
Seharian emosi Boy tidak stabil, dia ingin sekali memberantas para pengawal yang beraninya memasuki kamar Lian, Maxi sudah memberikan penjelasan, tapi tidak sedikitpun memperbaiki emosi Boy.
"Ayo bertarung kak." Reza langsung meletakkan pedang di leher Boy.
"Cari mati kamu." Boy langsung berdiri, mengambil satu pedang langsung menyerang Reza.
Pertarungan pedang terjadi, Maxi yang tegang melihat keduanya yang memang sama-sama memiliki kemampuan bela diri yang berbeda, tapi sangat imbang.
Suara pedang saling menahan menyakitkan telinga, lengan Reza sudah terluka tapi masih menyerang Boy.
Melihat lawan yang terus memojokkan membuat kemarahan Boy semakin menjadi, Boy menyerang Reza tanpa ampun.
Maxi langsung maju menghentikan, pertarungan keduanya sudah tidak sehat lagi. Tiga orang bertarung menjadi satu, membuat tontonan bagi ratusan pengawal.
"Permisi tuan, maaf mengganggu. Di taman belakang Boy, Reza dan Maxi sedang bertarung cukup lama."
Bara langsung berlari bersama Asep, mendapatkan kabar sedang ada pertarungan.
Seluruh pengawal menundukkan kepalanya, melihat dua tuan muncul melihat putra mereka sedang saling menyerang.
"Kenapa pertarungan mereka tidak sehat?"
"Boy sedang emosi, pasti gara-gara tadi malam ada pengawal masuk kamar Lian. Padahal salah Boy sendiri, menyusup tetapi lupa mengunci."
Penonton semakin ramai, Bianka and girl juga sudah muncul membiarkan anak mereka bertarung.
Rinda, Tari dan Lian juga muncul sambil membawa makanan duduk di bawah pohon rindang menikmati cemilan sambil menonton.
Kaira juga muncul bersama Miko yang duduk di kursi roda. Kakek dan nenek mereka juga sudah berdatangan melihat tiga pedang terpental.
Pertarungan bukannya berhenti, tapi lanjut lagi saling menyerang.
"Hentikan mereka Sep." Bara langsung maju bersama Asep.
Keduanya mendapatkan perlawanan, lima orang bertarung menjadi satu. Lawan yang sama imbangnya.
"Lima orang terkuat dalam bela diri, siapa yang akan jatuh duluan." Raffa merangkul Rindu yang tersenyum.
Semuanya yang menonton duduk berkeliling, melihat pertarungan sengit mengalahkan area tinju atau adu bela diri lainnya.
Bianka dan Reva teriak kuat, Bara mendapatkan tendangan dari Max dan Reza, membuatnya terlempar kuat sampai mengeluarkan darah, Asep tidak kalah menyedihkan mendapatkan pukulan mematikan sampai tersungkur mengeluarkan darah dari hidung dan mulutnya.
"Bara kita kalah dari mereka." Asep menghapus darah yang terus keluar dari hidung.
__ADS_1
"Gila ini anak bertiga tidak memandang orang tua lagi." Bara menyentuh bibirnya yang berdarah.
"Ternyata usia juga bisa mengurangi kekuatan." Asep tertawa bersama Bara, berdiri saling membantu.
"Reza, Boy, Maxi berhenti." Bianka teriak kuat.
Reza langsung terlempar jauh, mendapatkan pukulan dan tendangan dari dua orang kuat. Reza telentang mengeluarkan darah melihat langit biru.
"Bunda membuat hilang konsentrasi saja." Reza menutup matanya.
Boy dan Maxi lanjut bertarung, keduanya sama-sama kuat, bahkan sulit dijatuhkan.
Seluruh pengawal takut melihat pertarungan, tidak mungkin berani lagi meremehkan tuan muda dan pemimpin mereka.
Boy dan Max sama-sama melayangkan tendangan membuat keduanya langsung terpental, muntah darah dalam keadaan tengkurap.
Bianka langsung berlari mendekati Boy, Keisya langsung mendekati Maxi mengecek keadaan keduanya yang ternyata baik-baik saja.
"Kamu baik-baik saja Max?" Keisya mengusap kepala Maxi.
Tangan Maxi memberikan jempol, Boy dan Reza salah satu lawan yang paling mematikan bagi Maxi, dia tidak pernah merasakan sangat kelelahan kecuali saat bertarung habis-habisan dengan dua tuan muda.
"Sudah puas Boy?" Bianka mengusap punggung putranya.
Boy menganggukkan kepalanya, tersenyum sambil terlentang menatap cantiknya Bundanya.
"Reza kamu tidak gegar otak?"
"Mommy doanya jelek sekali." Reza langsung bangkit berdiri, memeluk Mommy minta digendong.
"Tubuh kamu lebih besar dari Mommy, berat juga."
"Reza sudah besar Mom." Reza mencium pipi Mommy Reva langsung menggendongnya membuat Reva teriak dan tertawa menarik hidung putranya.
Boy berdiri melihat Maxi masih tergeletak langsung mendekat, membangunkan Max takutnya Maxi mati.
"Kak Boy!" Rinda teriak kuat, langsung berlari.
Boy langsung berlari menghindari Rinda yang akan mengamuk, karena menyakiti kekasihnya. Maxi langsung terbangun, duduk mendengar teriak Rinda yang sedang mengejar Boy.
"Kak Boy jahat." Rinda langsung memukuli Boy yang tertawa.
Rinda memukuli Boy, tubuh Rinda langsung terangkat di panggul di atas pundak Boy membuat suara Rinda yang besar semakin besar.
__ADS_1
"Maafkan kak Boy." Boy memonyongkan bibirnya.
"Rinda maafkan." Rinda langsung naik punggung Boy memintanya berputar, Rinda langsung teriak sambil merentangkan tangannya.
Air mata Rindu menetes, mengigat saat anak-anak masih kecil yang selalu bersantai di taman belakang.
Kaira yang selalu duduk di bawah pohon rindang membaca buku, Rinda yang selalu sibuk bermake-up, Reza dan Boy yang selalu bertarung bersama.
Saat Rinda menangis, Boy akan menggendongnya berkeliling lapangan, sampai Rinda tertidur.
Reza yang jahil selalu menggangu Kaira, baru berhenti setelah Kai menangis. Reza harus memberikan jatah makanan miliknya untuk Kai agar Kaira diam.
"Waktu cepat sekali berlalu, sekarang mereka sudah besar." Rindu tersenyum menghapus air matanya.
"Mereka akan segera menikah." Kei tersenyum menatap Bianka.
"Rasanya baru saja kita melahirkan mereka, sekarang mereka sudah tinggi, tampan dan cantik." Bianka juga mengusap air matanya.
"Kita berhasil menjadi seorang ibu yang mendampingi mereka, menyayangi hingga mereka dewasa." Reva memeluk Bi yang mengangguk kepalanya.
Rinda berlari mencium pipi Reza yang menatapnya tajam, Rinda langsung berlari memeluk Kaira sambil memeluk Miko.
Maxi menatap tajam, memonyongkan bibirnya langsung melangkah pergi, hatinya mendadak kesal melihat Rinda mencium Reza, digendong Boy, bahkan memeluk Miko.
Suara dentuman jatuh terdengar, Maxi tergelincir jatuh terguling di atas rerumputan.
Semua orang menatap Max, langsung tertawa lucu. Para pengawal juga tertawa, tapi cepat langsung menutup mulutnya.
"Siapa yang mengizinkan kalian tertawa?" Max menatap tajam.
Seluruh pengawal langsung berlarian, Boy langsung membantu Max berdiri.
"Cemburu sekali kak Max, bukit kecil begini saja bisa jatuh. Rinda yang paling kecil di mata kami, dia paling manja, juga paling aku, Reza dan Kai jaga. Maaf jika tindakan Rinda membuat cemburu, cepat atau lambat kak Max akan menjadi satu-satunya orang tempat dia paling manja. Jangan bosan kak." Boy tersenyum menepuk pundak Maxi.
Maxi tersenyum, dia sangat mengerti karakter Rinda hanya tidak memahami dirinya sendiri yang terlalu takut kehilangan.
"Malam ini kita makan malam bersama, membahas pernikahan kalian." Haikal langsung melangkah pergi bersama yang lainnya.
Maxi, Boy mengangguk kepalanya. Langsung melangkah mendekati Miko yang menatap langit.
"Tari punya sesuatu untuk kita bahas?"
"Apa?" Rinda langsung duduk melihat sebuah flashdisk pemberian dari kakek Roy saat Tari melihat jenazah Paman Ahlan.
__ADS_1
"Flashdisk." Boy meminta pengawal mengambil satu laptop.
***