BIANKA DAN MAFIA KEJAM

BIANKA DAN MAFIA KEJAM
DI BALIK GAUN PENGGANTIN


__ADS_3

Malam terasa sunyi, Reva duduk di taman yang gelap sambil memejamkan matanya. Besok hari pernikahannya, Reva tidak pernah berpikir akan menikah tapi cinta datang tanpa permisi. Reva mengagumi sosok Asep sejak pertama dia menerbangkan Drone untuk melihat keberadaan Bianka saat menghilang, Reva melihat Asep yang sedang bertengkar dengan pengawal Bara, kesetiaan Asep terhadap Bara membuat Reva terpesona.


Sebuah tangan melingkar di leher Reva, tangan Reva menahannya dan langsung tersenyum. Reva sangat mengenali tangan yang sedang melingkar.


"Kenapa belum tidur, besok kamu akan kelelahan, jadi sebaiknya tidur lebih awal." Asep langsung duduk di samping Reva.


"Aku tidak mengantuk dan ingin merasakan gelapnya malam."


Lama keduanya diam berpikir, Reva langsung merangkul lengan dan meletakan kepalanya di dada Asep. Tangan Asep langsung melingkar di pinggang.


"Kenapa kamu mencintai aku Reva, tidakkah kamu merasa takut."


"Aku tidak tahu, tapi yang jelas Reva nyaman. Lagian cinta kamu lebih besar daripada aku."


"Tahu dari mana, aku tidak pernah mengatakan cinta?" Asep menatap wajah Reva yang juga menatapnya, hanya Cahya bulan menjadi penerang.


"Jangan membohongi isi hati kamu, aku tahu sejak awal kita bertemu kamu selalu menatap aku, mengikuti aku, menjaga dari kejauhan."


"Aku hanya menjalankan tugas."


"Siapa yang memberikan perintah, hati kamu. Jujur saja sejak kapan?"


"Ya aku akui mungkin sejak awal, tapi rasa takut lebih besar karena aku takut semuanya hanyalah sebuah mimpi, aku tidak ingin terluka karena cinta."


"Apa sekarang siap kehilangan Reva?"


"Kamu yang datang, membuat aku berjuang sejauh ini, aku tidak akan pernah melepaskan kamu Reva, sampai aku tidak bernafas."


"Katakan cinta."


"Aku sangat mencintai kamu Reva Chrispeter, jadilah ibu untuk anak-anakku."


Tanpa menunggu jawaban Reva, Asep langsung menarik pinggang dan tangan satunya menahan tekuk leher Reva untuk mendekati bibirnya. Ciuman kali ini tidak sekarang mereka biasanya, Asep melakukannya sangat lembut, tangan Reva juga sudah bergantung di leher dan berasa nyaman.


Lama keduanya terus saling mengigit pelan, bibir keduanya juga berubah merah, Asep mengecup pelan menyudahi permainan mereka.


"Dalam hitungan hari aku bukan hanya akan memiliki bibir ini, tapi semua yang ada ditubuh kamu. Kita bina rumah tangga yang bahagia, menjadi kedua orangtua, mendidik anak-anak kita sampai kita tua."


Reva tersenyum bahagia, ciuman di keningnya terasa sangat menyenangkan dan hangat, Reva juga mencium pipi Asep dan melangkah masuk ke dalam untuk tidur, mereka harus bangun pagi untuk segera mengikat janji pernikahan.


***


Pesta pernikahan sudah ramai mempelai pria sudah menunggu, seluruh orang melihat pengganti wanita yang sedang berjalan pelan di dampingi oleh ayahnya. Sejujurnya hati Roy belum rela melepaskan putri kesayangannya, Riki sudah menikah, dan sekarang Reva juga menikah, hanya tersisa dirinya dan sang istri tercinta. Tapi Roy tahu hari ini akan datang, hari di mana menyerahkan putri tercinta kepada lelaki yang mencintai dan dicintai.

__ADS_1


Tangan Asep ingin menyambut tangan Reva, tapi Roy menguatkan dirinya untuk menyerahkan, mata Roy menatap Asep yang tidak punya rasa takut, matanya menatap tajam dan tersenyum lembut.


"Aku tidak rela menyerahkan putriku."


"Daddy," Reva menatap Roy memohon.


"Asep berjanji akan menjaga Reva lebih dari Daddy, Asep janji akan mempertaruhkan nyawa demi melindungi Reva, aku berjanji akan membahagiakan dia, mengutamakan kepentingan Reva, menyampingkan kepentingan aku. Asep berjanji dan bersumpah kepada Daddy untuk tidak akan pernah menyia-nyiakan Reva."


"Awas kamu, aku bunuh jika sedikit saja tangan kamu membuat tubuh putriku tergores." Roy berbisik ke Asep tapi hanya di balas dengan senyuman.


Janji suci pernikahan akhirnya di mulai, tanpa rasa malu Roy menangis. Gadis kecilnya yang meledak rumah sudah menikah, putri kecilnya yang diam tapi mematikan sudah menjadi milik lelaki lain.


"Sudahlah, Reva pasti bahagia. Dia juga selalu dekat dengan kita, hanya status yang berubah." Dara menenangkan suaminya, lelaki yang dari saat Reva lahir tidak rela putri kecilnya tersentuh oleh semut sekalipun.


"Ayo pulang sayang."


"Daddy."


"Kita bikin adik saja untuk Reva,"


"Gila kamu, tidak ingin umur. Masa iya anak Reva dan Riki bakal seumuran dengan adiknya."


Di tempat duduk lain Riki juga sama sedihnya, asik kecilnya yang selalu menyerangnya akhirnya menikah, Kei menggenggam tangan Riki sambil tersenyum.


"Iya sayang, aku percaya kepada Asep bisa menjaga dia." Riki mengelus perut Kei yang mulai terlihat, kandungannya sudah memasuki bulan keempat.


Bianka dengan wajah pucat berkeliling berjalan, melewati para tamu yang sedang memberikan selamat. Banyak juga para pelayan dan pengawal yang ikut berkeliling.


"Boy di mana kamu?" Bianka mengigit bibirnya.


Bara berlari mendekati Bi yang panik, tamu semakin ramai.


"Sudah ketemu belum?"


"Tidak kamu lihat aku masih panik."


Bi mendekati Raffa dan mengatakan Boy hilang, Raffa, Raka, Raffi bergerak ikut mencari. Rindu mendekati para orang tua dan mengatakan Boy hilang. Teriakan Haikal membuat banyak orang menoleh.


Tamu undangan sedikit binggung, para pengawal masuk dan berkeliling. Boy tidak terlihat sama sekali di dalam gedung, bahkan diluar gedung sudah di sebar.


Sepanjang banyaknya tamu Reva menahan tawa, Asep binggung melihat Reva yang nampak menahan tawa dan risih.


"Sayang, kamu kenapa?"

__ADS_1


Reva hanya tersenyum, melihat para keluarga mulai bergerak semuanya, pengawal juga sudah turun tangan.


"Ada apa ini?" Asep juga heran melihat pengawal.


"Mereka semua mencari Boy, lihatlah Bianka sudah menangis."


"Minta orang menghentikan acara, temukan Boy dulu."


"Dia di dekat kita sayang."


"Mana?"


Reva menatap bawah gaunnya yang mekar, Asep ikut melihat dan menatap Reva sambil menahan tawa.


"Apa yang Boy lakukan di bawah gaun kamu?" Asep memijit pelipisnya.


"Dari awal Boy sangat bersemangat melihat gaun ini, dan akhirnya masuk saat Daddy mengomeli tadi, Reva pikir mungkin hewan tapi tangan kecilnya memainkan gaun Reva."


"Boy tidak menyentuh aneh-aneh yang di bawah?"


Reva langsung mencubit perut Asep, Boy mana mengerti. Dia menyukai pernak-pernik yang baru dia temukan di gaun yang Reva kenakan.


Semua tamu undangan duduk, pengumuman terdengar. Bara meminta perhatian untuk diam di tempat karena putranya menghilang. Semua orang terkejut sekaligus ingin tertawa, karena penjagaan ketat Chrispeter tidak bisa menjaga bocah umur 6bulan.


Asep berjongkok, menggakat gaun Reva yang berat dan mekar. Terlihat bocah kecil duduk sambil memegang susu botolnya, dan menyobek gaun Reva mengambil manik dan mengumpulkannya. Mutiara di baju Reva hampir 10butir Boy kumpulkan.


"Boy ayo keluar? Melihat Asep Boy menggelengkan kepalanya, menolak untuk keluar.


Bara yang menyadari jika Boy di dalam gaun Reva, cepat berlari ingin ikut mengintip tapi di dorong oleh Asep membuat banyak orang tertawa, Reva sudah tertawa cekikikan.


"Mutiaranya banyak di luar Boy, lihat ini sangat banyak. Ayo cepat sini." Melihat jari Asep menunjukkan mutiara yang lebih banyak, Boy langsung merangkak keluar sambil membawa mutiaranya.


Asep langsung menggendong Boy, menciumnya dengan gemas. Melihat mahkota Reva yang mempunyai mutiara besar berwarna putih, Boy langsung teriak menginginkan mahkota Reva.


Dengan penuh kasih sayang Reva menggendong dan membiarkan Boy melepaskan mahkotanya, Bara langsung menyambut Boy membawanya turun menjauh.


***


JANGAN LUPA LIKE COMENT DAN VOTE TAMBAH FAVORIT JUGA


SEKALIAN JANGAN LUPA KASIH HADIAH JUGA BIAR AUTHOR TAMBAH SEMANGAT UP


***

__ADS_1


__ADS_2