BIANKA DAN MAFIA KEJAM

BIANKA DAN MAFIA KEJAM
S2 CRISTAL


__ADS_3

Suara pintu kamar Boy terbuka sangat kuat, Kai menendang pintu dengan tatapan marah. Boy mengerutkan keningnya, tidak mengerti alasan kemarahan Kai yang berlebihan.


"Jaga sikap kamu Kaira, statusku kakak kamu."


"Kak Lian bersama anak kecil, Kai tidak mungkin salah lihat, wajah kak Lian tidak berubah, tidak ada perbedaannya."


"Oke anggap saja dia Lian, terus apa yang harus kita lakukan? dia bukan siapa-siapa Kai." Boy duduk di pinggir ranjangnya.


"Dia bersama anaknya kak Boy." Kai teriak kuat.


Kaira tidak mempermasalahkan jika yang dia lihat hanya Lian, masalahnya anak yang bersama Lian.


"Kak Boy lelaki, bertanggung jawab kak. Dia darah daging kak Boy."


"Apa yang kamu bicarakan Kai?" Boy mengerutkan keningnya, sambil tertawa.


Kaira menghela nafas, melihat Boy yang berpura-pura bodoh, tidak mengerti ucapannya. Padahal Boy yang paling tahu apa yang terjadi.


"Kak selama tiga tahun kak Boy sudah berubah, dulu kak Boy orang yang lucu, suka bercanda, tapi sekarang berubah cuek dan dingin, semuanya karena kehilangan kak Lian."


"Terkadang ada saatnya kita harus dewasa Kai, bisa saja orang yang kamu lihat anaknya Lian dan suaminya."


"Teruslah berbohong, Kai tahu semuanya yang pernah terjadi antara kak Boy dan Lian saat di pulau. Kak Boy berhubungan dengan Lian, Kai akan melaporkan ini kepada Bunda." Kaira mengancam Boy.


Boy langsung berdiri, berjalan mendekati Kai menyentuh kedua lengan Kai, menatap tajam.


"Siapa yang mengatakannya Kai? berhubungan dalam arti bercinta sensitif untuk kamu bicarakan dengan kak Boy."


"Kaira melihat sendiri, leher kak Lian sampai ke dadanya berwarna merah bekas hisapan, Kai ingin marah kepada kak Boy langsung menuju kamar, tapi berhenti saat melihat kak Boy tidur tidak menggunakan baju, bahkan baju kak Boy berhamburan di lantai."


"Lian mengatakan kami melakukannya?"


"Kak Lian tidak mungkin berani mengatakannya."


"Dia bukan tidak berani, kenyataannya kami belum melakukannya. Jika kamu tidak percaya silahkan tanya sendiri." Boy tertawa.


Boy memang berniat melakukannya, Lian juga menerima dan tidak menolak. Berlian tidak merespon baik, Boy melihat tatapan mata Lian, membenci dirinya, Boy menyentuh tubuh Lian, tapi tidak sampai merenggut kehormatannya.


Berlian dan Boy berhenti, Boy meminta Lian berjanji akan pulang bersama, mereka akan menikah, baru melanjutkan adegan selanjutnya, tapi kenyataannya Lian memutuskan tidak kembali, berarti Lian tidak menerima niat baik Boy.


Kaira terdiam, dia sangat mengenali Boy yang tidak pernah berbohong, apalagi menyangkut hal serius, jika Boy mengatakan tidak, maka jawaban tidak.


"Kak Boy yakin?"


"Aku siap bersumpah Kai, belum sempat karena aku ingin menikah baru memiliki anak, juga menjaga kehormatan Lian."

__ADS_1


"Kak Boy membenci Lian?"


"Iya Kai, aku tidak perduli dia kembali ataupun tidak, bagi aku Lian sudah mati."


Boy membuka pintu meminta Kaira keluar, Boy tidak ingin membahas soal Lian lagi. Kai menganggukkan kepalanya langsung pergi menuju kamarnya.


Rinda memperhatikan Kai, melihat wajah Kai Rinda yakin ucapan Kai benar. Rinda penasaran memutuskan untuk mencari tahu kebenaran keberadaan wanita yang mirip Lian.


***


Pagi-pagi Kai dan Rinda sudah bergegas untuk pergi ke rumah sakit dan Lab, Boy sudah pergi lebih dulu karena dia harus ke luar kota.


Hanya Reza yang masih santai, membiarkan Tari yang sarapan sambil membaca beberapa berkas penting.


"Kai, hari ini kamu melakukan operasi cukup lama, jadinya aku akan pergi ke lab untuk melihat penelitian." Max membukanya pintu mobil.


"Kak Max berhentilah mengikuti Kai, ikuti saja Rinda jangan sampai diambil orang." Kaira tersenyum melihat pengawalnya yang tertarik dengan adik bungsunya yang super cerewet.


Rinda melangkah masuk ke dalam mobilnya bersama Miko, Maxi menundukkan kepalanya melihat mobil keluar gerbang.


Mobil Rinda berhenti, langsung keluar mendekati Maxi memperbaiki dasi kemeja Max. Langsung melangkah pergi tanpa mengatakan apapun.


"Max semangat untuk seminar hari ini." Miko melambaikan tangannya.


Maxi menyentuh dasinya, tersenyum melihat tingkah Rinda yang super aneh.


Rinda hanya mampir ke dalam lab, melihat penelitian yang hampir sempurna. Rinda mengambil jas putihnya menuju ke ruangan dokter yang sedang mengecek penemuan tulang belulang manusia.


Beberapa dokter menyapa Rinda, lama Rinda melihat penelitian soal penemuan tulang manusia. Rinda yakin bukan manusia biasa, tapi hewan yang berbentuk manusia, dia meninggal karena sudah terlalu tua, saat pembukaan hutan untuk pembangunan, baru dia ditemukan.


Selesai menyelesaikan soal fosil manusia, Rinda duduk mengucek matanya merasakan perih.


Mata Rinda terbuka besar melihat seorang wanita bersama beberapa orang, Rinda langsung mengejar wanita yang sangat mirip dengan Lian.


Rinda hanya mengikuti saja sampai masuk ke rumah sakit, Kaira yang baru selesai operasi mengejar Rinda yang mengikuti seseorang.


"Rinda."


"Dia kak Lian." Rinda menunjuk ke arah seorang wanita yang mengendong anak kecil berusia tiga tahunan.


"Dari mana kamu mengikuti dia?"


"Kantor aku, dia seperti baru saja melihat mayat yang sedang diselidiki."


"Sudah aku katakan tidak salah lihat, tapi anak itu tidak mirip dengan kak Boy."

__ADS_1


"Anak kak Boy?" Rinda kaget, langsung menatap anak kecil yang memukul kepala Lian.


"Dia bukan anak kak Boy." Rinda dan Kai bicara serempak, karena Boy mengemaskan bukan anak nakal.


Kaira melangkah mendekati keluarga yang bersama Lian, senyuman Berlian terlihat melihat seorang dokter menyapanya.


"Siapa yang sakit anak tampan?"


"Bukan urusan Tante tua."


"Tidak boleh seperti itu, berbicara dengan ibu dokter harus sopan." Lian mengusap kepala anak kecil yang langsung memukulinya.


Rinda menarik Kai, melihat Lian di marahi oleh seorang wanita seksi, terdengar juga Lian melawan, langsung pergi meninggalkan semuanya.


"Ayo kita kejar kak." Rinda melangkah keluar.


"Tunggu." Kai menghentikan Lian.


"Ada apa Bu dokter cantik?"


"Siapa nama kamu?"


"Cristal, panggil Cris." Cris menyambut tangan Kai.


"Siapa anak kecil tadi?" Rinda menatap Cris sambil tersenyum.


"Dia anak majikan, aku baru di sini sedang mencari pekerjaan mengurus anak, tapi anak nakal sekali tidak punya sopan santun."


"Kamu berasal dari mana?"


Cris mengatakan tempat tinggalnya, dia gadis miskin yang berkerja demi sesuap nasi, untuk mencoba keberuntungan dia mencoba pergi ke kota.


Kaira tersenyum menawarkan Cristal pekerjaan, memberikan kartu nama Boy, Cris harus mengatakan jika Kaira Chrispeter yang merekomendasikan.


Cris lompat-lompat kesenangan, karakter yang sangat berbeda jauh dari Berlian. Berlian anak yang pendiam, tapi Cristal anak yang berisik sekali.


Cris melangkah pergi, Kai dan Rinda saling pandang dan tersenyum.


"Tidak perduli siapa kamu, tapi jika takdir mempertemukan kita kembali, izinkan kami menjadi perantara pertemuan kalian berdua." Rinda tersenyum memeluk Kai.


"Dia bukan Berlian?"


"Bagaimana jika mereka kembar kak?"


"Mustahil, aku yakin waktu akan menjawab pertanyaan kita, biarkan dia berjalan mendekati kak Boy." Kaira tersenyum.

__ADS_1


"Rinda penasaran pertemuan mereka kak."


***


__ADS_2