BIANKA DAN MAFIA KEJAM

BIANKA DAN MAFIA KEJAM
S2 PENERUS *


__ADS_3

Mendengar suara alarm membuat Maxi yang baru saja memejamkan matanya langsung berlari keluar, Rinda terdiam menatap Max yang tidak sedikitpun tergoda dengan keindahan tubuhnya.


Seluruh pengawal berkumpul, hotel kedatangan beberapa orang yang meminta bantuan, Miko sudah berada di sana membereskan.


Maxi, Boy dan Reza menganggukkan kepalanya. Langsung melepaskan alat pendengar yang terhubung dengan seluruh pengawal.


"Jika bukan keadaan darurat jangan memanggil." Max menyerahkan alat pendengar.


"Baik tuan."


"Boy, Za kalian kembali saja. Aku yang akan mengurusnya."


Boy tersenyum langsung melangkah masuk, pintu terkunci dari dalam membuat Boy harus teriak memanggil Lian.


"Kenapa kak?"


"Entahlah, wanita aneh. Kenapa aku tidak diizinkan masuk, jangan bilang ada penyusup."


"Lian bukan wanita lemah kak, dia hanya sedang ngambek saja." Reza melangkah keluar.


"Kamu ingin ke mana Za?"


"Biasalah, cuci mata untuk yang terakhir."


"Lian aku pergi dulu ya."


"Iya hati-hati." Lian berdiri di depan pintu sambil melotot.


Lian langsung membuka pintu, tidak melihat Boy lagi yang sudah melangkah pergi bersama Reza.


Tatapan Lian langsung sayu, mencari kamar Tari ingin menumpang tidur.


"Tari kamu ingin pergi ke mana?"


"Kak Lian, Tari ingin menumpang tidur. Di sini tidak nyaman tidur sendirian."


Tari mengetuk kamar Kaira, Lian juga menunggu Kaira keluar. Pintu terbuka, Rinda yang berlari masuk lebih dulu, barulah Lian dan Tari.


"Ada apa?"


"Menumpang tidur, kak Max lebih pilih mengurus bawahannya daripada tidur memeluk Rinda."


"Sama saja, kak Miko juga sudah dari tadi belum balik ke kamar." Kaira langsung menutup pintu.


Satu ranjang berisi empat orang wanita, karena lelah tidak ada yang banyak bicara memilih untuk langsung tidur sambil berpelukan.


Di luar Boy bermain bilyar bersama Maxi, Reza dan Miko hanya asik bermain gitar melihat kegelapan malam.


Suasana hotel sepi karena khusus untuk keluarga, tidak ada pelayan wanita yang bisa menyegarkan mata.


"Boy kenapa kamu di sini?"


"Pintu kamar dikunci."


Maxi tertawa, menatap tajam langsung memasukkan semuanya. Boy menatap tajam Max mengerutkan keningnya melihat Max selalu menang.


"Kak Max terlalu hebat untuk menjadi lawan." Boy tersenyum memilih untuk duduk di samping Reza yang asik bernyanyi.


"Kapan kita kembali ke kota?" Miko menatap Maxi.


"Besok, aku sudah bicara dengan seluruh keluarga."


"Baguslah, lebih cepat lebih baik. Reza banyak pekerjaan yang semakin menumpuk."


Boy mengeluarkan sebuah belati, memutarnya di atas meja. Sejak usia muda Boy tidak pernah lepas dari pertarungan, tapi sekarang semuanya akan diakhiri.


Maxi juga tersenyum menyentuh belati Boy, menggenggam erat.


"AW ... tajam sekali." Maxi melihat tangannya yang berdarah.


"Sudah tahu rasa sakit sekarang Max."


"Ayo kita kembali ke kamar." Reza melangkah lebih dulu.


Maxi melangkah bersama dengan Boy dan Miko, masuk ke dalam lift menuju kamar paling atas.


Reza membuka pintu kamarnya yang tidak terkunci langsung mencari Tari, tapi di ruangan manapun Tari tidak ada.


"Mentari."


"Tari di mana kamu?" Reza teriak langsung keluar kamar.


"Kak Tari tidak ada di kamar."


Boy langsung berlari ke kamarnya, memanggil Berlian yang juga tidak ada.

__ADS_1


"Lian juga tidak ada." Boy menatap Maxi yang langsung membuka kamarnya.


Boy dan Reza langsung masuk kamar Max, berteriak memanggil Tari dan Lian. Maxi juga tidak menemukan Rinda.


Miko tersenyum melihat empat wanita sedang tidur nyenyak, langsung memanggil Boy, Reza Maxi untuk membawa istri mereka ke kamar masing-masing.


Boy tersenyum langsung mengangkat Berlian untuk kembali ke kamarnya, langsung melangkah pergi.


"Dasar perempuan nakal, tidur di kamar orang lain." Boy meletakkan Lian di atas ranjang, langsung mengunci pintu barulah menarik selimut menutupi tubuh mereka berdua.


Reza juga mengendong Tari ke kamarnya, meletakan Tari langsung mengunci pintu, menyelimuti Tari sedangkan Reza memilih untuk mandi malam.


"Good night sayang." Reza mencium kening Tari.


Miko tersenyum menatap Rinda yang sudah ada di dalam gendongan Maxi, tidak pernah terbayangkan ternyata jodoh mereka orang terdekat.


"Max, tolong jaga Rinda. Cintai dia sebesar dia mencintai kamu."


"Tanpa kamu minta akan aku lakukan, aku juga meminta bahagiakan adikku Kaira." Maxi tersenyum langsung melangkah pergi ke kamarnya.


Miko langsung mengunci pintu, membenarkan posisi tidur Kaira, menatap wajah cantik Kai, mencium kedua pipinya.


"Kak Mik." Kai menahan wajah Miko, melihat kanan kirinya.


"Mereka sudah kembali bersama teman tidur mereka." Miko meminta izin untuk tidur di sebelah Kai.


Kaira langsung masuk ke dalam pelukan Miko, tangan Miko juga memeluk Kai mencium keningnya agar tidur kembali.


"Kak."


"Good night Kaira, sekarang tidur." Miko mengusap wajah Kaira yang sangat alami.


***


Suasana hotel sangat heboh karena seluruh orang sudah bangun, persiapan kembali ke Mansion masing-masing.


"Di mana istri kamu Boy?"


"Masih tidur Bunda, dia capek mungkin."


"Rinda, jangan dicari. Ratu bangun kesiangan." Rindu memakan roti, wajahnya kaget melihat Rinda yang sudah keringatan.


"Dari mana kamu Rinda?"


"Dari mengikuti kak Max, Rinda bangun kak Max sudah tidak ada. Tanya ke penjaga mengatakan kak Max ke lapangan bersama seorang wanita." Rinda langsung mengambil jus Papinya langsung menghabiskan.


"Tidak."


"Lalu apa yang Max lakukan, dia memang biasa bangun pagi, mengumpulkan seluruh pengawal."


"Kak Max pergi bersama wanita itu, jangan bilang kak Max Rinda sudah bangun. Rinda balik ke kamar dulu." Rinda langsung berlari ke arah lift.


"Siapa wanitanya?"


"Kaira, Tari melihat kak Max bersama Kai menemui kak Miko yang sudah pergi lebih dulu, kak Max juga mengajak Tari, tapi masih capek."


"Apa yang dilakukan di lapangan?"


"Olahraga Bunda." Boy menghela nafasnya.


Maxi tiba bersama Miko dan Kaira, Kei meminta ketiganya langsung ke kamar untuk mandi, baru sarapan.


Suara tangisan terdengar, Maxi tertawa langsung melewati Lian yang menangis seperti anak kecil.


"Kak Boy, kenapa meninggalkan Lian sendirian?"


"Kamu lagi tidur, tidak ingin menganggu juga. Sudah mandi belum."


"Temani." Lian memonyongkan bibirnya.


Boy langsung memeluk pinggang Lian yang langsung mengantungkan tangannya di leher.


"Ayo mandi, hari ini kita harus pulang ke Mansion."


Suasana sarapan pagi penuh canda dan tawa, Tari dan Reza sibuk melihat beberapa hal soal perusahan. Keduanya terlihat lebih kompak, karena Reza tidak pernah membentak ataupun memerintah Tari.


"Tari Reza, kalian harus pulang ke Mansion jika ada panggilan, kumpul keluarga itu penting." Reva tersenyum menatap putranya yang menemukan tambatan hati.


"Mommy dengarkan Reza. Kak Boy, Reza, Kaira, dan Rinda tidak akan pernah melupakan tugas kami. Keluarga hal terpenting dalam hidup kami." Reza mencium tangan Reva yang mengusap kepalanya.


"Cepat berikan cucu Za, kami ingin melihat siapa yang pertama. Selama ini Ayah Haikal masih unggul." Bianka tertawa.


"Bi benar, generasi pertama Ayah Haikal, memiliki seorang putri, lanjut Bianka yang juga memiliki anak pertama kali Boy, setelah ini siapa?" Kei tersenyum.


"Siapapun tidak penting, pada intinya nama Chrispeter sudah hilang." Bara tersenyum menatap Raffa.

__ADS_1


"Kenapa bisa hilang?" Rindu menatap Bara.


"Keturunan Boy meneruskan keluarga Arnold, sedangkan Reza keluarga Arvin." Bara langsung tertawa.


"Aish sial, Bara benar. Anaknya Rinda menggunakan nama Max, sedangkan Kaira nama Miko." Rindu mengigit jari.


"Aish, sudah aku katakan seharusnya kita punya anak jangan satu." Raffa menatap Rindu.


"Masih sisa satu keturunan Chrispeter, Nathan Chrispeter." Raka tersenyum menatap semuanya yang bernafas lega.


"Nathan kamu harapan terakhir." Bianka menatap Nathan yang mengerutkan keningnya.


"Nathan tidak ingin menikah Bunda."


"Kak Nathan tidak mau Nissa saja."


Bianka menepuk jidat, Miko muncul bersama Kaira.


"Putra ataupun putri kami akan menggunakan nama Chrispeter." Miko duduk di samping Riki.


"Terima kasih Miko, kalian harus memiliki putra sebagai penerus, Putri juga boleh, tapi usahakan ada putranya." Riki tersenyum menatap Kai yang cemberut.


"Jangan lupakan perintah Ayah Haikal, Maxi memiliki nama belakang Chrispeter, begitupun dengan Miko. Siapa bilang Chrispeter kehabisan keturunan." Keisya tersenyum menatap semuanya yang juga tersenyum lega.


***


JANGAN LUPA LIKE COMENT DAN VOTE TAMBAH FAVORIT JUGA


JANGAN LUPA KASIH HADIAH JUGA BIAR AUTOR SEMANGAT


***


VISUAL MEREKA DI BAWAH, MAAF JIKA TIDAK SESUAI.


Mencari visual sesulit mencari jodoh 😂.


***



BOY CHRISPETER ARNOLD.


Jiwa pemimpin, tegas, tapi suka bercanda.



BERLIANA ARNOLD.


MANJA, TEGAS, SUKA MEMBUAT MASALAH.



REZA CHRISPETER ARVIN.


TEGAS, CUEK, SANGAT DINGIN, TERKADANG ADA SAATNYA SUKA BERCANDA.



MENTARI ARNOLD.


MANJA, PENURUT, PENYAYANG, LEMBUT DAN SANGAT SENSITIF.



MAXI CHRISPETER


PENDIAM, KEJAM, DINGIN, DEWASA. karakter Maxi paling susah dicari karena pengen pakai VISUAL brewok, tapi aku merasa geli sama cowok brewokan, semoga ini cocok.



RINDA CHRISPETER,


PALING HEBOH, BERISIK, MANJA, HOBI MAKEUP, CENTIL. karakter Rinda juga susah dicari, karena Rinda masih muda, tapi hobi make-up.



MIKO.


PENDIAM, CERDAS, PENYAYANG,



KAIRA CHRISPETER.


LEMBUT, PENDIAM, TEGAS, DEWASA.

__ADS_1


***


__ADS_2