keluar dari pulau membawa kemenangan.


Suara dentuman bom terdengar, Mentari dan Berlian langsung berdiri. Melihat ratusan orang berjalan ke arah pantai.


Seluruh lampu otomatis mati, Lian menggenggam tangan Tari langsung melangkah mundur, tidak ada yang bisa melihat satu dengan yang lain.


Boy mengalihkan perhatian, melempar dua peledak dari dua arah. Semuanya bubar dan berpisah, berlari dalam kegelapan.


Saat tiba di gedung Boy menatap tangannya yang menggenggam tangan Tari, ada Reza juga bersamanya. Tari menepis tangan Boy mencari Berlian.


"Di mana kak Lian?"


Boy menghubungi Maxi mempertanyakan keberadaan mereka, Max bersama dengan Kai, Rinda dan Miko.


"Sial, satu beban lagi kita kehilangan Berlian." Reza mengumpat mengacak rambutnya.


"Kak Lian melepaskan tangan Tari, tadi kak Lian menggenggamnya."


Boy coba melacak keberadaan Lian, tapi sinyal terakhir Lian tidak terdeteksi. Boy tertawa tidak mengerti dengan keinginan Lian, kenapa dia memilih melangkah sendirian.


"Apa yang harus kita lakukan sekarang Boy?"


"Kita tetap menjalankan rencana kita, lupakan soal Berlian. Anggap saja dia sudah gugur." Boy langsung melangkah pergi memasuki ruangan kosong.


Tari mengusap air matanya, dia memilih tidak keluar dari tempat ini dalam keadaan hidup.


Di dalam bangunan juga sudah ada Maxi, Miko Kai dan Rinda. semuanya diam melihat tim Boy yang kehilangan satu personil.


"Di mana Berlian?"


"Dia memilih memisah, kita anggap saja dia tidak ada." Reza melangkah mengikuti Boy yang sudah masuk lebih dulu.


Tatapan mata Maxi tajam melihat tindakan Boy, tapi Max tahu bukan Boy yang harus menyelamatkan Lian, tapi sebaliknya.


"Bersiaplah, tempat ini berbahaya jadi kita harus fokus."


Ucapan Boy belum selesai, banyak orang yang sudah muncul. Reza tersenyum semua orang yang ada di sini musuh lama, orang yang pernah dia hancurkan.


"Hai tuan dan nona Chrispeter, senang berjumpa dengan kalian. Selamat datang di dunia kehancuran."


"Selamat datang juga di dunia kematian." Boy menembakkan senjatanya, tapi berhasil dihindari.

__ADS_1


"Kamu sangat berbeda dengan Bianka yang berpikir sebelum bertindak, dia wanita cerdas yang sangat ditakutin, tapi kamu Boy hanya seorang pengecut sama seperti Bara yang hanya tahu membunuh."


"Hanya tahu membunuh, aku hanya tidak ingin membuang waktu."


Suara high heels terdengar, seorang wanita cantik muncul. Reza dan Boy kaget melihat Natasya juga hadir di depan mereka, awalnya Reza berpikir Nata menggunakan wajah Juwi, tapi nyatanya dia masih secantik aunty Nakusha.


"Aunty Nakusha?"


"Natasha sayang, aku berhasil membawa keturunan Chrispeter dalam dunia kegelapan. Kalian semua akan aku kubur di pulau ini."


Semuanya saling tatap, seluruh jaringan terputus. Nata duduk di kursi melihat Rinda yang tersenyum tidak menunjukkan ketakutan.


"Rinda, kepala kamu akan aku kirimkan kepada keluarga Chrispeter. Mereka akan hancur kembali sama seperti puluhan tahun yang lalu saat Rinda mati."


"Kejadian itu tidak akan terulang kembali aunty, Rinda ditakdirkan hidup lama." Rinda tersenyum lucu.


Natasya memberikan perintah untuk membunuh semuanya, pertarungan terjadi antara Miko Maxi, Mentari dan Rinda.


Boy melihat ke atas, Reza juga matanya berkeliling melihat sekitar. Kai terdiam saat melihat banyaknya racun yang siap ditaburkan.


Boy menatap Kai, memintanya untuk menyingkirkan seluruh racun. Seluruh pintu tertutup, satu persatu racun di tembak ke bawah.


Rinda langsung berpayung menghindari racun bubuk yang sudah ditebar. Boy berhasil membuka pintu, Kaira menembak saluran air membuat seluruh ruangan penuh dengan racun dan air.


Pertarungan kembali terjadi, racun bubuk bercampur dengan genangan air. Siapapun yang terjatuh akan meminum racun bubuk.


Mentari mengeluarkan belati, seseorang mencekiknya dari belakang mengatakan sebaiknya Mentari mati sama seperti Ayahnya Ahlan.


Mentari hilang konsentrasi, hampir terjatuh jika Reza tidak menangkapnya tepat waktu. Tatapan Reza tajam tidak ada yang mengetahui jika Mentari Putri Ahlan, karena identitasnya di rahasiakan.


"Siapa kalian?"


"Kami yang sudah membunuh keluarga Ahlan, sudah saatnya dia menyusul orang tuanya."


"Kalian yang membuat aku menjadi yatim piatu." Mentari teriak kuat melayangkan pukulan, menggesek kepala di genangan air sampai muntah darah karena meminum racun.


Semuanya terjatuh, diam juga melihat Mentari memukuli sekalipun yang dia pukul sudah mati.


"Mentari tenanglah." Maxi menarik Tari.


"Kak Lian pasti mengenali mereka, Tari harus menemukan kak Lian."

__ADS_1


"Dia akan datang setelah melepaskan dendamnya." Maxi mengusap kepala Tari untuk fokus, jangan terbawah ke masa lalu.


***


__ADS_2